
Tiga hari dirumah sakit ternyata tak membuat Haina kehilangan keceriaan. Ia merasa keadaannya jauh lebih baik. Tak merasakan lagi sakit diperutnya, bahkan ia sama sekali tak merasa lemas atau mengeluhkan hal lainnya. Namun bukannya betah berbaring sesuai anjuran dokter, wanita hamil itu malah selalu minta pulang.
"Baiklah, aku akan meminta dokter memeriksa keadaanmu sekali lagi. Kalau dokter bilang boleh aku tak akan melarang," putus Tuan Muda Harly setelah seringkali mendengar rengekan Haina yang minta pulang.
Wanita hamil itu tersenyum senang karena dituruti maunya. Ia benar - benar ingin pulang saja. Beralasan ia dan para penunggunya akan bosan dirumah sakit. Padahal baik ibu maupun ayahnya serta suaminya sendiri tak pernah mengeluh bosan.
"Lagi pula makanan rumah sakit tidak enak. Sepertinya juru masaknya juga bukan pria tampan," keluh Haina dihari kedua.
"Astaga! Kau ini. Kalau tidak sedang hamil pasti akan kuhukum sampai tidak bisa berjalan," protes suaminya. Untuk sementara ia harus menyabarkan diri agar tidak terbakar cemburu.
Haina hanya mencebik lalu tersenyum senang. Rupanya kehamilan membuatnya gampang lepas dari hukuman dan paksaan Tuan Muda Harly. Padahal kemarin - kemarin apabila ia tak menurut atau tak sengaja menyinggung suami arogannya itu ia akan kewalahan melayani dikamar.
Setelah diperiksa dokter lagi. Haina akhirnya dibolehkan pulang besok pagi. Dokter bilang Haina dapat meneruskan bedrestnya beberapa hari lagi dirumah saja. Lagi pula Haina dan janinnya pulih dengan cepat, mereka kuat.
"Jangan lupa untuk terus meminum semua vitamin dan penguat kandunganmu," Tuan Muda Harly mewanti - wanti sebelum pergi ke perusahaan dan menitipkan istrinya pada mertuanya. Lelaki itu harus segera kembali ke kantor untuk sebuah rapat penting dan agenda mendesak lainnya. Mungkin ia baru akan kembali malam nanti.
"Hmm, iya suamiku yang cerewet. Tenang saja, ada ayah dan ibu yang akan selalu mengingatkan aku juga."
"Benar, nak Harly. Pergilah bekerja dan jangan khawatir. Ibu akan memastikan Haina minum vitamin dan obatnya," Bu Hayati buka suara agar menantunya itu dapat tenang meninggalkan istrinya.
Tuan Muda Harly akhirnya dapat pergi dengan tenang. Ia mengecup kedua sisi pipi Haina kemudian keningnya. Sebenarnya ia sangat ingin mencium bibirnya juga, tapi khusus siang ini tidak bisa. Ada mertuanya disana.
"Bukankah suamiku sangat manis Bu?"
Bu Hayati menggangguk saat melihat menantunya itu berlalu dibalik pintu.
"Dia juga tampan," imbuh Haina.
Sang ibu kembali mengangguk tanda setuju.
"Kadang juga dia terlihat sangat berkarisma dan seksi saat bersamaan," gumam Haina dengan wajah berseri - seri. Seketika membuat sang ibu tersenyum kikuk, malu sendiri mendengar pujian dari mulut Haina untuk suaminya. Tatapan memuja yang penuh cinta, putrinya itu terlihat bahagia dan lebih ceria.
Sementara itu dikantornya Tuan Muda Harly sedang mengarahkan Jun untuk melakukan sesuatu.
"Meeting kali ini jangan sampai memakan waktu berjam - jam. Aku ingin cepat lanjut ke agenda berikutnya agar tidak terlalu malam pergi kerumah sakit nanti."
"Baik, Tuan. Presentasi sudah disiapkan dengan matang. Saya yakin proyek ini akan cepat disetujui," sahut Jun yakin.
Jun meletakkan beberapa dokumen yang harus dipelajari sebelum meeting dimulai. Mereka akan membahas beberapa hal penting dan menyatukan isi kepala agar semua berjalan lancar tanpa kendala.
