Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Nyonya Ananta


__ADS_3

Pemandangan dari balkon penthouse The Haina memang luar biasa. Curahan cahaya keemasan menyirami dua insan yang saling berpelukan mesra. Sembari menyaksikan kemilau cahaya keemasan sang surya yang dipantulkan permukaan air laut. Mereka menghabiskan waktu sore sepulang dari ziarah di balkon penthouse.


"Apa ini sudah cukup?"


"Apanya?"


"Pelukan posesifmu ini? Aku lelah dan ingin berbaring. Kakiku pegal," gadis itu mengeluh. Kira - kira sudah hampir setengah jam mereka berdiri di sana, menyaksikan matahari tenggelam hingga peraduan. Ia dipeluk dari belakang, dua lengan kokoh milik Tuan Muda Harly melingkar di perutnya.


"Ck! Aku masih ingin seperti ini. Tapi ya sudah, kau sedang hamil. Ayo masuk dan mandi. Makan malam keluarga menanti!"


Haina membalik badan, masih dalam rengkuhan Tuan Muda Harly. Kini mereka saling berhadapan. Ia menatap lekat sang suami.


"Makan malam keluarga?" dua alisnya hampir bertaut.


Lelaki itu mengangguk kemudian mengulas segaris senyum.


"Iya. Makan malam dua keluarga, keluargamu dan keluargaku. Sudah saatnya, bukan? Bahkan harusnya sedari dulu. Kau tahu, aku merasa bersalah untuk itu. Hubungan kita dimulai dengan tidak baik. Aku sadar, aku memupus mimpi gadis sepertimu, mimpi menyelenggarakan pernikahan yang indah dan megah. Memakai cincin dan gaun yang indah. Merayakan dengan orang yang kau cintai. Aku ... telah mengacaukan semua sejak awal dan aku merasa bersalah atas semua itu."


Tuan Muda Harly berujar panjang lebar lalu mengusap lembut salah satu pipi sang istri. Gadis itu nampaknya terhanyut dalam kilasan memori perjalanan kisah cinta mereka. Hingga kedua matanya berkaca - kaca.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku tidak mempermasalahkannya lagi. Ayahku pernah bilang, apabila seseorang mampu menerima suratan takdirnya dengan lapang dada maka dia akan mendapatkan kebahagian dan kedamaian hati. Kurasa aku sudah bahagia, meskipun tidak ada gaun maupun pesta pernikahan. Aku tak akan mempermasalahkannya," terang Haina. Ia berharap ungkapan hatinya itu dapat mengurangi rasa bersalah sang suami.


Tuan Muda Harly hanya mengulas senyum. Ia menarik sang wanita ke dalam pelukan dan menciumi puncak kepalanya berkali - kali.


"Ayo masuk. Aku akan menunjukkan sesuatu!" tuturnya setelah mengurai pelukan.


Haina mengikuti dengan pasrah kemana sang suami membawa. Dengan jemari saling bertaut keduanya melangkah masuk menuju kamar utama di penthouse. Perlahan bahunya didorong, ia duduk dengan nyaman di ranjang.


Tuan Muda Harly bergerak maju. Membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak beludru bewarna biru berukuran cukup besar. Membawanya dan berlutut dihadapan Haina.


"Semua yang ada disini adalah milik mendiang ibuku. Cincin pernikahan, perhiasan berharga warisan turun temurun yang sebelumnya diwariskan kepada ibuku juga ada sini. Semua ini hanya akan dimiliki oleh menantu yang melahirkan penerus keluarga Benjamin dan sekarang giliranmu yang menjadi pemiliknya." Tuan Muda Harly membuka perlahan kotak beludru itu.


"Woah!"


Haina terkesima dengan semua benda berkilau yang ada didalam sana. Bagaimanapun ia hanya gadis biasa pada umumnya, menyukai benda indah yang berkilauan. Lengkung senyumnya tak tertahan saat satu buah cincin disematkan dijarinya. Ia bahkan belum memikirkan perkataan panjang lebar sang suami.


