Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pingsan


__ADS_3

Falsh Back On


Kelas pertama di AK Studio hari ini sangat menyenangkan. Sesuai harapan Haina, Bu Siska memang guru terbaik. Haina bisa menanyakan apapun yang ada dipikirannya, Bu Siska selalu mengerti maksud Haina dan menjelaskan dengan detail setiap pertanyaan. Tak hanya itu, teman - teman baru Haina di kelas itu juga orang yang menyenangkan.


Karena itu Haina tak hentinya tersenyum dan memasang wajah cerianya di mobil dalam perjalanan pulang.


"Sepertinya Nona sangat bahagia hari ini. Pasti kelasnya sangat menyenangkan ya, Nona?" tanya Dika dibalik kemudi.


Haina tersenyum lebar menanggapi pertanyaan itu.


"Benar sekali. Sekarang aku sudah tidak sabar menanti hari esok agar bisa belajar disana lagi" ujar Haina masih dengan senyuman.


"Sebenarnya mengapa Nona repot - repot belajar memasak di sana? Saya rasa Tuan Muda Harly bisa mendatangkan koki terbaik dari jaringan restoran Benjamin untuk mengajari Nona dirumah" ujar Dika lagi.


Haina menggeleng cepat. Baginya belajar di AK Studio seperti sebuah healing, apalagi gurunya adalah Bu Siska yang sangat ia kagumi.


"Tidak seru lah kalau belajar dirumah. Lagi pula aku tidak akan senyaman di AK Studio saat menggunakan dapur dirumah" jelas Haina.


Dika menganggukkan kepalanya tanda memahami perasaan Haina.


"Dika, bisa cari toilet terdekat? Aku ingin ke toilet" seru Haina.


"Baik, Nona. Kita bisa berhenti di pom bensin terdekat" sahut Dika.


Tak lama mobil memasuki area pom bensin dan berhenti di rest area.


"Tunggu dengan sabar ya. Perutku sedikit sakit" ujar Haina sambil membuka pintu mobil buru - buru, padahal Dika sudah akan turun membuka pintu untuknya.


Dika mengangguk dan menunggu di mobil.


Lima belas menit kemudian Dika merasa ingin buang air kecil. Jadi ia turun dari mobil dan berjalan menuju toilet pria.


"Loh, mau ke toilet juga?" tanya Haina saat keluar dari toilet wanita, ia melihat Dika yang antri dibarisan toilet pria.


"Iya, Nona. Tolong tunggu sebentar, Nona"


Haina mengangguk dengan senyuman. Ia berjalan keluar menuju tempat mobil terparkir di rest area.


"Loh, itu kan...." Haina melihat seorang pria yang dikenalinya dari belakang.


Pria itu berjongkok dan terlihat mengobrol dengan sepasang ibu dan anak dekat antrian di pom bensin itu. Ia adalah Marchel yang tadi berpisah dengannya di AK Studio. Tak disangka ternyata mereka bertemu lagi di pom bensin ini.


Haina menyandarkan tubuhnya ke badan mobil mengamati Marchel yang tampak ceria bercerita dengan kedua anak beranak yang ditemuinya disana.


Sesaat kemudian Marchel terlihat melambaikan tangannya meninggalkan anak beranak yang membawa kardus bekas itu. Ia berjalan ke arah Haina.

__ADS_1


"Sedang apa kamu disini?" tanya Marchel dengan antusias saat melihat Haina ada disana didekat sepeda motor miliknya.


"Sedang mengamati Ko Marchel yang berbagi makanan" sahut Haina.


"Mereka sangat kasihan, Ibu itu belum menjual kardus yang mereka pungut. Mereka kelaparan, untunglah aku ada tongseng beserta nasi yang kita masak di studio" cerita Marchel. Ia duduk diatas sepeda motornya.


"Sekarang Ko Marchel jadi semakin baik, lebih baik lagi dibandingkan dulu" puji Haina.


Marchel menepuk dada jumawa. Dengan wajah bangga ia menyugar rambutnya ke belakang. Terlihat tampan dengan kulit putih pucatnya.


"Bagaimana? Bukankah kau seamakin terpesona padaku?"


Haina tergelak dibuatnya. Bisa saja pria bermata sipit itu menggombalinya lagi.


"Kenapa tertawa? Kau lihat sekarang aku sudah lebih baik kan. Aku sudah mengubah keyakinanku sama denganmu. Oleh karena itu Mama mengusirku dari restoran. Aku sekarang sedang merintis restoranku sendiri. Makanya aku ikut kelas bersamamu" jelas Ko Marchel dengan tampang sedih.


Haina kaget, ya tentu kaget. Pria itu bilang telah mengubah keyakinannya. Apakah demi dirinya? Seperti yang pernah pria itu katakan setahun yang lalu?