"Oh, satu lagi. Kau pilih satu koki dari restoran kita. Pilih yang paling tampan dan muda lalu kirim ke rumahku. Aku perlu yang seperti itu agar Haina mau makan lahap," titah Tuan Muda Harly setelah pembahasan pekerjaan.
Jun dibuat melongo.
"Apa - apaan itu?" gumamnya lirih namun masih bisa terdengar oleh Tuan Muda Harly.
Pria itu mendelik tidak suka. Bukan hanya Jun saja yang merasa aneh. Ia sendiripun bahkan tak percaya pada awalnya. Aneh saja jika Haina yang dulunya cukup kalem sekarang malah bersikap sebaliknya, mengagumi pria tampan tanpa menyembunyikan ekspresinya sama sekali.
"Jangan banyak tanya. Kau carikan saja secepatnya. Aku ingin Haina makan dengan lahap. Dia hanya akan lahap jika yang memasakkan makanannya adalah pria tampan. Sayangnya aku tidak bisa memasak," tutur Tuan Muda Harly pasrah.
Jun mengangguk mengerti. Ia akan mengusahakannya sebaik mungkin. Ia tak akan ambil pusing dengan perkara rumit ibu hamil.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu tentang Nona?"
"Tidak. Itu saja sementara."
.
Ben mengunjungi Haina dirumah sakit dengan membawakan aneka kue dari tokonya. Haina sangat senang dan menikmati kue - kue manis itu dengan lahap. Ia jadi ingat wajah tampan Rion sang pembuat kue di Beniq Bakery, pria tampan berkulit eksotis yang punya senyum menawan.
"Paman, katakan pada Rion kuenya sangat enak!" seru Haina sambil meyeka mulutnya dengan tissue. Setidaknya ia sudah mengosongkan setengah dari kotak kue yang Ben bawakan, sekitar empat sampai lima. Memakannya seorang diri dengan rakus. Kedua orang tuanya sedang pergi makan dikantin rumah sakit.
Ben menggeleng tak percaya. Ternyata benar apa yang dikeluhkan Tuan Muda Harly belakangan ini. Haina hanya lahap makan makanan buatan pria tampan.
"Jadi, kapan kau boleh pulang?"
"Besok. Apa paman bisa memasakkan aku beberapa makanan? Pelayan dirumahku dua perempuan cantik bukan lelaki tampan," pinta Haina dengan wajah memelas.
"Ya, aku memang tampan. Tapi apa kau pikir aku sekurang kerjaan itu?"
"Demi kecukupan nutrisi cucu paman yang sedang aku kandung ...," Haina mulai drama dengan mata berkaca - kaca.
Hidung Ben kembang kempis mendengar kalimat Haina. Kata 'cucu' terdengar sumbang dan janggal ditelinganya. Ia bahkan belum menikah dan tak lama lagi akan ada seorang anak kecil yang akan memanggilnya Kakek.
"Ya Tuhan! Dimana engkau sembunyikan jodohku."
"Ayolah paman. Aku ingin sekali makan masakan paman, waktu itu aku sangat menyukai sup buatan paman. Rasanya pasti akan sangat gurih dan menyegarkan. Ditambah tumisan sayur yang sedikit pedas dan asin, aduh ... pasti enak," Haina menelan ludahnya dengan susah payah. Benar - benar sangat ingin menyantap makanan yang ada dalam bayangannya. Ia bahkan tak peduli ekspresi nelangsa Ben setelah mengucapkan kata cucu.
"Suamimu yang tampan pasti bisa mengabulkan itu untukmu," Ben menyahut dengan malas.
"Harly ... dia bahkan tidak tahu cara menyeduh mie instan," gumam Haina mata menerawang. Suaminya itu bahkan gagal membuatkannya mie instan beberapa waktu lalu. Dengan wajah polosnya ia menggoreng mie mentah dalam minyak panas saat Haina menginginkan mie goreng instan. "Padahal apa susahnya membaca petunjuk penyajian," keluh Haina lagi.
__ADS_1
Ben terkekeh geli membayangkan adegan yang diceritakan Haina.
