
"Jika berada di sisi Harly membuatmu terluka datanglah padaku. Aku akan membantumu" ujar Ben setengah berbisik pada Haina.
Haina terheran - heran dengan sikap Ben. Biasanya ia akan waspada bila ada yang bersikap sok pahlawan dengannya. Kali ini pun ia harus berhati - hati, atau kalau tidak ia bisa dapat masalah. Keluarga suaminya itu memang tak menyukainya, bukan?
"Pakailah. Kau terlihat menggigil" kata lelaki itu sambil berbisik pada Haina. Ia menyampirkan jas miliknya sendiri ke bahu Haina. Lalu pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan Haina.
Haina memang kedinginan. Ia pikir tak apa memakainya, toh si pemilik jas juga sudah tak ada disekitarnya.
Ruhi belum juga kembali, padahal sudah hampir setengah jam ia menunggu. Ia semakin tidak nyaman ada dipesta ini dan sungguh tak mengerti tujuan kehadirannya disini
Sementara itu di meja VVIP sana, tempat para anggota keluarga Benjamin dan para petinggi perusaahan berada Tuan Muda Harly diapit dua wanita yang mencintainya.
Jiana berada disisi kanannya sedang Rebeca disisi kiri. Entah sejak kapan dua wanita itu duduk disana. Padahal ia sedang berbincang dengan seorang tamu dari luar negri.
"J'attends avec impatience de bonnes nouvelles de votre part (saya sangat bersemangat menunggu kabar baik dari anda)" ucap pria berkebangsaan Prancis itu.
"Nous donnerons des nouvelles dรจs que possible (kami akan memberi kabar secepat mungkin)" balas Tuan Muda Harly sambil menjabat tangan pria Prancis itu.
Jiana bangkit dan pergi mengantar pria Prancis itu ke pintu ball room.
Tinggalah Rebeca bersama Tuan Muda Harly dan Nyonya besar Ananta disana. Perempuan itu langsung menggunakan kesempatan untuk merayu pujaan hatinya. Tapi lelaki pujaanya itu sudah bangkit dari duduknya dan melenggang pergi. Ia hendak mengejar tapi Nyonya besar Ananta menahannya.
"Dia mungkin harus menyapa lebih banyak tamu" katanya.
Rebeca memanyunkan bibir kecewa. Padahal jarang sekali ia bisa melihat Tuan Muda Harly sedekat tadi.
"Apa nenek serius ingin aku menjadi istri Harly? Lihatlah sekarang Jiana kembali dan nenek malah menyuruhnya tinggal dirumah" keluh Rebeca.
Nyonya besar Ananta memijit pelipisnya, lelah juga mengahadapi Rebeca yang tidak sabaran.
"Kau tenang saja aku akan memisahkan Harly darinya begitu tugasnya selesai"
"Bagaiamana kalau Harly tetap lebih memilihnya daripada aku, Nek" Rengek Rebeca.
Aah! Sungguh membuat frustasi. Nyonya besar itu menggamit lengan Rebeca dan membisiki sesuatu. Sekejap wajah Rebeca menjadi cerah.
Ternyata di sisi kiri pintu masuk ada sebuah lorong gelap. Haina mencari Ruhi disana.
"Kenapa menyusul? Maaf ya, aku lama. Habisnya atasanku memintaku memperbaiki proposal" kata Ruhi.
Haina tersenyum lega. Untunglah Ruhi sedah selesai dengan urusannya. Jadi ia tak sendiri lagi.
"Punya siapa itu?" tanya Ruhi saat melihat sebuah Jas membungkus bahu Haina.
"Oh, ini... Jun meminjamkan jasnya"
Ruhi mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Acaranya sudah hampir selesai. Ayo kita kembali. Jun akan memgantar kita" ajak Haina sambil menggandeng lengan Ruhi.
Mereka berjalan melewati lorong yang sedikit gelap itu. Tiba - tiba Haina terhuyung saat lengannya ditarik seseorang.
"Haina? Ternyata aku benar. Itu kau" kata seorang pria dengan mata berbinar. Ia mencengkram lengan Haina dengan kuat tanpa ia sadari.
Haina dan Ruhi terkesiap begitu menyadari siapa pria itu. Dalam remangnya cahaya dari ujung lorong, mata pria itu berkilat menatap Haina.
"Andreas, lepaskan tanganmu!" sentak Ruhi. Ia menarik cengkaraman tangan lelaki itu dari lengan Haina.
Sedangkan Haina terdiam dengan wajah memucat. Ruhi dapat melihat ekspresi terguncang di wajah Haina yang menegang.
"Jangan ikut campur, Ruhi! Aku hanya sangat senang bisa melihatnya hari ini" Andreas berusaha mendekati Haina lagi tapi Ruhi pasang badan dan menyembunyikan Haina dibelakang tubuhnya.
"Pergilah. Haina tidak suka melihatmu!"
Tapi Andreas seakan menulikan telinganya. Ia membeku dengan tatapan sangat mendamba pada Haina.
