
Pagi ini Haina terbangun oleh suara nyaring alaram dari ponselnya yang memenuhi ruangan kamar. Dengan malas - malasan ia membuka mata.
"Ternyata dia tidak pulang" gumam Haina dengan wajah masam saat melihat sisi sebelah tempatnya tidur kosong.
Ia meregangkan otot - ototnya dengan gerakan yoga sederhana di karpet bulu bewarna walnut dekat balkon. Kemudian dibukanya pintu balkon itu.
Meskipun mencoba acuh dengan ketiadaan suaminya saat ini nyatanya ia penasaran juga. Diambilnya ponsel diatas nakas, nama Jun tertera di layar.
"Ya, Nona?" suara Jun diujung telepon.
"Jun. Kau dimana? Apa kau bersama Harly?" tanya Haina ragu. "Apa dia begitu marah padaku sampai tidak pulang?" tanyanya lagi. "Aku sudah minta maaf tapi dia tetap marah padaku!" keluh Haina pada Jun diseberang sana.
"Pertanyaan Anda banyak sekali Nona. Tapi saya akan menjawabnya satu persatu. Saya sedang sarapan" kata Jun, suara sendok beradu dengan piring melatar belakangi panggilan telepon.
Haina terkekeh dibuatnya. Padahal Jun bukanlah siapa - siapa, tapi dialah yang selalu ada disaat dibutuhkan. Meskipun itu hanya karena pekerjaannya juga. Haina tetap terharu, Jun selalu sabar menghadapinya. "Jun, sekarang aku tidak benci lagi padamu" kata Haina pelan.
Jun terdengar tertawa disana.
"Saya senang Anda menyukai saya, Nona"
"Siapa yang suka, aku hanya tidak benci kau lagi" gurau Haina.
"Baiklah, saya tetap senang. Oke, pertama saya sedang di apartemen tempat saya tinggal dan Tuan muda tentu tidak ada disini. Kedua, semalam Tuan muda kembali ke rumah besar bersama Ren. Mereka sedang ada proyek yang membuat harus lembur karena beberapa masalah di perusahaan. Ketiga, seperti tuan muda memang masih marah. Bukankah Anda menerima traktiran dari pria bernama Marchel itu?"
"Hah? Dari mana dia tahu?"
Setaunya selama ini Bella dan Steffi hanya mengamatinya dari jauh. Lalu dari mana Harly tahu?
"Apa kalian ada disana kemarin, saat aku bersama temanku di food court?"
"Ya, tuan muda melihat Anda sangat akrab dengan lelaki itu"
"Kami hanya teman"
"Tapi itu masalah bagi tuan muda"
Haina menghela nafas berat. Bagaimana mungkin hal sepele seperti itu menjadi masalah besar bagi suaminya. Tapi mau bagaimana pun, ia sedikit - sedikit sudah mengerti bagaimana tabiat suaminya. Pria itu akan marah bila istrinya berdekatan dengan lawan jenis. Haina kini bisa memaklumi itu.
__ADS_1
"Mungkin karena dia merasa memiliki aku. Dia cemburu" pipi Haina merona memikirkan itu. Tanpa ia sadari hatinya jadi berbunga.
"Halo! Nona?"
"Eh, iya?"
"Kalau boleh tahu, hmmm... kemarin kenapa anda jatuh pingsan?"
Seketika ingatan Haina memutar kejadian siang kemarin. Saat ia terpojok karena kemarahan suaminya.
"Tidak kenapa - kenapa. Sudah dulu ya, aku harus pergi ke suatu tempat" kata Haina menyudahi pembicaraan itu.
Setelahnya ia bergegas mandi dan berpakaian. Ia ingin pergi ke AK Studio untuk berpamitan dan membatalkan kelasnya.
Haina keluar dari kamar dengan membawa tas jinjing yang disampirkan dibahunya.
"Selamat pagi Nona" sapa dua orang pelayan begitu Haina muncul dibalik pintu.
Haina kaget dibuatnya, mendapati dua orang wanita berpakaian khas pelayan. Wajah baru yang belum pernah ia temui.
"Saya Ida, Nona dan disebelah saya Lili. Mulai hari ini kami akan melayani Nona" ucap Ida yang kelihatan lebih senior.
"Kami sudah menyiapkan sarapan untuk Nona. Nasi goreng sanghai dengan isian seafood serta sayuran. Semoga Nona menyukainya. Selanjutnya apabila Nona menginginkan makanan tertentu tolong beri tahu kami, Nona" lanjut Ida lagi.
Haina hanya mengangguk ramah dan mengikuti kedua pelayan itu ke ruang makan. Sesuai konsep apartemen yang minimalis tapi mewah ini, ruang makan serta dapur yang berdampingan didesain simple tapi elegan dan terkesan luas dengan dominasi warna putih. Haina baru memperhatikan detail ruangan itu kali ini. Nanti ia juga akan berkeliling seluruh ruangan yang ada di apartemen itu.