"Anak itu mana pernah makan makanan seperti itu. Dia selalu mendapat yang terbaik termasuk soal makanan," ujar Ben dengan senyum kecut.
"Kami sama - sama tumbuh besar tanpa ibu. Tapi keadaan kami sama sekali berbeda. Meskipun kami sama - sama kesepian sepanjang waktu tapi akhirnya dialah yang paling beruntung karena mendapatkan wanita sepertimu," Ben tersenyum tulus kemudian. Meskipun hubungan dengan keponakannya tidak terlalu dekat tapi ia ikut bahagia untuk keponakannya.
Haina mengulas senyum haru. Rupanya ia disukai sebagai istri Tuan Muda Harly.
"Kuharap jodoh paman akan segera muncul," Haina mendoakan dengan tulus. Diusia Ben yang sudah sangat matang pria itu masih saja sendiri. Padahal ia juga tak punya sanak keluarga yang dekat selain keluarga Benjamin. Haina jadi membayangkan betapa sepi hidup Ben.
Sepulangnya membesuk Haina dirumah sakit, Ben mampir ke toko kue. Seperti biasa ia akan menghabiskan waktu sampai malam hari disana. Mengamati aktifitas di toko roti itu sedikit mengobati kerinduannya akan ibu kandungnya. Toko ini dibuka saat Ben berusia lima tahun. Di toko inilah Ben menghabiskan banyak waktu kanak - kanaknya dengan sang ibu. Ayahnya juga sering datang dan mengajaknya bermain di sana.
Toko akan segera tutup. Beberapa potong roti dan kue masih tersisa di rak. Biasanya Ben akan menjadikannya sebagai menu makan malam atau bahkan sarapannya keesokan hari. Terkadang bila sisa banyak ia akan mengizinkan para karyawan membawa pulang. Sejujurnya ia tak ambil pusing dengan perkembangan dan keuntungan toko karena baginya yang terpenting toko tetap beroperasi dan kenangan masa kecilnya bisa tetap hidup ditempat itu. Ia bahkan tak terpikir ingin membuka cabang meski banyak pelanggan yang menyarankan.
"Kak, pendapatan hari ini," Sora, kasir paruh waktu dulunya, sekarang bekerja purna waktu. Katanya sudah tamat kuliah dan masih mencari pekerjaan. Tangannya terulur menyerahkan sebuah tas berisi uang dari mesin kasir.
Ben menerimanya dengan acuh lalu meletakkan dimeja tempat ia duduk.
Sora mengangguk pelan lalu kembali ke meja kasir. Ia menggamit tas selempangnya lalu memasukkan ponsel kedalamnya. Gadis itu terdiam beberapa saat, terlihat ragu dan ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa tidak pulang? Aku bisa mengunci toko seperti biasa," tegur Ben.
"Eh, iya. Aku pulang dulu Kak." Sora memang memanggil Ben dengan sebutan 'kak'. Menurutnya Ben masih terlihat sangat muda. Bosnya itu juga tak suka dipanggil bos atau tuan. Rion, Oka dan Rani juga memanggil dengan sesuka hati yang penting sopan.
Sora melangkah dengan ragu seakan enggan untuk pulang. Ia bahkan beberapa kali melirik ke dalam toko saat sudah keluar melewati pintu.
Ben diam saja mengamati gelagat aneh Sora yang tak biasa. Karena sejak dulu bergabung di Beniq Bakery, gadis itu adalah yang paling riang kalau sudah jam pulang.
Cukup lama Ben disana, menikmati makan malam sederhana dengan sisa roti yang ada. Sebenarnya ia bisa saja pesan makanan atau memasak sesuatu dirumah, tapi ia malas dan lebih suka yang praktis. Sekalian agar sisa roti dan kue tidak mubazir.
Mobil milik Ben melaju meninggalkan toko dengan kecepatan sedang. Pulang adalah tujuannya saat ini. Sejak mengundurkan diri dari jabatannya di perusahaan ia menjadi pengangguran. Tapi meski begitu aliran uang masuk tetap lancar dari berbagai sumber. Bagaimanapun dia juga seorang tuan muda dari keluarga Benjamin yang tersohor.