"Kau menyukainya?"


Haina menangguk antusias dengan senyum merekah.


"Ini sangat indah meskipun sederhana."


Tuan Muda Harly mengulas senyum lalu memasangkan lagi sebuah gelang perak betabur permata merah muda nan mempesona. Haina yakin perhiasan indah itu sangatlah mahal harganya. Ia bahkan tak berani membayangkan berapa harganya.


"Cincin ini milik ibuku. Hanya cincin ini yang pernah dipakaianya semasa hidup bersama ayahku. Sedang sisanya ... tak pernah sekalipun dipakai olehnya," sorot mata lelaki itu herubah sendu.


Haina terdiam menyaksikan perubahan air muka Tuan Muda Harly. Mata yang tadinya berbinar cerah kini berubah sendu, memancarkan pilu yang tersirat. Rupanya membahas masa lalu akan selalu membawa duka dihati lelaki itu.


Lelaki itu memaksakan senyum. Ia kembali meraih sesuatu dari dalam kotak beludru. Sebuah kalung berliontin permata merah muda menggantung ditangannya. Kalung itu nampak cocok dan serasi dengan gelang yang sudah melekat di tangan Haina, kelihatannya memang satu set. Ia berdiri dan hendak  memakaikan dileher sang istri.


"Tunggu. Aku tidak ingin memakainya sekarang," cegah Haina tiba - tiba.


"Kenapa?"


"Aku hanya merasa belum siap. Lagi pula bayi kita belum lahir."


Gadis itu meraih kotak beludru yang diletakkan dikasur lalu meletakkan kalung kembali. Ia menutupnya.


"Aku yakin ada banyak cerita dibalik kotak berharga ini dan aku belum siap untuk menerima semua. Cukup yang ini dulu," tutur Haina sambil menunjuk cincin dan gelang yang dipakainya.


"Hmm, baiklah."


Tuan Muda Harly dapat mengerti perasaan Haina. Semua perhiasan itu melambangkan kekuasaan dan kedudukan seorang istri dalam keluarga besar Benjamin. Tentu Haina akan merasa terbebani. Ia tidak akan memaksa bila istrinya belum siap.

__ADS_1


.


Restaurant The Haina adalah tempat dilaksanakannya makan malam dua keluarga itu. Semua orang sudah berkumpul, baik dari keluarga Benjamin maupun keluarga Pak Tanu. Namun suasana yang harusnya hangat dan menyenangkan malah jadi canggung. Semua karena wajah cemberut Nyonya Ananta.


Wanita sepuh itu sebenarnya terpaksa kembali ke hotel demi memenuhi keinginan sang anak sulung—Utama Benjamin. Sejak kehadirannya Haina sekeluarga tampak irit bicara dan hanya menanggapi apabila ada yang bertanya.


Sesaat kemudian pelayan selesai menyajikan menu utama makan malam besar itu, steak daging domba. Dengan instruksi oleh Tuan Utama Benjamin, makan malam pun dimulai.


Kedua orang tua Haina tampak agak kagok dengan acara makan malam ini. Apalagi menu yang disajikan jarang mereka lihat dan makan. Belum lagi mereka tidak begitu fasih menggunakan pisau makan untuk memotong daging. Alhasil mereka terlihat kesusahan. Begitu pula Hagi yang tampak tak terbiasa namun remaja lelaki itu tetap bersikap sok keren dan terus memotong asal jadi lalu melahap potongan daging ke dalam mulut.


Melihat itu senyum smirk terluas diwajah Nyonya Ananta. Siapa saja yang melihat pasti tahu ekspresi meremehkan itu.


Haina yang duduk disamping sang ibu segera menyerahkan piringnya. Ia telah selesai memotong steak daging miliknya.


"Aku sudah memotongnya untuk Ibu," ujarnya dengan senyum manis.


Bu Hayati menerima dengan wajah berbinar.


Rupanya hal serupa juga dilakukan oleh Tuan Muda Harly. Ia juga selesai memotong daging dipiringnya.


