Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#11 "Menentang"


__ADS_3

Happy reading guys!


Hampir lima jam Rezki tidak sadarkan diri setelah dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP sesuai permintaan orangtuanya setelah dikabari oleh Rasya. Kedua orangtua Rezki masih diluar kota jadi tidak ada pihak keluarganya yang menungguinya. Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi setelah memastikan Arsha tertidur nyenyak dikamarnya, Arshi yang tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun diam-diam keluar dari rumah kedua keluarganya itu. Dia melangkahkan kakinya menuju lift untuk turun kebawah menuju kamar rawat inap Rezki. Dia membuka pintu masuk perlahan dengan hati-hati lalu duduk dikursi samping bed pasien yang ditempati Rezki. Dia sangat merasa bersalah atas peristiwa yang terjadi menimpa Rezki, dia menggenggam erat tangan laki-laki yang selalu memintanya untuk menjadi calon istrinya itu, kemudian mengusap kepalanya. Rezki terbangun ketika mendapatkan sentuhan lembut dari Arshi namun dia sengaja pura-pura belum sadarkan diri, dia begitu menikmati usapan wanita yang membuatnya sangat ingin menghalalkannya itu.


"Maafin aku Ki, aku belum bisa memastikan perasaanku ini sebenarnya gimana sama kamu. Jujur aku selalu merasa berdebar bila dekat dengan kamu, apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya perasaan takut karena berdekatan dengan lawan jenis aku juga gak tau pasti. Jika memang kita ditakdirkan untuk berjodoh suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi, diwaktu dan disaat yang tepat tentunya. Aku bukan gadis yang sempurna namun aku mau kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar tulus ingin menjadi imamku kelak. Cintailah aku karena Allah Ki, bukan karena nafsu semata. Berubahlah menjadi laki-laki yang bertanggungjawab dunia akhirat, hijrahlah aku akan menunggumu jika memang kamu jodohku." Lirihnya sembari memejamkan matanya yang mulai terasa sangat berat.


Karena sangat kelelahan Arshi tanpa sadar akhirnya tertidur sambil menelungkupkan wajahnya disamping ranjang pasien. Rezki membelai rambut Arshi dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata karena mendengar jelas apa yang diucapkan Arshi tadi.


Aku akan berusaha untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan Shi, tetaplah menungguku sampai Allah mempersatukan kita melalui ikatan pernikahan." Batinnya sembari mengusap kepala Arshi.


Allahuakbar... Allahuakbar. Kumandang azan menandakan waktu sholat subuh terdengar dari speaker mesjid yang ada dilingkungan rumah sakit itu. Arshi terbangun kemudian bergegas pergi menuju rumah keduanya untuk menunaikan sholat subuh dikamarnya. Jam sembilan pagi Arshi yang tertidur kembali seusai sholat dhuha masih dengan memakai mukenanya tiba-tiba merasa terganggu karena ada yang membelai wajahnya. Dia mengucek matanya lalu tersenyum menatap wanita yang tetap cantik diusianya yang tidak lagi muda itu.


"Mamah!" Seru Arshi langsung bangun dan menghambur kepelukkan Khardha.


"Kamu kecapean ya sayang sampai tidur dilantai masih dengan memakai mukena kayak gini?" Tanya Khardha sambil menciumi puncak kepala anaknya.


"Iya Mah, aku gak bisa tidur nyenyak tadi malam." Jawab Arshi dengan nada manja.


"Yaudah kamu mandi dulu gih, habis itu kita makan sama-sama, tadi mamah udah masak soto ayam buat kita semua." Ucap Khardha sembari melepaskan pelukannya." Papah sama Arsha udah nungguin dimeja makan sayang, jangan lama-lama mandinya ya!" Seru Khardha ketika Arshi sudah melangkah menuju kamar mandi.


"Ok Mah!" Arshi menyatukan ibujari dan telunjuknya.


Khardha segera keluar dari kamar Arshi, dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang dibuatnya.



Khardha sudah menyajikannya di atas meja, Arshi yang baru datang langsung duduk disebelah Arsha.


"Wahhh kayaknya enak banget nich." Arshi terlihat tidak sabar untuk menikmati soto banjar buatan mamahnya.


"Iya dong istri siapa dulu yang masak." Dokter Hasan menyahuti lalu mengecup pipi istrinya yang duduk disampingnya.


"Ishhh Papah inikan masakan Mamah kami juga." Arshi menyenggol lengan Arsha supaya mendukungnya.


Arsha hanya cuek saja lalu menyuap soto yang ada dihadapannya tanpa suara.


