
Rupanya pesta kali ini diadakan dengan konsep berbeda dari sebelumnya. Memakai sebauh ball room yang terhubung langsung dengan taman terbuka. Banyak sekali tamu yang hadir, meramaikan taman yang dihias dengan lampion warna warni.
Haina, Ruhi dan Jun sampai saat acara lelang dimulai. Jun membawa dua gadis itu duduk disebuah meja di taman.
"Kalau begitu kalian nikmati makanan yang sudah disediakan disana dulu. Aku harus berada disisi tuan Harly" tutur Jun saat dua gadis cantik itu mengajaknya ikut duduk. Jun melenggang pergi meninggalkan Haina dan Ruhi.
"Apa acaranya sudah dimulai?" tanya Ruhi mengedarkan pandangan ke arah dinding kaca ball room.
Dari sana mereka dapat melihat kumpulan orang yang sedang menawar lelang.
"Sertinya sudah" Haina ikut mengamati kumpulan orang di dalam ball room. Mencari sosok yang menyuruhnya hadir di pesta ini. Tapi jarak pandang membuatnya tak bisa melihat keberadaan lelaki itu.
"Cari siapa?" Rupanya Ruhi mengamati Haina yang celingukan.
"Oh, bukan siapa - siapa"
"Sejujurnya aku bingung kenapa kita ada disini. Apa kita perlu ikut berdonasi?" celetuk Ruhi.
"Hahaha... mungkin Jun ingin kita meramaikan acara" sahut Haina asal.
Bagian taman terlihat cukup ramai. Mungkin yang berada ditaman saat ini adalah orang - orang yang tidak mengikuti lelang amal.
Disudut taman terdapat stand makanan berjejer. Sedangkan disisi kanan terdapat kolam renang dan sebuah panggung kecil disisi kiri.
Hingga acara selesai Haina dan Ruhi menyibukkan diri dengan menikmati hidangan pesta sambil mengobrol. Sampai akhirnya Jun menghampiri mereka.
"Sudah waktunya pulang?" tanya Haina. Ia segera berdiri dari duduknya.
"Ya. Tapi Ruhi pulang duluan. Ayo, Steffi akan mengantarkanmu"
"Bagaimana denganku? Aku ikut saja!" serobot Haina.
"Oh... itu, nanti denganku"
Haina melihat wajah Ruhi yang lagi - lagi tersipu malu saat Jun berdiri sangat dekat dengannya. Tiba - tiba saja jiwa makcomblangnya bangkit.
"Aku bisa pulang dengan Steffi. Kau antarlah Kak Ruhi pulang!"
"Ah! Ti- tidak perlu, aku bisa naik taksi saja" cegah Ruhi gelagapan.
"Hei ini jam sibuk, sulit dapat taksi. Ayo Jun, antarkan sahabatku pulang dengan selamat!" desak Haina lagi.
Jun yang peka menghela napas panjang dan mengeratkan giginya. Lalu memasang senyum lebar sambil melirik Haina dengan ekor matanya.
"Kalau begitu baiklah. Ayo!" seru Jun dan mulai mengambil langkah.
"Bagaimana Haina?" Ruhi akan melangkah pergi mengkuti Jun. Tapi ia ragu meninggalkan Haina yang ia kira akan sendirian.
"Tidak apa! Ada Steffi disana" sahut Haina. Gadis itu menepuk pundak Ruhi dan mendekatkan bibir ke telinga sahabatnya. "Aku memberimu kesemempatan sesuai janjiku. Ingat, kalau kalian jadian jangan lupa traktir aku!" bisik Haina semangat.
Wajah Ruhi langsung merona malu dibuatnya. Ia bahkan ingin mengusel pipi Haina saking senangnya. Tapi ia harus jaga image didepan Jun, bukan?
Akhirnya Jun dan Ruhi berjalan berdua menuju lobi dan menunggu mobil datang dibawakan petugas parkir.
"Emm, Tuan... sebenarnya Steffi itu siapa?" Ruhi baru sekali ini mendengar nama itu. Ia pun jadi penasaran.
"Oh, dia itu... Kenapa, kau penasaran sekali?" tanya Jun dengan ekspresi jahilnya.
"Ah, bukan Tuan. Aku hanya ingin tahu apa dia juga teman Haina" jawab Ruhi dengan wajah sedikit menunduk, salah tingkah.
Jun tersenyum. "Jangan panggil Tuan saat tidak dikantor. Santai saja!"
Ruhi mengangguk malu - malu.