"Kemarikan piring Ayah, biar itu untukku saja," ujarnya sembari menyodorkan piringnya.


Haina tersenyum bahagia melihat inisiatif sang suami. Ternyata lelaki itu bisa begitu perhatian pada mertuanya. Ia membantu menukarkan piring itu karena jarak tempat duduk Tuan Muda Harly dan Pak Tanu yang cukup jauh.


"Wah, Kak Harly sekarang berubah begitu banyak. Aku tidak menyangka Kakak bisa perhatian begitu. Apa ini semua karena cintamu pada Kakak Ipar?" celetuk Agatha diseberang meja.


Tuan Muda Harly hanya mengangguk dengan segaris senyum tipis. Membuat suasana menjadi kembali cerah diantara mereka. Namun lain hal dengan Nyonya Ananta yang terlihat mencebik karena merasa jengah. Ia mungkin ingin mengejek dan memojokkan Haina dan keluarganya saat itu juga. Tapi ia menahan diri karena ada Tuan Utama disana.


Makan malam selesai dan dilanjutkan dengan berkumpul diarea kolam renang. Dimana terdapat banyak kursi santai disana. Pemandangan laut dimalam hari menjadi daya tarik tersendiri.


Para anak muda memilih duduk lesehan ditepi kolam renang, menceburkan kaki ke air. Sedangkan para orang tua duduk di kursi kayu dibelakang mereka.


Selain mereka ada juga beberapa tamu lainnya yang terlihat menikmati waktu bersantai disana. Mereka adalah tamu beruntung yang bisa menikmati pengalaman menginap pertama di The Haina secara gratis. Pihak hotel memang mengadakan program itu.


"Akhirnya sekarang keluarga kita bisa berkumpul setelah sekian lama," tutur Nyonya Anggita. Ia memang bersyukur, karena sudah lama tak ada momen seperti ini.


Sontak Tuan Utama beserta istrinya terkekeh.


"Benar juga, kemarin aku terlalu sibuk mengurusi dua perusahaan. Kalau tidak disini ya pergi ke Turki membantu istriku," kata Tuan Utama sembari menggenggam tangan sang istri yang dibalas senyum manis oleh Nyonya Aize.


Pak Tanu dan Bu Hayati hanya tersenyum menanggapi semua. Baginya pernikahan sang anak memang telah berubah menjadi berkah tersendiri dan yang paling penting Haina bahagia dengan pernikahannya.


Haina yang sedang duduk dipinggir kolam beridiri. Ia ingin pergi ke toilet.


"Mau kemana?" tanya Tuan Muda Harly.


"Ke toilet!" Haina menyahut pelan lalu segera berjalan menyusuri tepian kolam renang.


Tuan Muda Harly ikut berdiri ia akan menyusul istrinya dan menemaninya.


Saat itu Nyonya Ananta yang duduk paling ujung ikut berdiri saat Haina lewat didepannya. Berjalan memotong langkah Haina yang selangkah didepannya. Sayangnya Haina sedikit kaget. Ia terpeleset, namun satu tangannya berhasil meraih lengan Nyonya Ananta.


"Aaakhh!"


BYUR!


Haina terjatuh ke lantai bibir kolam renang dan langsung tercebur karena posisi jatuhnya benar - benar dibibir kolam renang.


"Haina!"


"Haina!"


Semua orang bangkit dan berlarian.

__ADS_1


Tuan Muda Harly segera menceburkan diri ke kolam untuk menyelamatkan sang istri. Tak sampai semenit ia sudah berhasil mengangkat tubuh Haina ke tepian kolam. Ia lalu ikut naik ke atas.


Haina meringis kesakitan. Tangannya memegangi perut. Ia sempat terbatuk tapi rasa sakit diperutnya kian menjadi.


"Sakit. Perutku..."


"Darah! Kak, kaki istrimu berdarah!" seru Andrew.


"Astaga! Apa yang terjadi? Kak, apa yang terjadi pada kakakku?" Hagi panik luar biasa.


