
"Memangnya ada yang bisa dilihat?" tanya Tuan Muda Harly datar lalu kemudian bangkit dari posisinya.
Haina memanyunkan bibirnya mendengar pertanyaan itu.
"Sebaiknya memang tidak..."
"Apa yang salah dengan otakmu itu? Apa kau lupa siapa aku?"
"Tentu saja tidak, Anda Tuan Muda Harly..." ucapnya pelan.
"Aku suamimu, dasar bodoh" Ia mendekat dan mencondongkan tubuhnya. Tangan kirinya diletakkan di meja rias disamping Haina. Sedangkan telunjuk tangan kanan mengangkat dagu Haina membuat mereka saling menatap. Wajah mereka sangat dekat hingga deru nafas keduanya saling menggelitik kulit.
Haina mengatupkan bibirnya rapat. Kedua tanganya mencengkram lilitan handuk di dada. Tatapan dalam itu menghipnotisnya sesaat. Terpana pada mata itu. Terlena dengan situasi yang terlihat intim tapi sebenarnya tidak diinginkan. Bukankah itu adegan yang mencekam? Ia merasa harus menyelamatkan diri, berharap dia akan tetap utuh dan tak disentuh. Haina memalingkan wajahnya kesamping dan menundukkan pandangan.
"Sayangnya aku belum berminat, setidaknya untuk saat ini" ujar Tuan Muda Harly melepaskan dagu Haina dan kembali berdiri tegap. Kemudian satu senyum smirk terukir di wajahnya.
"Belum tahu kalau nanti malam" katanya.
Seketika Haina terlonjak, mendengar perkataan suaminya. Benarkah kewajibannya akan ditagih?
Tuan Muda Harly beranjak ke kamar mandi, meninggalkan Haina dengan wajah paniknya.
Satu jam kemudian di ruang tengah.
Seorang pria paruh baya terlihat baru saja datang dengan dikawal Pak Sun di sisi kirinya dan seorang asisten laki - laki di sisi kanannya. Pak Sun mempersilakan keduanya untuk duduk.
"Silakan duduk dulu Tuan, saya akan menyajikan Teh. Nyonya Besar akan segera keluar dari kamarnya" ujar Pak Sun dengan senyuman.
"Tidak perlu, Sun. Aku tidak ingin lama - lama" jawab lelaki paruh baya itu. Dialah Utama Benjamin, Presiden Direktur Benjamin Corps. Putra sulung Nyonya Besar—ayah dari Tuan Muda Harly.
Pak Sun mengangguk ramah lalu meninggalkan Tuan Utama beserta asistennya. Sesaat kemudian Nyonya Besar Ananta terlihat berjalan dengan anggun dari arah kamarnya, diikuti anak keduanya Nyonya Anggita.
Aldi, asisten Tuan Utama undur diri dari ruang tengah melihat gelagat Nyonya Besar itu yang ingin segera mencecar Tuan Utama dengan pertanyaan.
Nyonya Besar dan anak perempuannya duduk di sofa panjang dengan bersebelahan.
"Ada apa Ibu memanggilku kemari?" tanya Tuan Utama. Ia duduk dengan tenang, memancarkan kewibawaan seorang pemimpin korporat.
Pagi - pagi sekali ibunya itu menelepon dan menyuruhnya datang ke kediaman utama Benjamin. Ia sendiri sudah belasan tahun meninggalkan rumah itu, menempati rumahnya sendiri dengan istri dan anaknya yang lain. Sementara putra sulungnya, Tuan Muda Harly tetap tinggal disini bersama nenek dan bibinya.
Nyonya Besar itu menatap putranya lekat dengan wajah menahan kesal.
__ADS_1
"Apa kau tidak mengawasi putramu? Bagaimana bisa kau tidak mencegahnya?" cecarnya.
"Iya, Kak. Aku juga penasaran, apa Kakak sudah mengetahui rencana pernikahan Harly atau kamu sama dengan kami yang tahu belakangan dari media?" Nyonya Anggita ikut menyuarakan rasa penasarannya.
