Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Cemburu


__ADS_3

Haina sudah tidak berdaya untuk menolak setiap sentuhan suaminya. Ciuman demi ciuman menciptakan perasaan meledak - ledak didalam dirinya. Meskipun ia berusaha mendorong tubuh suaminya dengan kedua tangannya, Tuan Muda Harly tak peduli. Haina pasrah pada keadaan. Ia hanya bisa menerima.


Benarkah ini saatnya melepas statusnya sebagai istri perawan? Sungguh ia belum siap. Tapi Tuan Muda Harly terus saja menuntutnya dengan sentuhannya di bibir dan tubuh bagian atasnya.


Drrrttt...drrrt...drrrttt


Getaran ponsel milik Haina dinakas samping ranjang membuat gadis itu berusaha lagi untuk menghindari sesapan bibir suaminya.


Tuan Muda Harly menjeda ciumannya dan melepaskan tangan Haina yang ia pegangi dengan kedua tangannya diatas kepala gadis itu. Ketika getaran itu berhenti ia memulai lagi aksinya.


"Oh tidak!" jerit Haina dalam hati saat bibirnya kembali dicium.


Drrrt...drrrtt...drrttt


Pletak!


Ponsel Haina kembali bergetar, panggilan yang tak dijawab itu membuat ponsel pipih itu terus bergetar hingga akhirnya jatuh ke lantai.


Tuan Muda Harly bangkit dan memungut ponsel itu dari lantai. Ia membaca nama yang tertera dilayar ponsel.


"Ck! Sialan" umpatnya.


Haina bangkit dari posisi tidurnya, buru - buru merapikan tali dres yang sudah turun hingga ke lengan.


"Siapa?" tanya Haina penasaran.


Tuan Muda Harly masih memandangi layar ponsel yang sempat mati lalu menyala karena ada panggilan masuk lagi. Ia menggertakakan giginya hingga rahangnya nampak mengeras.


Pletaaakkk!


Ponsel tipis itu melayang dan membentur dinding, jatuh teronggok di lantai.


Haina terkesiap dan meloncat dari tempat tidur. Ia berlari memunguti ponsel itu dan memeriksanya depan belakang. Lalu mencoba menyalakannya.


"Masih menyala!" gumam Haina.


Melihat gadis itu begitu mempedulikan ponselnya Tuan Muda Harly semakin marah. Terbukti dengan wajahnya yang tampak mengeras dan memerah.


"Astaga! Ini retak. Kenapa kau melemparnya? Apa salah ponsel ini? Ini kan masih baru!" protes Haina tak terima. Sayang sekali rasanya melihat ponsel mahal pemberian suaminya itu retak dibagian sudut layar hingga ke tengah. Padahal belum ada sebulan ia pakai.


"Kau lebih peduli ponsel sialan itu dibandingkan aku, suamimu?" sentak Tuan Muda Harly setengah berteriak.


Haina terkesiap dan memeluk ponselnya didada karena kaget.


"Oh satu lagi, kau juga peduli sekali dengan telepon dari si brengsek sialan itu!" gerutu Tuan Muda Harly. Kali ini ia tidak meninggikan suaranya.


"Apa maksudmu? Aku tidak menunggu telepon dari siapapun..." ujar Haina, lalu ia mengecek riwayat panggilan.

__ADS_1


Siapakah yang menelponnya siang - siang begini sampai tiga kali panggilan. Jangan - jangan terjadi sesuatu pada ibunya.


"Ko Marchel?!"


Nama Marchel tertera di log panggilan tidak terjawab. Tadi saat di Aroma Kitchen Studio lelaki itu memang mengatakan akan meneleponnya. Tapi ternyata baru satu jam beralalu sejak mereka berpisah di AK studio lelaki itu langsung menepati perkataannya.


Sudah hampir satu tahun ini Haina menghindarinya. Dulu ia sering mengabaikan telepon dari lelaki. Marchel saat itu tengah bertunangan dengan seorang wanita yang dijodohkan dengannya. Haina bekerja sebagai seorang pelayan di restoran tiongkok milik Marchel dua tahun silam.


Tidak lama ia bekerja disana, ia harus merawat sang ibu yang tiba - tiba jatuh sakit. Ia kemabali ke desa dan mengundurkan diri dari pekerjaan pertamanya itu.


Haina meletakkan ponselnya di kasur, membiarkan saja satu pesan masuk dari Marchel. Ia tidak ingin membacanya sekarang.


Semenatara itu Tuan Muda Harly melepaskan ikatan dasinya dan melemparkan ke kasur. Ia membuka kancing kemejanya dengan buru - buru.


"Sayang kau mau apa?" tanya Haina kaget.


Tuan Muda Harly berjalan mendekat dan meraih ponsel Haina yang tergelatak dikasur. Ia membawanya menuju balkon disisi kanan tempat tidur.


Haina menyusul suaminya yang berdiri memebelakinya sambil menekuni ponsel Haina ditangannya.


Haina melotot dan membekap mulutnya sendiri saat Tuan Muda Harly melemparkan ponselnya. Kali ini ponsel itu mendarat tepat di kolam renang. Ia berjalan mendekat ke arah pembatas balkon dan melihat ponsel itu sudah tenggelam di air.


"Seharusnya aku tak mengizinkanmu belajar memasak. Batalkan kelasmu!" seru Tuan Muda Harly.


Haina terkesiap dibuatnya. Tiba - tiba lelaki itu berubah pikiran setelah melihat ponselnya dan melemparnya ke kolam renang.


