Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Nasib


__ADS_3

Hancurnya karir Jiana membuat Haina ikut prihatin. Sebagai sesama perempuan, ia ikut bersimpati. Apalagi saat ia tahu semua dari cerita sang suami. Ternyata dunia ini begitu kejam dan bisa tak adil. Seperti yang dialami Jiana.


Haina merasa itu tidak adil. Bukan salah Jiana bila Jonathan Adam kecanduan dan jadi kurir narkoba. Bahkan Jiana tak pernah hidup bersama ataupun dihidupi ayahnya itu. Lalu tiba - tiba dia yang kena getahnya. Apa itu masuk akal?


"Tidak bisakah kau mengembalikan jabatannya? Bukankah dia sangat berprestasi?" tanya Haina malam ini dalam dekapan suaminya diatas ranjang.


Tuan Muda Harly melirik dengan mata disipitkan penuh curiga. Menduga - duga maksud sebenarnya sang istri. Bisa jadi gadis itu hanya sedang mengujinya.


"Kenapa melihatku begitu?" heran Haina mendapat lirikan penuh curiga itu.


"Hanya heran saja, kenapa kau terdengar berbesar hati dan peduli sekali padanya" tutur Tuan Muda Harly lalu menoel hidung Haina.


Yang ditoel berusaha menghindar tapi kena juga akhirnya.


"Aku peduli? Mungkin iya. Sebenarnya aku merasa sedikit bersalah padanya. Dia kehilanganmu setelah kalian lama bersama karena ada aku" ucap Haina sembari menerawang ke masalalu.


Mendengar itu Tuan Muda Harly merasa tercubit hatinya. Benar juga, semua dimulai dari ide gila Jun yang ia eksekusi tanpa pikir panjang. Tapi meski begitu tak sedikitpun ia menyesal.


Lelaki itu semakin mendekap erat sang istri agar tubuh mereka semakin rapat, berbagi kehangatan.


"Kau tahu, aku tidak pernah menyesalinya sedikitpun. Menikahimu lalu menyakiti Jiana" gumamnya.


"Berarti kau memang kejam. Penjahat wanita!" seloroh Haina lalu mencubit pinggang Tuan Muda Harly gemas.


Lelaki itu hanya tertawa kecil. Benar, ia memang jahat pada Jiana meskipun saat itu belum tahu bahwa wanita itu pernah menghianatinya. Ia malah jatuh cinta pada Haina.


"Jawab pertanyaanku tadi"


"Yang mana?"


"Mengembalikan jabatan Jiana"


"Tidak bisa. Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku bisa saja menunjukknya kembali. Tapi tidak untuk saat ini" sahut lelaki itu.


Haina mendengus. Mungkin karena diawali rasa tidak enak pada Jiana. Kehadirannya membuat wanita itu kehilangan cintanya. Rasanya ada yang mengganjal dihati. Sedikit rasa bersalah, ya sedikit. Jiana begitu malang. Sudah kehilangan kekasih ditambah kehilangan pekerjaan yang dicintainya.


Esok hari semua berjalan seperti biasa. Haina pergi bekerja diantar suaminya. Tapi gadis itu melarang Tuan Muda Harly turun. Sekarang malah dirinyalah yang takut dikenali sebagai istri Tuan Muda Harly.


"Ah, yang benar saja. Kenapa aku seperti pria simpananmu?" keluh lelaki itu saat ingin mengantar Haina sampai ke dalam restauran.


Ia ingin menunjukkan bahwa Haina adalah miliknya. Apalagi pada semua kaum pria disana, teruma Marchel yang kebetulan pagi ini terlihat sedang berbincang dengan Alya yang juga baru datang. Mereka telihat mendiskusikan sesuatu sambil menunjuk buku menu.


"Ya, suamiku simpananku!" sahut Haina diiringi kekehan. Ia membuka pintu hendak turun. Tapi malah ditahan Tuan Muda Harly yang memegangi tangannya.


