
Restoran di hotel The Haina tidak jauh beda dengan restoran di hotel berbintang lainnya. Mewah dan berkelas dengan menu - menu istimewa. Tapi yang membuatnya berbeda adalah lokasinya yang ditepi tebing yang dibawahnya ada lautan luas. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata dapat dilihat dari dalam restauran, selain itu ada pula ada pula meja yang disediakan di tamannya.
Demi menikmati senja yang indah di pesta syukuran Restoramie, Haina mengatur agar semua orang berkumpul disore hari. Namun sayangnya, kedua orang tua Haina tak dapat ikut karena harus mengantar Hagi untuk wawancara beasiswanya esok hari. Oleh karena itu Haina tidak memaksakan mereka hadir karena khawatir sang ibu akan kelelahan.
Tapi tak mengapa baginya. Meski sedikit menyayangkannya namun tak menjadi soal baginya. Karena semua staff dan partnernya dapat hadir dan merayakan bersama.
Senyum indahnya tak henti menghiasi wajah cantiknya kala menghias diri di ruang ganti. Rasanya ia tak sabar untuk segera berangkat.
"Nona, Tuan muda akan segera sampai. Apa kita akan langsung berangkat?" tanya Steffi.
"Harly bilang ingin mandi dulu. Kalian bisa bersantai dulu sebelum berangkat," sahut Haina tanpa menoleh. Namun ia melirik pengawalnya itu melalui cermin.
Steffi mengangguk patuh.
"Oh, ya. Nanti jangan sungkan untuk ikut makan - makan di sana, ya!" ujar Haina. Kali ini ia menoleh dan menunggu jawaban Steffi.
"Baik. Terima kasih, Nona."
Haina duduk manis menunggu di sofa ruang tengah menunggu sang suami kembali. Lelaki itu berjanji akan pulang lebih awal demi acara hari ini. Ia sudah rapi dengan gaun panjang selutut bewarna maroon kesukaannya. Potongan leher model sabrina membuatnya terilihat canik dan seksi bersamaan.
Bunyi pintu dibuka membuat senyumnya mengembang sempurna ia bangkit dan berlari menyambut suaminya yang baru pulang.
Perempuan hamil itu menghambur memeluk suaminya.
"Astaga! Kenapa lari?!" Tegur Tuan Muda Harly. Sudah pasti ia cemas pada sang istri.
Haina menyengir saja tanpa merasa bersalah membuat sang suami menautkan alis dab mengerutkan kening.
"Ya. Aku janji akan lebih hati - hati," tutur Haina akhirnya dengan raut mengiba. "Jangan marah, ya?"
Haina melepas pelukan dan mulai melepaskan dasi yang mencekik leher Tuan Muda Harly. Dilanjutkan dengan menanggalkan jas. Takut - takut ia melirik wajah tampan itu masih terlihat masam.
Ada apa kali ini? Apa masih marah karena aku lari?
"Aku akan mandi sebentar!"
Lelaki itu melenggang kasuk kamar dengan Haina yang mengekor dibelakangnya.
Haina masih diam memperhatikan gerak - gerik suaminya.
Brak!
Pintu kamar mandi ditutup dengan keras membuat Haina berjengkit kaget. Ia semakin heran dengan suaminya, lelaki itu nampak gusar.
"Ada apa sih dengannya?" keluh Haina. Jujur, ia merasa ada yang aneh dengan tingkah suaminya. Seperti ada sesuatu yang membuat lelaki itu begitu terbebani. Tampak dari raut wajahnya yang kaku dan sedikit gusar. Lelaki itu juga tak tersenyum seperti biasanya.
Haina jadi sedikit sedih, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Setengah jam kemudian mereka sudah duduk di mobil, siap membelah jalanan menuju The Haina. Kali ini mereka diantar supir.
"Sayang, apa semua baik - baik saja?" Haina buka suara memecah keheningan.
