
Dalam setiap usaha membangun bisnis pasti ada banyak hal yang harus disiapkan dengan matang. Entah bisnis apa pun itu, termasuk bisnis kuliner.
Untuk itu Haina dan tiga rekan Restoramie yang lain mengebut persiapan menjelang launcing yang dijadwalkan dua bulan dari sekarang. Terhitung pertengahan bulan ini persiapan mereka sudah mencapai empat puluh persen. Konsep sudah matang, Restoramie akan didesain bertema vintage. Untuk itu Marchel mengurusnya bersama seorang desainer interior. Pengerjaan sudah dimulai sejak awal bulan.
Seluruh menu utama sudah di susun dengan baik. Tinggal beberapa menu tambahan yang masih akan terus diuji coba di dapur AK Studio maupun dapur dirumah mereka sendiri. Namun untuk pilihan aneka minuman mereka belum deal dan masih akan terus didiskusikan.
Mereka akan mulai merekrut staf dapur inti melalui audisi langsung yang akan diadakan di dapur AK Studio mulai awal bulan depan. Selain itu banyak hal lain yang harus dikerjakan agar segala persiapan rampung tepat waktu sesuai target. Seperti pengurusan izin usaha dan urusan perizinan lainnya. Dan tak kalah penting menemukan pemasok bahan baku dengan kualitas terbaik namun harga bersaing. Terakhir promosi sebagai langkah awal penjualan.
Oleh karena itu keempat rekan bisnis ini tidak main - main. Haina sangat bersyukur memiliki rekan bisnis dengan passion yang sesuai dengannya maupun pola pikir serupa.
"Kerabat Olga ada yang bisa membantu memandu kita mengurus izin, dia berpengalaman karena bekerja dibidang itu" tutur Alya sambil mengumpulkan dokumen dari ketiga rekannya yang duduk semeja dengannya.
"Untuk urusan perizinan kita serahkan ke Kak Olga kalau begitu. Lalu pencarian suplier bahan bagaimana?" Haina yang berbicara. Gadis itu mengeluarkan lembaran catatan hasil penelitiannya di internet. Lalu meletakkannya dimeja untuk dibaca oleh Alya, Olga dan Marchel.
"Kalau untuk ini aku rasa Ko Marchel yang harus terjun langsung ke lapangan" gumam Haina lagi.
Lelaki itu pasti punya koneksi dengan para suplier bahan, mengingat ia dan keluarganya adalah pebisnis restoran.
"Baiklah, akan aku atur jadwal supaya bisa cepat. Sebenarnya sudah ada beberapa suplier yang cocok. Tinggal datang dan diskusikan" sahut lelaki berdarah Tionghoa itu.
Yang lain manggut - manggut mengerti. Mereka menjalankan peran masing - masing dengan cukup baik.
"Haina kalau bisa harus ikut denganku, ya. Karena nanti kau yang akan sering berada direstoran jadi harus fasih urusan seperti ini" tambah Marchel lagi.
Haina terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ragu mengingat tempramen sang suami yang pernah meledak - ledak saat menyinggung soal Marchel.
Ah, untuk urusan ini ia akan mencoba segala cara agar bisa melaksanakan bagian tugasnya. Memohon atau apa pun itu, pokoknya ia akan memeras otaknya untuk dapat izin sang suami.
Meeting mereka kali ini diadakan disebuah restoran di Elevaria Plaza. Haina melihat sekitar. Ia jadi ingat pernah kesini beberapa waktu lalu dan berakhir pingsan saat bertemu sang suami.
"Sedang apa dia sekarang?" gumamnya dengan pandangan menerawang.
"Apa? Kau bicara apa?" Marchel menghentikam lamunan Haina dengan pertanyaannya. Lelaki itu pikir Haina menanyakan sesuatu padanya.
"Oh, tidak ada apa - apa" sahut Haina kikuk. Rupanya ia ketahuan tidak fokus diujung rapat.
"Kalau begitu pertemuan kita sampai disini dulu. Minggu depan kita berkumpul disini lagi untuk membahas progres ya!" ujar Alya menutup rapat mereka.
Tak lama satu persatu dari mereka membubarkan diri. Tinggal Haina yang menunggu jemputan.
"Nona, apa kita langsung pulang?" sapa Stefi yang sudah menghampiri. "Bela akan memgambil mobil"
__ADS_1
"Ya, ayo pulang. Eh, tapi aku ingin mampir ke suatu tempat dulu" ujar Haina. Ia berdiri dan menyampirkan tas dibahu lalu berjalan mendahului Stefi yang mengekor.
Haina terus menyusuri lantai pusat perbelanjaan itu sampai bertemu sebuah toko pakaian. Ia merogoh dompet dan mengeluarkan kartu ATM pemberian Tuan Muda Harly.
"Baiklah, suamiku, aku akan memakai kartu ini untuk menyenangkan ibuku. Kau harus maklum" gumamnya memasuki toko pakaian itu.
