Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Ingin Pisah


__ADS_3

Katanya rindu adalah penyakit mematikan. Penderitanya bisa mengalami berbagai komplikasi yang sangat menyiksa. Mulai dari susah tidur, kehilangan nafsu makan, sulit fokus, sesak atau sakit didada. Bahkan bisa menyebabkan depresi berat bila tidak segera ditangani.


Bagi Tuan Muda Harly yang sedang ditimpa sakit malarindu, Hainalah obatnya. Jadi saat ia melihat sang istri datang menyambangi perusahaannya, ia tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi dalam keadaan salah paham. Ia tak akan bisa tenang kalau sampai itu terjadi.


Sedangkan Haina bersikap dingin dan tak acuh. Padahal sebenarnya perasaanya campur aduk. Meski ia bisa menebak apa yang terjadi antara sang suami dan wanita itu, tapi sudut hatinya terasa terbakar juga. Apalagi saat wanita cantik berwajah blasteran itu memeluk erat lengan Tuan Muda Harly, hingga rapat ke bagian dada.


"Buka pintunya!" seru Haina saat ia sudah turun dari gendongan sang suami.


"Mau kemana? Tetaplah disini, aku merindukanmu, sayang"


"Aku harus pergi. Semua hadiahmu aku kembalikan!"


"Apa? Kenapa?"


"Aku tidak membutuhkannya"


"Kalau begitu sebutkan kau butuh apa? Akan aku berikan semua yang kau mau" bujuk Tuan Muda Harly.


"Aku tidak ingin apa - apa darimu. Biarkan saja aku sendiri. Jangan temui aku sampai panggilan pengadilan mempertemukan kita" tutur Haina tak gentar.


"Jangan bicara begitu, sayang. Aku tidak mau bercerai!"


"Masa bodoh! Sekarang cepat buka pintunya!" seru Haina lagi.


"Tidak! Aku tidak mau kau kabur lagi" dengan segera meraup kedua pipi istrinya.


Haina ingin melepaskan namun serangan mendadak lelaki itu mengunci seluruh tubuhnya seketika.


"Hhhmmmppp!" Haina mendorong sekuat tenaga sampai ciuman itu terlepas.


Dengan wajah memerah dan mata berair ia mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.


"Jangan menyentuhku sesuka hatimu! Bisa tidak sedikit saja hargai aku?" sentak Haina emosional. Ia terlihat begitu kesal dan marah. Bisa - bisanya lelaki itu menyosor bibirnya saat ia baru saja membahas cerai.


"Ma-maaf, aku..." kelu lidahnya tiba - tiba melihat air muka Haina yang begitu keruh. Amarah terpancar dari sorot mata sang istri.


"Kau selalu egois!"


"Maafkan aku, aku hanya terlalu merindukanmu sayang" ucap Tuan Muda Harly dengan nada memelas.


Hampir putus asa rasanya menyampaikan dan membuat Haina mengerti bahwa ia sudah hampir gila menahan rindu.


Rindu yang sudah bersarang sejak Haina menghilang, begitu menyiksanya. Kini Haina sudah ada didepan matanya tapi tak dapat ia peluk dan cium sesuka hatinya. Ia tahu semua akibat kesalahannya. Dirinyalah yang bodoh, tidak menyadari perasaannya lebih awal. Hingga membuat keadaan jadi rumit dan menyakitkan bagi banyak orang. Haina, dirinya serta Jiana yang akhirnya tersingkir dari hidupnya.

__ADS_1


Tapi, Haina tidak sedang dalam mode peduli tentang hati sang suami yang merana akibat kehilangannya. Ia larut dalam perasaan terluka, marah dan kecewa. Ia bahkan enggan mengakui bahwa rindu juga hadir dihatinya. Menolak dengan keras bahwa ia juga tersiksa akibat rasa cinta yang ia miliki. Semua itu berkecamuk dalam dirinya. Dua sisi berlawanan. Satu sisi, ia tidak bisa menerima semua rasa sakit dan ingin mengakiri semuanya. Lain sisinya, cinta membuatnya sulit menghilangkan wajah sang suami dari benaknya.


Tapi rasa sakit selalu mengingatkannya untuk membatasi diri. Bertahan dengan keputusannya saat ini, berpisah.


"Kau dan aku tak bisa bersama lagi. Sesuai perjanjian yang kau buat diawal seharusnya kita berpisah sekarang" ujarnya yakin.


"Beri aku kesempatan, sayang"


"Berhenti memanggilku begitu! Kau dan aku sudah bukan siapa - siapa lagi"


"Kau masih istriku!" teriak Tuan Muda Harly tak terima. Sungguh sakit hatinya mendengar kalimat Haina. Bukan siapa - siapa? Mereka masih suami istri sampai detik ini. Tak ada yang akan berubah. Kerena ia akan memastikan Haina akan tetap berada disisinya, sebagai istri Tuan Muda Harly Benjamin.


Haina mencibir pernyataan yang meski benar itu. Tapi status istri yang dimaksud oleh calon mantan suaminya itu tak pernah benar - benar ia nikmati.