Seketika Tuan Muda Harly mengangkat wajahnya dan tersenyum. Senyumnya dipaksakan.
"Tentu!" sahutnya singkat.
"Tapi..."
"Kita hampir sampai!"
Mereka turun dari mobil sesaat kemudian.
Menempati bagian taman, acara telah dipersiapkan dengan baik oleh pihak restoran dan juga EO. Tidak terlalu berlebihan, hanya dekorasi seperlunya. Karena bagian taman dari restoran itu sudah sangat indah. Banyak bunga hidup, serta pemandangan lautan diseberang sana.
Senyum cerah segera terbit diwajah cantik Haina saat dilihat semua orang sudah hadir. Ada dua puluhan orang disana, duduk sambil bertukar cerita satu sama lain. Haina duduk setelah beberapa kalimat sapaan beberapa orang menyambutnya hangat.
"Sebentar, aku ada perlu dengan Jun. Nikmati waktumu, sayang."
Haina mengangguk dengan senyuman. Sementara Tuan Muda Harly melenggang pergi bersama Jun ke arah lain.
"Dia masih sangat sibuk," jelas Haina pada beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian Tuan Muda Harly.
Marchel dan Alya hanya menyahut dengan senyum kikuk. Tampak enggan berkomentar lebih lanjut.
"Hei, bagaimana dengan persiapan lahirannya Kak Olga?" Olga duduk tepat disamping Haina. Wanita itu tengah hamil besar, diperkirakan akan melahirkan minggu depan.
"Oh, iya. Semua berjalan lancar. Aku rasa bayinya juga tidak sabar ingin segera bertemu kalian semua. Aku bahkan sering mengalami kontraksi palsu." Olga menjelaskan dengan semangat.
"Dia pasti akan sangat cantik seperti ibunya," tutur Haina. Dengan gerakan pelan ia pun mengusap perut buncit Olga dari balik gaun biru laut yang dikenakan wanita hamil tua itu.
"Tak terasa kita akan jadi ibu!" gumam Olga sembari menebar senyum.
Haina dan Olga saling tersenyum serta saling menatap penuh haru.
"Ekheemm ... Tak terasa aku ingin juga jadi Ibu!" celetuk Alya kemudian. Mengundang gelak tawa yang lainnya.
Alya memasang senyum getir pertanda hatinya yang gundah. Berhubungan jarak jauh dengan sang suami yang bekerja di seberang pulau memang membuatnya cukup kewalahan. Menahan rindu dan keinginan untuk segera punya momongan.
"Apa suamimu jarang pulang?" Marchel yang sedari tadi diam saja kini ikut bersuara. Pasalnya ia sangat tahu bagaimana Alya hanya menghabiskan waktu dengan mengelola Restoramie. Bahkan di hari liburnya pun ia kerap datang ke Reatoramie. Membuat Marchel berpikir bahwa Alya jarang bertemu suaminya.
"Ya, begitulah Ko," sahut Alya usai mengedikkan bahu. Nada lesu dan wajah pasrah.
Tak lama, senja menampakkan pesonanya. Memukau semua orang untuk menikmati indahnya suguhan semburat keemasan tiada tara. Mengukir senyum hangat diwajah setiap insan yang melihatnya.
Kemudian para pelayan sigap memenuhi meja panjang itu dengan berbagai menu lezat menggugah selera.
__ADS_1
Di saat itu pula muncullah pasangan yeng mencuri perhatian semua orang. Seorang pria dewasa yang tampan dengan tubuh menjulang tinggi berjalan bersisian dengan seorang gadis muda jelita.
"Paman dengan Sora?" Keterkejutan Haina membuat pria dewasa yang dipanggil paman itu tersenyum geli.
Sedangkan Haina menilik dengan lirikan tajam pada gandengan tangan sepasang sejoli itu.
Sora tersenyum kikuk dan menyapa dengan ramah.
