Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#90 "Problematika kehidupan part3


__ADS_3

Happy reading guys!


Keesokan harinya setelah menunaikan sholat subuh berjamaah di mesjid yang ada di area rumah sakit Dokter Hasan mengajak Arsha dan Rezki untuk berolahraga mengelilingi sekitar taman yang ada di sana.


"Arsha, Rezki ikut papah jogging yuk!" Ujarnya sambil merangkul bahu anak dan menantunya itu.


"Ok Pah." Sahut Arsha dan Rezki serempak.


Setelah puas berolahraga mereka bertiga duduk beristirahat di kursi panjang yang ada di taman tersebut sambil bercengkrama, kebetulan pagi itu suasana disana tampak lengang hingga mereka bisa berbicara dengan serius tapi santai.


"Rezki papah minta maaf sebelum dan sesudahnya bila ada kata-kata yang menyinggung perasaan kamu." Dokter Hasan memulai pembicaraan.


Rezki menolehkan kepalanya ke arah mertuanya yang duduk disampingnya.


"Memangnya Papah mau bicara apa?" Tanya Rezki mengungkapkan rasa penasarannya yang terpendam sejak kemarin malam.


"Papah dan Arsha kemarin minta izin kepada Dokter Gunawan untuk memeriksa rekaman cctv yang ada di sekitar kolam renang, tempat acara resepsi pernikahan Wavi dan Lida berlangsung. Kami menemukan fakta bahwa ada orang yang sengaja mendorong Arshi ke kolam renang, dan orang itu adalah..." Dokter Hasan sengaja menjeda kalimatnya untuk mengetahui bagaimana respon dari menantunya itu.


"Siapa orang itu Pah? Apakah dia orang yang selama ini kita kenal?" Cecar Rezki sambil mengepalkan tangannya karena berusaha meredam emosinya.


"Dia adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkan kamu ke dunia ini." Jelas Dokter Hasan dengan mengatakan yang sejujurnya.


"Mama." Sebut Rezki dengan lirihnya.


"Oleh karena itu kita harus selalu waspada kepadanya." Dokter Hasan kembali mengingatkan sambil mengusap punggung menantunya itu.


"Iya Pah." Sahut Rezki sembari beranjak dari duduknya.


Kenapa Mama selalu berusaha mencelakai istriku? Apa yang harus kulakukan untuk menyadarkanmu Ma? Haruskah aku meninggalkan Arshi supaya Mama berhenti melakukannya? Rezki bertanya dalam hatinya."Jujur aku gak sanggup Ma!" Batinnya sambil menatap kosong ke depannya.


"Ikuti Rezki Sha, jangan sampai dia kenapa-napa." Perintah Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.


"Baik Pah." Arsha menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah iparnya itu.


Rezki terus berjalan sampai keluar dari area rumah sakit, pikirannya melayang entah kemana, dia merasa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk mamanya sendiri. Pandangan matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong, Rezki terus melangkahkan kakinya menyebrang jalan raya yang banyak dilalui kendaraan bermotor, hingga tanpa sadar ada sebuah mobil melaju kencang seperti sengaja ingin menabraknya dari kejauhan.


"Rezki awas!" Teriak Arsha yang melihatnya dari belakang.


Dia berlari kencang lalu mendorong tubuh iparnya itu hingga terjerembab ke depan.


Brukkk... Rezki terjatuh membentur trotoar jalan, sedangkan Arsha sendiri langsung tidak sadarkan diri karena tertabrak mobil tersebut.


"Arshaaaaa!" Teriak Rezki ketika melihat kondisi iparnya yang bersimbah darah.


Dia bergegas membawanya ke rumah sakit bersama para warga sekitar yang menolongnya.


-


Sementara itu di dalam rumah keluarga Setiawan tepatnya di dapurnya. Wava tengah sibuk membantu mertuanya memasak menu sarapan pagi, tiba-tiba tangannya yang sedang mengiris bawang merah ikut teriris pisau yang dipegangnya.


Awww.... Pekiknya karena darah mulai menetes dari lukanya.


"Kamu kenapa Va? Kayak gak fokus gitu?" Tanya Khardha sembari menatap wajah cantik menantunya itu.


"Aku kepikiran Arsha sama Rezki Mah, kenapa mereka berdua belum pulang ya? Padahal Papah udah pulang dari tadi." Jawab Wava sembari menatap sendu kearah mertuanya.


"Mamah juga bingung kenapa Papah biarin mereka berdua pergi gitu aja? Kalau terjadi apa-apa gimana?" Gerutu Khardha sambil menempelkan plester luka di jari Wava.


