Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#22 "Tidak ada yang sempurna"


__ADS_3

Happy reading guys!


"Apaan sich lo Shi jangan aneh-aneh dech!" Seru Wava dengan mendelik tajam kearah Arshi.


"Lo tenang aja gue cuma mau Arsha mengungkapkan perasaannya sama lo." Arshi tersenyum penuh arti." Lo tunggu aja kabar dari gue, yang penting lo harus persiapkan diri lo secantik mungkin, ok!" Arshi mengedipkan sebelah matanya sembari menyatukan telunjuk dan ibujarinya.


"Yaudah terserah lo aja kalau begitu, kita balik dulu ya, assalamualaikum!" Pamit Wava dan Lida sembari cipika cipiki dengan Arshi.


"Iya hati-hati ya, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Arshi membereskan piring bekas rujaknya lalu membawanya ke dapur.


*****


Malam harinya setelah selesai sholat isya, Arshi duduk disebelah suaminya yang sedang asyik menatap laptopnya.


"Yank bisa minta tolong gak?" Arshi bergelayut manja dilengan suaminya.


"Minta tolong untuk apa?" Rezki melirik istrinya yang bertingkah tidak seperti biasanya.


"Bikinin surprise party buat Arsha agar mau menyatakan perasaannya sama Wava." Arshi menangkup wajah suaminya.


"Kenapa kamu yang repot mikirin surprise party buat mereka? Aku aja belum pernah ngasih kejutan buat kamu." Rezki menatap mata coklat istrinya dengan tatapan penuh cinta.


"Aku gak perlu kejutan dari kamu Yank, yang penting sekarang mempersatukan Arsha sama Wava biar gak jomblo lagi." Arshi memajukan wajahnya agar Rezki mau menuruti keinginannya.


"Kamu kan saudara kembarnya Arsha, pasti kamu lebih tau apa yang dinginkan Arsha Sayang, Arsha orangnya tertutup kayaknya dia juga gak suka di comblangin." Rezki mengutarakan pendapatnya.


"Iya sich tapi sampai kapan Arsha kayak gitu terus?" Arshi melipat kedua tangannya diatas dada kesal dengan saudara kembarnya itu.


"Gimana kalau kamu ngomong sama Arsha bahwa Wava dijodohkan dengan orang lain? Kira-kira gimana reaksinya, baru setelah itu kita susun rencana selanjutnya." Rezki memberikan ide briliannya.


"Benar juga apa yang kamu katakan, nanti aku coba ngomong sama Arsha." Arshi tersenyum membayangkan respon saudaranya itu nantinya.


"Kita makan malam yuk!" Ajak Rezki dengan meraih tangan istrinya.


"Aku mau kita makan diangkringan." Arshi mengikuti langkah suaminya yang berjalan sambil menggandeng tangannya.


"Ok Sayang, tapi kamu harus makan yang banyak ya, biar mamah sama baby nya selalu sehat." Rezki mengelus perut istrinya ketika sudah sampai didalam mobilnya.


Pasangan suami istri itu akhirnya menuju angkringan yang terkenal dengan nasi bakarnya. Arshi tampak memilih berbagai macam menu disana, sambil menunggu lauknya dipanaskan Arshi menyandarkan kepalanya di bahu Rezki yang selalu tersenyum merasakan indahnya malam bertabur bintang dengan istrinya disampingnya.



"Sayang aku mau kamu selalu ada untukku walau apapun yang terjadi diantara kita." Rezki menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya.


"Seandainya aku ditakdirkan pergi lebih dulu setelah melahirkan anak kita, apa kamu mau merawatnya sendiri tanpa harus menikah lagi?" Arshi sengaja bertanya seperti itu untuk menguji kesetiaan suaminya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, kita akan merawat anak kita sama-sama sampai dia besar dan dewasa nanti." Rezki menangkup wajah istrinya lalu memeluknya." Jangan pernah bicara sesuatu yang membuatku takut kehilanganmu, kita akan selalu sama-sama sampai tua dan hanya maut saja yang bisa memisahkan kita." Rezki benar-benar tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi matanya berkaca-kaca sembari merengkuh tubuh istrinya.


"Aku kan cuma bilang seandainya, apa itu salah?" Arshi melonggarkan pelukan suaminya lalu mendongakkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.