"Udah gak usah berdebat, ayo makan sotonya kalau lambat nanti keburu dingin gak enak lagi jadinya." Khardha berkata dengan nada lembut.


Setelah selesai makan dan membereskan semuanya. Khardha juga Arshi diperintahkan oleh Dokter Hasan untuk berkumpul di ruang keluarga.



Mereka semua sudah berkumpul dan duduk disofa dengan santai. Arshi disebelah Arsha sedangkan Dokter Hasan dan Khardh duduk diseberangnya.


"Arshi papah dapat laporan bahwa Rezki sekarang terluka akibat dipukuli oleh Wavi karena berusaha melecehkan kamu. Apakah itu benar?" Tanya Dokter Hasan dengan nada lembut sembari menatap tajam kearah anaknya.


Degg...jantung Arshi seakan berhenti berdetak, dia sangat takut bila papahnya sudah menatapnya seperti itu.


"Iya Pah tapi itu hanya karena salah paham." Jawab Arshi dengan menundukkan kepalanya.


"Maksud lo apa?" Arsha ikut bertanya.


"Gue kepeleset jadi gak sengaja menimpa tubuh Rezki, karena gue takut Rezki bakal macam-macam jadi gue teriak minta tolong." Arshi berkata dengan suara bergetar karena takut.


"Beneran seperti itu kejadiannya? Kok gue gak yakin sama jawaban lo Shi, sebab lo itu gak bakat jadi pembohong." Arsha mendelik tajam kearah saudaranya itu."


Gue sama Papah akan menyelidikinya melalui kamera cctv yang ada di ruangan itu." Arsha menekankan kata-katanya.

__ADS_1


"Sha gue mohon jangan memperpanjang masalah ini, apalagi sampai membawanya ke jalur hukum." Pinta Arshi dengan menggenggam tangan Arsha.


"Emangnya kenapa? Apa lo suka sama dia?" Arsha memicingkan matanya berusaha menginterogasinya.


"Bukannya gitu Sha gue cuma gak mau berurusan lagi dengannya." Arshi memberikan alasannya agar Arsha tidak menngungkit lagi kejadian yang sangat memalukan baginya itu.


"Lo yakin gak mau berurusan lagi sama dia?" Arsha berusaha memastikannya dengan menatap lekat manik mata saudaranya itu.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu memeluk Arsha dengan erat untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Ok, kalau begitu jangan pernah temui dia sendiri lagi kecuali ada yang menemanimu." Pinta Arsha dengan menekankan kata-katanya sembari mengusap punggung Arshi untuk menenangkannya.


Setelah melepaskan pelukannya Arshi dan Arsha berpamitan kepada kedua orangtuanya, untuk menjalankan tugasnya masing-masing sebagai seorang Dokter.


"Mah, Pah kami pergi dulu, assalamualaikum." Ucap mereka setelah mencium tangan kedua orangtuanya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan dan Khardha bersamaan.


"Sayang menurut kamu kenapa Arshi bersikap kayak gitu?" Tanya Dokter Hasan setelah anak-anaknya menghilang di balik pintu sambil merangkul pinggang istrinya.


"Mungkin Arshi jatuh cinta sama Rezki cuma dia gak nyadar aja." Jawab Khardha sembari memegang remot tv untuk menonton acara favoritnya.


"Apa kamu juga setuju jika Rezki jadi menantu kita?" Dokter Hasan memutar kepala istrinya agar menghadap kearahnya.


"Kalau mereka memang berjodoh kenapa enggak." Khardha kembali fokus dengan tontonannya.


"Apa istimewanya Rezki menurut kamu?" Dokter Hasan kembali mengganggu konsentrasi istrinya.


"Dia anak yang baik cuma gak bisa menahan diri aja." Khardha tetap menjawab walaupun matanya fokus ke drama korea yang ditontonnya.


"Berarti pesona Arshi persis kayak kamu dulu waktu masih muda, banyak laki-laki yang ngejar-ngejar kamu sampai mereka menghalalkan segala cara buat dapetin kamu." Dokter Hasan menciumi puncak kepala istrinya dengan tangannya yang tidak bisa dikondisikan.


"Apa kamu mau ikut jenguk tuh anak?" Dokter Hasan beranjak dari duduknya lalu meraih tangan istrinya.


"Nanti dulu filmnya belum habis lagi." Khardha menarik tangan suaminya agar duduk kembali.


"Kamu tadi udah sholat dhuha Sayang?" Dokter Hasan berbaring di paha istrinya seraya menatapnya penuh cinta.


"Udah tadi sebelum masak." Khardha membelai rambut suaminya.


