
Hari - hari berlalu tanpa ada sesuatu yang istimewa. Haina hanya mengurung diri di kamar. Ia hanya akan keluar saat sarapan, makan siang dan juga makan malam. Selain untuk mengisi perut dan mengantar atau menyambut suaminya di teras rumah maka ia hanya akan menyibukkan diri dengan belajar tentang materi wirausaha bertema kuliner.
Seperti hari ini Haina sibuk menekuni layar ponsel yang menampilkan video edukasi bisnis kuliner dari sebuah kanal di internet. Ia menyimak dengan seksama setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh narasumber.
TING!
Satu notifikasi pesan masuk menyita perhatiannya, Haina segera membuka pesan itu. Sebuah senyum terulas dari bibirnya. Ia bangkit dari posisi tengkurapnya di kasur lalu berlarian ke ruang ganti.
Gadis itu dengan sangat bersemangat menyiapkan baju ganti untuk suaminya sehabis mandi nanti. Ia akan bersikap sangat baik agar mendapatkan apa yang ia mau.
Satu pasang kemaja santai dan celana chino sudah tertata rapi di meja. Ganti ia menyiapkan pakaiannya. Haina memilih gaun rumahan motif floral selutut lalu segera membersihkan diri dikamar mandi.
Akhirnya setelah dua minggu terjebak dirumah besar ini kini Haina punya sesuatu yang istimewa. Hari - hari yang akan sangat dinantikannya akan segera tiba. Semangat juangnya jadi berkobar berkali - kali lipat.
Satu jam kemudian Haina sudah turun ke lantai satu. Diiringi Helen dan Stefi, pengawal yang selalu mengikuti kemana langkahnya pergi. Ya, betul sekali itu sangat berlebihan, padahal ia tak kemana - mana dan selalu berada dirumah. Akan tetapi Tuan Muda Harly menugaskan dua pengawal wanita berbadan tinggi dan bertampang dingin. Dua pengawal itu malah terlihat seperti pengangguran kurang kerjaan yang selalu mengekori dari lantai satu ke lantai dua, begitu sebaliknya.
Haina berdiri dengan senyuman mengembang diwajahnya saat melihat mobil yang membawa suaminya sudah parkir di depan teras. Ia dan Pak Sun berjalan mendekat.
"Selamat sore, Sayang" ujar Haina dengan cengiran.
Tuan Muda Harly melirik tak percaya pada Haina yang menatapnya dengan wajah berbinar dan senyuman penuh itu. Ini kali pertama gadis itu menurutinya untuk memanggilnya sayang. Padahal selama ini gadis itu sangat hati - hati dalam mengeluarkan kalimat dari mulutnya agar tak perlu menggunakan kata sapaan apapun.
Tuan Muda Harly berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Pak Sun yang membawa tas kerja dan Haina disampingnya.
Mereka sampai di kamar dan langsung menuju ruang ganti. Saat Tuan Muda Harly membuka jasnya Haina sigap mengambilnya dan meletakkan dikeranjang pakaian kotor disampingnya.
Haina tersenyum manis dan menanti Tuan Muda Harly yang akan melepaskan kancing kemejanya.
"Lakukan sekarang!" perintah Tuan Muda Harly.
"Eh? Apa?" Haina kebingungan dengan dua kata yang ia tak mengerti apa maksudnya. Suaminya itu kadang pelit sekali bicara, Haina sering kebingungan dibuatnya.
"Bukakan kemejaku! Bukankah kau sedang bertingkah menjadi istri yang baik?"
Haina memasang senyumnya lagi usai berpikir sejenak. Kemudian perlahan membuka satu persatu kancing kemeja itu sampai terlepas semua dan menarik kemeja itu dari lengan dan tubuh suaminya.
"Kenapa kau diam? Celanaku tidak kau bukakan?"
"Hah? Apa sih kau ini? Aku kan tidak berniat sampai sebaik itu" guman Haina dalam hati.
Tuan Muda Harly berkacak pinggang melihat Haina yang hanya diam saja dengan senyum yang dipaksakan diwajahnya.
Haina mendekat lagi dan menyentuh kepala ikat pinggang yang melingkar di pinggang Tuan Muda Harly. Dengan ragu mencoba membuka kaitan di lubang ban kulit itu. Jantungnya jadi berdetak tak karuan dibuatnya. Jemarinya sampai gemetar menahan malu.
Tuan Muda Harly tersenyum masam melihat raut wajah istrinya. Lalu bernjak meninggalkan Haina menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Ahhh! Aku selamat!" gumam Haina pelan saat melihat Tuan Muda Harly menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ia menuju ke kamar dan duduk manis saja sambil menunggu suaminya selesai dengan aktifitasnya.
Setengah jam kemudian Tuan Muda Harly muncul dengan wajah yang terlihat lebih segar. Wangi sabun mahalnya menyeruak mengiri langkah pria tampan itu.
Haina datang mendekat saat Tuan Muda Harly duduk di sofa ruang santai dikamar itu. Ia ikut duduk disamping suaminya dengan tangan saling meremas di atas paha. Wajahnya menampilkan senyuman manis yang terlihat kikuk. Sepertinya ia sedikit kesulitan membuka mulutnya.
"Katakan!" seru Tuan Muda Harly dingin. Ia sibuk menggulir layar ponselnya yang menyala untuk mengecek email yang masuk.
"Ehm, begini, aku ingin mengikuti kursus memasak. Apakah boleh?" tanya Haina takut - takut.
Tuan Muda Harly hanya diam saja usai melirik Haina sekilas dan kembali menekuni email pribadi di ponselnya.
Haina menunggu dengan gugup respon suaminya. Sedetik, dua, tiga bahkan sampai satu menit berlalu suaminya itu hanya diam saja.