Tiba-tiba Dokter Hasan menghampiri keduanya lalu memberitahukan kondisi Arsha.


"Arsha ditabrak mobil! Papah baru saja menerima telepon dari petugas medis yang menanganinya di UGD." Ujarnya dengan nafas memburu.


Pranggg...gelas kaca yang baru saja dipegangi Wava meminum teh hangat langsung jatuh ditangannya.

__ADS_1


"Wava!" Seru Dokter Hasan dan Khardha secara bersamaan.


Tangis Wava seketika pecah mendengarnya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Hingga terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang sudah semakin membesar.


-


Arshi terkejut mendengar suara ribut-ribut diluar kamarnya yang pintunya memang sedikit terbuka, dia seharusnya tidak boleh beranjak dari tempat tidurnya karena Dokter Murni menyuruhnya untuk bed rest. Namun karena feeling-nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan saudara kembarnya perlahan-lahan dia menapakkan kakinya keluar menuju sumber suara.


"Kamu kenapa Va?" Tanyanya sambil berjongkok di depan sahabat sekaligus iparnya itu.


"Arsha kecelakaan Shi." Jawab Wava dengan menghambur ke pelukan Arshi.


Arshi mengusap punggung Wava untuk memberikan kekuatan kepadanya, padahal dirinya sendiri juga tidak bisa membendung air matanya yang menetes dari sudut matanya. Khardha merangkul bahu anak dan menantunya itu setelah membersihkan beling bekas pecahan gelas tadi.


"Kalian bertiga tetap disini dulu ya, Papah mau liat kondisi Arsha dulu. Nanti kalau ada perkembangan selanjutnya papah akan segera kabari kalian semua. Assalamualaikum." Pamit Dokter Hasan lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah kediamannya itu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Lirih Khardha mewakili anak menantunya.


-


Di depan pintu ruangan unit gawat darurat Rezki duduk di kursi yang ada di samping pintunya, dia tampak menundukkan kepalanya karena sangat merasa bersalah atas kecelakaan yang dialami iparnya itu.


"Rezki." Panggil Dokter Hasan sambil menepuk pundaknya.


Rezki mendongakkan wajahnya menatap ke arah mertuanya itu lalu berkata.


"Maafin aku Pah, Arsha ditabrak mobil karena menyelamatkan aku." Ucapnya dengan lirihnya.


"Sudahlah Ki, semuanya telah terjadi." Dokter Hasan berkata dengan nada datarnya." Lebih baik sekarang kamu keatas temani Arshi, Wava dan Mamah, sekalian bersihkan dirimu." Perintahnya karena melihat pakaian menantunya itu ada noda darah yang menempel di bajunya.


"Baik Pah." Rezki menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya.


Dia melangkahkan kakinya dengan gontai menuju lantai paling atas menggunakan lift. Sesampainya di depan pintu masuk rumah mertuanya Rezki memencet bel pintu.


Ting tong...Bel berbunyi Khardha langsung membukakan pintunya dari dalam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha sembari menatap wajah kusut menantunya itu." Gimana keadaan Arsha?" Tanyanya sambil berjalan mengikuti langkah Rezki.


"Dia masih ditangani dengan intensif di UGD. Papah memintaku untuk menemani Mamah, Arshi dan Wava." Jujurnya menjelaskan.


Khardha menganggukkan kepalanya lalu berkata.


"Arshi ada di kamar Wava dan Arsha." Ujarnya memberitahukan.


"Apaaa!" Rezki sangat terkejut mendengarnya." Seharusnya dia tetap bed rest Mah." Ujarnya dengan mempercepat langkahnya menuju kamar iparnya itu.


Tok...tok... Rezki mengetuk pintunya walaupun sudah terbuka.


"Assalamualaikum." Ucapnya sambil berjalan menghampiri Wava dan istrinya yang duduk di tepi ranjang.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Arshi mewakili Wava yang masih sesenggukan.


"Gimana keadaan Arsha Yank? Dia gak kenapa-napa kan?" Cecar Arshi sembari menatap sendu kearah suaminya.


"Dia masih di UGD. Papah yang menyuruhku untuk menemani kalian semua." Jawabnya dengan nada lembut." Kamu seharusnya gak boleh beranjak dari tempat tidur Sayang, aku gak mau kamu sama baby twins kenapa-napa." Ujarnya sembari menatap wajah cantik istrinya yang masih tampak pucat.


"Aku gak kenapa-napa Yank, aku mau nemenin Wava dulu ya." Pintanya dengan nada memohon.


"Kamu harus bed rest Sayang." Rezki berusaha mengingatkan.