"Yaudah aku tidur sebentar ya sambil nungguin kamu selesai nonton." Dokter Hasan akhirnya memejamkan matanya karena belaian istrinya membuatnya merasa sangat nyaman untuk menyapa alam mimpinya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Sementara itu dikamar rawat Rezki disana sudah ada mama dan papanya yang berusaha membujuknya untuk memakan makanannya, namun Rezki tidak mau makan sama sekali. Dia merengek kepada orangtuanya hanya mau makan jika Arshi yang menyuapinya.


"Papa sama Mama harus panggilkan Dokter Arshi dulu baru aku mau makan." Pintanya dengan nada manja.


"Siapa itu Dokter Arshi?" Mamanya mengerutkan keningnya menatap Rezki yang bertingkah seperti anak kecil.


"Apakah dia Dokter yang merawat kamu?" Papanya juga ikut penasaran.


"Bukan tapi dia calon istriku." Jawab Rezki seraya tersenyum penuh arti.


"Calon istri!" Seru Riki dan Rina serempak.


"Sejak kapan kamu punya calon istri gak langsung dikenalin sama mama papa?" Rina menatap tajam anaknya dengan melipat kedua tangannya di atas dada.

__ADS_1


Sedangkan Riki memicingkan matanya sembari menunggu jawaban anaknya.


"Dia belum menerima lamaranku Ma, Pa." Jawab Rezki dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum hingga menampakkan barisan giginya.


"Ishhh itu namanya belum pasti." Rina memajukan bibirnya sambil menepuk lengan anaknya.


"Yang mana sich orangnya papa jadi penasaran?" Riki menaikturunkan kedua alisnya untuk menggoda anak laki-laki nya itu.


"Makanya Papa sama Mama panggilin dia dulu suruh datang kesini biar tau orangnya." Rizki kembali merengek.


"Kamu pasti punya nomer handphonenya kenapa gak kamu telpon aja langsung." Riki menyarankan.


"Dari tadi udah aku coba telpon dia tapi gak diangkat, di chat juga gak dibales." Rezki menghela nafasnya dengan kasar.


Tiba-tiba Rasya, Wavi, Wava, Arsha dan Arshi datang untuk menjenguk kondisi Rezki.


"Assalamualaikum." Ucap mereka bersamaan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Rezki, Rina dan Riki serempak.


"Gimana kondisi lo sekarang udah mendingan?" Tanya Wavi dengan nada sinisnya.


Rezki tidak menghiraukannya karena fokusnya hanya tertuju pada Arshi yang berdiri disamping Wava sambil menggenggam tangannya. Rina dan Riki mengerutkan keningnya lalu mengikuti arah pandangan anaknya.


"Apakah kamu yang namanya Dokter Arshi?" Rina berdiri sembari menatap kearah Arshi.


"Iya Tante." Jawab Arshi dengan membungkukkan sedikit badannya.


Wajahnya sangat mirip dengan Khardha, apa memang dia anaknya Khardha?"Batin Riki seraya memperhatikan Arshi dari atas kebawah.


"Siapa nama ibu kamu?" Rina kembali bertanya.


"Khardha Tante." Arshi menjawabnya dengan sangat sopan.


"Ohh jadi benar kamu anaknya Khardha!" Ketus Rina dengan berjalan mengelilingi Arshi sambil melipat kedua tangannya diatas dada.


Arshi semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan Wava. Dia sangat risih dengan apa yang dilakukan Rina kepadanya. Setelah itu Rina kembali menghampiri Rezki duduk bersandar di kepala ranjang.


"Mama gak akan pernah setuju kamu berhubungan apalagi sampai menikah sama dia." Bisik Rina ditelinga Rezki.


"Tapi kenapa Ma? Apa alasannya?" Rezki benar-benar bingung dengan sikap mamanya yang baru pertama kali bertemu Arshi sudah seperti itu.


"Karena ibunya adalah orang yang selalu membuat papa kamu gak bisa menerima mama seutuhnya." Jawab Rina dengan geramnya.


"Maksud Mama apa? Aku benar-benar gak ngerti?" Rezki mengerutkan keningnya dengan sempurna mendengar jawaban mamanya.


"Sudahlah pokoknya kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan gadis itu, bila kamu benar-benar sayang sama mama." Rina menekankan kata-katanya.


Bersambung....


Gimana ya hubungan Rezki dan Arshi selanjutnya?


Kenapa Rina sangat membenci Khardha?


Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka semua?


pantengin terus ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin dan rate bintang limanya ya.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya.


__ADS_2