"Tidak, jangan kumohon" ujar Haina memohon dengan kedua tangan disatukan di depan dada. Ia tidak rela jika tidak bisa melanjutkan kelas di AK Studio. Sekarang hanya itulah satu - satunya hal yang membuatnya bersemangat menjalani hari - hari di rumah besar yang seperti penjara ini.


"Aku tidak mebantahmu. Aku hanya minta kau membiarkan aku melakukan hal yang kusuka" ujar Haina.


Tuan Muda Harly berhenti tepat di ambang pintu balkon. Ia berkacak pinggang dengan kemejanya yang terbuka di bagian depan.


"Kalau aku bilang tidak ya tidak!" serunya lalu melanjutkan langkah.


Haina berlari menyusul suaminya yang masuk ke kamar. Cepat ia menghentikan langkah suaminya dengan memeluk pria itu dari belakang.


"Harly! Kumuhon biarkan aku terus melanjutkan kursusku. Aku hanya ingin mewujudkan impianku mempunyai usaha sendiri" ujar Haina.


Tuan Muda Harly menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak habis pikir dengan alasan Haina.


"Kenapa aku harus membiarkanmu bertemu lelaki brengsek setiap hari di tempat itu. Kau pikir kau bisa menipuku?"


"Apa maksudmu? Aku tidak punya hubungan apapun dengan lelaki manapun. Kenapa kau bertingkah seolah kau cemburu?"


"Aku? Aku cemburu?" ujar Tuan Muda Harly. Ia melepaskan paksa pelukan Haina dan berbalik menatap istrinya itu.


Haina hanya diam menatap mata Tuan Muda Harly yang kini menatapnya tajam.

__ADS_1


"Jangan bicara omong kosong denganku. Kenapa aku harus cemburu? Memangnya kau siapa bisa membuatku cemburu, hah!?" sentak Tuan Muda Harly.


Tiba - tiba saja Haina merasakan sakit dihatinya. Kalimat terakhir Tuan Muda Harly seolah menamparnya agar sadar dna menerina kenyataan. Bahwa ia hanya istri boneka yang tidak memiliki cinta suaminya. Tapi mengapa hatinya harus terasa perih mendengarnya langsung dari mulut suaminya itu? Toh ia juga sama. Mereka tak saling mencintai.


"Benar katamu. Kau tidak cemburu padaku karena aku tidak berhak. Lalu jangan pedulikan apapun dan biarkan aku tetap melanjutkan kelasku" ujar Haina dengan suara gemetar.


Ia maju selangkah dan memeluk pinggang Tuan Muda Harly. Lelaki itu tidak menolak. Membiarkan Haina memeluknya dengan erat.


"Aku tidak akan melakukan apa yang tidak kau sukai. Aku tidak akan menerima telepon dari Ko Marchel bila kau memang tak suka..."


"Kau berani menyebut namanya saat memelukku seperti ini" ujar Tuan Muda Harly. Kali ini ia tidak terdengar marah. Ia bahkan pasrah saja dipelukkan Haina.


"Aku dan dia tidak ada hubungan apapun. Aku istrimu sekarang, selama aku masih menjadi istrimu aku berjanji tidak akan menyukai pria lain" ujar Haina mendongakkan kepalanya menatap wajah Tuan Muda Harly yang tampak melunak mendengar perkataannya.


"Tapi dia menyukaimu" Tuan Muda Harly mengatakan kebenarannya. Karena ia sudah membaca pesan dari Marchel di ponsel Haina sebelum melemparkannya ke kolam renang. Pria bernama Marchel itu mengutarakan perasaanya, bahwa ia masih menyukai Haina dan berharap Haina membuka hati untukknya.


Haina melepaskan pelukkannya.


"Dari mana kau tahu?" tanya Haina heran.


"Sekarang aku curiga, kalian berdua sengaja mengikuti kursus ditempat yang sama..."


"Itu tidak benar"


"Sudahlah. Aku lapar" ujar Tuan Muda Harly mengalihkan pembicaraan. Ia bukannya tidak tahu, bahwa Haina berkata jujur. Toh Jun sudah menyelidiki segala hal tentang Haina.


"Kalau begitu biar kutemani keruang makan" ujar Haina semangat. Ia berlari ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Secepat kilat ia menganggalkan dresnya dan menggantinya dengan yang baru. Lalu kembali pada suaminya yang duduk di sofa.


"Ayo!" seru Haina semangat.


"Aku akan makan disini"


"Kalau begitu aku akan mengatakan pada Pak Sun untuk mengantarkan makan siangmu" Haina mencari interkom di nakas.


"Bukankah kau membawa makanan yang kau masak disana?" ujar Tuan Muda Harly sambil menyinsingkan lengan kemejanya.


"Hah? Kau ingin makan itu?" tanya Haina tak percaya.


"Untuk apa aku membiayai kursusmu kalau bukan aku yang menikmati hasilnya" ujar Tuan Muda Harly.


"Tapi...dari mana kau tahu aku membawa makanan itu kerumah?" tanya Haina. Kemudian ia teringat Dika dan kedua pengawalnya Bela dan Steffi. Bisa saja mereka melaporkan setiap aktifitasnya pada Tuan Muda Harly.


"Ternyata untuk itu gunanya kedua pengawal itu" gumam Haina dalam hati, menjawab sendiri pertanyaannya tadi.


"Sekarang cepat hidangkan. Aku sudah lapar dan harus segera kembali bekerja!" titah Tuan Muda Harly.


"*Gawat, bagaimana ini?

__ADS_1


*


tbc*.


__ADS_2