
Happy reading guys!
Setelah selesai membersihkan dirinya Rezki keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, tanpa rasa malu sedikitpun CEO tampan itu bergegas menghampiri istrinya ketika mendengar suara tangisan pilu dari kekasih halalnya itu.
"Sayang." Sebutnya dengan nada sangat lembut." Kenapa jadi menangis berjamaah begini?" Tanyanya sembari menatap ke arah semua wanita yang ada di sana.
Bukannya hanya Arshi yang menolehkan kepalanya, namun semua orang yang ada di sana juga ikut menatapnya.
"Mau pamer body atletis Lo? Cepat pakai baju sana!" Kesal Wavi sembari menatap tajam kearah sepupunya itu.
"Gue lupa bawa baju ganti." Sahut Rezki dengan wajah tanpa dosa lalu duduk di sofa, sambil memainkan handphonenya untuk memesan pakaian yang diinginkannya secara online.
"Yank." Panggil Arshi dengan suara bergetar menahan tangisnya, setelah melepaskan dirinya dari pelukan mamahnya.
Riki dan dokter Hasan yang sedari tadi duduk di sofa secara berhadapan menolehkan kepalanya mendengar suara Arshi.
"Rezki, Arshi memanggilmu." Ujar keduanya bersamaan.
Rezki menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju bed pasien istrinya.
"Ada apa Sayang?" Tanyanya sembari menatap wajah kekasih halalnya itu.
"Wava Yank, hiks... hiks." Lirih Arshi sambil terisak.
Rezki langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu menciumi puncak kepalanya.
"Allah subhanna wata'ala lebih menyayanginya Sayang, jadi kita semua harus bisa mengikhlaskannya." Ujarnya dengan bijaknya.
Namun Arshi justru semakin terisak dibuatnya karena mengingat baby twins Arsha dan Wava yang harus kehilangan ibunya.
"Ya udah kalau begitu gue permisi dulu ya." Pamit Rasya karena tidak sanggup melihat kondisi Arshi dan kemesraan yang tersaji di hadapannya.
"Kami juga harus kembali melakukan tugas masing-masing." Wavi menggenggam tangan istrinya.
"Gue juga." Tasya ikut menimpali.
"Kami juga harus ke kantor secepatnya." Radi dan Dira ikut berpamitan.
"Assalamualaikum." Ucap mereka semua serempak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua orang yang tersisa di dalam kamar VVIP itu.
Setelah kepergian Rasya,Tasya, Wavi, Lida, Radi dan Dira. Arshi mengungkapkan keinginannya yang sedari tadi dipendamnya.
"Yank aku mau liat kondisi baby twins nya Arsha dan anak-anak kita." Pintanya sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan suaminya.
Deg...Jantung Rezki seakan berhenti berdetak, dia bingung harus bagaimana caranya mengatakan hal yang sebenarnya terjadi dengan baby twins nya.
"Nanti aja ya Sayang setelah kondisimu benar-benar sudah pulih." Ujarnya memberikan alasannya.
Arshi menganggukkan kepalanya lalu melepaskan dirinya dari pelukan suaminya, dia kembali berbaring karena baru merasakan sakit di bagian jahitan pasca operasi Caesar nya.
"Yank tolong panggilkan Papah ya." Pintanya sambil meringis menahan sakitnya.
Rezki menganggukkan kepalanya lalu berjalan menghampiri mertuanya.
"Pah, Arshi mau bicara sama Papah." Ujarnya sembari menatap wajah mertuanya itu.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya, dia menatap ke arah istrinya yang masih duduk berhadapan dengan besannya itu.
"Aku ikut Sayang." Khardha langsung mengerti arti dari tatapan suaminya.
__ADS_1
Dia berusaha menghindari kesalahpahaman yang pasti akan terjadi bila dia tetap duduk berhadapan dengan Riki Pratama, sebab dokter Hasan selalu merasa cemburu kepada mantan terindah istrinya itu.
Dokter spesialis penyakit dalam itu mengulas senyumnya, dia lalu mengulurkan tangannya tanpa memperdulikan tatapan kecemburuan dari Riki Pratama. Dia segera melangkahkan kakinya menuju bed pasien anaknya sambil merangkul pinggang wanita yang sangat dicintainya itu.
"Makasih Sayang, kamu selalu mengerti apa yang ku inginkan." Bisiknya dengan nada sangat lembut.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama Papah Shi?" Tanya dokter Hasan sambil mengusap kepala anak perempuannya itu.
"Pinggang dan bagian bawah perutku sakit banget Pah." Jawabnya sambil meringis menahan sakitnya.
Dokter Hasan segera menghubungi petugas apotek yang ada di rumah sakitnya itu untuk membawakan obat-obatan anti nyeri buat Arshi. Setelah menunggu beberapa saat datanglah petugas apotek menyerahkan berbagai macam jenis obat yang dipesan oleh pemilik rumah sakit tersebut.
"Ini obatnya Pak." Ujarnya dengan nada sangat sopan.
"Terima kasih." Ucap dokter Hasan sambil menerimanya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" Petugas itu menawarkan dirinya.
Dia ingin sekali mengambil hati pemilik rumah sakit tersebut beserta keluarganya, supaya bisa cepat naik jabatan dan mendekati Arsha yang selama ini dikaguminya. Namun ketika melihat wajah tampan Rezki dengan body atletis nya, dia justru berubah pikiran untuk menarik perhatiannya.
"Tidak, silahkan kembali ke tempatmu semula." Dokter Hasan mengusirnya secara halus.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya, assalamualaikum." Pamitnya sambil mengedipkan sebelah matanya kearah CEO tampan itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha mewakili suaminya dan yang lainnya sambil menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh petugas apotek tersebut.
