
Mata Haina tak henti mengerjap, lima puluh meter dihadapannya sebuah bangunan megah mirip hotel bertuliskan namanya dibagian atas.
'The Haina'
Apa itu hanya kebetulan? Tapi rasanya di negeri tak banyak juga yang mengunakan nama itu.
Rasa penasaran semakin mendorongnya untuk terus melangkah. Mencari keberadaan Ruhi yang ia yakini memasuki area bangunan itu.
Bangunan itu tampak sepi, hanya ada para pekerja yang lalu lalang membawa berbagai barang. Haina yakin bangunan baru tujuh lantai itu adalah sebuah hotel. Terlihat mewah, megah dan indah meskipun tidak sebesar hotel yang pernah dikunjunginya saat bersama Tuan Muda Harly. Tapi tetap saja terlihat besar dan mencolok diantara bangunan lain sekitaran pantai itu. Haina yakin bangunan Hotel ini belum ada saat pertama ia datang kesini dulu.
Pemandangan disisi kiri Hotel membuat keindahannya semakin nyata. Bagaimana tidak? Hamparan lautan menjadi back ground dibagian kiri dan belakang. Letaknya sedikit tinggi dibanding dataran tempat Haina berpijak. Menambah kemegahan bangunan dominasi warna putih itu.
Haina terus mendekat, sekarang tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai di area lobby yang terlihat sedikit berntakan. Ada banyak barang disana. Permadani, kursi, meja serta perabotan lain yang terlihat indah dan mahal.
Langkahnya terhenti saat beberapa orang berpakaian khas petugas keamanan mencegat.
"Maaf, dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan!" dengan tegas salah satu diantara mereka menperingatkan.
Haina mendengus, memusatkan perhatian pada pintu utama lobby yang tembus pandang. Ia harus cari cara agar rasa penasarannya segera tuntas.
"Itu dia! Kakak saya disana. Tolong panggilkan dia!" seru Haina saat melihat Ruhi sedang berjalan sambil mengobrol dengan seseorang.
"Eh?"
Haina hendak berlari masuk mengejar Ruhi yang menghilang dibalik dinding dengan seseorang yang tampak familiar. Namun lengan kekar dua petugas keamanan mencegah langkahnya.
Haina kesal dibuatnya. Padahal tadi ada Ruhi disana. Ia yakin sahabat satu - satunya itu pasti bisa memberinya jawaban. Tapi kini gadis itu telah menghilang.
"Nona!" suara Steffi tersengar reflek membuat Haina menoleh ke belakang.
"Apa kau tahu sesuatu tentang tempat ini?" tanya Haina begitu Steffi berada tepat disebelahnya.
Steffi menggeleng. Ia benar - benar tidak tahu apa - apa. Melihat Haina yang berlarian ke arah bangunan Hotel itu ia hanya mengikuti dan mendekat saat Haina tampak berdebat dengan dua petugas keamanan.
"Lebih baik kita kembali, Nona," bujuk Steffi.
Tapi Haina tidak menurut dan malah mondar - mandir dengan kesal. Sedang Steffi hanya bisa pasrah dan mengekori. Wajah cemberutnya tak dapat ia sembunyikan mendapati semua keanehan didepan mata. Mana mungkin ia bisa mengabaikannya begitu saja?
Satu jam berlalu dan ia masih belum dapat ide. Ia terus mencoba menelepon Ruhi, tapi tak satupun panggilan maupun pesannya direspon. Ingin minta bantuan Ben tapi tidak bisa, pria itu mendadak tidak bisa dihubungi.
"Kemana sih Paman Ben? Kenapa ikut - ikutan menghilang?!" gerutu Haina. Bahkan ia sudah menghubungi Beniq Bakery tetapi Ben tidak ada disana.
Steffi jadi gelisah melihat Haina yang tak kunjung mau diajak pulang. Nona muda itu betah saja berkeliaran ditepi pantai sambil terus menoleh ke arah bangunan hotel.
"Nona, lebih baik kita pulang. Cuacanya panas sekali, nanti Nona sakit," bujuknya. Sudah hampir tengah hari sehingga terik matahari benar - benar menyengat dikulit.
Haina menggeleng. Tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Aku haus dan lapar, ayo cari tempat makan disekitar sini!" tukas Haina lalu melenggang pergi.
Tak jauh dari sana ada sebuah kafe. Haina masih ingat pernah mengunjungi kafe itu bersama Tuan Muda Harly. Ia masuk dan mendudukkan bokong dengan kasar disebuah kursi plastik.
"Nasi bakar seafood dan jus mangga saja," tutur Haina pada pelayan yang baru saja datang.
"Maaf, Kak. Mangganya kosong," sahut si pelayan tidak enak.
"Kalau begitu jeruk saja," tutur Haina.
"Jeruknya juga masih dalam perjalanan, Kak," pelayan itu meringis tidak enak.
"Hmmph...sirsak?" Haina ingin minuman segar yang asam dan manis.
"Oh jus sirsak ada, baik. Mohon tunggu sebentar, pesanan akan segera disiapkan."
Haina mengangguk menyahuti pelayan itu. Pandangannya kemudian dialihkan pada Steffi yang berdiri dibelakangnya.
"Tidak lelah? Pesan sesuatu untukmu dan yang lain juga!" ujar Haina seraya menolehkan kepalanya kebelakang.
"Ti-tidak kok, nanti saja saat jam makan siang. Kami bergantian, Nona." sahut Steffi merasa sungkan.
"Sekarang saja!"
"Ta-tapi Nona..."