Wava langsung berhenti menangis dia menatap ke arah Rezki dan Arshi secara bergantian yang berdebat didepannya karena sahabat sekaligus iparnya itu ingin menemaninya. Dia baru sadar ternyata sedari tadi Arshi tampak menahan sakitnya dengan terus memegangi perutnya.


"Pergilah ke kamarmu Shi, aku mau istirahat." Pintanya dengan nada lembut." Gendong Arshi Ki, jangan sampai kandungannya kenapa-napa." Perintahnya dengan menekankan kata-katanya.

__ADS_1


Rezki langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar pribadi mereka. Didepan pintu pasangan suami istri itu bertemu dengan mamahnya yang hendak menemui mereka.


"Mah tolong temenin Wava ya." Pinta Arshi dengan lirihnya.


"Iya sayang." Khardha menganggukkan kepalanya.


Dia sangat terkejut ketika melihat ada darah mengalir di kaki anak perempuannya itu.


Ya Allah lindungilah dan selamatkanlah anak-anak ku dan kami semua dari segala marabahaya." Doanya dalam hati.


"Rezki! Arshi pendarahan lagi!" Serunya sambil menunjuk ke kaki anaknya.


"Sayang kita harus ke UGD sekarang!" Ujarnya sembari menatap istrinya yang ada dalam gendongannya.


"Gak usah Yank." Tolak Arshi dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan dengarkan dia Ki! Cepat bawa Arshi ke UGD!" Tegas Khardha dengan menekankan kata-katanya.


"Baik Mah." Rezki menganggukkan kepalanya.


Dia bergegas membawa istrinya keluar dari sana menuju unit gawat darurat yang ada di ujung koridor rumah sakit di lantai satu.


-


Dirumah mewah milik keluarga Riki Pratama, dia tengah sibuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menjebloskan Rina Sari Gunawan mantan istrinya ke penjara, karena kejahatannya tidak bisa di tolerir lagi menurutnya. Diantara berkas-berkas yang terkumpul Riki menemukan foto anak kecil nan cantik bersama anak semata wayangnya yang dulu ditolongnya ketika jatuh dari tangga taman belakang rumah keluarga Wicaksono, saat Wava dan Wavi merayakan ulang tahunnya yang ke 5.


Kalau kuperhatikan dengan seksama foto gadis kecil ini mirip banget sama menantuku, kalau memang benar berarti mereka berdua sudah pernah bertemu sejak kecil dan berjodoh ketika dewasa. Kamu sangat beruntung nak, semoga rumah tangga kalian selalu bahagia, pernikahan kalian selalu samawa hingga hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua." Batinnya seraya tersenyum penuh arti sembari menatap foto yang di peganginya.


Dia membandingkan foto jadul itu dengan foto Rezki dan Arshi sekarang.



-


Setelah dioperasi Arsha dipindahkan ke ruang VVIP dengan berbalut perban dibagian kepala, tangan dan kakinya.


"Gimana keadaan Arsha sekarang Pah?" Tanya Khardha mewakili Wava yang tampak sangat sedih melihat kondisi suaminya sambil duduk di kursi yang ada di samping bed pasien.


"Dia sudah melewati masa kritisnya Mah, doakan saja semoga dia cepat sembuh seperti sedia kala." Jawab Dokter Hasan sembari menatap wajah istrinya." Arshi sendiri gimana?" Ujarnya balik bertanya.


"Aku belum tau Pah." Jujur Khardha sembari menatap wajah suaminya." Nanti kita jenguk sama-sama ya." Pintanya dengan nada sangat lembut.


"Iya Sayang." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu merangkul pinggang istrinya.


-


Ditempat lain mobil yang sudah menabrak Arsha tadi telah terparkir di halaman rumah mewah milik keluarga Danuarta. Seorang wanita cantik nan seksi hasil operasi plastik dimana-mana keluar dari kendaraan roda empat limited edition miliknya tersebut.


Dia berjalan dengan angkuhnya sambil membusungkan dadanya, melewati para pengawal dan pelayan yang ada di rumah itu.


Sialan padahal sedikit lagi aku bisa menghabisi nyawa orang yang telah berani menolakku terus-terusan itu, tapi kenapa malah orang lain yang kutabrak!" Gerutunya pada dirinya sendiri sambil membanting pintu kamarnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Bersambung...


Siapakah orang itu sebenarnya?


Bagaimana keadaan Arsha dan Arshi setelah ini?


Tunggu aja episode selanjutnya ya teman-teman!


Jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang selalu membangun, koin seikhlasnya, rate bintang lima, dan jadikan favorit kalian selalu ya!

__ADS_1


Salam sayang selalu dariku Khardha Love.


See you next time!


__ADS_2