"Sayang tolong kamu bantu Arshi ke kamar mandi untuk memasukkan obat ini kedalam anusnya." Perintah dokter Hasan sembari menyerahkan obat anti nyeri tersebut.
Khardha menganggukkan kepalanya lalu menerimanya namun Rezki langsung menawarkan dirinya.
"Biar aku aja Pah, Mah." Ujarnya sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil obat tersebut.
Rezki langsung menerimanya lalu dokter Hasan mencabut jarum infus yang menempel di tangan anak perempuannya itu. Setelah itu Rezki segera menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku bisa melakukannya sendiri Yank." Tolak Arshi ketika suaminya ingin membantunya.
"Gak papa Sayang aku rela melakukan apapun untukmu." Rezki tetap bersikeras untuk membantu istrinya.
"Yank pliss." Lirih Arshi sembari menatap sendu kearah suaminya.
"Ok." Rezki menganggukkan kepalanya karena tidak tega melihat wanita yang sangat dicintainya itu menahan sakitnya lebih lama lagi.
"Tolong kamu keluar dulu ya." Pinta Arshi dengan nada sangat lembut.
"Baiklah tapi pintunya gak usah dikunci." Tegas Rezki dengan menekankan kata-katanya.
"Iya." Singkat Arshi sambil mendorong tubuh suaminya supaya cepat keluar dari sana lalu menutup pintunya.
Tidak lama kemudian Arshi membuka pintu kamar mandinya. Rezki yang menunggunya sambil bersandar di dinding bathroom itu langsung menolehkan kepalanya.
"Sudah selesai Sayang?" Tanyanya sembari menatap wajah cantik istrinya yang masih tampak sangat pucat.
"Iya." Arshi menganggukkan kepalanya sambil berpegangan pada daun pintu.
Sebab badannya masih terasa sangat lemas karena belum makan apa-apa sedari tadi. Rezki dengan sigap menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju ranjang pasiennya, lalu membaringkannya kembali di atasnya.
"Kamu istirahat lagi ya." Rezki mengecup kening istrinya.
"Yank, kok kamu masih belum pakai baju? Kamu gak kedinginan? AC nya kan cukup kencang." Arshi mengangkat satu alisnya menatap suaminya yang masih memperlihatkan keseksian tubuhnya.
__ADS_1
"Aku nungguin kurir mengantarkan pesanan bajuku Sayang." Jujur Rezki seraya mengulas senyumnya.
"Aku laper Yank." Arshi mengelus-elus perutnya sendiri.
"Kamu mau makan apa Sayang?" Rezki mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Ayam geprek, nasi putih sama teh hangat." Jawab Arshi sambil membayangkan makanan yang diinginkannya itu.
"Tapi ayam geprek nya jangan pedas ya, aku gak mau kamu sakit perut." Pinta Rezki karena kekasih halalnya itu sangat menyukai makanan pedas.
"Gak enak dong jadinya." Arshi memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak bisa memuaskan nafsu makannya.
"Kalau gak mau, kamu makan bubur yang disediakan di sini aja!" Tegas Rezki dengan menekankan kata-katanya.
"Ya udah kalau begitu terserah kamu aja!" Arshi menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya.
Rezki menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya. Dia selalu berusaha mengalah untuk menghindari pertengkaran yang akan terjadi dengan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang." Panggilnya dengan nada sangat lembut sambil menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
Namun Arshi berusaha keras mempertahankan selimutnya sehingga menarik perhatian dokter Hasan, Khardha, Riki dan Arsha yang ingin berpamitan.
"Kenapa kalian berdua jadi seperti anak kecil begini?" Riki Pratama menatap tajam ke arah anak dan menantunya itu.
Rezki langsung melepaskan tarikannya, sedangkan Arshi mengintip dari balik selimutnya karena takut dimarahi oleh mertuanya itu.
"Papa cuma mau pamit. Ingat jangan suka berdebat tentang hal-hal yang gak perlu dipermasalahkan, kalian berdua harus bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain dalam hal apapun itu." Nasehat Riki sambil terus menatap lekat ke arah anak dan menantunya itu.
"Baik Pa." Rezki dan Arshi menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kalau begitu Papa permisi dulu, assalamualaikum." Riki melangkahkan kakinya keluar dari kamar VVIP tersebut.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka semua yang ada di sana.
"Papah sama Mamah mau nganterin Arsha ke kamarnya, kalian berdua baik-baik ya disini. Jangan bertengkar lagi, kami gak suka melihatnya." Tegas dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
"Iya Pah." Pasangan suami istri itu menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kalau begitu kami pergi dulu ya, assalamualaikum." Ucap Khardha mewakili suami dan anak laki-lakinya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Rezki dan Arshi bersamaan.
Setelah kepergian Arsha dan kedua orangtuanya pasangan suami istri itu kembali berdebat.
"Semuanya gara-gara kamu Yank." Kesal Arshi dengan memajukan bibirnya ke depan.
Cup... Rezki mengecup bibir kekasih halalnya itu sekilas.
"Jangan menggodaku dengan bibirmu itu Sayang." Ujarnya sambil berjalan menuju pintu ketika mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Kira-kira siapa yang datang ya?
Mau tau jawabannya?
Silahkan tunggu episode berikutnya.
Bersambung...
Hai teman-teman semuanya jangan pernah berhenti untuk memberikan dukungan kalian melalui tanda cintanya, setangkai bunga mawar merahnya, like yang tiada henti, komen yang sesuai alur ceritanya, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.
__ADS_1
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.
See you next time!