Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Cinta Pertama


__ADS_3

"Aku benci kau" ujarnya dengan suara gemetar dan tangis yang ditahan.


Pelupuk matanya sudah penuh genanangan cairan bening yang siap tumpah. Tapi gadis itu masih bertahan sekuat hati. Ia tidak ingin menangis lagi karena lelaki dihadapannya.


"Jangan membenciku. Kau mencintaiku, harus" gumam Tuan Muda Harly pelan, tapi Haina masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Kau egois!" kali ini Haina tidak dapat membendung lagi cairan bening dipelupuk matanya. Ia marah, kesal dan muak dengan keegoisan tuan muda arogan itu.


Bugh!


Pukulan demi pukulan ia layangkan di dada bidang suaminya. Haina ingin sekali membuat lelaki itu mengerti bahwa ia benci dan marah padanya. Tapi tuan muda yang dipukuli itu diam saja, kekuatan tangan Haina itu tak seberapa hingga tak dapat menyakitinya.


Haina lelah sendiri dan mulai berhenti. Tenaganya sudah benar - benar terkuras habis. Ia hanya dapat menatap kesal lelaki itu.


"Jangan habiskan tenagamu itu. Ingat kata dokter untuk beristirahat. Kalau kau tidak menurut kau tanggung sendiri akibatnya!" ujar Tuan Muda Harly. Ia beringsut dan meraih tubuh Haina dalam pelukannya. Mengusap pipi gadis itu yang basah karena menangis.


"Cih! Memangnya siapa yang membuatku sakit begini. Itu kau!"


Haina ingin menghindar tapi ia sudah tak punya tenaga. Belum lagi nyeri di perutnya belum hilang sepenuhnya. Ia tidak punya pilihan selain memejamkan mata dalam pelukan suaminya.


*


Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir satu bulan lamanya Haina mengikuti kursus di AK Studio. Setiap hari terasa menyenangkan. Ia selalu bersemangat dan gigih berlatih di studio. Apalagi sudah hampir dua minggu ini Tuan Muda Harly tak pulang kerumah karena dinas ke luar negri.


"Apa Anda tidak rindu pada Tuan, Nona?" tanya Jun dibalik kemudi.


"Kurasa tidak" sahut Haina cepat. Sebenarnya ia memikirkan suaminya itu beberapa kali. Ia bahkan kesal karena tak mendapat satupun pesan apalagi telepon dari suaminya itu.


Semenjak Tuan Muda Harly berangkat ke negri paman sam bersama Ren, Jun ditugaskan untuk mengantar jemput Haina. Padahal Haina juga punya pengawal yang selalu mengikutinya kemanapun. Tapi Jun bilang tuan muda takut Haina kabur darinya. Tuan muda itu bahkan sudah tak menpercayakan Dika lagi untuk menyupiri Haina semenjak kejadian itu. Dimana Haina menyerahkan makanan buatannya pada Marchel dan berujung tragedi pingsannya Haina dikamar mandi.


"Sayang sekali. Padahal tuan muda merindukan Anda" ucap Jun santai.


Haina melirik wajah Jun yang tersenyum menggoda dari spion tengah. Ia berdecih.


"Jangan mengarang. Dia bahkan tak menghubungi aku sekalipun!" sahut Haina ketus.


Jun tergelak mendengar gerutuan Haina. Ya, ia memang kadang sering mengisengi Haina sampai membuat gadis itu marah dan kesal padanya.


"Asal Nona tahu saja. Setiap hari para pengawal itu akan mengirimkan foto Anda pada tuan muda" sahut Jun sambil melirik sebuah sedan yang ditumpangi Bella dan Steffi dari kaca spion.


Haina otomatis menoleh ke belakang. Ia melihat sedan yang dikenalinya mengekori mobil mereka.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Anda menelepon tuan muda lebih dulu?" saran Jun kemudian.


"Kau pikir aku tidak mencoba. Dia tak mengangkat teleponku tahu!" Haina menutup mulutnya rapat. Ia tak percaya sudah keceplosan bicara pada Jun si asisten usil yang sering membuatnya kesal itu.


Jun tergelak lagi. Ia merasa menang kali ini. Bisa mengetahui isi hati nonanya yang kecewa karena tak bisa berkomunikasi dengan Tuan Muda Harly.


"Siapa yang menyuruhmu tertawa?" sentak Haina. Kalau bicara dengan Jun ia bisa jadi nona muda yang ketus karena kelakuan pria itu sendiri.


Jun menutup mulutnya rapat saat menyadari Haina benar - benar kesal padanya. Mungkin ia sudah keterlaluan pikirnya.


"Maafkan saya, Nona. Tapi ketahuilah, saya adalah orang pertama yang ikut berbahagia bila Anda dan Tuan muda benar - benar bisa saling mencintai" ujar Jun tulus.


