
"Astaga! Masih punya muka hadir di acara ini?"
"Lagian apa Tuan Harly itu bodoh? Tidak malu apa membawa istrinya kesini?"
"Cinta memang membutakan, yang seperti itu saja bisa dibuatkan hotel sebagus ini!"
"Ck! Benar - benar bikin iri!"
"Sepertinya itu orang tuanya. Bagaimana bisa mendidik anak perempuan sampai seperti itu!"
"Hei, dia itu korban bukan pelac ur!"
"Kasar sekali sih omongannya!"
"Cantik, sih. Tapi pasti kecantikan itu yang digunakan untuk merayu dan menakhlukan Tuan Harly!"
"Ah! Dia benar - benar beruntung. Aku iri, huhu."
Bisik - bisik yang terdengar seperti tidak sedang berbisik itu mengiringi langkah Haina saat memasuki ball room. Ya, mulut - mulut kurang kerjaan itu menjadikannya bahan gunjingan dengan nada penuh iri dengki. Bukan lagi berbisik, tapi terdengar jelas ditelinga.
Haina tak sedikitpun menoleh apalagi menatap. Entah, mendadak ia jadi tidak seberani hari kemarin. Mungkin karena kehadiran kedua orang tuanya. Haina merasa berkecil hati telah membuat malu ayah dan ibunya, seolah ia bersalah padahal tidak sama sekali.
Lebih gawatnya lagi kini mereka duduk berseberangan dengan keluarga besan. Nyonya Ananta, Anggita, dua kakak beradik kembar Andrew dan Agatha serta Tuan Benjamin dan istrinya Nyonya Aize. Mereka semua terlihat begitu berbeda. Sangat anggun dan berkelas.
"Benar - benar keterlaluan! Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku tentang hotel ini? Membuat malu saja!" gerutu Nyonya Ananta, pelan tapi masih bisa terdengar oleh Haina.
"Sudah, Bu. Relakan saja semuanya. Kenapa sih Ibu masih saja tidak restu?" sanggah Nyonya Anggita sewot.
"Kau ini! Mentang - mentang kedua anakmu kebagian saham perusahaan induk..."
"Eheem...Ibu tidak malu apa kalau terdengar orang lain? Nanti Ibu dikasihani orang loh!" balas Nyonya Anggita sekali lagi.
"Anggita! Lihat saj..."
"Bu, Hentikan. Kalau Ibu tidak suka berada disini lebih baik pulang!" ujar Tuan Utama penuh penekanan. Seketika membuat sang ibu terdiam. Wibawa dan karisma Tuan Utama memang memancar kuat.
Haina sekeluarga hanya dapat menunduk dalam. Meskipun enggan mengakui, mereka berkecil hati bila bertemu langsung dengan keluarga besar konglomerat itu. Seolah ada rasa malu dan sungkan yang teramat besar saat berhadapan dengan keluarga Benjamin yang tersohor itu.
Akan tetapi masing - masing dari mereka mencoba tenang dengan tersenyum.
Acara pun dimulai. Serangakaian acara berjalan mulus sampai ke run down pelantikan presdir baru.
Tepuk tangan meriah memenuhi ball room disertai sorakan dan ucapan selamat. Tuan Utama Benjamin telah meresmikan putranya sebagai presiden direktur baru Benjamin Corp dihadapan seluruh petinggi perusahaan, tamu undangan yang hadir serta awak media.
Tuan Utama menepuk bahu sang anak dengan senyuman bangga kemudian turun dari podium.
Tuan Muda Harly menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ball room lalu berhenti di satu titik. Menatap lekat wanitanya yang duduk dimeja VIP bersama anggota keluarga.
"Aku sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Mulai saat ini dan seterusnya aku berjanji akan terus menjaga dan membawa perusahaan ke puncak kejayaan tertingginya!"
Tepuk tangan meriah kembali terdengar.
