Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Sok Romantis


__ADS_3

Penjualan Restoramie melonjak tajam sepekan terakhir. Dalam waktu sebentar saja restrauran yang dibesut Haina, Marchel, Alya dan Olga ini mampu meraup omset fantastis. Tim dapur dan pelayanan sampai kewalahan menghandle banyaknya pengunjung.


Semua memang berkat kerja keras mereka selama ini. Namun sayembara yang diadakan Tuan Muda Harly berkedok support dari Benjamin Foods mendongkrak penjualan mereka. Banyak orang datang berlomba - lomba menemukan Haina untuk memotretnya.


Menangkan paket liburan ke Maldives untuk satu orang beruntung yang bisa menemukan keberadaan salah satu owner Restoramie. Siapa cepat dia dapat!


Begitulah isi sayembara menemukan Haina itu dirancang oleh Tuan Muda Harly. Dengan memanfaatkan Benjamin Foods sebagai kedoknya, ratusan orang hari itu berhasil mengirim foto Haina usai menyambangai langsung Restaramie. Hal itulah yang menjadi pemicu awal melejitnya penjualan. Mereka datang untuk memotret Haina, tentulah harus masuk ke restauran dan memesan makanan untuk memulai pengintaian.


Namun meskipun sudah ada pemenang dihari pertama, Benjamin Foods belum juga mencabut pemgumuman sayembara di media sosial perusahaan. Sehingga ratusan orang tetap datang setiap harinya.


Membuat Haina risih sendiri. Ia bahkan meminta Jun menghentikan sayembara yang menurutnya gila itu.


"Sudahlah, biarkan saja Nona. Anggaplah itu bentuk dukungan tuan muda agar Restoramie semakin dikenal" tutur Jun dari ujung telepon.


"Tapi aku tidak mau menimbulkan utang budi antara aku dan dia, Jun. Kenapa kau tidak mengerti juga maksudku!" seru Haina sambil menuruni tangga Beniq Bakery. Ia menggunaka head set ditelinga lalu menaiki sepeda motornya.


"Kenapa Anda bilang begitu. Kalau begitu anggap saja tuan muda sedang menghambur - hamburkan uangnya yang melimpah itu. Tuan muda bahkan memerintahkan agar paket ke Maldives disediakan untuk seratus pemenang" terang Jun.


"Apa? Dia pasti gila! Aku sudah tidak betah lagi dipotret orang - orang setiap hari!" sahut Haina dengan wajah cemberut.


Jun terdengar menghela napas panjang.


"Baiklah kalau begitu saya akan coba bicarakan dengan tuan muda siang ini" kata Jun akhirnya agar Haina berhenti protes padanya.


Jun menepati janjinya. Besoknya Benjamin Food langsung mengumumkan sepuluh pemenang paket liburan ke Maldives di laman sosial media perusahaan. Postingan itu membuat kehebohan dikalangan netizen. Banyak yang memberi ulasan bagus tentang Restoramie dan banyak juga yang mengomentari foto cantik Haina.


Haina akhirnya lega tak ada lagi yang sengaja datang ke restauran hanya demi memotret dirinya.


"Syukurlah, kau tidak perlu risih lagi sekarang. Tapi kuharap Restoramie tetap ramai pengunjung meski sayembara gila itu sudah berkahir" kata Marchel hari ini di Restoramie. Pria yang juga adalah pemilik restauran china itu menyempatkan datang untuk meninjau perkembangan Restoramie.


"Ya, aku harap juga begitu Ko" sahut Haina.


Mereka sedang mengobrol di salah satu meja dekat jendela.



"Aku bukannya bermaksud ikut campur urusanmu. Tapi, bagaimana kabar perceraianmu?" selidik Marchel bertanya hati - hati.


Haina tak segera menjawab. Ia malah memperhatikan hijaunya daun tanaman monstera disebelahnya sambil menopang dagu dengan tangannya.


"Aku sedang mengusahakannya" sahut Haina akhirnya.

__ADS_1


Marchel terlihat tidak puas dengan jawaban itu. Ia hendak membukabmukutnya lagul tapi urung.


"Kalian?" Haina terperanjat kaget saat dua orang muncul dengan membawa buket bunga raksasa.


Bella dan Steffi, dua gadis pengawal itu datang dengan membawa buket bunga tulip putih berukuran besar.