"Tuan..." cicit Haina pelan dengan wajah penuh harap.
"Kemana sandiwara istri baikmu yang tadi?" celetuk Tuan Muda Harly tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Ia terlihat cuek dan tak acuh.
Haina mencebikkan bibirnya kesal. Suaminya itu selalu bisa memojokkannya di saat - saat yang tepat.
"Dasar menyebalkan! Kenapa kau sadar sih!" batin Haina.
"Eheemm, Ss...sa..sayang...tolong izinkan aku, ya?"
"Maksudnya?"
"Sejauh mana kau bisa menunjukkan padaku peranmu sebagai istriku"
Haina terdiam, mencerna maksud dari perkataan Tuan Muda Harly.
"Memangnya aku harus bagaimana?"
Tuan Muda Harly meletakkan ponselnya di nakas yang ada di samping sofa tempat ia duduk. Lalu beralih menatap Haina. Lagi - lagi sebuah smirk tersungging di bibirnya. Dengan satu tarikan Haina sudah berada dipangkuannya.
Wajah gadis itu terlihat panik usai pinggangnya ditarik. Kini ia berada diatas pangkuan Tuan Muda Harly. Dengan kedua telapak tangannya berada di dada Tuan Muda Harly, bersiap mengahalau kemungkinan terburuk.
Haina menjauhkan wajahnya saat wajah suaminya sudah sangat dekat. Tapi pelukan dipinggangnya malah semakin erat membuat Haina tak dapat menghindar.
Gadis itu menutupi mulutnya dengan satu telapak tangannya. Sedangkan satu telapak tangannya yang lain berusaha menahan tubuh Tuan Muda Harly yang nyaris menempel dengan tubuhnya.
"Jangan! Jangan sekarang..."
Haina seolah dapat mendengar detak jantungnya saat ini. Begitu cepat memompa, tapi tubuhnya malah serasa lemas seakan kehabisan oksigen. Ia mulai gemetar.
"Lihat dirimu! Bukankah kau yang mulai bertingkah seperti istri yang baik? Sekarang tunjukan padaku kemampuanmu" perlahan satu tangan Tuan Muda Harly menyelusup dibelakang leher Haina yang tertutupi rambut panjangnya, menekan agar kepala gadis itu agar wajah mereka semakin menyatu.
__ADS_1
Cup!
Satu kecupan lembut bibir Tuan Muda Harly yang lembab jatuh di ujung jemari Haina yang menutupi mulutnya. Membuat Haina tersentak dengan mata membola. Haina terpaku dalam diam menatap Tuan Muda Harly yang menyunggingkan smirk khas miliknya.
Tuan Muda Harly menarik wajahnya sendiri, memberi jarak diantara mereka. Haina masih dipangkuannya, tampak gemetar dengan sorot mata ketakutan.
"Ada apa denganmu? Kau ingin membuatku terlihat seperti suami pemaksa? Kau tidak menginginkannya?"
Haina melepaskan mulutnya dari bekapan tangannya sendiri. Mencoba menguasai diri dengan mengatur napasnya.
"Ti...tidak, bu...bukan seperti itu. Aku...aku hanya" Sulit sekali rasanya bibir Haina berbicara. Lidahnya seolah kaku.
"Bicara yang jelas! Kau menguji kesabaranku?" kata Tuan Muda Harly. Meskipun nadanya tidak meninggi tapi Haina semakin ketakutan dibuatnya.
Perlahan mata gadis itu mengembun, membuat genangan yang siap tumpah di pelupuk matanya. Wajahnya sudah benar - benar merah sekarang.
"Aku Takut!"
Tuan Muda Harly menyudahi adegan itu saat setetes air mata jatuh di pipi mulus gadis dipangkuannya.
"Kenapa kau menangis? Turunlah. Aku akan menagihnya lain kali" ujarnya tenang.
Haina segera berdiri dan menyeka pipinya yang basah. Sekuat hati mencoba tetap tenang dan tak menangis lagi. Padahal pikirannya sudah kemana - mana. Ketakutan yang ada di dalam hati dan pikirannya membuat ia lupa akan statusnya sebagai seorang istri.
"Benar. Kenapa aku menangis? Semua itu sudah berlalu. Aku baik - baik saja" ujarnya dalam hati berusaha menguatkan diri.
Tok...tok...tok!
Suara pintu diketuk membuat sepasang suami istri itu kembali dari pikirannya masing - masing.
Pak Sun memanggil mereka untuk makan malam, tapi Tuan Muda Harly meminta makan malam diantar ke kamar saja.
Ya, sejak hari ia memperkenalkan istrinya ke hadapan nenek dan bibinya suasana diruang makan tak pernah damai lagi. Akan banyak kalimat menyakitkan bagi Haina. Pun permintaan perceraian dari keduanya.
Tuan Muda Harly bukan tak tahu bahwa Haina bersedih di dalam hatinya, hanya saja gadis itu sok kuat. Seakan ia tidak terluka, tidak mengeluh bahkan sepatah katapun. Tapi ia juga tak peduli dengan apa yang dirasakan Haina saat ini. Karena tujuannya saat ini adalah hal lain. Sesuatu yang sudah ditunggu - tunggunya.
...****************...
Halo! Ini Dream.ct 😊
Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak buat yang sudah berkenan membaca tulisanku ini. Ini karya pertamaku, dan aku sangat berharap mendapatkan dukungan kalian. Tolong like dan komen ya. Aku butuh jejak kalian disini. Sangat - sangat membutuhkan dukungan kalian. Jangan lupa vote aku juga yaaa. Thankyouuu 😊
__ADS_1