"Haina, perasaanku padamu masih seperti dulu. Aku..."
"Andreas!" seru seorang wanita dari ujung lorong. Andreas berbalik dan melihat Tamara di sana. Ia cepat menutupi Haina dan Ruhi dibalik punggungnya yang lebar.
Tapi itu sudah terlambat!
"Kau? Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa ada disini bersama suamiku?!" seru Tamara. Ia berusaha mendekat pada Haina tapi Andreas cepat menarik tangannya dan membawanya pergi dari lorong itu dengan paksa.
"Argh...!" Haina mengerang memegangi kepalanya. Air matanya berjatuhan dan tubuhnya mulai gemetar.
Haina memegangi lengan Ruhi sangat erat sampai gadis itu meringis kesakitan. Tapi Ruhi menahannya, ia harus segera membawa Haina pergi dari tempat itu.
Langkah Haina terseok. Seluruh tubuhnya gemetar dan tersasa lemas. Tapi ia berusaha berjalan. Sampai diujung lorong ia tersungkur. Ruhi kesusahan menahan tubuh Haina yang mendadak limbung.
"Haina!" Ruhi cepat memeriksa keadaan Haina yang terduduk di lantai. "Ya ampun, dimana Tuan Jun?"
Ruhi mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang tersampir dibahunya.
"Ya ampun dia tidak mengangkat" keluh Ruhi.
Haina masih dalam keadaan yang sama. Ia tak hentinya mengeluarkan air mata, tapi ia tidak bersuara. Sedangkan sorot matanya memancarkan ketakutan yang amat jelas.
"Tuan...tu...tuan" Ruhi terbata melihat siapa yang datang mendekat.
Tuan Muda Harly mengambil Haina dari pelukan Ruhi dan menggendongnya.
Mata Ruhi tak berkedip menyaksikan adegan yang begitu cepat itu.
"Ada apa dengannya?" tanya Tuan Muda Harly.
__ADS_1
"Haina...dia..." Ruhi tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kondisi Haina pada wakil presdir itu.
"Apa yang terjadi padanya?!" sentak Tuan Muda Harly yang tidak mendapat jawaban.
Otomatis Ruhi tersentak kaget.
"Haina bertemu Andreas! Tiba - tiba saja dia muncul. Eng...Haina syok, iya... Haina ketakutan!" jelas Ruhi yang juga ketakutan.
Tuan Muda Harly membawa Haina pergi meninggalkan ball room. Ruhi berusaha mengikuti langkah cepat wakil presdir Benjamin Corp itu.
"Kemana Tuan Harly akan membawa Haina?" gumam Ruhi sambil terus mengekori Tuan Muda Harly.
Jun muncul dari pintu lift yang terbuka. Ia baru saja mengantar seorang tamu ke lobi.
Sementara itu dua panitia yang bertugas menyambut tamu melirik dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Siapa wanita yang digendong wakil presdir?
"Bukakan kamar di atas!" titah Tuan Muda Harly yang sudah masuk ke lift.
Jun gelagapan melihat Ruhi mengekori Tuan Muda Harly dan Haina. Spontan ia memencet tombol lift, agar pintu cepat menutup.
"Loh? Hainaaaa....!" seru Ruhi tak percaya ia ditinggal. "Bagaimana dengan Haina?"
Sementara kubus besi itu terus melaju menuju lantai paling atas. Hanya dengan satu telepon, Jun berhasil mendapatkan satu kamar presdidential suite.
"Cari tahu siapa Andreas!" titah Tuan Muda Harly lagi.
Mendengar nama Andreas disebut Haina yang setengah sadar semakin panik dan gelisah. Dibalik cairan air mata yang menggenang memenuhi retinanya ia masih bisa mengenali suaminya.
"Ha...Halry...aku...takut" sekujur tubuhnya terasa lemas dan pandangannya berputar. Nafasnya terdengar berat dan tak beraturan. Lalu kepalanya tersandar di dada Tuan Muda Harly bersamaan dengan menutupnya kelopak matanya.
"Nona pingsan?" Jun jadi bingung dengan apa yang terjadi.
Pintu lift terbuka. Mereka sampai di sebuah presidential suite room. Bertepatan dengan itu seorang petugas hotel berlarian keluar dari lift lainnya. Dengan sigap membukakan kamar dengan kartu akses ditangannya.
"Panggilkan dokter!"
Jun mengangguk dan segera meninggalkan Tuan Muda Harly yang sedang membaringkan Istrinya di ranjang.
Tuan Muda Harly beranjak turun dari tempat tidur. Tapi Haina membuka matanya.
"Kau bangun?"
Haina mengangguk lemah.
"Jangan tinggalkan aku!"
*
__ADS_1
tbc.
Halo readers yang budiman, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong ๐ tolong dukungannya untuk karya pertamaku ini ya. Like, komen, vote dan beri hadiah jika berkenan. Apreasiasi kalian sangat berarti untukku ๐