
Andreas memutari mejanya dan mendekati Haina. Tapi langkah kakinya berhenti saat Tamara tiba dengan menggandeng tangan buah hatinya, Edward.
"Jadi ini alasanmu ingin bertemu Edward disini? Apa kau tidak malu setidaknya pada putramu?" cecar Tamara saat melihat Haina ada disana, menggunakan apron.
Haina membeku ditempatnya berdiri meski ia ingin segera pergi. Meski ia tak merasa begitu takut lagi seperti dulu, tapi kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Ia masih mematung di dekat sebuah kursi semi rotan.
"Rakyat jelata sepertimu memang selalu punya cara mendekati kami! Cih!" serang Tamara dengan lirikan tajamnya.
Wanita bergaun ketat dan seksi itu menggamit lengan anaknya yang keheranan dengan situasi. Bocah lima tahun itu menatap penuh tanya pada kedua orang tuanya.
"Edward, kemarilah. Ini teman Papa" ujar Andreas memperkenalkan Haina.
Haina mengerutkan alis atas sikap tidak etis Andreas. Melibatkannya dalam drama rumah tangga lelaki itu. Ia tidak ingin terseret seperti enam tahun yang lalu.
"Maaf. Tapi saya tidak ada urusan selain menyajikan makanan pesanan kalian. Permisi! Haina akhirnya dapat melangkahkan kaki.
Tapi Tamara bukan orang yang punya perangai baik. Ia menarik rambut Haina saat berjalan melewatinya.
"Aakkh!" Haina berusaha menahan jeritannya. Tidak ingin menjadi tontonan pengunjung lain.
"Wanita miskin tidak tahu malu!"
"Mama!" seru Edward ketakutan.
"Lepaskan Haina, Tam!" seru Andreas berusaha memisahkan Tamara dari Haina yang meringis memegangi rambutnya.
"Minggir Ndre!" bentak Tamara.
"Sakit! Lepaskan aku!"
Kepala Haina menengadah karena jambakan dirambut bagian belakangnya. Dengan kedua tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan tamara. Ia kesakitan dan mulai ketakutan. Traumanya kembali.
"Aaakkkhh!"
Jeritan Tamara memenuhi lantai dua.
"Lepaskan istriku!"
Tamara melepaskan rambut Haina dan memegangi rambutnya sendiri. Berusaha melepaskan jambakan seseorang dari rambutnya.
"Steff pegangi dia!" seru Bella sambil mendorong Tamara pada Steffi yang baru saja menangani pengunjung lantai dua.
"Siapa kalian? Lepaskan aku bodoh!" umpat Tamara sambil berusaha melepaskan diri. Kedua tangannya dikunci dibelakang pinggang oleh Steffi.
"Tenang! Apa Anda tidak tahu siapa tuan muda kami? Perhatikan baik - baik atau Anda akan menyesali hari ini!" tutur Steffi tepat ditelinga kanan Tamara.
"Sayang, kau baik - baik saja?" Tanya Tuan Muda Harly memeriksa keadaan istrinya.
__ADS_1
Haina mengangguk sembari mengatur napasnya. Ia sedikit gemetar dan pusing.
"Haina, kau baik - baik saja?" Andreas menghampiri Haina yang berpegangan pada dinding kaca.
"Menjauh dari istriku! Urus saja istri kurang ajarmu itu!" seru Tuan Muda Harly sambil merangkul Haina.
Istri? Haina sudah menikah? Andreas kebingungan. Sebab tak satupun kabar tentang pernikahan Haina datang padanya. Yang ia tahu, Haina sedang merintis restaurannya di ibu kota. Andreas menggeleng tak percaya.
"Siapa lelaki ini, Haina?" tanyanya.
Haina tak menjawab dan malah beralih menatap Tuan Muda Harly yang merengkuh bahunya. "Aku ingin pulang" gumamnya lemah.
"Baiklah sayang" sahut sang suami.
Haina melingkarkan kedua tangannya pada bahu dan leher Tuan Muda Harly saat tubuhnya digendong meninggalkan area balkon lantai dua.
Sementara Tamara yang sudah dilepaskan Steffi menatap tajam Haina yang berlalu dihadapannya dan Andreas yang tak lepas menatap kepergian Haina.
"Brengsek kau Ndre!" umpatnya geram.
Andreas terkesiap saat menyadari Edward yang memegangi ujung jasnya dengan ketakutan.
Ah! Haina memang selalu bisa mengalihkan dunianya. Begitulah sejak dulu, awal mula pertemuan mereka enam tahun lalu. Haina, cinta pertama masa mudanya.
"Papa!" Rengek Edward sembari menarik jas sang papa.
Andreas berjongkok dan memeluk putranya.
Bocah itu mengangguk dan mengalungkan lengan dileher sang Papa. Andreas segera menggendongnya dan mendudukkan bocah itu di kursi.
"Ayo makan. Bukankah jagoan Papa suka kepiting? Cobalah, kelihatannya enak bukan?" Andreas menyodorkan piring mie kepiting ke hadapan putranha yang antusias melihat kepiting diatas mie.
Tamara mendesis marah. Andreas mengabaikannya, seolah ia tak ada.
"Edward ayo kita pergi!" wanita bergaun merah seksi itu menarik lengan sang anak.
