
Haina berlari ke kamar mandi dengan sempoyongan. Ia bahkan menabrak standing lamp. Mencari washtafel dan mulai memuntahkan cairan bening.
"Hueeekk!"
Tuan Muda Harly pun mengusap punggung sang istri cemas. Memegangi rambut Haina yang menjuntai agar leluasa memuntahkan isi perut. Tapi Haina mendorongnya menjauh.
"Pergilah!" seru Haina lirih!
Lelaki itu memberi jarak agar wanitanya nyaman.
Haina membilas mulutnya dan mengusapnya lagi dengan punggung tangan. Kepalanya semakin pusing dan perutnya terasa nyeri.
"Aah!" ia memegangi perutnya.
"Sayang, ayo kita ke rumah sakit" pria itu merangkul bahu istrinya. Tak tega melihat sang istri jadi lemas dan kesakitan.
Berjalan beriringan perlahan kembali ke kamar. Tuan Muda Harly mengambilkan kemeja Haina yang tergelatak dilantai lalu memasangkannya.
"Aku baik - baik saja" gumam Haina sambil mendudukkan diri ditepi ranjang.
Tuan Muda Harly segera memakai pakaiannya sendiri. Lalu mendekati Haina. Gadis itu mengusap perutnya dengan satu tangan sedang tangan lainnya memegangi kepala.
"Aakh!" Haina tersentak saat tubuhnya tiba - tiba digendong.
"Mau kemana?"
Tuan Muda Harly hanya diam, bergegas menuruni tangga dengan hati - hati.
Ben yang sedang menyesap kopi di meja teras tokonya menghampiri.
"Apa yang terjadi?" ia berinisiatif membukakan pintu mobil keponakannya. Mangambil kunci dari saku celana Tuan Muda Harly.
"Aduh! Dimana kau menyentuhku?" seru Tuan Muda Harly saat tangan Ben berusaha meraih kunci.
Ben tersenyum geli dan melanjutkan mencari kunci. Dapat!
Tuan Muda Harly segera memasukkan Haina kemobil. Merebahkan tubuh gadis itu disandaran kursi penumpang lalu segera menutup pintu.
"Kau yang menyetir!" serunya sambil memutari mobil.
Ben pasrah saja disuruh jadi supir dadakan. Melihat wajah pucat Haina, ia bisa menduga gadis itu sakit dan butuh dokter.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Ben dari balik kemudi.
"Pusing dan mual" sahut Tuan Muda Harly cepat.
Ben segera melajukan mobil membelah jalanan. Menuju rumah sakit terdekat.
Haina segera dibopong suaminya ke UGD. Seorang dokter wanita segera menghampiri mereka.
"Istriku pusing dan mual tiba - tiba. Dia juga muntah!" jelas Tuan Muda Harly pada dokter dengan nametag dr. Yana.
"Biar saya periksa, Pak" sahut dokter muda itu tenang. Ia menyingkap sedikit bukaan kemeja dibagian dada. Memeriksa dengan stetoskop disana. Tidak lupa memeriksa denyut nadi dan tensi juga.
"Normal, ya" gumam sang dokter.
"Selain pusing dan mual ada keluhan lain?"
"Perut bagian bawah terasa nyeri dok" sahut Haina.
"Maaf, Anda sudah datang bulan?"
Seketika Haina tercenung.
__ADS_1
Tuan Muda Harly memasang semua inderanya. Tak ingin ketinggalan semua informasi.
"Belum? Kau belum datang bulan? Apa sejak saat itu?" cecarnya antusias. Mendadak senyum terbit dibibirnya.
"Sayang, mungkin kau hamil!"
"Tu-tunggu, aku...."
"Dokter! Tunggu apa lagi? Bukankah istriku harus segera diperiksa dokter kandungan?" desak pria itu semangat.
Ben sampai melongo melihat keponakannya jadi tidak sabaran dan kegirangan sendiri.
"Sebentar..." sela Haina ingin buka mulut.
Namun Tuan Muda Harly arogan itu malah memberi kartu nama pada dokter muda itu.
"Sekarang Anda tahu siapa aku, bukan? VVIP rumah sakit ini. Cepat, periksa kandungan istriku!" titahnya mendadak berubah sikap dari seperti anak kecil minta jajan ke mode Tuan Muda Harly yang berkuasa dan berwibawa.
Dokter muda itu seketika melongon membaca nama yang tertera di kartu nama warna silver itu. Sebagai residen baru dirumah ini ia memang tidak tahu siapa saja VIP atau VVIP di rumah sakit ini. Tapi nama Benjamin yang tertera disana cukup familiar dikepalanya.
"Ah, iya. Baiklah, mohon tunggu..." sahut dokter itu. Ia kemudian pergi untuk mengurus lebih lanjut.
Haina yang berbaring dibrangkar mendesah panjang melihat tingkah suaminya. Padahal ia belum selesai bicara.
"Kenapa kau yang mengatur, dia bahkan belum selesai diperiksa" celetuk Ben yang berdiri dibelakang keponakannya.
"Diam saja, bisa tidak sih!" sahut Tuan Muda Harly kesal. Menurutnya Ben mengganggu euforia kebahagiaannya.
"Harly!" seru Haina sambil menahan nyeri. Dari tadi ingin buka mulut terus tertahan oleh dua pria tampan disampingnya.
"Kenapa sayang? Apa yang kau rasakan?" dengan lembut dan sayang meraih tangan Haina dan menggenggamya.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku yakin tidak hamil!" sahut Haina.
"Maksudmu?"
"Kenapa kau berkata begitu? Apa kau tidak ingin hamil anakku? tanya lelaki itu hati - hati.