Ya, dialah yang sudah membuat Haina terjerat pernikahan dengan Tuan Muda Harly. Tentu ia berharap tuan mudanya itu bisa bahagia dengan istrinya.


Haina tak ingin berkomentar. Ia menyimak saja perkataan Jun barusan.


Sesampainya dirumah Haina disambut


oleh Pak Sun diteras. Haina buru - buru turun, ia tidak ingin dibukakan pintu oleh Jun.


"Bagaimana hari ini Nona?" tanya Pak Sun dengan senyuman.


"Menyenangkan seperti biasa Pak Sun. Oh ya hari ini aku memasak bakmi dan pangsit. Silakan dicicipi Pak Sun" ujar Haina menyerahkan paper bag berisi makanan ketangan Pak Sun.


Haina melangkah masuk kedalam rumah. Pak Sun segera mengejarnya usai mengode Jun agar mengikuti.


"Ada apa Pak Sun? Aku akan kembali ke kantor" kata Jun sambil terus mengikuti Pak Sun dan Haina.


"Kau akan tahu nanti" kata Pak Sun.


Sesampainya di ruang tengah Haina berhenti di depan aquarium besar. Ia melihat Nyonya besar Ananta disana sedang berbincang dengan seseorang. Haina tidak melihat wajahnya.


"Nenek, aku sudah pulang" ujar Haina berjalan menghampiri.


Nyonya besar Ananta hanya melirik sekilas tanpa sepatah katapun. Ya, ia selalu begitu. Tidak pernah menganggap Haina ada.


Haina biasanya tidak kecewa. Ia kuat hati meski harus tebal muka. Tapi di depan orang lain, ia malu. Haina meremas tangannya. Tidak tahu harus apa.


"Nona, sebaiknya Nona segera beristrirahat. Saya akan mengantarkan Anda ke suatu tempat malam ini" ujar Jun.


Haina mengangguk saja dan beranjak pergi dari sana. Tiba - tiba tamu yang bersama nenek suaminya itu bersuara.

__ADS_1


"Ini pertemuan pertama kita. Kuharap kau betah bertemu aku setiap hari" ujar wanita itu.


Haina mendapati seorang wanita cantik dihadapannya. Hanya sekali lihat tapi Haina menangkap kesan mendalam tentangnya. Cantik, pintar dan memiliki aura wanita dewasa yang menawan.


"Jiana" Ujar wanita itu memperkenalkan diri.


"Haina" balas Haina.


"Mari Nona" ajak Jun lagi.


Haina pamit dari ruangan itu menaiki tangga diikuti Jun. Mereka sampai diruang kerja Tuan Muda Harly karena Jun mengajaknya bicara empat mata.


"Sebaiknya Anda menyiapkan diri Nona. Dia Jiana. Mantan kekasih tuan muda, cinta pertamanya. Nyonya besar Ananta pasti akan menggunakannya sebagai alat untuk menyingkirkan Anda" Jun bicara dengan sangat serius kali ini.


"Apa hubungannya denganku?" Haina berusaha tak peduli.


"Anda harus membuat tuan muda tetap disisi Anda apapun yang terjadi"


"Apa Harly masih mencintainya?"


"Jawaban apa yang Anda inginkan?"


"Ternyata iya" Haina menyimpulkan sendiri dari ekspresi Jun.


"Jangan memikirkan hal itu. Yang perlu Nona pikirkan adalah bagaimana agar tuan muda mencintai Nona"


"Jika mereka masih saling menginginkan mengapa dia menikahi aku?" sentak Haina tak terima.


Kenapa ia dipilih? Kenapa harus dirinya yang dijadikan alat balas dendam Tuan Muda Harly pada neneknya? Sampai kapan ia harus terjebak pernikahan ini? Sudah dari lama Haina mempertanyakannya. Tapi Tuan Muda Harly seperti menyimpan misteri. Meski Haina berusaha tak peduli tapi akhirnya ia merasa terusik juga.


"Dia sama dengan Anda, bukan cucu menantu yang diinginkan Nyonya besar"


"Lalu apa? Jadi mereka memutuskan bersama setelah aku pergi?"


Jun menggeleng lemah. Ia pun ragu sebenarnya dengan tujuan Tuan Muda Harly menikahi Haina. Ia takut semua berjalan tak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


"Saya tidak tahu pasti, Nona. Tapi saya sangat berharap pernikahan Anda dan tuan muda akan berlangsung selamanya. Saya yakin Nona adalah orang yang tepat untuk tuan muda" Jun memandangi Haina penuh harap. Ia ingin Haina membantu Tuan Muda Harly terbebas dari cinta pertamanya.


"Kau sangat peduli padanya" ujar Haina. Kemudian ia beranjak pergi dari ruangan itu.


"Saya akan membantu Anda sebisa mungkin!" janji Jun saat Haina melewatinya menuju pintu.

__ADS_1


*


tbc


__ADS_2