"Aku mohon jangan pernah bicara kayak gitu lagi, aku hanya ingin kamu selalu ada untukku, mendampingiku baik suka maupun duka." Rezki menempelkan telunjuknya di bibir Arshi sembari menggelengkan kepalanya supaya istrinya tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Ini Mbak, Mas pesanannya." Pelayan menyajikan makanan di atas meja.


"Yaudah aku udah laper banget, mending kita makan aja yuk!" Arshi langsung menyuapi Rezki yang menatapnya tanpa berkedip.


Tiba-tiba ketika mereka asyik makan dengan saling menyuapinya satu sama lain, datanglah rombongan pengamen yang menyanyikan lagu untuk menghibur semua pengunjung angkringan itu.


🌿Sempurna🌿


Kau begitu sempurna


Dimataku kau begitu indah


Kau membuat diriku akan selalu memujamu


Disetiap langkahku

__ADS_1


Ku kan selalu memikirkan dirimu


Tak bisa kubayangkan


Hidupku tanpa cintamu


Janganlah kau tinggalkan diriku


Takkan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu ku akan bisa


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku


Oh sayang engkau begitu


Sempurna, sempurna


Kau genggam tanganku


Saat diriku lemah dan terjatuh


Kau bisikan kata dan hapus semua sesalku


Janganlah tinggalkan diriku


Takkan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu ku akan bisa


Kau darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku


Sempurna, sempurna


*****


"Lagunya mewakilkan perasaanku sama kamu Sayang." Ujar Rezki sembari merogoh dompetnya untuk memberi tips kepada pengamen bersuara merdu itu.


"Sempurna aku suka banget lagu itu, Papah sering menyanyikannya buat Mamah bila mereka berduaan." Arshi tersenyum membayangkan kemesraan kedua orangtuanya.


"Emangnya Papah Hasan seromantis itu ya sama Mamah Khardha beda banget dengan Papa Riki sama Mama Rina. Mereka selalu menghindari hal-hal yang berbau romantis. Terutama Papa Riki, dia selalu menyibukkan diri dengan urusan bisnisnya dan berkutat di ruang kerjanya apabila ada waktu luang dirumah, sedangkan Mama Rina selalu menyibukkan dirinya dengan berkumpul bersama teman-teman arisan dan sosialitanya. Kamu sangat beruntung Sayang kedua orangtuamu selalu romantis, perhatian dan pengertian satu sama lain, Mamah Khardha juga lebih suka menemani Papah Hasan kemanapun dan dimanapun mereka berada, memasak untuk keluarganya, jadi ibu rumah tangga yang baik tanpa memikirkan kehidupan sosialitanya. Apa Mamah Khardha gak pandai bergaul? Apa dia gak punya teman-teman arisan atau sahabat yang bisa diajak untuk berkumpul?" Rezki mengerutkan keningnya menatap istrinya yang tersenyum mendengarkan ucapannya.


"Mamah Khardha itu orangnya sangat mudah bergaul, kalau dari cerita Nenek sama Kak Merlin. Mamah Khardha itu wanita yang paling gaul dikampungnya, hampir semua orang mengenalnya, tua muda, besar kecil pasti tau siapa dia. Kalau sekarang Mamah gak banyak teman itu karena dia memang menghindarinya supaya gak ngegosip, ngerumpi, ghibah apalagi fitnah. Mamah lebih suka sesuatu yang bermanfaat, misalnya mengaji, menulis cerita di NT, ataupun mencoba bereksperimen dengan kue-kue yang dilihatnya di tv ataupun di internet." Ujar Arshi dengan bangga menceritakan tentang mamahnya.


"Syukurlah kalau Mamah Khardha bisa jadi teladan buat kamu Sayang, semoga semua sifat baik beliau benar-benar bisa kamu tiru saat ini hingga tua nanti." Rezki menggenggam tangan istrinya sembari mengusapnya dengan lembut.


"Tapi semua orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, Mamah Khardha itu paling gak suka dibantah, semua kemauannya harus terpenuhi, bila dia menginginkan sesuatu semua orang harus berusaha mengabulkannya, dia sangat istiqomah dengan apapun yang dikatakannya, dia sangat teguh dengan pendiriannya. Tidak ada yang boleh membantahnya termasuk Papah sekalipun. Papah Hasan selalu berusaha menuruti apapun keinginan Mamah Khardha, kecuali itu menyalahi aturan agama baru Papah akan tegas sama Mamah." Arshi berkata dengan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depannya.


