
Cinta butuh perjuangan. Meski harus memindahkan gunung sekalipun jika hati sudah bertekad memiliki pujaan hati, pasti dilakukan. Itulah yang sedang diperjuangkan Tuan Muda Harly saat ini.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan kehilangan sang istri yang sangat ia cintai. Jadi semua cara akan ia lakukan. Apa pun akan ia relakan asal Haina tetap di sisinya.
Seperti hari ini, ia khusus memesan langsung seribu tangkai bunga tulip putih. Dikarenakan bunga tulip cukup sulit diperoleh dalam jumlah banyak untuk satu warna yang sama, jadi ia menunjuk satu toko bunga untuk menangani pesanannya.
"Maafkan kami tuan muda. Dikarenakan perubahan jadwal pengiriman, kapal yang membawa semua bunga pesanan tulip kami dari Turki juga mengalami keterlambatan. Tapi untuk sementara kami punya stok tulip biru" terang pemilik florist pada Tuan Muda Harly yang nampak agak kesal.
Salah seorang karyawan flosrist itu nampak berlarian mengambil sekeranjang tulip biru lalu membawanya kehadapan Tuan Muda Harly yang berdiri dengan angkuh bsersama Jun diantara etalase penuh bunga aneka jenis dan warna.
"Ck! Kau bilang ini flosris terbesar dikota ini. Tapi masa begitu saja tidak becus" keluh Tuan Muda Harly pada Jun yang sedang menahan kesal.
"Toko bunga mana yang bisa menyiapkan seribu tangkai tulip putih dalam waktu sehari. Dasar tuan muda banyak gaya!" gerutu Jun saat tuannya sibuk melihat - lihat tulip biru yang dibawakan karyawan florist.
"Hei, Jun kemarilah!" titah Tuan Muda Harly.
Jun bergegas sebelum tuan muda itu kembali mengamuk. Ya, sejak ia ketahuan berbohong dan menyembunyikan Haina selama ini tuan muda itu memberinya banyak hukuman. Mulai dari lembur setiap hari, potong bonus, mengecat dinding toilet sampai mencuci mobil. Semua ia jalani tanpa protes, namun hari ini ia sudah kehilangan banyak tenaga karena dihukum berpuasa.
Kenapa ia disuruh puasa? Karena bekal makan siang Jun selama ini ternyata adalah buatan Haina. Tuan Muda Harly begitu murka saat mengetahuinya. Jadi untuk meluapkan kekesalannya ia akan menyuruh Jun berpuasa kadang - kadang.
FLASH BACK ON
"Konspirasi macam apa ini? Kau menyembunyikan istriku selama dua bulan lebih dan bekerja sama dengan si bodoh Ben? Kalian membodohi aku dengan menyuap semua detektif tidak tahu malu itu? Sekarang katakan apalagi yang kau sembunyikan dariku? KATAKAN!!!" amuk Tuan Muda Harly waktu itu diapartemennya.
Jun mengusap daun telinganya setelah teriakan Tuan Muda Harly memekik menyakiti gendang telinganya yang tak berdosa. Dengan muka memelas akhirnya ia memilih mengaku.
"Bekal makan siang itu, emmhh...itu buatan Nona" ucap Jun ragu - ragu.
Tuan Muda Harly menganga dengan mata melotot. Pantas saja ia bisa begitu menikmati bekal makan siang milik Jun, ternyata Haina yang membuatnya.
"Ta-tapi Anda jangan salah paham dulu Tuan. Nona memberikannya sebagai angsuran utangnya pada saya"
"Maksudmu?"
"Nona butuh tambahan modal untuk restaurannya. Jadi saya meminjamkan nyaris semua isi tabungan saya" tutur Jun dengan wajah mengiba.
Tuan Muda Harly menghembuskan napas kesal. Ujung rambutnya yang setengah basah menari diudara karena tiupan udara dari mulutnya yang melepaskan karbondioksida dengan keras.
"Kalian benar - benar hebat. Kalian anggap apa aku? Beraninya bersekongkol dibelakangku. Ben sialan itu, akan kubuat perhitungan dengannya. Dia menginginkan saham Benjamin Foods, bukan? Halangi dia bagaimanapun caranya!" titah Tuan Muda Harly sambil mengencangkan tali dijubah mandinya.
__ADS_1
"Dan kau Jun. Sepertinya mengurus perkebunan sawit di Kalimantan atau Sumatera perlu kau coba. Ah! Atau mengawasi langsung tambang di Papua sepertinya lebih cocok untukmu!"
Tuan Muda Harly berjalan kesana dan kemari. Sementara Jun hanya menggigit bibir pasrah, berharap ancaman Tuan Muda Harly hanyalah gertakan sesaat saja.
Semenjak hari itu, hari dimana Tuan Muda Harly dan Haina bertemu setelah sekian lama, Jun mulai menerima hukumannya.