"Dia salah satu pengawal yang bekerja untuk Tuan Harly. Sudah, jangan banyak tanya dan banyak mikir! Terlalu penasaran akan membuatmu mati cepat"
"Hah? Apa?" otomatis Ruhi menegakkan kepalanya dan menatap Jun dengan mata melotot.
__ADS_1
Jun tertawa dibuatnya, melihat wajah kaget Ruhi yang menurutnya lucu.
"Kau lucu!" gumam Jun saat mobilnya sudah datang dibawa petugas parkir. "Ayo!" serunya berjalan menuju pintu kursi kemudi.
Ruhi masih berdiri diam disana dengan wajah merona merah.
"Aku lucu?" gumamnya tak dapat menahan senyum bahagia.
.
Sementara itu Haina diantar ke sebuah ruangan oleh Steffi dan Bella. Diruangan itu tak ada siapa pun, membuat Haina ragu untuk masuk.
"Tuan muda berpesan agar Anda makan malam lebih dulu. Beliau masih menyapa tamu penting di ruangan sebelah" terang Bella.
Seorang pelayan mengantar Haina memasuki ruangan.
"Kalian temani aku!" pinta Haina pada dua pengawalnya.
Tak lama beberapa pelayan datang menyajikan hidangan diatas meja. Aneka makanan tertata rapi di meja bulat itu, tapi ia harus makan sendirian. Haina mengajak dua pengawalnya untuk ikut makan. Tapi keduanya menolak dengan alasan profesionalitas. Pengawal harus dalam kondisi standby disegala situasi, bukan? Akhirnya Haina menikmati makan malam dalam kesendiriannya.
"Aku benar - benar seperti pajangan dibuatnya!" gumam Haina kesal.
Benar, bukan? Dirinya disuruh menghadiri sebuah pesta tanpa bertemu sang suami. Lalu disuruh makan malam sendirian.
Pintu terbuka, membuat kedua pengawal yang berdiri disana menyingkir. Haina menoleh melihat siapa yang datang.
"Kenapa dia kesini?" gumam Haina pelan.
Alih - alih Tuan Muda Harly yang datang malah kekasihnya.
"Maaf mengganngu makan malammu" tutur Jiana.
Jiana menatap kedua pengawal Haina. Mengusir mereka halus.
Haina mengangguk saat kedua pengawal itu menatapnya meminta persetujuan. Lalu kedua pergi meninggalkan ruangan dan menunggu dibalik pintu.
Jiana langsung menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Kau bisa melanjutkan makanmu. Aku ingin berbicara sesuatu"
"Katakan saja!" Haina tetap melanjutkan makannya. Dengan santai memotong daging dipiring dengan pisau makan lalu menyuapnya dan mengunyah dengan anggun.
"Kau terlihat berbeda dengan bayanganku" tutur Jiana yang mengamati lawan bicaranya menikmati sepotong daging dimulut.
"Kenapa? Tidak seperti gadis desa?" sahut Haina selesai mengunyah. Ia lanjut menyuap sepotong daging dan mengunyah lagi.
"Benar. Kau terlihat sangat nyaman dengan semua ini"
"Aku gadis desa yang terpelajar, walaupun tidak sepertimu yang berpendidikan tinggi. Tapi aku tahu cara menikmati makanan dengan baik" Haina menyahut dan mengambil gelas air putih lalu menyesap isinya perlahan.
Lagi - lagi Jiana mengamati setiap gestur Haina.
"Jadi, ada apa?" tanya Haina.
Jiana terkesiap dengan nada bicara lawannya yang terdengar tegas itu.
Aura permusuhan seolah terpancar saat itu juga.
"Aku bisa membantumu dengan ini. Mengumpulkan uang sebanyak sepuluh Milyar bukan hal sulit untukku" tanpa basa - basi lagi Jiana meletakkan lembaran kertas diatas meja. Lalu menggesernya agar Haina dapat melihat.
Seketika Haina menyudahi makan lalu menatap nanar lembaran kertas itu. Ia tersenyum kecut.
"Cih! Darimana dia dapat ini? Apakah Harly memberitahunya?"
"Benarkah? Jadi kau ingin aku berutang padamu?" sahut Haina.
Jiana menautkan jemarinya diatas meja. Ia menatap intens lawan bicaranya.
__ADS_1
"Aku bisa merelakannya demi kebebasanmu"
Diam - diam Haina mengepalkan tangannya diatas paha. Menahan gejolak perasaannya sendiri. Situasi ini terlalu berlebihan, haruskah wanita itu datang menemuinya seperti ini? Membahas perjanjian pranikahnya dengan sang suami. Kenapa terdengar mudah sekali bagi wanita itu? Sesuatu yang sangat sulit dan mustahil banginya. Bisa dengan mudah wanita itu selesaikan?