"Yaudah kita pulang kerumah yuk, udah kenyang juga kan?" Rezki menggandeng tangan istrinya menuju parkiran mobilnya setelah membayar semua yang mereka makan tadi.


Rezki segera membukakan pintu mobilnya lalu memasangkan seat belt untuk istrinya, dia juga bergegas duduk di kursi kemudinya. Rezki kemudian menghidupkan kunci kontaknya dan mengarahkan kendaraan roda empatnya itu menyusuri jalanan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Arshi dan Rezki dikejutkan dengan kedatangan Rina yang duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Assalamualaikum, Mama kapan datang?" Arshi menyalami tangan mertuanya itu begitu juga dengan Rezki.


"Waalaikumsalam, kalian darimana?" Rina menatap sinis ke arah Arshi.


"Kami habis makan di luar Ma." Jujur Arshi dengan menundukkan kepalanya.


"Enak ya makan di luar terus, gak tau apa mama kelaparan di rumah!" Bentak Rina dengan mendelik tajam kearah Arshi.

__ADS_1


"Mama mau makan apa, sini biar aku masakin." Tawar Arshi sembari beranjak dari duduknya.


"Aku ingin makan capcay plus hati, telur, ayam goreng dan nasi putih yang baru dimasak." Ujar Rina seraya tersenyum smirk.


"Baik Ma, tunggu ya aku masakin dulu." Arshi segera melangkahkan kakinya kedapur.


Dia mengeluarkan bahannya dari kulkas lalu mencuci dan memotong-motongnya, Rezki bergegas menyusul istrinya setelah mengganti bajunya.



"Biar aku aja yang masak Sayang, kamu pasti mabuk lagi mencium aroma bawang dan bahan mentah ini." Rezki mencuci tangan istrinya lalu mendudukkannya dikursi meja makan.


Arshi berlari menuju wastafel lalu memuntahkan seisi perutnya yang baru saja terisi dengan makanan di angkringan tadi. Rezki segera memijat tengkuknya untuk mengurangi rasa mualnya, dia lalu menggendongnya kekamar utamanya, lalu membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang king size nya karena Arshi langsung limbung setelah muntah tadi.


"Sudah aku bilang kamu gak bisa mencium bau dan aroma yang menyengat dari masakan, kenapa kamu menawarkan diri untuk memasak buat Mama Sayang? Apa kamu lupa bahwa kamu lagi Hamil?" Rezki menatap sendu kearah istrinya yang kembali terlihat sangat pucat.


"Aku gak mau mengecewakan Mama Yank, beliau kan baru datang ke rumah kita, jadi wajar aja kan aku mau memberikan yang terbaik untuknya." Arshi berusaha bangun kembali untuk meneruskan kegiatan memasaknya.


"Jangan memaksakan diri kamu Sayang, Mama aja gak pernah masak kedapur buat Papa sama aku, jadi biar aku aja yang masak buat Mama malam ini." Rezki menahan tubuh istrinya lalu menyelimutinya." Ingat jangan kemana-mana ya kamu perlu banyak istirahat, aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa." Rezki menekankan kata-katanya agar istrinya tidak beranjak dari ranjangnya.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Rezki kembali turun kedapur kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya. Rina yang mengetahui Rezki yang menggantikan Arshi memasak sangat murka dibuatnya, dia berjalan mengendap-endap menuju kamar anaknya. Arshi yang memejamkan matanya tidak menyadari kalau mama mertuanya menghampirinya. Rina mencekik leher Arshi dengan kuat lalu membekapnya dengan bantal, Arshi sangat terkejut dia berusaha menggapai apapun yang bisa dijangkaunya tapi tidak menemukan apa-apa.


"Sayang!" Panggil Rezki sembari membuka pintu kamarnya karena dia sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya.


