Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pinggang


__ADS_3

Haina tengah terlelap diatas ranjang empuk presidential suite room usai mendapatkan suntikan penenang. Tuan Muda Harly menimbun tubuhnya dan Haina dengan selimut sebatas pinggang. Lekat ia pandangi wajah gadis yang terbaring disampingnya.


Satu tangannya terjulur mengusap pipi Haina, menyibak anak rambut yang menempel.


Drrrtt...drrrtt...


Sedari tadi baik ponselnya maupun Haina terus berbunyi. Ia mendapat banyak panggilan dari Jiana dan Rebeca. Sementara nama Ruhi dan Hagi tertera dalam daftar panggilan tak terjawab di ponsel Haina.


Dengan malas ia mengangkat satu panggilan dari Ren. Saat ini ia tidak ingin diganggu. Tapi bisa saja ini tentang pekerjaan. Jadi ia pergi ke luar kamar tidur itu dan mendudukkan diri di sofa besar di ruangan bergaya eropa.


"Ada apa?"


"Jun bilang Anda sudah kembali lebih dulu, apa yang terjadi tuan? Anda baik - baik saja?" tanya Ren dari ujung telepon.


"Semua baik - baik saja. Ada hal lain?"


"Sebenarnya...."


Suara Ren berganti dengan suara wanita.


"Aku mencarimu!" Jiana yang bicara.


"Kenapa? Bukankah acara berjalan dengan lancar?"


"Aku ingin kita pulang bersama dan merayakan hari pelantikanku. Tapi kau malah pulang duluan" tutur Jiana yang kecewa.


"Kau bisa pulang dan merayakan dengan Ren lebih dulu. Aku ada sedikit urusan"


"Apa kau bersama gadis itu?" tanya Jiana.


"Kututup teleponnya"


Panggilan itu berkahir dengan pertanyaan Jiana yang tak terjawab.


Tuan Muda Harly melemparkan ponselnya ke arah samping. Ia menyandarkan punggung ke sandaran sofa dan menghela napas berat.


"Ada apa denganku?"


Sejenak ia meraba dadanya yang bergemuruh.


" Aku hanya tidak ingin meninggalkannya karena dia sedang sakit. Ya, dia sedang sakit" gumamnya meyakinkan diri sendiri.


Sebenarnya sejak dipesta tadi perhatiannya hanya tertuju pada istrinya. Ia marah saat melihat gadis itu memakai gaun yang menampakkan sebagian punggungnya. Punggung mulus yang bahkan baru sekali ia lihat saat Haina tak sengaja jatuh dikamar mandi. Lalu hari ini para lelaki di pesta itu dengan kurang ajar menikmati sosok memikat istrinya itu. Belum lagi belahan dada yang sedikit terlihat itu, benar - benar membuatnya geram.

__ADS_1


Ia berniat memarahi dan bahkan ingin menghukum gadis itu. Tapi semua buyar saat ia mendapati Haina yang terhuyung dan jatuh ke lantai. Wajah yang ketakutan disertai pipi yang basah karena air mata. Itu semua membuatnya ingin merengkuh dan melindungi gadis itu.


Banyak hal berkecamuk dipikirannya sekarang. Tentang Jiana yang kembali ke tanah air sesuai keinginannya. Lalu sang nenek yang selalu berusaha mencampuri hidupnya. Dan Haina, istri yang baru dua bulan ini dinikahinya namun sering melintas dipikirannya.


Diantara kedua wanita itu, hanya satu yang dapat terus berada disisinya. Ia ingin membuat Jiana terus berada disisinya tapi melepaskan Haina dari genggamannya juga bukanlah keinginannya. Lalu, bagaimana sebenarnya isi hati Tuan Muda Harly?


*


Keesokan harinya dirumah besar Benjamin. Jiana sedang mengemasi barangnya. Selain karena apartemennya sudah siap ditempati ia juga tidak ingin berlama - lama tinggal dirumah besar ini tanpa kekasih hatinya didalamnya.


Ia dibantu pelayan yang mengantar kopernya hingga ke teras depan. Sementara ia berada diruang baca milik Nyonya besar Ananta.


"Aku pamit" kata Jiana sebagai perpisahan yang singkat.


"Ingat perkataanku, waktumu satu bulan untuk menyingkirkan gadis desa itu. Jika gagal jangan berharap bisa terus berada diposisimu sekarang!" ancam wanita dengan banyak keriput halus diwajahnya itu.


Jiana mengepalkan tangannya. Tapi ia tidak ingin mengatakan apapun dan pergi diruangan itu.


Di mobil ia meluapkan kekesalannya dengan menjambak rambutnya sendiri.


"Dasar nenek tua sialan! Dia sudah memisahkan aku dan Harly selama bertahun - tahun dan sekarang mengancamku lagi? Dengan karirku?" rutuknya tidak percaya.