FLASH BACK OFF
"Cih! Dasar kejam. Semoga Nona membalaskan sakit hatiku ini padanya" doa Jun yang teraniaya sambil melirik tajam Tuan Muda Harly yang asyik menciumi tulip biru.
Tuan Muda Harly meletakkan tulip biru itu kembali ke keranjang. Ia tidak yakin Haina akan menyukai tulip biru.
"Jun! Katakan padaku. Apa istriku akan menyukainya? Jangan diam saja" desis lelaki itu sambil memasukkan dua tangan ke saku.
Jun bersikap tenang seperti biasa. Lalu melirik pemilik florist itu. Seolah saling bisa baca pikiran wanita pemilik flosrist itu mulain menjalankan tugasnya.
"Maafkam saya menyela, Tuan Muda. Tali tulip biru adalah sebenarnya adalah varian dari tulip putih juga. Tulip biru melambangkan ketenangan dan perdamaian. Di negara Ero..."
Tuan Muda Harly menjentikkan jarinya dengan keras. Mukanya masam.
"Intinya?" interupsinya tidak sabaran.
"Jadi di negara Eropa biasanya para suami memberikan tulip biru kepada istrinya setelah mereka bertengkar. Hal ini menunjukkan bahwa sang suami mengakui kesalahannya dan ingin berdamai kepada sang istri" terang pemilik florist sambil melirik Jun yang mengangguk puas dibelakang Tuan Muda Harly.
Sementara itu Tuan Muda Harly tersenyum puas mendengar penuturan pemilik floris. Ia kembali menjentikkan jari.
"Kalau begitu sebelum tulip putih datang terus kirimkan tulip biru ini pada istriku ke alamat kemarin!" titah Tuan Muda Harly pada sang pemilik florist yang pasang wajah lega.
Jun pun sama leganya. Akhirnya satu tugas mengurusi rumah tangga orang selesai.
"Langsung kirimakan buket tulip biru ini sekarang juga. Aku tidak ingin absen mengirim bunga walau cuma sehari saja" perintah Tuan Muda Harly lagi.
"Baik tuan" sahut pegawai florist patuh.
"Astaga! Semoga Nona cepat luluh" gumam Jun sebelum mereka keluar dari pintu kaca florist itu.
"Ayo cepat jalan!" seru Tuan Muda Harly yang sudah duduk di kursi penumpang mobil keluaran Benthley miliknya. Jun mengangguk dan segera menyupiri tuannya itu dengan patuh.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mereka sampai di depan Restoramie. Siang hari merupakan jam sibuk bagi Haina dan timnya. Jadi Tuan Muda Harly ingin mampir agar bisa menikmati wajah cantik isyrinya dari jauh.
Dari balik kaca jendela mobil itu ia mencari - cari sosok sang istri. Matanya berbinar terang saat mendapati Haina tengah menghidangkan sepiring makanan pada salah satu pengunjung di meja taman.
"Istriku terlihat sangat cantik hari ini"
"Aku rindu masakannya"
"Jun! Apakah istriku mengirimu mekal makan siang lagi?"
Jun segera menggeleng kuat - kuat!
"Tidak Tuan, saya memberi tahu Nona agar tidak perlu mengantar makanan lagi" sahut Jun gelagapan.
Tuan Muda Harly terlihat kecewa mendengarnya. Salahnya juga yang terlewat emosi dan melarang Jun menerima bekal makan siang dari Haina lagi. Sekarang dirinya sendiri yang rugi. Huft!
"Tuan, itu kiriman bunga untuk Nona" seru Jun mengalihkan perhatian Tuan Muda Harly yang dilanda kecewa saat melihat pegawai florist tadi turun dari mobil dan membawakan buket tulip biru ditangannya.
Seketika wajah Tuan Muda Harly kembali cerah. Dengan siaga ia melihat Haina yang dihampiri karyawan florist.
"Astaga!" seru Jun tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
Sementara Tuan Muda Harly melongo dan hanya bisa gigit jari saat melihat Haina memberikan buket tulip biru itu pada salah seorang pengunjung restauran yang akan meninggalkan restauran usai menikmati makan siang.
"Kau bilang dia akan menyukainya?"
"Seharusnya suka" gumam Jun pelan sekali.
Sementara itu Haina tersenyum penuh kemenangan usai memberikan buket tulip biru itu pada seorang pria pengunjung restauran. Sambil melirik mobil Benthley yang terparkir tidak jauh dari halaman restauran ia berkacak pinggang lalu menyibakkan rambutnya dengan cantik.
"Kau pikir bunga - bunga itu akan mengubah keputusanku? Huh! Dasar orang kaya, cuma bisa pamer harta" cibirnya dari balik tiang.
*
tbc
__ADS_1