*
Beberapa hari ini Haina hanya menyibukkan diri dengan memasak berbagai menu yang ia pilih untuk Restoramie—nama restoran yang sudah disetujui olehnya dan tiga rekannya. Walau bersedih hati karena tidak dapat melanjutkan kelas di AK studio tapi ia masih berkomunikasi dengan tiga rekannya itu melalui ponsel.
Ida dan Lili menjadi asisten sekaligus juri untuk hasil masakan Haina. Seperti hari ini, ia membuat menu mie kepiting.
"Ini enak sekali Nona" kata Lili yang baru selesai mengunyah. Ia menggeser mangkok dan menambah sesendok cabai. "Menurut saya sedikit lebih pedas akan sangat enak" katanya lagi.
Haina tersenyum puas. Tapi sebenarnya ia sedikit kecewa karena ia ingin teman - temannya ikut mencicipi dan menilai menu yang dikembangkannya.
Sementara ia hanya bisa bersabar dan berharap semua akan berjalan lancar.
__ADS_1
"Semoga nanti Harly mengizinkan aku mengelola restoran" gumamnya.
Tak terasa matahari sudah kembali ke peraduan. Begitupun Ida dan Lili yang juga kembali ke rumah mereka masing - masing. Hanya Bella dan Stefi yang menetap untuk menjaganya. Kedua pengawal cantik itu mendapat jatah kamar di dekat ruang tamu.
Tapi Haina merasa kesepian karena sudah beberapa hari ini suaminya tidak pulang kerumah. Malam ini pun ia sendiri. Jangankan mengabarinya lebih dulu, pesan yang sudah beberapa kali ia kirimpun tak dibaca oleh pria itu. Haina merasa semakin ada jarak antara ia dan suaminya.
"Lagi pula sejak kapan kami dekat?" gerutu Haina sambil memukuli guling dengan tinjunya.
*
Tak terasa sudah enam hari Haina tinggal di apartemen itu bersama Bella dan Steffi. Selama itu pula tak sekalipun Tuan Muda Harly pulang kesana. Sesibuk itu kah dia? Atau sengaja menghindar? Bahkan Jun kini tak lagi mengabarinya seperti dulu saat masih dirumah besar Benjamin.
"Aku ingin ke rumah besar dan mengambil beberapa barang" ujar Haina yang sudah rapi dengan gaun floral dan sebuah tas rotan buatan desainer.
"Tapi Nona. Tuan muda...." dengan ragu Bella berusaha membuat nona mudanya membatalkan niat.
"Memangnya kenapa? Dia bahkan tidak peduli" lama - lama Haina jadi kesal sendiri. Sekarang ia merasa jadi tawanan. Ia hanya diizinkan pergi berbelanja ke supermarket atau pergi makan ke restoran seperti yang diinstruksikan tuan muda aorgan itu kepada pengawalnya. Ya, Tuan Muda Harly menghubungi Bella dan Steffi tapi tidak dengan dirinya.
Akhirnya setelah perdebatan panjang ia diantar oleh Bella dan Steffi ke rumah besar Benjamin. Ia perlu mengambil beberapa salinan identitas diri dan juga ijazahnya.
Rumah besar itu terlihat sama seperti terakhir ia tinggalkan. Rupanya Nyonya besar Ananta bersama putrinya sedang pergi arisan sosialitanya. Haina hanya disambut pelayan. Bahkan Pak Sun pun sedang pergi keluar.
Haina menaiki lantai dua, sedangkan dua pengawalnya menunggu di teras. Ia memasuki kamar dan mengamati kamar yang luas itu. Tidak ada suaminya disana. Pastilah tuan muda itu ada dikantornya.
Kemudian ia pergi ke ruang ganti dan mengeluarkan tas yang dulu ia bawa dari desa.
"Ini dia!"
Ia mengeluarkan beberapa lembar salinan identitas diri dan juga ijazah miliknya lalu mengambil beberapa pakaian lagi. Atasan berupa kemeja dan kaos serta beberapa potong rok dan kulot ia masukkan ke dalam sebuah Tote bag besar yang ia temukan disudut lemari.
Setelah itu ia keluar dan menutup pintu kamar. Ia akan segera turun ke bawah. Tapi tiba - tiba ia mendengar suara yang menarik perhatiannya. Suara itu berasal dari ruang kerja milik Tuan Muda Harly. Karena penasaran ia berjalan kesana dengan membawa tote bag ditangannya.
Pantas saja ia bisa mendengar ada suara dari dalam sana. Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka. Haina melirik ke dalam dari celah pintu yang tidak tertutup rapat itu. Seketika tubuhnya menegang dengan apa yang tersaji di dalam sana. Matanya memanas dan dadanya terasa sesak.
"Kenapa aku tidak menyadarinya? Kau bodoh Haina!"
*
__ADS_1
tbc