
Diantara tiga lelaki di ruang tamu apartemen Jiana hanya ada satu yang ditujukan Jun dengan umpatannya.
"Pecundang!" gumamnya dengan smirk diwajah.
Namun semua orang menoleh padanya dengan alis bertaut meminta penjelasan.
"Siapa?" kompak tiga orang itu menanyai Jun yang memasang wajah tak berdosa usai mengeluarkan kata hinaan dimulutnya.
Ren menarik kerah baju Jun dan membuat adiknya itu berdiri. Ia mendorong bahu sang adik dengan paksa menuju pintu apartemen.
"Kami akan pergi ke swalayan terdekat membeli camilan!" kata Ren menjawab pertanyaan yang mungkin segera terlontar dari kedua orang yang tinggal.
"Aku tidak mau! Siapa yang mau beli camilan? Aku harus disini!" seru Jun sambil berpegangan ke kusen pintu. Tapi Ren menariknya dengan keras sehingga ia mau tak mau harus ikut juga dengan kakaknya itu.
Ren masih menempatkan tangannya dibahu adiknya. Dengan wajah datar ia berjalan menuju lift.
"Ada apa denganmu kak? Apa kau marah karena ucapanku tadi? Kau tersinggung?" tanya Jun tanpa merasa bersalah.
Benar, kata 'pecundang' itu sejak awal ia alamatkan untuk sang kakak. Pria bodoh yang mencintai sahabatnya sendiri tapi selalu mengalah dan bodohnya lagi malah bersedia jadi ban serap kala pujaan hatinya membutuhkan.
"Diam kau, anak kecil!" gerutu Ren sambil meremas bahu adiknya.
"Aduh sakit!" Jun berusaha melepaskan diri dan ingin kabur agar bisa kembali ke dalam apartemen Jiana.
"Aku tidak boleh membiarkan mereka berduaan saja. Bisa saja nanti setan membuat mereka lupa diri!"
Saat Jun berhasil meloloskan diri dari cengkraman kakaknya ia buru - buru berbalik arah dan berlarian ke unit Jiana. Tapi Ren sigap mengejarnya dan menarik lengannya.
"Kau ini kenapa, sih? Biarkan mereka punya waktu berdua!" hardiknya pada Jun.
"Kau ini yang kenapa, kak? Sampai kapan mau jadi ban serapnya Jiana yang serakah itu?" sahut Jun tak kalah emosi.
Dua kakak beradik itu adu pelototan.
"Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti!" gumam Ren lirih pada akhirnya. Lalu menarik lengan sang adik agar mengikutinya.
"Aku bukan lagi anak kecil! Kau saja yang bodoh!" sahut Jun yang pasrah digiring masuk lift.
"Level mencintai tertinggi adalah dengan merelakannya bahagia dengan pilihannya sendiri" tutur Ren dengan tatapan nanar ke arah bayangannya di dinding lift.
Jun mendengus kesal.
"Itu berlaku kalau kau sudah mencoba mencintai dan membahagiakan cintamu dengan segenap kemampuan dan hatimu! Kalau sejak awal sudah menyerah itu pecundang namanya!" cecar Jun yang berdiri sambil bersandar ke dinding lift, tepat di belakang Ren.
__ADS_1
Ren menoleh ke belakang dengan tatapan maut, siap menerjang sang adik. Tapi tak jadi karena rasa - rasanya ucapan itu ada benarnya juga. Ya, ia mengakui memang tak berniat memperjuangkan perasaannya.
Baginya berada disisi wanita itu dan mendukungnya dengan apapun pilihannya. Melindungi dan memberikan perhatian sebanyak yang wanita itu butuh adalah bentuk mencintai terbaik versinya. Ren cukup puas dengan itu.
Akhirnya mereka sampai di basement. Ren menepuk bahu Jun lalu mengedarkan pandangan mencari kendaraan yang kiranya dibawa adiknya itu.
"Dimana mobilmu?" katanya dingin.
"Aku bawa motor bukan mobil" sahut Jun.
"Ya sudah, antar aku pulang!" titahnya sambil berjalan ke parkiran motor disudut basement itu.
"Pulang? Bukannya kita membeli camilan?" tanya Jun polos.