"Jelaskan sesuatu, Paman!" Bukannya karena Haina terlanjur berpikiran buruk soal hubungan Ben dan Sora. Hanya saja ia pernah mendengar rumor tak sedap tentang Ben. Lelaki itu tak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita. Semua teman kencannya berakhir kecewa dan patah hati.
"Terlalu ingin banyak tahu tidak baik bagimu! Dimana keponakanku?"
"Apa sih paman ini. Harly sedang bicara sesuatu dengan Jun."
Ben melepas gandengan Sora dan mencari keponakannya.
"Duduk sini!"
Haina mengenalkan Sora pada semua orang. Gadis itu nampak kikuk dan malu - malu.
"Seharusnya aku memohon untuk tidak ikut," kata Sora pada Haina.
"Kenapa berkata begitu. Kau diterima disini. Lihat di meja itu, mereka para anggota keluarga," tunjuk Haina pada meja seberang yang riuh dengan obrolan para wanita yang membawa anak.
.
Tiga lelaki tampan sedang berbicara dengan serius.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Ben bertanya.
"Aku ingin memenjarakannya tapi tidak bisa!"
"Ini rumit. Walaupun aku mendukung niatmu, tapi kurasa kau memang harus membiarkannya saja."
Tuan Muda Harly dan pamannya itu sama - sama bermuka masam.
"Bagaimana Restormie?" Ben kembali bertanya karen kepeduliannya.
"Penyelidikan sudah selesai dan bangunan sedang dibangun ulang," jawab Tuan Muda Harly.
"Apa Haina tidak curiga?"
Tuan Muda Harly menghela napas panjang. Menggaruk pelipisnya lalu menggeleng lemah.
"Tuan menutupinya dengan baik. Lagi pula kehamilan Nona bisa menjadi alasan yang bagus untuk melarangnya pergi ke restorannya." Jun mengimbuhi.
"Ayo kita bergabung bersama mereka. Acara makan malamnya sudah akan dimulai," Tuan Muda Harly berjalan lebih dulu.
Suasana tampak tenang, kelihatannya semua yang hadir sedang bersiap menyantap hidangan. Tak banyak yang bicara sehingga suara musik yang diputar terdengar jelas meskipun tidak kencang. Di pojok taman terdapat layar lebar yang memutar video dan foto - foto dokumentasi keseharian Restoramie.
Seperti saat Haina mengalami pendarahan beberapa waktu lalu. Setelah siuman gadis itu berlagak tenang dan kuat. Padahal beberapa kali Tuan Muda Harly memergoki Haina tengah melamun dengan ekpresi gundah. Namun saat ditanya ia akan mengelak dan bersikap biasa. Haina enggan membahas soal kejadian hari itu.
"Ya. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu. Semua orang menikmati acara ini," Haina menjawab sembari mengedarkan pandangan.
Tidak ada yang aneh memang. Orang - orang itu kelihatan senang dan berbaur dengan baik. Siapa yang menyangka mereka semua sedang menutupi hal besar dari Haina.
"Syukurlah. Mereka ternyata bisa kuandalkan," tutur Tuan Muda Harly.
"Kau andalkan?"
"Ah? Maksudku, mereka semua membuat suasana jadi menyenangkan untukmu." Cepat lelaki itu memberi penjelasan yang masuk akal. Ia mengutuki dirinya yang ceroboh dalam berucap.
Tuan Muda Harly menambahkan beberapa potong daging dan sayuran ke dalam piring Haina. Menyuruh agar Haina banyak makan.
"Bagaimana makanannya? Enak?" tanya lelaki itu.
Haina mengangguk senang seraya menyunyah potongan daging dalam mulutnya.
"Demi kau aku merekrut chef yang mahal. Sulit mendapatkan yang handal serta tampan sekaligus," celetuk Tuan Muda Harly, membuat Haina terkekeh geli.
"Tapi hasilnya memuaskan. Aku bisa makan banyak disini karena kau gagal menemukan juru masak yang tampan untuk diapartemen kita."