"Bukan begitu! Aku memang tidak hamil sekarang. Aku tidak mungkin hamil. Karena..."
"Tunggu..." Tuan Muda Harly menjeda kalimat Haina. Ia ingin berpikir sebentar. Ia bahkan melepaskan genggaman tangan mereka.
"Panggilkan saja dokter tadi. Katakan aku tidak hamil" tutur Haina.
Gadis itu mencoba bangkit dari brangkar. Ia harus menjelaskan pada dokter wanita itu. Tuan Muda Harly membantunya dengan memapah punggungnya.
"Biar kupanggilkan" sahut Ben lalu segera pergi dari sana.
"Jika tidak hamil apa yang terjadi padamu? Apa kau benar - benar trauma disentuh olehku?" tanya lelaki itu was - was. Ia berharap bukanlah itu jawabannya. Karena jika benar, rasa bersalah dihatinya akan semakin besar.
Dokter datang bersama Ben. Kembali memeriksa Haina sebelum sempat gadis itu berbicara.
Drrtt drrrtt!
Getar ponsel disaku celana membuat Tuan Muda Harly mengalihkan sejenak perhatiannya dari Haina.
"Angkat saja!" kata Ben.
"Tidak penting!" sahut Tuan Muda Harly. Ia malas meladeni telepon dari nomor tidak dikenal.
Tapi ponsel itu terus bergetar membuatnya terpaksa menjauh dari brangkar Haina untuk merima panggilan itu.
Sementara itu Haina sudah selesai diperiksa.
__ADS_1
"Tidak apa, disminorea memang terkadang bisa membuat wanita mengalami hal demikian. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan kontraksi uterus. Hal ini terjadi karena lapisan rahim menghasilkan prostaglandin dalam jumlah besar. Nah, prostaglandin bisa masuk ke aliran darah. Hal inilah yang menyebabkan kamu merasakan gejala mual, muntah, hingga pusing ketika menstruasi" terang dokter muda itu.
Haina mengangguk mengerti. Lagi pula bukan pertama kali baginya menagami nyeri dan pusing saat datang bulan.
Dr. Yana memberinya obat pereda nyeri dan segelas air. Haina meminumnya dengan patuh.
"Silakan istirahat dulu sebentar sebelum pulang. Saya permisi" pamit dr. Yana ramah.
Dengan wajah yang masih pucat Haina meminta Ben memanggilkan suaminya. Ia ingin sang suami mengantarkannya pulang. Gadis itu juga butuh pembalut segera.
"Teleponnya masih sibuk. Tunggulah biar kubelikan pembalut, disekitar sini pasti ada" ujar Ben pengertian. Haina sampai menunduk karena malu. Bagaimana Ben bisa tahu isi pikirannya? Lelaki dewasa dengan senyum ramah menawan itu memang sungguh perhatian.
Haina mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Diantara lalu lalang dokter dan perawat yang sibuk merawat pasien ia tak juga melihat keberadaan suaminya.
"Kemana dia?" gumamnya pelan.
Ben kembali.
"Cepat sekali?" tanya Haina heran. Belum ada sepuluh menit Ben sudah kembali dengan membawa pembalut ditangannya. Haina menerima dengan malu - malu.
"Seorang perawat cantik memberiku secara cuma - cuma saat kutanya" terang Ben diiringi cengiran.
"Paman pasti menggodanya" sahut Haina dengan senyum jahil.
Ben tertawa kecil, mengiyakan.
"Aku ke toilet sebentar" ujar Haina lalu turun dari brangkar perlahan.
"Perlu kubantu?" tanya Ben.
Haina menggeleng. Rasa pusing dan nyeri sudah mulai berkurang karena obat yang diberikan dokter tadi sangat manjur padanya.
Tak lama ia keluar dari toilet yang berada diujung ruang UGD itu. Haina melewati deretan brangkar yang tertutup gorden khas rumah sakit sebagai sekat. Ben terlihat menyusulnya dari brangkar tempat ia diperiksa tadi.
Tiba - tiba seorang dokter keluar dari sekat brangkar dengan gorden warna hijau muda, membuat Haina berhenti untuk memberi akses jalan pada dokter dan seorang perawat yang baru saja keluar.
DEG!
Tiba - tiba satu tetes air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya. Ia mengepalkan tangan kuat - kuat lalu berlalu dari sana.
"Paman, aku ingin pulang" ujarnya pada Ben yang sudah berjalan disisinya.
"Tunggu, sepertinya suamimu sedang menerima telepon penting. Sibuk terus dari tadi" tutur Ben sambil terus mengiringi Haina.
"Tidak perlu tunggu dia, Paman. Aku ingin pulang!" sahut Haina sambil terus menahan air mata.
Ben yang melihat merasa heran. Tiba - tiba Haina terlihat marah dan seperti akan menangis.
"Baiklah!" sahutnya.
Mereka sampai di parkiran. Haina segera duduk dikursi penumpang. Ben melongo heran. Lagi - lagi ia diperlakukan seperti supir. Tapi ia tak banyak protes dan segera duduk dikursi kemudi.
"Bagaimana dengan Harly?" tanya lelaki tiga puluh lima tahun itu sebelum benar - benar tancap gas. Melirik Haina dari spion tengah.
"Biar saja. Dia pasti sibuk mengurus wanitanya!" sahut Haina dengan membuang muka ke arah jendela.
Lagi - lagi Ben tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ayo cepat jalan, Paman!" seru Haina kesal.
"Astaga! Tidak sabaran sekali. Mirip seseorang" gumam Ben. Tapi akhirnya ia melajukan mobil itu pergi meninggalkan area rumah sakit.
"Cinta memang rumit!" gumamnya lagi pelan.
__ADS_1
*
tbc.