Dilihat dari luar, toko itu tidak terlihat seperti toko pakaian mewah. Jadi Haina santai saja saat memasuki toko itu. Namun setelah masuk lebih jauh ternyata itu adalah toko yang menyediakan koleksi pakaian berbagai merek ternama.
"Bodohnya aku tidak memperhatikan!"
Ia ragu - ragu ingin menyentuh sebuah gaun yang mungkin terlihat cocok dan pantas dipakai oleh ibunya. Selama menjadi istri Tuan Muda Harly, belum sekalipun ia memakai kartu itu untuk keperluan selain belanja kebutuhan dapur.
"Apa pindah ke tempat lain saja?"
Haina memutar badannya agar bisa cepat pergi tapi seorang pramuniaga sudah berdiri dihadapannya saat itu.
"Apakah Anda membeli ini untuk Ibu Anda?" tebak pramuniaga cantik itu. Sudah profesional sekali, sehingga bisa menebak dengan benar saat melihat calon pembeli mengamati gaun yang memang banyak diincar para wanita paruh baya.
"Oh, iya benar"
Pramuniaga itu mengajak Haina dengan gestur tangannya. Mereka melangkah sedikit lebih ke dalam dan menemukan pajangan gaun di manekin.
Haina diantar kekasir usai memilih ukuran. Ia menyerahkan satu - satunya kartu pembayaran yang ia punya.
"Maaf Nona, saldo Anda tidak cukup"
JEDER!
Betapa memalukannya ini! Padahal ia sudah mengira saldo akan cukup. Mengingat gaun yang ia pilih dibandrol cukup murah bila dibandingkan gaun lainnya yang ada disana.
"Sial! Masa satu juta saja tidak ada? Padahal aku hanya memakai dua juta untuk belanja dapur awal bulan ini"
Salahnya juga tidak pernah bertanya atau sekedar mengecek di ATM berapa nominal yang disediakan suaminya.
"Biar aku yang bayar!" suara seorang wanita yang juga meletakkan banyak pakaian diatas meja kasir.
"Jiana?" gumam Haina pelan.
Wanita itu tersenyum dan menyerahkan kartu miliknya pada kasir. Dan langsung diproses oleh kasir toko itu.
Haina bahkan tak sempat menolak atau menghentikan itu. Ia terlalu terkejut dengan semua ini.
__ADS_1
ATMnya yang ternyata hampir tidak ada isinya. Lalu kekasih suaminya datang dan membayarkan belanjaanya?
Sungguh memalukan! Haina rasa wajahnya sudah merah padam karena malu.
"Tidak perlu sungkan. Kau kan bukan orang lain" tutur Jiana santai lalu memasukkan kartu pembayaran beserta struk belanja ke dompetnya yang terlihat mahal.
"Aku akan menggantinya. Jun atau Ren pasti bisa memberiku nomor rekeningmu. Akan aku kirim nanti sesampainya dirumah" sahut Haina dengan susah payah bersikap tenang dan menyembunyikan rasa malunya.
Jiana mengemasi paper bagnya lalu pergi begitu saja.
"Ah, benar - benar memalukan"
Haina berjalan gontai menuju pintu keluar toko itu diantar pramuniaga tadi.
"Terimakasih telah berbelanja dan kami tunggu kunjungan berikutnya" ujar pramuniaga itu ramah.
Bersamaan dengan itu Haina melihat Stefi yang berdiri siaga didepan toko. Pengawalnya memang ditugaskan mengawasi dari jauh, jarak sepuluh meter darinya.
"Harusnya aku langsung bilang tidak! Lebih baik aku pinam uang pada Stefi. Aaaahh... aku sangat malu" gerutunya dengan wajah sedih.
Seorang istri Tuan Muda Harly, tidak punya uang untuk membayar gaun seharga satu juta? Salah siapa ini? Kenapa hal itu bisa terjadi? Kenapa tidak ada uang di kartu ATM yang diberikan Tuan Muda Harly?
Disaat seperti itu Jiana malah datang dan menyentil harga dirinya?
Kesal, marah, malu dan kecewa menjadi satu didalam dirinya.
"Anda baik - baik saja, Nona?" Stefi mendekatinya. Sang pengawal itu ruapanya melihat Jiana yang keluar dari toko yang sama dengan yang Haina masuki tadi. Hal itu membuat Stefi khawatir.
Haina menggeleng lalu mengangguk, terus begitu tanpa merespon pertanyaan Stefi dengan benar.
"Walaupun cuma istri boneka sakalipun, Bukankah tetap harus menjaga harga diri istri bonekanya ini?!"
Seseorang harus menjelaskan ini padanya, bukan?
*
tbc.
Halo readers! Terima kasih kepada kalian yang sudah mau baca karya pertama yang masih banyak kekurangan ini.
Tak bosan - bosan aku juga minta dukungannya ya. Kalau gak mau komen minimal like aja, bisa kan? Minta tolong ya 😭😭😭 bisa kan? Bisa ya.... 😁
__ADS_1