"Apa kabar, Nona?" sapa Bella menunduk hormat.


Haina cepat - cepat bangkit dari duduknya dan mengawasi sekekeliling.


"Apa yang kalian lakukan disini?" suata Haina kemudian.


Bella mengacungkan buket bunga itu kepada Haina.


"Tuan muda menitipkan bunga kesukaan Anda, Nona" terang Bella kemudian.


Haina terpaksa menerima buket cantik itu. Melihat indahnya bunga tulip putih kesukaannya yang dirangkai cantik.


"Katakan padanya jangan lakukan hal ini lagi! Aku tidak mau menerima apa pun darinya. Sekarang kalian pulanglah" usir Haina halus.


Bella dan Steffi saling pandang.


Haina terperangah karena perkataannya diacuhkan begitu saja.


"Kenapa kalian malah berdiri disitu?" keluh Haina sambil memeluk buket bunga.


Tapi dua pengawal wanita itu hanya tersenyum tipis lalu pasang wajah siaga. Terlihat totalitas dalam posisi siap siaganya. Berdiri tegap, dua tangan disimpan dibelakang badan. Mereka tidak pergi meskipun Haina kembali mengusirnya.


"Biarkan saja, toh mereka tak mengganggagu" komentar Marchel sambil menepuk satu bahu Haina. Meskipun sebenarnya ia juga sangat keberatan dengan kehadiran dua pengawal kiriman Tuan Muda Harly itu.


"Tolong singkirkan tangan Anda dari bahu Nona kami, Tuan" suara Bella terdengar tegas disertai raut mengintimidasi.


Marchel terkesiap seketika ditegur seperti itu ditengah ramainya restauran siang ini. Otomatis ia menyingkirkan tangannya.


Sampai sore pun Bella dan Steffi masih setia berdiri disekitaran Haina. Mengekori kemanapun Haina pergi. Entah itu saat Haina mengawasi kinerja para pelayan restauran, memantau kesibukan tim dapur maupun ketika masuk ke ruangan kantor restauran.


"Aduh! Jangan megikuti aku terus" keluah Haina mulai tidak tahan.


Sejak kehadiran dua pemgawal itu situasi di restauran jadi canggung. Belum lagi seragam serba hitam kedua pengawal yang selalu mengikutinya dengan sikap siaga itu membuat para pengunjung restauran memperhatikan dengan wajah heran.


Belum lagi kedua pengawal itu juga mengambil banyak foto saat Haina sedang bekerja. Ia semakin risih, apalagi Alya dan beberapa pegawai restauran menjadi penasaran dan mengulik jawaban darinya.

__ADS_1


"Bukan siapa - siapa!"


"Tidak ada apa - apa"


"Abaikan saja"


"Aduh, aku tidak tahan!" seru Haina saat dua pengawal itu memotretnya lagi saat sedang berdiskusi dengan Alya dan kepala koki didapur.


Haina segera menuju ruangan kantor dan menyambar ponsel diatas meja. Dengan kesal mendial sebuah nomor.


"Cepat angkat!" gerutunya saat nada sambung terdengar.


"Ya, sayang?" suara Tuan Muda Harly dari ujung telepon.


Haina memutar bola matanya malas.


"Cepat singkirkan dua mata - matamu itu dari sini!" pinta Haina tanpa basa - basi.


"Mereka bukan mata - mata sayang. Mereka akan menjagamu seperti biasa" sahut Tuan Muda Harly lembut penuh persaan.


"Ck! Aku tidak butuh pengawalanmu. Kau dan aku akan segera bercerai, jangan berlebihan!" seru Haina.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa membiarkanmu tanpa pengawalan, sayang"


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya mulai besok tidak perlu mengawasi aku lagi. Mereka membuat pengunjung restauranku takut!"


"Aku bisa menyuruh mereka bersikap ramah dan sopan..."


"Aduh, kau ini. Pokoknya aku tidak mau ada pengawal. Mengerti tidak sih?" gerutu Haina.


"Baiklah..." sahut sang suami pasrah.


"Satu hal lagi. Jangan kirimi aku bunga lagi!"


Terdengar helaan napas panjang Tuan Muda Harly diujung sana. Tapi Haina tidak peduli dan malah mematikan sambungan telepon.


"Dasar sok romantis!" gerutu Haina sambil melirik buket bunga tulip yang ia simpan diatas nakas.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2