"Kau tidak menurut padaku karena bukan aku yang mempekerjakanmu, begitu?" gerutu Haina kesal. Tadinya ia merasa kasihan pada para pengawal itu yang bisa saja juga merasa lapar saat ini. Ia tidak tega juga makan sendirian dan membiarkan mereka hanya menontonnya makan. Tapi mendapat penolakan membuatnya seketika kerasa kesal.
"Tidak, bukan begitu Nona. Baiklah, saya akan menuruti perintah Nona." Tergagap Steffi menyahut kemudian beranjak ke meja kasir memesan beberapa menu yang gampang dimakan saja, pikirnya.
Haina menghembuskan napas panjang. Merasa sedikit bersalah sudah memarahi Steffi seperti tadi.
Kenapa sih aku ini? Bawaannya mau marah terus, kesal terus! Ini semua gara - gara Harly! Iya karena dia aku jadi kesal begini kan.
Tak berapa lama pesanan Steffi selesai. Tujuh porsi roti isi beserta air mineral. Ia meraihnya dari tangan pelayan lalu bergabung dengan rekannya yang lain di sebuah meja di pojok kafe dibagian depan. Dari meja itu kereka akan leluasa memantau Haina yang sedang menghabiskan makanannya.
Mereka menikmati makanan itu dengan senang hati seraya sedikit mengobrol. Pekerjaan yang mereka lakoni kadang terlihat mudah tapi kadang sulit. Tak jarang mereka merasa bosan dan lelah dengan pekerjaan itu. Pengawal harus berdiri berjam - jam lamanya, harus selalu siaga dan waspada.
"Aku mengamatimu sejak tadi dibekakang sana. Sudah cocok bersanding dengan Tuan Muda Harly yang arogan. Selamat untukmu, kau sudah naik level."
Suara seseorang menyita perhatian Haina. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berpakaian kantor, namun sangat modis dan cocok untuknya.
"Jiana?" gumam Haina setengah berbisik.
Benar dugaanku. Kak Ruhi disini bersana Jiana. Apa yang sedang mereka lakukan disini? The Haina itu....
"Benar, seperti dugaanmu. Aku disini melaksanakan tugas, demi seseorang." Jiana tersenyum cerah setelah mengatakan itu. "Tadi kau melihatnya, Ruhi, sahabatmu, bukan?"
__ADS_1
Haina tertegun. Mencerna segala sesuatu. Menghubungkan berbagai hal yang dia temukan hari ini. Ruhi disini, disebuah bangunan hotel yang baru berdiri sepertinya juga belum diresmikan. Hotel itu memakai namanya, Ruhi dan Jiana bekerja diperusahaan yang sama. Sedetik kemudian ia berdecih.
Cih! Apa - apaan semua ini?!
"Ada apa sebenarnya?" tanya Haina meminta penjelasan.
"Maaf, ya, aku tidak bisa mengatakan apa pun sekarang. Aku sudah disumpah seseorang untuk menjaga semua rahasia ini sampai tiga hari kedepan. Kau pura - pura tidak tahu saja!" Jiana mengatakan itu lalu melenggang pergi dengan dua bungkus makanan ditangan. Tampaknya ia akan memakannya di lain tempat.
Haina mengigit bibir bawahnya kuat. Benarkah apa yang ada dipikirannya saat ini? Tuan Muda Harly menyiapkan sebuah kejutan untuknya?
"Tunggu!" Haina bangkit dan mengejar Jiana yang sudah sampai di halaman berpasir.
Steffi dan rekannya terlihat mematau dari tempat duduk mereka yang tidak jauh dari sana. Memperhatikan interaksi antara Haina dan Jiana.
"Perlukah aku melapor pada Tuan Muda Harly?" ujar Steffi.
"Lebih baik lakukan sekarang!" saran salah satu pengawal lainnya.
"Tapi Tuan muda tidak memberi tahu kita tentang hotel The Haina itu. Apa yang harus kita lakukan?" timpal yang lainnya.
"Biarkan saja. Toh mereka hanya mengobrol," kata yang lain.
"Ih, kau ini tidak peka atau bodoh, sih? Tuan Muda Harly pasti sedang menyiapkan kejutan besar untuk istrinya. Tapi sudah terlanjur ketahuan."
"Oh..."
"Itu salah Tuan Muda Harly sendiri. Kenapa tidak memberi tahu kita. Tahu begitu kan tidak mungkin kita membawa Nona kesini."
"Iya kau benar!"
"Tapi kalau tahu kejutannya gagal Tuan Muda Harly bisa marah pada kita, bukan? Kita yang membawa Nona kesini meski atas permintaan Nona."
"Aah! Aku pusing!" gerutu Steffi tidak tahu harus bagaimana.
Sementara itu Haina dan Jiana sedang berhadapan.
"Kenapa kau menyapaku tadi lalu memintaku berpura - pura?"
Jiana tersenyum dengan cantik, lalu sesaat kemudian senyum cantiknya berubah jadi smirk. Seraya mengibaskan rambut panjangnya yang indah ia berlagak marah dengan ekspresi dibuat - buat.
"Karena aku ingin balas dendam. Siapa suruh dia membuat tanda cintanya untukmu ditempat ini? Tempat ini punya banyak kenangan," gumamnya lalu pergi begitu saja.
Haina melongo mendengarnya.
Hah? Apa katanya? Punya banyak kenangan? Harly...kau jahat!
Detik itu juga Haina bersumpah, ia tidak akan membiarkan Tuan Muda Harly begitu lolos dari masalah ini begitu saja. Tentu begitu, ia marah sekarang.
__ADS_1
"Akan aku siapkan kejutan juga untukmu, Harly."