"Jangan khawatir, aku memilih keyakinanku yang sekarang bukan karena siapapun. Tapi karena diriku sendiri. Aku menemukan jalanku dan aku ingin" jelas Marchel saat membaca kekhawatiran di wajah cantik Haina.


"Syukurlah" ujar Haina lega.


"Jadi aku semakin memenuhi syarat untuk menjadi lelaki idamanmu kan?" tanya Marchel dengan ekspresi menggoda.


"Ck! jangan bilang kau sudah punya kekasih?" cetus Marchel dengan wajah penuh selidik.


Haina menggaruk alisnya yang tak gatal.


"Lebih tepatnya aku sudah punya suami" jawab Haina telak. Pikirnya lebih baik memberi tahu lelaki itu lebih cepat.


Tapi diluar dugaan, Marchel malah tertawa.


"Dulu kau juga bilang begitu saat aku menyatakan perasaanku pertama kali. Tapi semua itu bohong. Aku tidak akan tertipu dua kali" ujar Marchel percaya diri.


Haina hendak menjelaskan lagi tapi Dika sudah keburu datang dari toilet.


"Hei, bisa kau berikan makanan punyamu padaku? Aku tak akan sempat makan siang di luar. Aku harus keluar kota" ujar Marchel saat melihat Dika sudah membukakan pintu untuk Haina.


Haina setuju. Ia mengambil paper bag berisi makanan dan memberinya pada Marchel.


"Terima kasih, Hainaku. Aku akan sangat senang menikmati masakan pertamamu" ujarnya dengan senyuman.


Haina hanya geleng - geleng kepala mendengar gomabalan kesekian kali dari pria itu. Mereka pun berpisah setelah itu.


Flash Back Off.

__ADS_1


Tuan Muda Harly menghembuskan nafas dengan kesal saat mendengar penjelasan langsung dari mulut istrinya. Bahwa makanan yang ia buat telah ia beri kepada lelaki lain.


"Kau benar - benar keterlaluan ya. Kau memberi makan lelaki lain saat suamimu kelaparan menunggu makanan darimu!" Kali ini Tuan Muda Harly benar - benar marah.


Haina benar - benar mati kutu dibuatnya. Pasalnya ia tidak tahu kejadiannya akan begini.


"Mana kutahu kau akan pulang dan ingin makan siang dengan masakanku. Jun, Jun sialan itu. Kenapa kau tidak mengabariku Juuuuunnn!"


Tuan Muda Harly mengambil dasinya yang tergeletak di kasur lalu ia berjalan mendekati Haina.


Haina tersentak saat tangannya ditarik. Tuan Muda Harly terus berjalan dan menarik Haina ke kamar mandi. Ia mengikat tangan Haina ke handel stainlees dekat bath tube.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengikatku" Haina panik saat tangannya diikat dengan dasi. Ia terduduk di bath tube.


"Ini hukuman untukmu karena sudah mengecewakan aku!" seru Tuan Muda Harly.


Ia berjalan dan menutup pintu begitu saja. Meninggalkan Haina yang terus memanggil namanya.


"Sayang! Kumohon lepaskan aku"


"Harly! Aku tidak sengaja membuatmu marah. Aku tidak bermaksud. Aku hanya kasihan padanya. Lagi pula aku tidak tahu kau akan pulang untuk makan siang"


"Sayang! tolong lepaskan"


"Harly..."


"Tuan Muda"


"Tuan muda sialaaaan!!!"


Umpat Haina pada akhirnya. Lelah ia berteriak dan memohon agar lelaki itu kembali dan melepaskan ikatan tangannya. Sekarang perut bagian bawahnya terasa nyeri. Ia juga tak bisa membuka simpul dasi yang mengikat tangannya dengan erat.


"Aku benci kau!"


Haina sesenggukkan dan terus mengutuk perbuatan suaminya itu. Sudah berjam - jam ia duduk disana dengan tangan terikat. Suaminya itu tak juga kembali. Sepertinya lelaki itu kembali ke kantor setelah kejadian siang itu.


Haina sangat lelah karena terus berteriak. Perutnya semakin sakit. Ia merintih menahan kram diperutnya. Tak ada yang datang menolongnya. Ia yakin saat ini sudah sore. Ia harus bertahan sampai Tuan Muda Harly pulang dari kantor. Karena tidak ada yang tahu tentang dirinya yang sedang dihukum saat ini.


Tapi sekarang Haina sudah tidak kuat menahan sakit diperutnya. Dengan berlinang air mata, bibirnya terus menggumamkan nama sang ayah.


"Yah, Ayah tolong aku. Aku sakit" ujar Haina pelan, pelan sekali hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya. Haina jatuh terkulai, kepala menyandar ke dinding dekat tangannya terikat.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2