Tuan Utama menghela nafas panjang, melirik sepasang pengantin baru yang baru muncul dari lantai dua, mereka meniti anak tangga perlahan sambil bergandeng tangan.
"Dia sudah dewasa. Dia pasti tahu apa yang dia lakukan" ujarnya tenang.
Nyonya Besar terlihat tidak terima dengan jawaban Tuan Utama yang terlihat tidak keberatan dengan apa yang sudah terjadi.
"Kalian ini benar - benar keterlaluan. Suamiku menghianatiku dengan menikahi janda miskin itu. Lalu kau... Bagaimana bisa ayah dan anak sama - sama jatuh ke pelukan perempuan rendahan. Aku tidak habis pikir dengan selera kalian" ujar Nyonya Ananta dengan wajah marah.
Tuan Utama mulai terlihat malas meladeni keluh kesah Ibunya yang tak berkesudahan. Semakin diladeni semakin panjang buntutnya. Ia berdiri dan menatap dua perempuan dihadapannya.
"Tidak perlu menyangkut pautkan masa lalu dengan masa kini, Bu. Semua orang memiliki takdirnya sendiri" ujarnya kemudian.
"Ini semua karena kau salah memilih ibu untuk anakmu. Sekarang cucuku ikut - ikutan menikahi gadis rendahan seperti ayahnya." ujar Nyonya Besar Ananta kesal.
Tuan Utama menghela napas dengan kasar. Raut tak suka terlihat jelas diwajahnya. Cinta di masa lalu yang masih hidup di dalam hatinya kembali dihina, membuatnya muak dengan sifat sang ibu yang tak pernah berubah. Meskipun sudah dua puluh tahun berlalu, meski kini ia sudah memiliki pendamping yang baru. Tapi Ia sudah tak peduli, apa pun yang dikatakan ibunya ia sungguh tak ingin tahu. Baginya kebahagian tak bisa diukur dengan uang. Jodoh bukan sesuatu yang bisa disetarakan dengan bisnis yang bisa direncanakan dan dikontrol sesuai kemauan pemilik modal.
"Kak, mau kemana? Sarapan lah dulu bersama kami" ujar Nyonya Anggita saat melihat Tuan Utama beranjak pergi.
Namun Tuan Utama diam saja dan tetap mengayunkan kakinya. Ia berhenti di dekat anak tangga menyambut anak dan menantunya.
Tuan Utama tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya pada menantunya.
"Ini istriku Haina" ujar Tuan Muda Harly memperkenalkan istrinya.
"Selamat pagi Ayah" Haina mengangguk hormat dan menyalami tangan mertuanya. Ia tersenyum kikuk disamping suaminya.
"Baiklah, aku sudah bertemu menantuku. Selamat atas pernikahan kalian, Ayah sudah menyiapkan hadiah untuk kalian. Aldi akan mengurusnya" ujar Tuan Utama dan berlalu pergi meninggalkan ruangan bersama Aldi asistennya dan Pak Sun yang mengantar.
Kini giliran Haina menyapa nenek dan bibi suaminya. Mereka berjalan mendekat ke tempat dimana para tetua keluarga itu duduk.
Haina benar - benar merasa asing dan takut, takut dipermalukan dan dihina. Meski ia selalu sadar diri tapi bukan berarti hatinya tak akan terluka dengan penolakan yang menyakitkan.
"Sapalah, ini Nenek dan Tante Anggita" ujar Tuan Muda Harly.
Mereka masih berdiri di sana dan bahkan belum menerima satu patah katapun, tapi Haina sudah merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan menghakimi itu. Nyonya Besar dan putrinya itu menatapnya dengan sorot mata menghina.