Rina segera bersembunyi di dalam lemari pakaian anaknya sambil menahan nafasnya yang tersengal akibat emosinya sendiri. Rezki mendekati ranjang tempat istrinya terbaring. Dia membuka selimut dan bantal yang menutupi wajah istrinya, Rezki sangat terkejut menyaksikan wanita yang sangat dicintainya itu semakin pucat, dia merasakan denyut nadinya melemah dan ada bekas merah dilehernya. Tanpa pikir panjang lagi Rezki segera membawanya ke mobilnya lalu melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Sesampainya di rumah sakit dia langsung membawanya ke UGD, Arshi segera ditangani secara intensif oleh Rasya yang kebetulan bertugas di sana. Rezki sangat khawatir dengan keadaan istrinya, dia juga tidak berani mengabari mertuanya karena takut itu adalah ulah mamanya lagi. Rezki berjalan mondar mandir layaknya setrikaan rusak, Arsha yang kebetulan baru datang di sana mengerutkan keningnya.


"Ada apa lagi dengan Arshi?" Arsha mendekati Rezki dengan menaruh tangannya di saku jas Dokternya.


"Arshi pingsan lagi, denyut nadinya sangat lemah Sha, tolong kamu periksa dia didalam." Pinta Rezki sembari mendorong Arsha agar secepatnya masuk ke UGD.


Arsha segera masuk kedalam unit gawat darurat dia mencari keberadaan Arshi untuk memastikan kondisi saudara kembarnya itu.


"Gimana kondisi Arshi?" Tanya Arsha kepada Rasya yang menanganinya.


"Tadi dia sempat kritis, tapi sekarang sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat." Jawab Rasya setelah memasang ventilator dan infus ditangan Arshi.


Arsha menganggukkan kepalanya lalu keluar untuk mengabari Rezki tentang keadaan Arshi.


"Arshi sempat kritis, tapi sekarang kondisinya sudah mulai stabil, apa yang terjadi sebenarnya dengannya?" Arsha menatap tajam kearah Rezki karena tidak mungkin Arshi kenapa-napa kalau tidak ada penyebabnya itulah yang dipikirkan Arsha.


"Gue juga belum tau pasti, tadi ada nyokap gue datang sebelum kami pulang ke rumah. Setelah kami menyalaminya, dia meminta untuk dimasakkan makanan, Arshi menawarkan dirinya memasakkannya tapi ketika gue menyusulnya Arshi kembali memuntahkan seisi perutnya. Gue menggendongnya ke kamar lalu membaringkannya diranjang, setelah itu gue menyuruhnya untuk beristirahat. Gue kembali meneruskan untuk memasak di dapur sampai selesai namun entah kenapa ketika gue sedang asyik memasak feeling gue mengatakan Arshi gak dalam kondisi baik-baik aja, gue kembali kekamar dan mendapatinya sedang pingsan, gue bergegas membawanya ke rumah sakit ini, begitulah kejadian sebenarnya Sha. Apa menurut lo disini ada yang salah? Maksud gue ada yang janggal?" Rezki benar-benar bingung dengan apa yang terjadi dengan istrinya.


"Apa lo punya cctv di rumah?" Arsha menatap Rezki dengan kening berkerut sempurna.


"Ada kok Sha, nanti gue cek setelah semuanya beres, untuk sementara gue mau memastikan keadaan Arshi dulu." Rezki mengikuti brankar yang memindahkan istrinya keruang VVIP.


"Sebaiknya lo secepatnya kabari Papah sama Mamah biar gak disalahin." Arsha mengingatkan.


"Ok Sha, tanks ya." Ucap Rezki lalu menghubungi mertuanya.


Setelah menelpon mertuanya Rezki langsung duduk di kursi yang ada disamping bed pasien istrinya, dia menggenggam tangan wanita yang telah mengandung buah cintanya itu sembari mengelusi perutnya.


Sayang maafin aku yang telah lalai menjagamu, ya Allah berikanlah kekuatan kepadaku, istri dan anakku agar kami bisa menghadapi semua ujianMu ini." Batinnya sembari meneteskan airmatanya yang jatuh begitu saja disudut matanya.


"Rezki gimana keadaan Arshi nak?"


Bersambung....


Maaf ya teman-teman telat up lagi, semoga kalian gak pernah bosan menunggu cerita amatiran dariku ini.


Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya, biar ceritanya semakin berkembang dan gak membosankan.


Hargailah setiap karya orang lain melalui vote, like, komen, koin dan rate bintang lima nya ya.


Mari bertemu lagi diepisode selanjutnya, salam sayang selalu dari author receh.


Jangan lupa jaga kesehatan dan bahagialah dengan semua apapun yang diberikan kepada kita, syukuri apa yang ada, hidup itu adalah anugerah terindah yang harus kita jalani.

__ADS_1


__ADS_2