Namun disaat Beniq Bakery sudah tutup dan sepi, seseorang mengendap - endap menaiki tangga. Menggunakan hoodie besar bewarna hitam, kepalanya pun ditutupi dengan sempurna. Pelahan menghilang diujung tangga. Tiba - tiba lampu lantai dua menyala, namun gorden terlihat menutup rapat sehingga pantulan cahaya tidak begitu jelas.
.
Haina tidak sabar menanti kedatangan sang suami yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah sakit tempatnya dirawat. Selain karena rindunya terasa menggebu ia juga menanti makanan yang dibelikan suaminya.
"Sabar sayang. Sebentar lagi Papa datang membawa makanan lezat untuk kita," Haina berujar senang dengan wajah berseri. Ia mengusap perutnya dengan sayang.
Kedua orang tuanya mengulum senyum, bahagia melihat putri mereka yang terlihat baik - baik saja. Sebenarnya mereka merasa khawatir tentang hubungan Haina dengan Nyonya Ananta. Bagaimana pun restu nenek Tuan Muda Harly pasti akan mempengaruhi keberadaan Haina dalam keluarga itu. Setidaknya kehadiran Haina ditengah - tengah mereka pasti akan menimbulkan ketidaksukaan dari wanita sepuh itu. Mereka khawatir Haina akan merasa tidak nyaman atau bersedih karena mendapat perlakuan buruk seperti yang terjadi beberapa hari lalu.
Ceklek!
Pintu membuka. Sosok tampan Tuan Muda Harly menyembul dari balik pintu, ia menjinjing beberapa kantong makanan ditangan. Rupanya Jun mengekor dibelakangnya.
"Selamat malam," sapa Jun dengan senyum lebar. Baru hari ini ia sempat membesuk Haina. Pasalnya selama Haina dirumah sakit Tuan Muda Harly lebih banyak berada disisi istrinya. Sehingga Jun semakin sibuk saja dikantor.
"Jun!" Haina berseru senang.
Tuan Muda Harly melirik dengan ekor matanya. Mendapati binar dimata sang istri ia mendesah panjang. Ada saja yang membuat perhatian Haina teralihkan darinya. Kali ini wajah Jun yang tampan dan rupawan berhasil membuat Haina tak henti menatapnya dengan binar bahagia.
"Ekhemm...," ia berdeham cukup keras.
Seketika Haina tersadar dan langsung beralih memandang suaminya.
"Sayang!" Haina yang duduk diatas ranjangnya merentangkan tangan. Bersiap memeluk dan dipeluk.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." Pelukan eratnya mampu meredakan hati Tuan Muda Harly yang tadinya terbakar cemburu. Wanita ia itu menghirup dalam - dalam aroma maskulin dari tubuh suaminya. Aroma yang seringkali ia rindukan.
"Aku belum mandi," tutur Tuan Muda Harly.
Mereka mengurai pelukan, sadar dengan adanya orang lain diruangan.
Pak Tanu dan Bu Hayati segera pulang karena hari sudah malam. Tuan Muda Harly akan menginap menemani Haina.
"Makan malammu terlambat, sayang. Tidak baik untukmu dan anak kita," Tuan Muda Harly dengan cekatan menata makanan yang dia bawa diatas meja khusus yang diarahkan tepat dihadapan Haina.
Gadis itu mengerucutkan bibir. Ia tahu ini salahnya, menunda makan karena menolak makanan dari pihak rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, ini soal selera ibu hamil yang dipengaruhi hormon.
"Tadi aku sudah minum susu dan makan buah kok," bela Haina pada diri sendiri.
"Ya sudah, sekarang cepat makan," Tuan Muda Harly berhenti mengomel karena sadar pada akhirnya ia akan kalah dari kehendak istrinya yang sedang hamil.
Jun beranjak dari posisinya sambil menenteng jas kerja. Ia akan pulang.
"Tunggu! Jangan pulang sebelum aku selesai makan, Jun."
Seketika Tuan Muda Harly dan Jun saling pandang.
"Apa lagi ini?" keluh Tuan Muda Harly mulai tak senang.