"Gampang sekali kau bicara. Menurutmu bisa begitu?"
"Tentu. Aku bisa melakukan lebih dari ini"
Haina tersenyum. Ya, senyum masam yang ia paksakan. Tapi ia tidak ingin kalah dan terlihat lemah didepan wanita itu.
"Kalau begitu kenapa repot - repot menemuiku? Kau bisa menyerahkan uang itu atas namaku, langsung pada suamiku" ujar Haina penuh penekanan.
Bibir Jiana berkedut. Seperti ada yang tertahan dimulutnya.
"Perjanjian pranikah itu. Aku tidak tahu dari siapa kau mendapatkannya. Tapi jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku! Orang luar sepertimu harus menjaga sopan santun, bukan? Wanita hebat sepertimu pasti tahu batasan"
Jiana lagi - lagi terkesiap. Dengan mata berkilat menatap lawan bicaranya. Wajahnya terlihat pasi.
"Aku hanya membantumu!" tuturnya setelah terdiam sesaat.
Haina menyibak rambutnya kebelakang. Dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Meletakkan siku dimeja dan menautkan jemari dibawah dagu.
"Sayang sekali aku tidak butuh bantuanmu. Jangan membohongi diri sendiri, kau tidak ingin membantuku. Tapi kau hanya ingin membantu dirimu sendiri" ucap Haina pelan dengan mata berkilat.
BRAK!
Rupanya Jiana gagal menahan diri. Sehingga tangannya lepas kontrol menggebrak meja. Cepat - cepat ia menguasai diri dan menatap tajam gadis yang masih belia dimatanya.
"Jangan memaksakan diri dengan menginginkan apa yang tidak pantas untukmu" tutur Jiana dengan senyum tipis menghias wajahnya.
Haina berdiri dari duduknya dengan tangan terkepal. Memandang lurus lawan bicara.
"Pantas atau tidak itu bukan urusanmu. Lain kali jangan cari aku lagi. Apapun hubunganmu dengan suamiku, itu urusanmu dengannya. Jangan ganggu aku!"
Ia lantas melangkah pergi meninggalkan dinner room restoran hotel itu.
"Aku peringatkan kau agar tak terluka dengan harapan semu. Ingat itu, aku sudah memperingatkanmu!" seru Jiana saat Haina hampir meninggalkan ruangan.
Haina berhenti di ambang pintu. Ia mendengarkan namun tak menoleh barang sedetikpun. Menarik handle pintu dan pergi.
"Nona, mau kemana? Tuan muda ingin Anda menunggu didalam" tegur Steffi saat gadis bergaun hitam lengan panjang itu bergegas pergi dengan raut tegang.
"Bisakah kalian jaga jarak? Aku merasa pengap dan muak" tutur Haina memepercepat langkahnya tanpa menoleh lagi.
Di dalam dinner room Jiana masih berdiam diri sambil memandangi lembaran kertas perjanjian pranikah itu. Dia meraihnya dan meremasnya sampai kusut.
"Hebat juga, ini diluar dugaanku. Dia bertingah seperti seorang Nona" gumamnya.
Tiba - tiba pintu terkuak dan menampak sesosok lelaki bersetelan hitam.
"Kenapa kau kesini? Tidak bisakah kau bersabar sedikit lagi?"
Jiana meliriknya tajam dan melemparkan kertas yang sudah remuk ditangannya itu ke sembarang arah
"Menurutmu aku bisa bersabar saat nenek tua itu terus menekanku? Dia akan melengserkan aku jika gagal!" sentak Jiana menahan amarah yang menggebu didada.
"Naiklah! Aku sudah menyiapkan sesuatu"
Jiana menerima sebuah kartu ditangannya, memandangi sejenak. Ia menghambur ke pelukan pria yang selalu ada untuknya.
*
Tbc.
Hai, selamat hari Senin readers.
Maaf ya kemarin tidak up karena lagi sakit. Hari ini akan up 2 bab kalau tidak ada kendala.
__ADS_1
So karena ini Senin tolong bgt ya minta votenya. Like aja bagi yg gak ingin komen. Buat yg berbaik hati plisss tinggalkan jejak dengan komen setiap bab...minimal 'next' aja bisa kan? Bisa dong ya ðŸ¤
Sekali lagi pleaseee like, komen, vote dan hadiahnya kakak cantiiikkk 😘