"Selamat pagi Nenek dan Tante, saya Haina" ujar Haina dengan sedikit senyum menghias wajah cantiknya. Ia ragu akan menyalami mereka atau tidak. Melihat wajah kedua perempuan tua itu akhirnya Haina mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Tidak ada tanggapan dari dua tetua itu untuk membalas sapaan Haina. Mereka hanya melirik malas.
"Ada apa dengan kalian ini. Kenapa menikah dengan diam - diam seperti itu? Kalian tidak menghargai kami?" celetuk Nyonya Anggita pada akhirnya.
Haina hanya menunduk saja. Memang apa yang bisa ia katakan? Semua ini adalah ulah lelaki disampingnya.
"Kami sedikit buru - buru. Tidak perlu mengadakan resepsi, aku ingin privasi istriku terlindungi" ujar Tuan Muda Harly santai, tidak ada rasa bersalah terdengar dari ucapannya ataupun dari sorot mata itu.
"Apa yang harus kulakukan pada kalian? Kau pikir nenek akan menerima gadis ini?" Nyonya Besar kembali bersuara.
"Aku sudah mendapat restu ayahku. Jika Nenek tak bisa terima itu bukan urusanku"
"Apa katamu? Beraninya kau?" dada perempuan berusia kepala tujuh itu nampak naik turun mengiringi amarah dihatinya. "Jadi ini balas dendammu padaku? Kau sengaja memilih gadis yang sama sekali tak sepadan denganmu demi menghukumku?" hardiknya.
"Bu, tenanglah Bu. Jangan turuti amarah Ibu, tidak baik untuk tekanan darah Ibu" ujar Nyonya Anggita menenangkan Ibunya yang semakin emosi.
Tuan Muda Harly tersenyum dengan lebar. Matanya nampak berbinar menyaksikan amarah sang nenek.
"Tepat seperti bayanganku" batinnya.
"Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan semua ini!" Nyonya besar berteriak kencang menyalurkan amarahnya yang memuncak.
Tuan Muda Harly tidak perduli, Ia hanya tersenyum smirk. Lalu menarik tangan Haina menuju ke meja makan. Nyonya Besar dan putrinya terperangah melihat sikap Tuan Muda Harly yang terang - terangan membangkang.
"Astaga, Bu! Harly sepertinya benar - benar serius dengan pernikahannya. Apa dia begitu mencintai gadis itu?" ujar Nyonya Anggita tidak percaya.
"Kau ini! Dia sedang membalasku karena menghancurkan pertunanganannya dengan Jovanka" Nyonya Besar menatap putrinya geram.
Akhirnya mereka meninggalkan ruang tengah dengan diikuti beberapa pelayan. Keduanya akan sarapan di dekat kolam renang. Nyonya Besar tidak sudi sarapan bersama Tuan Muda Harly dan Haina yang telah mengacaukan pagi harinya.
Sementara itu di ruang makan, Tuan Muda Harly dan Haina tengah menikmati hidangan sarapan. Hanya mereka berdua disana. Tak ada percakapan, hanya bunyi sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring memecah kesunyian.
Tuan Muda Harly tampak bahagia awalya. Terpancar dari raut wajah tampannya. Tapi itu hanya sesaat, kini wajahnya kembali dingin.
Haina melahap isi piringnya dengan tidak bersemangat. Benaknya dipenuhi praduga. Ia ingin sekali menayakan pada Tuan Muda Harly. Tapi ia tidak punya keberanian. Mendengarnya langsung dari mulut suamninya itu hanya akan membuatnya semakin sulit menerima keadaan.
Bahwa ia mulai menyadari sesuatu, alasan mengapa ia dijerat dengan pernikahan tanpa cinta ini. Tapi apakah itu benar? Statusnya sebagai istri Tuan Muda Harly hanyalah sebagai hiasan dari pertunjukan balasan sakit hati. Benarkah karena alasan itu membuat Tuan Muda Harly rela menikahi perempuan yang bahkan baru dikenalnya.
"Apa yang yang sebenarnya dia inginkan dariku?"
*
__ADS_1
tbc.