__ADS_1
"Aku ingin makan sambil melihat kau dan Jun saling menyuapi satu sama lain."
"What?"
"A-apa?"
"Jangan pura - pura tidak dengar. Sayang, ayo suapi Jun sup jamur ini. Jun, kau kemari. Suapi Harly pangsit!"
Tentu saja kedua lelaki tampan itu malas - malasan menuruti keinginan Haina. Mereka ini lelaki sejati yang anti dengan romantisme sesama pria, pasti menolak tanpa bisa ditawar lagi.
Mereka sama - sama diam.
Haina mulai merasa diabaikan. Permintaannya yang sederhana tak dituruti. Padahal ia sangat ingin menikmati makanan dihadapannya bersama dua orang yang berarti dalam hidupnya. Satunya suami yang sagat ia cinta. Satunya lagi lelaki yang sudah ia anggap kakak sendiri.
Tes!
Buliran bening terjun bebas dipipi mulusnya. Ia bahkan belum buka mulut untuk sekedar protes.
Berikutnya kedua pipinya mulai basah.
"Jun, kau pasti lapar. Ayo kemari!"
"Ah, hahaha. Aku suka sup jamur!"
Dua lelaki itu akhirnya mulai makan dan saling menyuapi sebelum Haina mulai marah dan tidak mau makan. Mereka mengunyah dengan buru - buru seolah sedang lapar berat.
Haina mulai tersenyum. Sesaat kemudian ikut melahap makanan dipiringnya.
Tak butuh waktu lama semua makanan tandas. Berpindah ke perut tiga orang itu. Haina begitu senang setelah perutnya kenyang. Ia memuji makanan yang diabawakan suaminya.
"Kalau begitu, saya pulang dulu," pamit Jun akhirnya.
Haina melepas Jun tanpa berniat menyulitkannya lagi.
Tuan Muda Harly bernapas lega saat Jun menghilang dibalik pintu.
"Sayang, kau pasti lelah. Mandilah lalu berbaring disampingku. Aku ingin tidur sambil kau pijat kepalaku," tutur Haina manja.
"Astaga! Kau terlihat manis sekali kalau ada maunya."
Tuan Muda Harly terkekeh geli. Meskipun begitu ia pasti akan menuruti permintaan Haina.
Ceklek!
"Jun? Ada apa?"
Jun datang dengan terengah. Nampaknya ia berlarian kembali ke ruang rawat Haina.
"Bisa kita bicara sebentar, Tuan." Nada Jun terdegar tegas dan menuntut.
Sadar akan ekspresi Jun yang tak biasa Tuan Muda Harly seger menyanggupi. Mereka bicara di luar ruangan.
"Restoramie baru saja terbakar."
"Apa?"
"Pelankan suara Anda. Bagaimana kalau Nona dengar?!"
"Katakan apa yang terjadi?"
"Saat ini pemadam sedang berusaha memadamkan. Kemunginan besar tidak ada korban jiwa karena restoran sudah tutup pukul sembilan tadi."
"Cari tahu penyebabnya!"
"Laporan akan segera kita terima besok."
"Baiklah. Tolong kau pastikan setelah ini tidak ada satu orang pun yang akan menghubungi Haina soal ini."
Keduanya berpisah.
Tuan Muda Harly kembali kedalam. Ia berusaha bersikap setenang mungkin.
"Ada apa, sayang?" Haina terlihat penasaran.
"Tidak ada. Hanya masalah pekerjaan. Aku mandi dulu!" lelaki itu berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil sepasang pakaian bersih. Diam - diam mengambil ponsel Haina lalu mematikan daya.
Sejujurnya ia sangat lelah akhir - akhir ini. Menyelesaikan pekerjaan saat Haina sedang dirawat karena hampir keguguran, membuatnya sulit fokus. Sekarang ada lagi masalah baru yang pasti akan membuat Haina histeris kalau tahu apa yang terjadi. Tuan Muda Harly sangat tahu betapa kerasnya Haina berusaha membangun restoran itu bersama teman - temannya. Ia juga tahu bahwa Restiramie adalah semangat dan kebanggan Haina. Sekarang restoran itu sudah hancur dimakan api.
*
tbc.
__ADS_1