"Aku sedang carikan. Kupastikan sudah ada saat kita pindah kerumah baru nanti!"
"Rumah?"
"Ya, kita akan pindah, sayang."
"Kenapa? Apartemen kita sudah sangat nyaman!" Haina menegeluh dengan manja. Ia sudah terlalu nyaman dan sayang dengan apartemen mereka saat ini.
"Kita perlu rumah yang lebih luas, apalagi jika anak kita sudah lahir nanti. Dia akan perlu kamar sendiri," sahut Tuan Muda Harly seraya memotong daging.
"Sebetulnya itu hanya alasan. Sebenarnya dia hanya ingin kau berada sejauh mungkin dengan dapur. Kalau pindah ke mansion akan lebih mudah untuknya," celetuk Ben yang duduk diseberang.
"Maksudnya apa paman?" Kedua alis Haina nyaris bertaut karena benar tidak paham apa maksud dari perkataan Ben.
"Keponakanku ini mudah terbakar!"
"Hah?"
"Hentikan omong kosongmu!" ujar Tuan Muda Harly dengan nada rendah namun ketus.
Ben malah tertawa melihatnya.
"Kenapa? Aku tahu kau sengaja menyiapkan mansion agar Haina tak bisa sering ke dapur. Kabarnya jarak kamarmu dan dapur sekitar tiga puluh meter. Haina pasti akan pikir dua kali kalau mau main ke dapur yang jauh itu. Jadi dia akan jarang melihat pemandangan pria tampan memasak," celoteh Ben panjang lebar.
__ADS_1
Haina memicingkan mata menghadap suaminya yang tampak jaim dengan bibir mencebik.
"Benarkah? Kau secemburu itu? Astaga manisnya!" Haina malah bergelayut manja dilengan sang suami. Sesenang itu dicemburui Tuan Muda Harly.
Jun jadi jengah melihat pemandangan mesra itu. Apalagi di meja itu hanya dirinya yang tidak ada pasangan.
"Sora, malam ini kau sangat cantik." Jun yang duduk disamping Ben mencondongkan badan demi melihat Sora disebelah Ben.
"Ah, Kak Jun bisa saja!" Sora memegangi pipinya yang merona.
"Apa kau sudah ada rencana akhir pekan nanti? Bagaimana kalau kita pergi non-,"
"Dia bersama setiap waktu!" potong Ben seraya menghadapkan badan pada Jun.
"Haha...," Jun tertawa sumbang. Padahal ia hanya mencoba peruntungan. Bukan bermaksud memikat Sora, hanya mencoba berteman lebih dekat. "Ternyata sudah ada pawangnya," gumamnya lagi.
Membuat Tuan Muda Harly dan Haina saling lirik.
"Paman mengencani Sora?" celetuk Haina to the point.
Ben hanya mengangkat bahu tak memberi jawaban pasti. Sedangkan Sora menggigiti bibir seraya menunduk dalam - dalam.
"Nikmati saja makananmu. Sudah hampir dingin," Tuan Muda Harly mengalihkan perhatian Haina pada makanannya. Ia tidak terlalu suka istrinya mengurusi urusan asmara orang lain.
Haina mengerucutkan bibir, terpaksa menghentikan kesenangannya mencari tahu hubungan Ben dan Sora. Tapi tatapan tajam Tuan Muda Harly yang dilayangkan padanya membuatnya pasrah dan menghembuskan napas panjang.
Api! Kebakaran!
Tolong!
Suara itu sontak membuat semua orang yang sedang menikmati makanan penutup menoleh ke sumber suara.
Haina berdiri dari duduknya, matanya terbelalak saat itu juga. menutup mulut yang menganga. Saking kagetnya ia perutnya seketika berkontraksi dan mengantarkan nyeri dibagian bawah. Sontak ia memengi perutnya kemudian.