"Apa lagi?" keluh Haina.


Tanpa banyak kata lelaki itu langsung menyesap bibir Haina. Mencium dengan rakus sampai gadis itu kehabisan napas.


"Haah haah hah!"


Lelaki itu malah menyubggingkan senyum melihat Haina yang sibuk mengatur napas.


"Itulah akibatnya kalau tidak pamit dengan benar" ucapnya dengan senyum jahil.


Haina mencebik. Kesal pada sang lelaki yang telah menciumnya rakus, membuat lipstiknya berantakan. Dengan jari ia rapikan pewarna bibir yang keluar garinya itu.


"Tidak usah pakai lipstik lagi!" perintah Tuan Muda Harly.


"Cih! Suka sekali melarang aku"


"Sini kucium lagi!" segera menarik pinggang Haina merapat padanya.


"Iya iya iya. Baiklah aku tidak akan pakai lipstik!" seru Haina. Takut disosor lagi.


"Ingat jaga jarak dari si sipit itu! Jangan bicara dengannya lebih dari satu menit! Jangan memandangnya lebih dari tiga detik! Ingat itu!" titah Tuan Muda Harly.


"Ya ya ya. Baiklah tuan muda" Haina menurut saja dari pada memperpanjang urusan. Lebih baik iya kan saja dulu, pikirnya.


Lelaki itu melepaskan pelukan dipinggangnya. Haina segera turun dan membawa tas selempangnya.


"Tunggu!"


"Apa lagi?"


"Kau tidak ingin melarang aku?"

__ADS_1


"Tidak. Lakukan saja semua seperti biasa. Aku percaya padamu!"


Mendengar itu Tuan Muda Harly tersenyum masam. Padahal ia juga ingin diposesifi sang istri.


Haina menutup pintu dan pergi begitu saja meninggalkan Tuan Muda Harly yang menatapnya dengan bibir mengerucut.


Sesampainya di perusahaan ruapanya ada tamu tak diundang diruangannya.


Ren yang menunggu sambil duduk di sofa langsung bangkit saat Tuan Muda Harly masuk keruangan itu.


"Selamat pagi, Tuan!" sapanya dengan wajah datar khas miliknya.


"Sepagi ini sudah ditunggu penghianat. Mimpi apa aku semalam. Bagaimana kau bisa masuk ke ruanganku tanpa membuat janji?" sarkas Tuan Muda Harly, tapi tak urung duduk juga di sofa itu.


Ren hanya tersenyum kecut mendengar sindiran itu. Ia pantas menerima kemarahan mantan atasan sekaligus sahabatnya itu. Subuh tadi ia meminta secara khusus pada Jun agar dapat menemui Tuan Muda Harly diruangannya.


"Saya menggunakan koneksi saya" sahut Ren gambalang. Tuan Muda Harly pasti tahu maksud perkataannya.


"Bocah itu!" gumam Tuan Muda Harly pura - pura marah.


"Tanpa bermaksud membuang waktu Anda, saya ingin menyampaikan sesuatu"


"Kenapa? Apa kau juga menginginkan hal yang sama?"


"Hah? Apa maksud Anda?"


"Semalam istriku meminta aku mengembalikan Jiana ke posisinya. Istriku itu benar - benar berhati malaikat" tutur Tuan Muda Harly mengagung - agungkan sang istri.


Ren duduk kembali. Ia mengulum senyum, ruapanya ada juga yang peduli pada Jiana, sang wanita kesepian.


"Nona memang baik hati. Tapi bukan itu yang ingin saya katakan. Saya hanya ingin mengingatkan Anda agar waspada"


Tuan Muda Harly menegakkan punggungnya.


"Maksudmu?"


"Anda harus waspada pada orang - orang yang mungkin akan menyerang Nona setelah ini. Seperti yang terjadi pada Jiana. Sebelumnya tidak ada yang pernah tahu Jonathan Adam memiliki seorang putri dari mantan wanita simpanannya. Bahkan keluarga Jonathan Adam sama sekali tidak tahu. Hanya Jiana dan mendiang ibunya yang tahu tentang kebenaran itu" teran Ren panjang lebar.