Saat itu juga Tuan Muda Harly menatap tajam pada neneknya yang terpaku di antara semua orang. Bibirnya bergetar menahan amarah.


"Kalau terjadi sesuatu pada istri dan anakku aku tidak akan pernah memaafkan nenek!"


Semua orang terkejut.


"Haina sedang hamil," lirih Tuan Muda Harly.


Berita ini harusnya berita bahagia yang akan ia umumkan sebentar lagi. Ia bahkan menyiapkan kejutan untuk mengiringi pengumuman berita bahagia ini. Tapi sayang, keadaan jadi kacau.


Para pengunjung kolam renang yang lain ikut menyaksikan apa yang terjadi disana. Mereka berbisik - bisik satu sama lain.


Dor!


Bunyi letupan kembang api raksasa mengudara. Disususul letupan - letupan lainnya.


Fokus orang - orang segera teralihkan pada keindahan kembang api diudara. Pesta kembang api dimulai. Pesta kecil yang dipersiapkan Tuan Muda Harly untuk kabar gembira kehamilan sang istri.


Haina terus meringis kesakitan dalam gendongan suaminya. Diikuti keluarga dibelakang.


Tak satupun dari mereka peduli dengan indahnya kembang api yang mekar dilangit malam.


"Bayiku... Harly, bayiku."


Semua orang mengikuti Tuan Muda Harly menuju rumah sakit terdekat. Butuh lima menit perjalanan saja ke rumah sakit tempat Haina memberi kejutan kehamilannya kemarin.


Mereka berlarian memasuki UGD dengan perasaan cemas tak menentu. Sayang perawat menyuruh mereka menunggu di luar ruangan karena jumlah mereka teralalu ramai. Hanya Tuan Muda Harly yang diizinkan menemani Haina.


"Sebenarnya apa yang ibu lakukan pada Haina?" Tuan Utama mulai menyelidik.


Sang ibu melotot tak terima dipojokkan didepan semua orang.


"Apa yang kulakukan? Apa aku mendorongnya?"


"Nenek menepis pegangan tangan Kak Haina pada lengan nenek, aku melihatnya!" Agatha buka suara.


"Diam kau anak kecil!" bentak sang nenek tidak terima.


"Loh! Aku memang melihatnya. Kenapa nenek menepis tangan Kak Haina?"


"Apa Nyonya sengaja melakukan itu? Nyonya tidak menyukai anak saya. Saya bukannya menuduh. Tapi saya juga melihatnya!" suara Bu Hayati bergetar menahan tangis.


Wanita baya itu memang memperhatikan sanga anak saat bangkit dari duduknya. Haina berjalan seperti baisa. Tiba - tiba nenek mertuanya beridiri tepat saat Haina akan melewatinya. Langkah Haina dipotong, padahal masih ada jalan cukup lebar. Haina kaget dan hampir terjatuh. Ia berpegangan pada lengan Nyonya Ananta tapi ditepis dengan cepat saat kakinya belum stabil. Haina terjatuh, terududuk dengan keras di bibir kolam renang lalu terjungkal ke kolam renang. Ia menyaksikan semua. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tanpa bisa dicegah.


"Kenapa Anda tega? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak dan cucu saya?" lirih suara Bu Hayati membuat siapa saja dapat merasakan kekhawatirannya.


"Bu?" Nyonya Anggita ikut bersuara.


"Apa? Apa? Kalian semua menuduhku? Aku ini cuma wanita tua tidak bertenaga. Aku...aku menepisnya karena takut terjatuh! Lagi pula mana ku tahu dia sedang hamil!" Berapi - api Nyonya Ananta membela dirinya. Ia pergi dari sana tanpa menungu reaksi dari mereka.


"Ibu ... ibu, tunggu!" Nyonya Anggita menyusul ibunya.


Mereka semua terdiam di ruang tunggu itu. Tak mampu lagi berkomentar. Takut akan terjadi perselisihan apabila dilanjutkan. Mereka hanya dapat berdoa agar Haina dan janinnya selamat.

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2