Matanya berair dan napasnya mulai memburu. Gambaran kebakaran besar di video yang sedang diputar itu sangat jelas, Restoramie terbakar dengan hebatnya. Kobaran api tampak sangat nyata. Orang - orang berlarian berusaha memadamkan api. Suara teriakan terdengar nyata. Asap membubung tinggi dan suara sirine pemadam kebakaran menjerit menambah riuhnya situasi.
"Apa maksudnya ini?" Haina bertanya dengan perasaan membuncah. Ia terkejut dan bingung.
"Restoran rendahanmu terbakar, sayang!"
Semua orang menoleh pada seorang perempuan yang baru saja tiba dan berdiri didekat layar.
"Rebbeca?" Jun bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita itu. Menyeretnya pergi sekuat tenaga. Membuat wanita itu meronta dan berteriak minta dilepaskan.
"Lepaskan aku! Wanita rendahan itu harus tahu semuanya! Nenek mertuanya membakar restorannya. Hahaha ..."
"Harly, jelaskan padaku!" Air mata sudah jatuh membasahi pipi Haina. Namun sang suami tidak langsung menjawab. Ia tampak gelagapan dan salah tingkah.
"Sayang, tenang dulu," hanya itu yang mampu diucapkannya. Ia merengkuh Haina untuk ditenangkan. Tapi wanita hamil itu menolak dan menuntut penjelasan.
"Kak, katakan sesuatu?" ia ganti menanyai Alya dan Olga. Namun, kedua wanita itu diam dengan perasaan bersalahnya.
"Ko?"
"Itu benar?"
Haina mengedarkan pandangan, melihat semua orang yang ada di taman itu. Ia mendapati wajah mereka tak jauh beda dengan suami dan teman - temannya.
"Jadi hanya aku yang tidak tahu?"
"Suamimu meminta kami menutupinya darimu!" Marchel akhirnya buka suara. Membuat yang lainnya jadi merasa semakin tak enak hati menutupi berita itu dari Haina.
Haina terperangah. Sungguh saat ini ia merasa seperti orang bodoh. Semua terasa bagai lelucon. Ia mengumpulkan semua orang dan mengadakan pesta tanpa tahu apa yang terjadi. Semua orang membodohinya, menutupi kebenaran yang ada.
Haina tak habis pikir. Bagaimana mereka semua dapat bersandiwara didepannya. Seolah tak ada yang terjadi.
"Kau keterlaluan!" seru Haina sebelum akhirnya pergi meninggalkan restoran itu.
"Haina! Tunggu, sayang."
Haina tetap berjalan dengan langkah cepat meninggalkan area restoran tanpa memedulikan apa pun.
"Dengarkan aku. Aku melakukannya demi melindungimu!" Tuan Muda Harly mencegat langkah Haina dan menahan kedua bahunya.
"Melindungiku? Kau meremehkan aku atau bagaimana? Apa kau tahu betapa berharganya Reatoramie bagiku?"
"Aku tahu! Karena itu aku ...,"
"Menutupinya seolah tidak terjadi apa - apa?"
"Aku membangunnya lagi untukmu!"
"Apa benar yang dikatakan wanita itu? Siapa yang melakukannya? Kau pasti tahu sesuatu!"
"Ayo kita biacara diatas!" Tuan Muda Harly merangkul bahu Haina dan mengajaknya pergi.
Hanya keheningan diantara mereka. Sesampainya di penthouse belum ada yang buka suara. Tapi Haina justru masuk ke kamar dan mengunci pintu saat sang suami tertinggal dibelakangnya.
Suara gedoran pintu tak ia hiraukan. Ia hanya ingin sendiri. Memikirkan apa yang baru saja diketahuinya.Tayangan video kebakaran itu melintas dengan jelas dibenaknya. Menghancurkan hatinya seketika.
"Sayang, buka pintunya!"
"Aku minta maaf. Maafkan aku!"
*
__ADS_1
Tbc.