
Usai kelas di AK Stidio berkahir Haina bersama tiga teman kelasnya memutuskan lanjut diskusi di sebuah food court. Padahal selama ini mereka berdiskusi di lobi AK studio atau melalui grup obrolan di ponsel. Olga yang memilih tempat itu katanya ia ngidam makan ramen katsu dan es teler di tempat itu.
"Sayang sekali toko yang menjual es telernya tidak buka. Kak olga ingin yang lain?" tanya Haina sekembalinya dari outlet es teler.
Olga menggeleng lemah. Padahal ia sudah mendambakan akan meneyeruput es teler yang ia idamkan sejak kemarin di cuaca yang panas ini.
"Besok kita kesini lagi, ya? Formasi harus lengkap!" ujar Olga akhirnya legowo.
"Boleh saja" sahut Marchel dan Haina bersamaan. Membuat yang lain jadi tertawa.
"Kalian ini sehati sekali" celetuk Olga.
"Memang kelihatan ada chemistry" sahut Alya pula.
Marchel terkekeh senang disebut punya chemistry dengan Haina. Sementara Haina hanya geleng kepala menyangkal hal yang menurutnya tidak benar.
Selagi menunggu pesanan mereka datang. Empat sekawan itu melanjutkan diskusi mereka yang tertunda sejak pagi tadi.
"Aku dan Haina adalah noodle entusiast sedangakan Ko Marchel dan Alya adalah seafood entusiast. Bagaimana kalau dua kelompok makanan ini yang jadi fokus kita?" Alya mengemukakan hasil diskusi singkatanya dengan Haina tempo hari.
"Iya aku sangat setuju. Dua jenis makanan ini punya peminat yang sangat banyak dari semua kalangan. Kalau duo ini digabung aku yakin akan sangat cocok dan mengundang banyak peminat" tambah Haina.
Marchel manggut - manggut tanda setuju dengan pendapat dua rekannya itu. Ia teringat gerai chines food yang ia rintis, kebanyakan kalangan muda yang datang juga sering memesan dua jenis makanan itu.
"Aku sih setuju saja. Yang penting kualitas dan konsistensi rasa dari makanan yang kita jual memiliki stabilitas yang baik dan bisa bersaing dengan resto lain yang sudah populer"
"Aku rasa kita bisa cepat launcing kalau begini!" seru Marchel dengan yakin.
"Hah?" Haina yang belum paham melebarkan mata menatap Marchel yang membusungkan dada.
"Maksudku. Kita berempat punya selera yang sama dan pikiran yang sama. Jadi pasti akan mudah untuk melanjutkan rencana dan kerjasama kita nanti."
"Ooh..." Haina akhirnya paham.
"Nah, kita sudah sepakat ya. Ayo kita kanjut ke topik berikutnya. Ini masalah modal..."
Bla...bla...bla
__ADS_1
Olga, Alyad dan Marchel tak hentinya saling mengeluarkan ide dan pemikiran mereka. Termasuk menyebutkan nominal yang bisa mereka curahkan sebagai modal awal usaha kuliner yang mereka rintis.
Oleh karena itu Haina diam saja. Ia menyimak seksama penuturan ketiga rekannya. Sementara ia sendiri dilanda kebingungan masalah modal ini. Masalahnya ia tidak ada uang sedikitpun. Sebulan menikah dengan Tuan Muda Harly dan selama itu pula ia tidak bekerja. Semua tabungannya yang tak seberapa sudah habis ia serahkan pada orang tuanya untuk menyewa rumah.
"Harly..." gumam Haina pelan.
Ya, Tuan Muda Harly lah satu - satunya sumber uang baginya kini. Tapi masalahnya selama menikah ia sudah disediakan semua kebutuhannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia mendapatkan semua kenyamanan dan fasilitas terbaik dari suaminya itu. Jadi bagaimana caranya ia bisa meminjam uang pada suaminya itu? Sementara ia tahu utang ibunya atas kerugian perusahaan Tuan Muda Harly tidaklah sedikit. Kini ia malah ingin meminjam uang?
"Apa aku begitu tidak tahu diri?" sesal Haina dalam hati. Sebab ia merasa selama ini sudah dinafkahi dengan sangat baik oleh suaminya. Malah ia yang merasa bersalah karena belum memberikan hak suaminya itu sampai saat ini.
"Hei, Haina! Kenapa kau melamun?" sentak Olga. "Bagainama denganmu?
Haina yang kaget seketika tergagap serta meraba tengkuknya. "Eh? Iya aku... ehm...aku. Sebenarnya aku tidak pu...eh..."
"Kenapa sih? Haus kali ya...jadi tidak fokus" serobot Marchel.
Bersamaan dengan itu pesanan mereka datang diantar pelayan berpakaian hitam putih. Menyelamatkan Haina dari situasi yang membuatnya bingung.
"Apa aku harus jujur, sekarang aku tudak punya uang sama sekali. Tapi kami sudah terlanjur meneruskan rencana. Tidak kusangka juga akan bisa diwujudkan secepat ini" batin Haina.