"Dalam kesempatan ini, Aku juga ingin menunjukkan perasaanku terhadap istriku, Haina. Sebagai mana kalian tahu, hotel ini aku bangun secara pribadi demi menunjukkan ketulusan dan kesungguhanku dalam mencintainya. Hari ini adalah ulang tahunnya. Untuk itulah acara pengangkatanku dilaksanakan disini hari ini, bersamaan dengan peresmian The Haina. Aku ingin saat ini juga mengakiri rumor tidak baik tentang istriku yang pernah beredar. Aku dan istriku, kami sama. Dia adalah yang pertama untukku begitupun sebaliknya. Tidak perlu aku perjelas lagi mengenai hal itu, karena aku sendirilah saksinya. Berita yang tersebar tidak sepenuhnya benar. Pelaku pada video itu pun mengakuinya, polisi sudah mengantongi pengakuan serta bukti lainnya. Jadi setelah hari ini, aku tidak ingin lagi mendengar sedikitpun tentang hal ini. Jika ada diantara kalian atau siapa pun masih mengungkit dan menyebarkan rumor palsu akan ditindak tegas menurut hukum yang berlaku." terang Tuan Muda Harly panjang lebar. Sorot mata serta raut wajahnya menunjukkan kesungguhan dan ketegasannya. Memancarkan aura pemimpin yang berkuasa.
Tepuk tangan meriah kembali terdengar lebih membahana. Kilatan cahaya dari kamera wartawan tak hentinya menghujam podium. Mengabadikan setiap momen yang ada.
"Satu lagi untuk kalian para pencari berita! Jangan memotret istriku tanpa izin setelah ini. Aku adalah suami yang sangat pencemburu!" tukas Tuan Muda Harly yang mengundang gelak tawa hadirin ball room.
Haina menatap penuh haru sang suami yang berdiri dengan gagahnya didepan sana. Membela kehormatannya dan membersihkan nama baiknya. Menunjukkan cintanya disaat bersamaan.
Hari ini lelaki itu terlihat sangat tampan dan gagah dimatanya. Penuh karisma dan mempesona. Ah! Sekali lagi, Haina merasa jatuh cinta dengan Tuan Muda Harly.
"Akhirnya Ayah dan Ibu bisa bernapas lega setelah ini. Dengan begitu tidak ada lagi yang akan salah paham tentangmu, Nak," ujar Bu Hayati dengan senyum leganya. Diangguki oleh Pak Tanu dan yang lainnya yang duduk semeja dengan Haina. Matanya berkaca - kaca, terharu dengan momen ini. Seolah bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya disingkirkan.
"Iya, syukurlah kakak ipar sangat bisa diandalkan. Dia sangat keren!" celetuk Hagi.
"Dasar!"
"Hahaha..."
__ADS_1
Mereka semua tertawa. Mengingat selama ini remaja lelaki itu selalu sewot dan enggan mengakui Tuan Muda Harly sebagai kakak iparnya.
Acara selanjutnya adalah ramah tamah disertai menikmati sunguhan makanan lezat aneka menu. Hadirin pesta sibuh berbincang dengan perkumpulannya masing - masing. Tapi Tuan Muda Harly belum dapat kembali ke sisi istrinya. Ia masih harus beramah tamah dengan beberapa tamu penting.
"Selamat sore, besan!" suara bariton milik Tuan Utama terdengar menyapa dengan ramah.
"Ah...oh, selamat sore Tuan. Silahkan duduk," Pak Tanu menyahuti tak kalah ramahnya.
"Mari, silahkan duduk Tuan, Nyonya."
"Tidak perlu sekaku itu. Kita ini hanyalah orang tuanya anak - anak kita. Jangan sungkan, kita sekarang keluarga," tutur Tuan Benjamin diiringi senyum ramahnya.
Nyonya Anggita beserta kedua anaknya juga ikut duduk disana. Menyapa dan berkenalan dengan keluarga Haina. Nyonya Ananta sendiri memilih pulang lebih awal, tidak sudi duduk semeja dengan orang yang dianggapnya kelas rendah.
Haina dan Hagi beserta teman - temannya sedang menikmati suguhan makanan disisi kanan Ball room.
"Ah, iya iya. Baik, Pak, Bu."