Ya, lima tahun lalu. Wanita tua itulah yang membuatnya harus pergi meninggalkan tanah air. Ia harus bertahan dan berjuang sendirian di negara asing. Semata - mata karena ia ingin kembali. Dengan dirinya yang jauh lebih baik dan statusnya yang diakui sebagai pendamping yang sepadan untuk Tuan Muda Harly.


Selama itu pula ia bekerja keras. Tanpa membiarkan dirinya bersantai. Setiap peluang yang ada akan dia manfaatkan untuk mengejar karirnya. Agar dia bisa sepadan dengan Tuan Muda Harly, dengan usahanya sendiri. Dengan begitu tidak ada orang yang akan berani mengejeknya. Ia berhasil, meski harus mendapatkan posisinya saat ini dengan kekuasaan Nonya besar Ananta. Kini ia satu - satunya CEO termuda dan satu - satunya CEO wanita di Benjamin Corp.


"Lihat saja, aku akan mendapatkan Harly kembali dan tetap dengan posisiku. Aku bersumpah, dasar wanita kejam!" serunya sambil tancap gas usai melewati gerbang kediaman Benjamin.


.


Di tempat lain sepasang suami istri tengah menikmati makan siang di beranda kamar presidential suitenya. Hamparan ibu kota dan lautan biru menjadi pemandangan indah disiang yang sedikit berangin itu.


Haina menikmati makan siang itu dengan baik. Menjadi kaya raya ternyata memang semenyenagkan itu. Sejak terbagun pagi tadi ia sudah memabjakan mata dengan indah dan mewahnya kamar itu. Ditambah pemandangan disampingnya kini. Dan bonus wajah tampan suaminya di akhir pekan yang cerah.


Serasa energinya ter—charge penuh. Senyum mengembang diwajah cantiknya.


"Sesenang itukah kau kubawa kesini?" Tuan Muda Harly berbicara usai mengunyah potongan daging dimulutnya.


Pipi Haina bersemu merah karena malu.


"Apa terlihat jelas?"


"Sangat! Jelas terlihat kampungan" kata tuan muda bermut pedas itu. Padahal ia juga menikmati kebersamaan yang langka ini.

__ADS_1


Bibir Haina manyun seketika.


"Dasar mulut pedas! Yang minta dibawa kesini juga siapa?"


"Cepat habiskan makananmu. Lalu ganti pakiaanmu!" titah Tuan Muda Harly. Ia bangkit lebih dulu meninggalkan Haina yang sedang menghabiskan jus mangganya.


"Setidaknya kan beri tahu dulu mau kemana!" gerutu Haina.


Tak lama ia kembali ke dalam dan bersiap seperti perintah suaminya nan arogan itu.


Make up tipis yang dipoleskan ke wajahnya membuatnya tampak segar dan berseri. Ya, hanya polesan pelembab wajah, bedak tabur dan lipstik yang ada ditasnya sejak kemarin.


"Pakai baju apa?" ia tersadar sejak mandi tadi pagi hanya mengenakan bathrobe hotel.


Seperti mendapat sebuah jawaban, sebuah tangan terulur dari pintu kamar mandi yang dibuka sedikit.


"Pakai ini!" suara Tuan Muda Harly dari balik pintu.


Haina mengambil paper bag besar itu dan memeriksa isinya.


"Cepat sedikit! Kalau lama kutinggal" seru Tuan Muda Harly lagi sebelum pergi dari pintu itu.


"Iyaaaa...!" teriak Haina. "Dasar tukang ancam!"


Haina cepat mengganti bathrobe yang melekat ditubuhnya dengan sebuah gaun panjang berbahan katun. Warna hijau avocado yang cerah membuat penampilannya semakin bersinar.


Haina mencari suaminya yang sudah menunggu di ruang santai di dekat kamar tidur.


"Ayo, aku sudah siap" ujar Haina yang sudah tidak sabar. Ia sudah mengira mereka akan jalan - jalan. Melihat suaminya yang berpakaian santai.


Tuan Muda Harly terpana menatap gadis bergaun hijau avokado itu. Terlihat cantik dan menyegarkan matanya.


Tuan muda itu membuka pintu dan berjalan lebih dahulu. Haina mengutinya dan mendahuluinya saat ia akan menutup pintu.


"Sial! cari mati kau Jun? Mentang - mentang kemarin aku tidak lunak padamu kau jadi bertingkah" umpatnya saat melihat sosok sitrinya dari belakang.


Memang sekilas tidak ada yang salah dari depan. Gaun tanpa lengan itu menutupi tubuh Haina dengan baik sampai betis. Tapi, bagian pinggang sedikit terbuka dengan potongan berbentuk elips. Memperlihatkan pinggang ramping Haina yang menggoda imannya yang semakin melemah.


"Kemarin punggung sekarang pinggang!"


*


tbc.

__ADS_1



Selamat sore semua! Tolong sempatkan like, komen, vote dan beri hadiah ya kalau sudah baca bab ini. Setiap dukungan kalian sangat berarti untukku🄰


__ADS_2