"Istri? Baikalah, kalau begitu sekarang calon mantan istri!" tutur Haina ketus.


"Jangan bercanda! Selamanya kau tetap istriku!" Tuan Muda Harly memegangi kedua bahu Haina dan meremasnya kuat. Menatap dalam - dalam bola mata Haina yang bergetar karena luapan perasaannya yang bergejolak.


"Lepaskan!" Haina berontak.


Tuan Muda Harly ingin mencium Haina lagi. Menyalurkan kerinduan dan luapan cintanya yang bergelora. Tapi ia sadar Haina mungkin akan marah besar bila ia nekat menempelkan bibirnya lagi. Akhirnya ia melepaskan kedua bahu Haina.


"Maafkan aku" gumamnya pelan dengan wajah tertunduk. "Aku sungguh minta maaf, sayang. Aku tahu aku bersalah. Tapi waktu itu aku sungguh tidak sengaja melakukannya"


Malam pertama yang ia harapkan terjadi dengan indah dan berkesan malah menjadi malam penuh air mata. Apalagi saat itu ia melihat sendiri dengan kedua matanya bagaimana suaminya sendiri berciuman dengan wanita lain. Wanita yang ia akui sebagai cintanya.


"Lepaskan saja aku dan kembali pada cintamu" ujar Haina pelan.


"Yang kucintai adalah kau, istriku"


"Istri, istri, istri! Aku lelah jadi istrimu. Apa sebenarnya arti istri bagimu? Aku tak pernah merasa berarti saat menjadi istrimu"


Haina berjalan meninggalkan Tuan Muda Harly yang termangu sendirian.


"Buka pintunya. Kumohon, aku harus pergi!" tutur Haina di dekat pintu bercat silver itu.


Tuan Muda Harly terdiam sesaat lalu berjalan gontai ke arah pintu. Membuka kunci pintu dengan tidak rela. Wajahnya nanar melihat kepergian Haina yang terus menjauh tanpa sekalipun berbalik menatapnya.


Ia mengusap wajahnya kasar lalu menyugar rambut kebelakang. Menyadari perjuangan panjang didepan mata yang harus ia lalui untuk mendapatkan hati Haina lagi.


*


Sebagai tindak lanjut dari keputusannya hari ini Haina mengunjungi kantor pengacara dan menunjuk pengacara sebagai kuasa hukum dalam menangani gugatan cerainya. Ia ingin semua cepat selesai antara ia dan Tuan Muda Harly. Ia ingin fokus pada pekerjaan barunya. Mengelola restauran dengan sungguh - sungguh. Mewujudkan impiannya satu persatu. Membahagiakan keluarganya didesa.

__ADS_1


"Proses perceraian dapat saja memakan waktu lama, apalagi bila tergugat bersikeras tidak ingin bercerai" tutur pengacara wanita paruh baya bernama Halimah.


"Berapa lama saya harus menunggu, Bu Halimah?"


"Paling lama sekitar enam bulan. Sebaiknya kita siapkan saksi dan bukti - bukti sebaik - baiknya agar proses sidang berjalan lancar" terang Halimah lagi.


Haina menggigit bibir bawahnya pelan. Tak disangka akhirnya ia harus melangkah sejauh ini. Tapi ia harus menguatkan tekad agar dapat menata hidupnya lebih baik lagi.


Sekembalinya dari kantor pengacara, Haina segera menyibukkan diri di Restoramie. Pada saat jam makan siang tim akan sangat sibuk, jadi ia ikut terjun langsung menyajikan pesanan apabila staf kewalahan.


"Meja berapa?" tanya Haina pada Alya yang bertindak sebagai manager.


"Meja empat puluh satu!" seru Alya dari balik meja kasir.


Haina segera melipir ke meja empat puluh satu yang berada di lantai dua. Meja yang terletak di sudut balkon itu berada dibalik dinding kaca. Seorang pria tengah duduk sambil menikmati pemandangan langit biru dan hamparan kota dibawah sana.


"Permisi, pesanan mie kepiting, nasi sapi lada hitam dan tempura Anda datang" Haina menghidangkan satu persatu piring saji diatas meja.


Tapi pria itu berdiri dan malah menarik satu kursi disamping Haina.


"Duduklah. Makan sianglah denganku, kau sangat sibuk bekerja sampai lupa makan"


Haina tercekat mengenali suara pria itu.


"An-Andreas!" gumam Haina.


"Ya, ini aku. Apa kabarmu, cinta pertamaku?"


Lantai dua masih terlihat sepi dan hanya diisi beberapa penghuni di bagian dalam. Sedangkan di area balkon dari empat meja yang tersedia hanya meja Andreas saja yang terpakai.


"Silakan nikmati makan siangmu. Aku turun dulu!" ucap Haina, segera balik badan mengabaikan ekspresi sendu Andreas.


"Aku dan Tamara sedang proses bercerai!" seru Andreas saat Haina berjalan beberapa langkah.


Haina berhenti sejenak tapi ia tidak membalik badannya.


"Itu tidak ada urusannya denganku!" katanya.


"Aku berniat mengejarmu kembali!"


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2