Pak Tanu dan Bu Hayati saling berpandangan lalu mereka tersenyum. Senang sekali, rupanya Tuan Benjamin sendiri orang yang ramah dan tidak memandang rendah status sosial seseorang.
"Maafkan kami baru sempat menyapa. Kami baru kembali ke tanah air karena suami saya sangat sibuk membantu saya mengurusi perusahaan saya di Turki. Keadaan disana sangat mengurat tenaga dan pikirannya. Sekali lagi maafkan ketidak sopanan ini," tutur Nyonya Aize.
"Oh, begitu rupanya. Tidak apa Bu Besan. Tidak masalah, kami bisa mengerti dan maklum," sahut Pak Tanu.
Kedua pasang orang tua itu kemudian melanjutkan obrolan mereka.
Tak lama Tuan Muda Harly muncul dan ikut bergabung. Segingga mereka kembali terlibat obrolan.
"Dimana Haina?"
"Oh, Haina tadi kesana dengan Hagu dan yang lainnya," sahut Bu Hayati.
"Kalau begitu aku akan menemui istriku dulu," pamit Tuan Muda Harly.
Ia menyapukan pandangan ke berbagai sisi tapi sang istri tak juga nampak.
"Hei, kau lihat kakakmu?" tanya Tuan Muda Harly pada Hagi yang sedang mengobrol dengan Marchel dan Morgan.
Tuan Muda Harly pergi ketempat yang ditunjuk ke arah meja yang menyediakan buah - buahan segar. Ia menemukan Ruhi dan beberapa orang wanita yang kemungkinan adalah teman kantornya.
"Tadi Nona pamit ke toilet, Tuan!" sahut Ruhi.
Lelaki itu menjejakkan kaki menacari sang istri sampai ke toilet. Tapi Haina tak juga terlihat disana. Ia mencoba menghubungi ponsel Haina tapi tak aktif. Setelah menunggu sebentar akhirnya ia memutuskan menghubungi Steffi.
"Nona baru saja naik ke kamar di lantai atas, Tuan. Nona bilang merasa sedikit lelah. Saya baru saja mengantarnya masuk ke kamar."
Tuan Muda Harly memutuskan naik ke lantai atas. Ia tidak sabar untuk segera memeluk dan mendapat ucapan terima kasih dari sang istri. Mendengar sendiru dari gadis itu betapa ia bahagia atas kejutan ulang tahunnya. Lagi pula rangakaian acara sudah berakhir.
Ia sampai di lantai teratas, penthouse The Haina. Lantai teratas khusus yang memang disiapkannya di hotel itu untuk mereka.
"Sayang, kau disini?"
"Aku datang!"
"Peluklah suamimu ini, sayang!"
Tak ada sahutan saat ia memasuki ruangan demi ruangan.
"Kemana dia? Kenapa pengawalnya juga tidak ada satupun?"
Ia mengernyit bingung mendapati penthhouse yang kosong.
"Apa dia sudah dikamar? Astaga dia pasti sudah melihat kejutan terakhirnya tanpa aku."
Lelaki itu segera berjalan meninggalkan ruang tengah menuju kamar utama di penthouse nan mewah itu.
CEKLEK!
"Haina!"
__ADS_1
Kosong melompong. Tidak ada Haina disana. Tapi fokus matanya tertuju pada kasur. Ia berjalan mendekat.
"Sial!"
Ada banyak foto bertebaran diatas kasur. Foto kemesraan dirinya dan Jiana. Foto yang diambil saat mereka di luar negri.
"Apa - apaan ini!"
Tuan Muda Harly menyingkirkan foto itu, berjatuhan di lantai. Siapa yang begitu kurang ajarnya mengirimkan foto itu pada Haina?
Itu kan foto dari enam tahun yang lalu! Saat ia dan Jiana masih sepasang kekasih.
Apa Haina tidak menyadari kalau itu foto lama? Setidaknya dia pasti mengetahuinya dari kualitas gambar!
"Ah! Yang benar saja!" lelaki itu menyugar rambutnya dengan kasar. Dilanjutkan dengan mengusap wajahnya dengan kasar pula.