"Tidak mau, Ma. Ed ingin makan mie kepiting!"
Andreas yang melihat itu mendesah kesal. Tamara memang selalu egois dan tak pengertian, bahkan pada putranya sendiri.
"Biarkan dia makan dengan tenang, Tam. Kau bisa pergi kalau tidak suka berada disini"
"Aku tidak sudi berada ditempat yang ada perempuan murahannya!" seru Tamara bengis.
"Jaga mulutmu, setidaknya didepan Edward!" kata Andreas tegas penuh penekanan.
Tamara tak punya pilihan selain menurut dan ikut duduk bersama suami dan juga putranya. Ia mengepalkan tangan diatas meja. Pikirannya sibuk memikirkan cara menyingkirkan Haina dari kehidupannya dan juga Andreas. Ia tak rela diceraikan begitu saja.
.
__ADS_1
Sementara itu Haina duduk termenung sembari menatap pemandangan jalanan dari balik kaca jendela mobil. Ia tak buka suara barang satu katapun sejak kejadian di Restoramie tadi.
Hal itu membuat sang suami cemas dengan keadaanya.
"Sayang, kau tak apa? Apa yang terjadi?" tanya lelaki itu.
Haina tak menjawab. Seakan berat bercerita pada suaminya sendiri.
Tuan Muda Harly tak memaksa bila Haina merasa tak nyaman dengan itu. Toh ia bisa dengan mudah mencari tahu apa yang terjadi.
"Kemana ini? Aku kan ingin pulang ke Beniq Bakery!" gumam Haina yang seketika panik melihat jalanan yang ia kenali menuju apartemen Tuan Muda Harly.
"Kita pulang ke apartemen, sayang" ujar Tuan Muda Harly lembut. "Kau terlihat tidak baik - baik saja. Kumohon menurutlah sekali ini" bujuknya.
"Harusnya tadi aku tak minta bantuanmu" gumam Haina dengan wajah masam sambil memijit pelipisnya.
Mendengar itu Tuan Muda Harly hanya bisa mendesah pasrah. Ia harus bersabar menghadapi sang istri yang masih menolak dirinya.
Mereka pun sampai di basement, supir langsung membukakan pintu untuk Tuan Muda Harly. Lelaki itu sigap turun dan memutari mobil.
Haina dengan malas mendorong pintu mobil yang baru saja dibukakan supir.
Tuan Muda Harly menggendong Haina, tapi gadis itu menolak dengan menepis tangannya. Ia hanya bisa pasrah.
"Lihat! Kau masih pusing sayang" ujar Tuan Muda Harly lalu langsung menggendong Haina tanpa persetujuan gadis itu.
Haina akhirnya menurut saja. Ternyata pusing dikepalanya membuat ia susah berjalan lurus dan hampir terhuyung jatuh ke lantai.
Sesampainya di apartemen Haina dibaringkan diranjang, dikamar utama, kamar mereka. Kamar yang telah lama ia tinggalkan. Haina segera memejamkan mata saat langit - langit kamar semakin berputar dalam penglihatannya.
"Istirahatlah, sayang. Dokter akan memeriksamu nanti!" gumam Tuan Muda Harly lalu merapikan selimut Haina yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Ia melapaskan jas beserta dasinya. Menaiki tempat tidur lalu mengelus puncak kepala Haina lembut. Mengamati setiap wajah sang istri. Wajah cantik yang sangat ia rindukan.
Ia jadi bertanya - tanya seberapa dalamkah trauma masa remaja yang menghantui sang istri sampai hari ini. Jun sudah memberitahunya, semua hal yang dapat mereka gali tentang masa remaja Haina.
Lalu ia teringat dengan malam itu. Malam dimana pertama kalinya ia menyentuh Haina dalam keadaan setengah sadar. Kepingan ingatan tentang malam itu kembali melintas, membuatnya mengutuki diri sendiri. Harusnya malam itu tak terjadi.
Namun apa mau dikata, semua sudah berlalu. Jika bisa mengulang waktu, ia tak akan membiarkan dirinya menyakiti Haina seperti itu. Ia akan mencegah kebodohannya saat itu. Ia tak akan percaya saja pada Jiana dan Ren yang bersekongkol malam itu. Atau ia akan langsung mengusir Jiana saat mendapati wanita itu ada dikamar hotelnya. Sehingga ia tak akan meminum anggur bercampur obat yang menjadi awal malapetaka. Haina tak akan melihatnya dan Jiana berciuman. Lalu Haina tak akan melalui malam pertama menyakitkan. Saat dengan kasarnya ia mencumbuu dan menyatukan diri, menghujam tanpa ampun sang istri yang dilanda takut dan trauma.
Pantas saja Haina kabur meninggalkannya. Bersembunyi dan tak ingin kembali padanya. Begitu mengerikan malam pertama itu baginya. Sampai ingin lari dari sisinya.
"Aku memang brengsek. Maafkan aku, sayang" gumamnya sambil merapikan anak rambut Haina. "Tapi mulai detik ini, aku berjanji hanya akan memperlakukanmu dengan lembut dan manis" janjinya, lalu mengecup puncak kepala Haina.
*
tbc.
__ADS_1