Tuan Muda Harly mengangguk paham. Ia mengerti apa maksud Ren. Dirinya pun dulu bahkan tak tahu siapa ayah mantan kekasihnya itu. Jiana mengatakan ayahnya sudah tiada sejak ia belum lahir.


"Tapi saya yakin orang itu bukan hanya ingin Jiana tersingkir dari posisinya tapi juga dari hidup Anda"


"Kau yakin?"


Ren mengangguk mantap.


"Informan yang pertama kali memberi informasi sebelum penangkapan Jonthan dan informan yang mengatakan Jiana adalah putrinya, mereka orang yang sama"


Tuan Muda Harly melebarkan matanya.


"Saya sudah menyekidikinya. Sejauh ini saya belum berhasil menemukan orang itu" lanjut Ren.


"Lalu dari mana kau tahu?"


"Informasi dikirimkan lewat email. Masalahnya alamat IP pengguna berada diluar negri"


"Luar negri?"


"Iya, China. Sulit melacaknya karena hal itu!"


Tuan Muda Harly menerawang. Apa kemungkinan Jiana punya musuh di China. Tapi ia tak yakin. Karena Jiana tak pernah pergi ke China ataupun punya teman disana. Setahunya begitu.


Bisa jadi benar apa kata Ren. Ada orang yang sengaja menyingkirkan Jiana.


Tuan Muda Harly bergumam dalam hati sambi mengepalkan tangan. Tiba - tiba rasa takut menjalar dihatinya. Bagaimana bila orang itu juga berniat mengganggu istrinya. Haina pasti akan terluka. Belum lagi gadis itu masih dalam pantauan psikolognya. Ia belum dinyatakan sembuh dari traumanya.


"Baiklah. Aku berterima kasih kau peduli pada keselamatan istriku" tutur Tuan Muda Harly.


Ren mengangguk dan tersenyum. Lalu bangkit hendak pamit.


"Bagaimana pekerjaan barumu?" tanya Tuan Muda Harly. Ia tahu dari Jun, mantan asisten kepercayaannya itu kini bekerja sebagai wakil direktur disebuah firma hukum. Ren memang awalnya adalah seorang advokat sebelum menjadi asistennya selama 7 tahun.


"Cukup menarik, Tuan" sahut Ren.


"Sekarang kau bukan asistenku lagi. Jadi tidak perlu memanggilku begitu. Tidak ada mantan teman" gumam Tuan Muda Harly lalu bangkit dan berjalan menuju kursinya.

__ADS_1


Mendengar itu Ren tersenyum haru. Rupanya Tuan Muda Harly sudah memaafkannya dan masih menganggapnya sebagai teman.


"Kalau begitu, aku permisi" tuturnya lalu berjalan menuju pintu.


"Katakan pada Jiana untuk bersabar. Nikmati saja dulu masa senggangnya. Yayasan kemanusiaan Benjamin di Australia akan segera membutuhkan direktur baru. Dia pasti cocok kalau berminat" tutur Tuan Muda Harly saat Ren menarik handle pintu.


Ren semakin tersenyum lebar. Tuan Muda Harly masih peduli pada Jiana. Ya, setidaknya sebagai teman. Seperti awal mula hubungan mereka dulu.


Ia kemudian meninggalkan ruangan wakil presdir menuju ruangan Jun.


Adiknya itu tengah memeriksa agenda yang baru saja dibuat sekretaris.


Ruangan berdinding kaca itu tampak sama seperti ia tinggalkan dulu. Dengan setumpuk dokumen untuk diperiksa. Jun terlihat menguasai pekerjaannya.



"Sibuk sekali!" celetuk Ren lalu mendudukkan diri di sofa ukuran sedang yang ada disana.