Beberapa foto terbaru kebersamaannya dengan Jiana ternyata juga ada diantara foto - foto itu. Momen pertemuan mereka di Australia belum lama ini. Tapi, pertemuan itu bukanlah pertemuan pribadi. Ia dan Jiana hanya partner bisnis dalam sebuah pesta ulang tahun sebuah perusahaan besar rekanan Benjamin Corp. Ia butuh bantuan Jiana sebagai partner karena Jiana dikenal dekat dengan istri pemilik perusahaan itu. Saat itu ia perlu melobi orang - orang yang berhubungan dengan rencana bisnisnya. Ya, hanya itu, sekedar itu saja.
Ah! Foto yang memperlihatkan ia dan Jiana masuk ke sebuah presidential suite room? Itu adalah acara lanjutan dari hasil lobi itu. Sebuah diskusi yang menghasilkan kerjasama bernilai jutaan dollar. Jiana pun kebetulan memang ada keperluan di perusahaan baru yang akan merekrutnya bekerja disana, sebuah yayasan amal dibawah nauangan Benjamin Corps di Australia.
"Haina, kenapa kau mudah sekali salah paham padaku!" Tuan Muda Harly menggeram kesal. Lagi - lagi masalah mereka kali ini adalah salah paham. Ia benar - benar muak dengan kata salah paham saat ini.
Drrtt...drrrtt
Ponselnya bergetar dari balik saku jas dibagian dalam. Ia merogohnya dengan kening berkerut. Melihat nama Jun terpampang disana. Kemudian menggeser tanda hijau.
"Halo!" sambarnya garang.
"Halo? Tuan, maafkan aku. Nona sekarang berada dirumah sakit. Sesuatu terjadi dan aku sedang dalam perjalanan sekarang!"
"Apa?" belum hilang rasa kesalnya sudah ada lagi berita mengejutkan. Rsa cemas kini menjalar dihatinya.
"Apa yang terjadi pada istriku?"
"Lebih baik Anda segera menyusul. Alamat sudah aku kirim."
Tuan Muda Harly segera pergi dari sana. Menuju alamat yang dikirim sang asisten. Ia pergi bersama supir. Ia mencoba menghubungi Steffi dan pengawal lainnya tapi tak ada satupun yang mengangkat panggilannya.
"Aaargggg! Sialaan!" Ia semakin gusar dan panik. Sesuatu pasti terjadi, tidak biasanya para pengawal itu tidak bisa dihubungi seperti ini.
"Lebih cepat!" soraknya pada sang supir.
Ia berarian ke memasuki sebuah rumah sakit tak jauh dari hotel The Haina, jarak lima menit saja.
Jun nampak menunggu disana sendirian.
"Ayo Tuan! Jangan sampai kita terlambat dan menyesal," Jun berkata dan menarik lengan Tuan Muda Harly. Mengajaknya berlari bersama melewati lorong demi lorong.
"Dimana?"
"Terus berlari Tuan. Tidak ada waktu!" sahut Jun. Ia masih terus menggenggam lengan Tuan Muda Harly erat.
Tuan Muda Harly semakin berdebar. Rasa takut dan cemas membuat perasaannya tak karuan. Ia panik betul - betul panik.
Duar!
Jun mendorong sebuah pintu dengan kasar sampai Tuan Muda Harly hampir tersungkur ke lantai saat ia lepas pegangannya di pergelangan tangan lelaki itu.
"SURPRIZE!"
"Su-surpruze? Haina, kau?
*
tbc.
Ya, gantung dulu gpp ya. Maafin nih, gak sempat ngetik panjang. Lagi flu berat soalnya.
Oh, ya buat yg komen ceritanya begitu aja, masalahnya muter atau sebagainya aku minta maaf ya. Karena aku sudah punya gambaran dan rancangan sendiri. Tapi krn ada beberapa orang yang bilang gitu aku jadi down dikit, hehe.
__ADS_1
Mungkin akan segera aku tamatkan, ya. Padahal aku ingin bikin sekuelnya Paman Ben. Tapi sptnya aku pikir ulang 🙂