Ren membalik badan dan tersenyum smirk. "Kau yang pecundang karena berhasil kutipu. Ayo cepat naik!" perintahnya sambil menarik lengan Jun.
Jun menggeleng tidak percaya dibuatnya. Apakah sebesar itu cinta sang kakak pada Jiana?
"Bagaimana kalau Jiana menggoda tuan muda? Bagaimana jika dia merayunya? Mereka hanya berdua saja. Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Jun berapi - api. Ia ingin kembali ke atas.
"Sudah kubilang biarkan mereka memiliki waktu berdua!" hardik Ren dengan nada tinggi. Membuat Jun terdiam dan menghentikan niatnya.
"Mereka sudah dewasa. Mereka tahu apa yang mereka lakukan" tambahnya dengan suara lirih.
Ren lagi - lagi tersenyum smirk dan menepis kedua tangan Jun dibahunya.
"Sejak awal aku memang tidak ingin memanggilnya 'nona'. Bukankah sejak awal dia hanyalah alat tuan muda agar bisa membuat Jiana kembali? Jadi, apa peduliku?"
Ren pergi dari sana dengan berjalan kaki usai mengatakan kalimat yang membuat Jun terdiam seketika.
"Apa hanya aku yang merasa bersalah pada Nona?" gumamnya lirih memandang punggung kakaknya yang menjauh diujung lorong basement.
.
Sementara itu di unit apartemen Jiana. Kedua insan itu terdiam menikmati suguhan pertunjukkan dilayar televisi yang menyala. Menampilkan film box office aktor kesayangan Jiana—Tom Cruise.
Jiana tak hentinya menatap kagum sosok sang aktor meski sudah berulang kali memutar ulang film itu. Sementara sang kekasih disampingnya diam seribu bahasa. Matanya memang menatap layar televisi tapi ia tidak menyimak sedikitpun.
Pecundang!
Rasanya ia tersentil dengan umpatan Jun yang entah kepada siapa itu. Sejak mendengarnya dari mulut Jun, perasaannya jadi tak enak. Apalagi ia ingat Jun memang menentangnya kembali bersama Jiana. Tapi kenapa ia harus peduli dengan penilaian Jun?
Ah, asisitennya itu memang banyak omong!
__ADS_1
"Kenapa mereka belum kembali juga?" celetuknya memecah keheningan. Dua asistennya itu tak juga kembali padahal sudah satu jam lebih.
Jiana menoleh sesaat lalu kembali memandangi televisi.
"Aku yakin mereka ingin memberi kita waktu berdua. Kenapa? Apa kau ingin makan sesuatu? Aku punya buah dan pizza beku di kulkas, biar kupanaskan" Jiana berdiri dan hendak ke dapur menyiapkan kudapan untuk mereka.
Tapi Tuan Muda Harly mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Tidak usah. Lebih baik aku pulang. Besok ada meeting pagi sekali" katanya lalu berdiri dan merogoh saku, memastikan keberadaan kunci mobilnya.
Jiana menahan tangannya seketika.
"Kenapa cepat sekali? Kau lelah?" Jiana tak rela ditinggal cecepat itu. Ia rindu dan masih ingin berlama - lama menghabiskan waktu dengan sang kekasih.
"Hmm..aku cukup lelah"
Tuan Muda Harly berjalan ke pintu. Jiana mengekorinya sambil menggamit lengannya tak rela.
"Padahal kau bisa menginap jika mau" tawar wanita itu.
Tuan Muda Harly menggeleng dan melepaskan tangan Jiana dari lengannya.
"Kau juga tidurlah. Bukankah seorang CEO HB Humanity itu sibuk?"
"Tidak sesibuk wakil presdir" sahut Jiana dengan senyum hangat diwajahnya.
Tuan Muda Harly membalas senyuman itu dan keluar dari pintu.
Cup!
"Selamat malam!"
Tanpa ia duga Jiana mendaratkan kecupan singkat dibibirnya. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya melempar senyum dan melambaikan tangan.
Dalam perjalanan pulang dibalik kemudinya, Tuan Muda Harly meraba bibirnya yang sempat dikecup Jiana. Ada perasaan yang tidak dapat ia jabarkan untuk saat ini. Perasaan asing yang tak diguganya sama sekali.
"Apa aku salah?" tanyanya pada diri sendiri.
"Pecundang?"
*
tbc.
__ADS_1