"Gara - gara siapa?" sahut Jun tanpa mengalihkan pandangan dari agenda ditangannya.


Ren mengulum senyum. Bangga pada sang adik yang sudah bisa menggantikannya mendampingi Tuan Muda Harly. Dengan begitu ia tak akan merasa bersalah lagi pada mantan atasannya itu.


Tapi Jun malah kesal padanya, baru bergabung setahun sudah ditinggal Ren. Membuatnya kelabakan mengurusi banyak pekerjaan. Sedangkan belum ada pengganti yang pas sebagai rekan asistennya yang baru. Entah mengapa sepertinya Tuan Muda Harly menunda - nunda untuk merekarut asisten baru. Ada saja yang kurang dari para pelamar itu.


"Aku tahu kau belum sarapan. Ayo aku temani sarapan di kantin!" ajak Ren. Ia bangkit dari sofa dan menarik lengan Jun tanpa permisi.


"Ck! Bilang saja malas pergi sendiri. Sok peduli padaku" sungut Jun. Tapi ia pasrah juga diseret keluar ruangannya.


Dua pria tampan beradik kakak itu berjalan beriringan menuju kantin perusahaan di lantai dua. Tatapan mata para gadis tak lepas mengiringi keduanya. Apalagi Jun yang punya banyak penggemar.


Sesampainya dikantin keduanya langsung ikut antrian. Aroma sup daging menguar harum, kopi dan roti panggang turut memanjakan indra penciuman. Semakin membuat yang antri jadi lapar. Kantin Benjamin Corp memang menyediakan menu lezat dan bergizi secara gratis untuk semua karyawan perusahaan. Tak heran di jam sarapan kantin itu selalu ramai.



Ren mengunci pandangannya pada salah seorang staf perempuan dengan tali tag bewarna biru. Artinya perpempuan itu berasal dari kantir Benjamin Foods, gedung yang sama dengan kantor pusat. Disela barisan para staf yang sedang antri itu ia mengenali objek pengamatannya.


"Bukannya gadis itu yang selalu ikut ke pesta bersama Nona?" tanya Ren pada Jun yang ada didepannya.


Jun menoleh ke belakang melihat Ren. Lalu mengikuti arah pandang kakaknya itu.


DEG!


Ruhi sedang tersenyum manis pada seorang staf laki - laki dibarisan yang sama dengan gadis itu. Keduanya terlihat mengobrol akrab dan saling menatap lekat.


Jun menghela napas panjang kemudian mengalihkan pandangan lurus ke arah petugas kantin yang sedang melayani antrian.


"Jangan pedulikan dia, Kak"


"Kenapa? Dia cantik. Bisa kau kenalkan dia padaku?" celetuk Ren sambil menggoyang bahu Jun didepannya.


Jun tak gentar. Tak mau melihat ke arah Ruhi yang antri dibarisan lain bertuliskan nasi goreng seafood di papan kecil. Ya, Jun memang patah hati belakangan. Ia terlalu sibuk bekerja sampai tak ada waktu menjalin kasih dengan staf Benjamin Food itu.


"Kau pasti punya nomornya. Berikan padaku ponselmu!" semana - mena Ren meraba dada Jun untuk mencari keberadaan ponsel dibalik jas.


"Jangan gila Kak! Lepaskan tanganmu dari tubuhku"


"Kenapa? Kau tidak rela mantanmu kuambil?"


"Ck! kau menyebalkan!" Jun merapikan kembali jasnya yang sempat diacak Ren.


"Kasihan sekali kau ini. Sibuk bekerja sampai harus merelakan gadis secantik itu jadi milik orang lain"


"Kau yang lebih kasihan, dasar pria tua tak laku!" balas Jun sengit.


Ren seketika mencebik. Ya, dia sudah diusia pertengahan tiga puluh tapi masih belum bertemu jodoh juga.


"Nasib!"


*


tbc.



Ren & Jun

__ADS_1


__ADS_2