Ia masih melanjutkan pikirannya tentang modal usaha sambil terus mengaduk minuman yang ia pesan. Perlahan disedotnya es degan yang menyegarkan itu hingga mengalir dan menyejukkan kerongkongannya yang kering.
Melihat raut wajah panik Haina yang sangat jelas menunjukkan kekhawatirannya membuat Marchel menepuk bahunya.
"Hei, kau kenapa? Tiba - tiba pasang wajah begitu disiang bolong begini..."
"Ehh...tidak. Aku...itu...aku sebenarnya tidak punya uang. Eh...maksudku aku lupa bawa dompet" gelagapan Haina menjawab pertanyaan Marchel.
"Hahahaa..." tiga orang rekan Haina itu tertawa keras melihat ekspresi Haina yang menurut mereka lucu sekali. Wajah gadis itu sempat pucat dengan bibir yang terlihat bergerak komat - kamit saking gugupnya.
"Tenang saja. Biar Koko Marchelmu ini yang traktir. Untuk Hainaku aku akan royal, ayo pesan apapun yang kau mau." Marchel dengan semangat membolak - balikkan buku menu milik salah satu outlet yang tadi ia ambil.
Haina menolak dengan kedua tangannya yang mengayun diudara. Tapi Marchel tetap memaksa dan malah memilihkan sendiri makanan untuk pujaan hatinya. Haina pasrah saja, berdalih menolak rejeki itu tidak baik. Sedangkan Alya dan Olga terus menggoda Haina agar menerima perasaan duda satu anak itu.
Ya, sejak hari kedua mengkuti kelas di AK Studio, Marchel sudah memproklamirkan rasa sukanya pada Haina di depan semua orang di kelas itu. Alya dan Olga seolah menjadi makcomblang sejak saat itu.
"Jangan begitu, Kak" rengek Haina karena Alya dan Olga tidak berhenti menggodanya.
__ADS_1
"Haha...Iya baiklah. Kasihan aku melihatmu, sampai merah begitu mukanya" kata Olga.
"Semerah dan semanis tomat cheri kesukaanku" gombal Marchel yang mengundang gelak tawa Alya dan Olga yang memang gampang terhibur itu.
Haina pun mau tak mau tertawa juga karena gombalan Marchel yang terus menerus dilakukannya dengan tampang lucu itu.
Mereka larut dalam canda tawa yang membuat suasana menjadi menyenangkan dan semakin mengakrabkan mereka. Bersama mereka Haina merasa bebas dan lupa akan masalahnya sendiri. Ia bisa tertawa lepas dan bisa mengobrolkan banyak hal. Itulah yang ia butuhkan, teman bicara.
"Lain kali ayo kita ke food court yang lain. Ke Ben's Grand Mall atau ke Citra Grand Mall, aku jarang ke sana" ajak Alya pada semua.
"Banyak Mall besar di kota ini, tapi menurutku disini food court terlengkap. Elevaria ini bukan outletnya saja banyak, variasinya itu lengkap. Mungkin karena tempatnya yang luas jadi area food court juga luas," balas Marchel.
"Iya juga, sih. Mall lain terlalu fokus pada store dengan barang mewah. Padahal food court yang komplit pasti lebih memanjakan pengunjung" tambah Alya juga.
"Nah, itu dia. Contohnya Ben's dan Citra itu! Mereka berlomba - lomba agar bisa memiliki store barang mewah terbanyak" ujar Marchel melengkapi penilaiannya disambut anggukkan setuju yang lain.
"Ternyata Ko Marchel ini tau banyak ya!" puji Alya.
Marchel menepuk dada bangga. Lelaki sipit dengan rambut cepak itu menampilkan senyum kebanggaan.
"Ya, sebagai warga ibu kota yang lahir dan besar disini aku tentu sudah sering menghabiskan waktu di mall - mall besar ini. Kuberi tahu ya, diantara tiga pusat perbelanjaan ini Ben's yang food courtnya paling payah" kata pria berwajah oriental itu.
Semua kembali mengangguk tanda memahami perkataan Marchel. Sementara Haina hanya menyimak saja.
Sesaat kemudian mendadak Haina merasa tengkuknya dingin dan perutnya mulas.
"Yakin tidak apa - apa, Na?" tanya Olga perhatian.
"Tidak apa kak. Cuma perlu oles ini aja di perut" kata Haina sambil menunjukkan minyak angin versi wangi lavender dijarinya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju toilet.
Gadis itu meninggalkan area food court . Melewati pintu masuk swalayan Benjamin & Son di samping kanan. Setelah berjalan beberapa langkah melewati lorong ia berbelok dekat tangga arah parkir bawah tanah. Pintu toilet sudah terlihat, ia mempercepat langkahnya. Area itu terlihat sepi dan sedikit gelap karena lampu yang tidak menyala di langit - langit.
BRAKK!
Tiba - tiba tubuhnya terhuyung ke samping dengan cepat. Seseorang menarik tangannya dengan kasar, membuat tubuhnya membentur rolling door sebuah toko yang tutup.
"Siapa?"
__ADS_1
*
tbc.