Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#72 "Berita Duka"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sekitar dua jam lamanya Dokter Hasan dan Khardha memutus untuk langsung ke rumah orangtuanya, karena malam sudah semakin larut ditambah lagi kondisi mereka berdua yang sudah kelelahan dan mengantuk. Tidak memungkinkan juga untuk mereka langsung ke rumah sakit menjenguk anaknya, sebab jam besuk juga sudah lama berakhir takut mengganggu pasien yang sedang beristirahat.


Sesampainya di halaman rumah mertuanya Dokter Hasan memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya kemudian memapahnya ke dalam rumah karena kondisi Khardha yang lemah dan masih dalam masa pemulihan setelah sakit( drop akibat syok mendengar kabar ibunya yang kritis).


Tok...tok...tok... Dokter Hasan mengetuk pintu dari luar.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya sembari menunggu jawaban dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Aisya dari dalam rumah karena dia masing sibuk menonton televisi dengan acara sinetron kejar tayang favoritnya.


Ceklek...Aisya membuka kunci pintunya.


"Om Dokter, Tante Khardha!" Serunya dengan wajah berbinar sangat bahagia.


Aisya langsung meraih tangan Khardha dan Dokter Hasan secara bergantian lalu mencium punggung tangannya.


"Nenek sudah tidur ya?" Tanya Khardha kepada adiknya Merlin tersebut.


"Iya Tante, baru aja." Jawab Aisya lalu kembali duduk di depan televisi.


"Yaudah Tante sama Om mau bersih-bersih dulu, tolong bikinin teh hangat ya." Pinta Khardha sebelum membuka pintu kamarnya.


"Baik Tante." Aisya menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya menuju dapur.


Setelah berada di dalam kamarnya, Khardha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang sudah lama ditinggalkannya tersebut.



"Kamarmu masih sama seperti dulu Sayang, selalu terasa nyaman dibalik kesederhanaan, persis kayak orangnya." Dokter Hasan memeluk istrinya dari belakang dengan meletakkan kepalanya di bahunya.


"Sayang kenapa ya perasaanku saat ini gak enak banget?" Khardha membalikkan badannya untuk menatap wajah suaminya yang masih terlihat tampan diusianya yang tidak lagi muda.


"Maksud kamu apa Sayang?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya.


"Feeling ku mengatakan bakal ada kejadian yang akan mengejutkan semua orang." Ujar Khardha mengungkapkan isi hatinya.


"Kejadian mengejutkan!" Dokter Hasan mengangkat satu alisnya.


Feeling istriku biasanya gak pernah salah, semoga itu bukan hal yang buruk." Batinnya sembari menatap lekat wajah istrinya.


"Sudahlah Sayang kita bersih-bersih dulu yuk!" Ajaknya untuk mengalihkan pembicaraan.


Khardha menganggukkan kepalanya lalu menyiapkan pakaian ganti untuknya dan suaminya.


-


Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah sakit daerah Rantau kabupaten Tapin.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Arshi baru saja terbangun dari tidurnya, dia mengerjabkan matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Aku ada di rumah sakit daerah mana ini? Ruangannya sangat berbeda dengan milik keluargaku." Batinnya lalu memiringkan kepalanya karena merasakan hembusan angin hangat diceruk lehernya, ternyata itu adalah nafas dari seorang laki-laki yang sangat dikenalnya, sebab memang tidak ada orang lain yang berani melakukan hal seperti itu kecuali Rezki Aditya Pratama suaminya sendiri.


Arshi berusaha mengendus aroma maskulin dari tubuh suaminya namun hidungnya tidak bisa mencium bau apa-apa.


Apa yang terjadi dengan indera penciuman ku? Kenapa aku gak bisa mencium aroma tubuhmu Yank?" Arshi meneteskan air matanya hingga jatuh mengenai wajah suaminya.


Rezki tersentak kaget dan langsung membuka matanya ketika merasakan ada air hangat yang mengenai pipinya, dia menatap wajah cantik istrinya yang hanya berjarak beberapa centi darinya.


"Kamu kenapa nangis Sayang?" Rezki mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya penuh kelembutan.


"Hidungku gak bisa mencium apapun Yank." Jawab Arshi sambil terisak dengan tubuh bergetar hebat.


"Jangan bersedih Sayang, aku akan selalu mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin mencarikan Dokter spesialis THT terbaik untuk membantu menyembuhkan hidungmu." Rezki merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.


"Makasih Yank." Arshi menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Sama-sama Sayang." Rezki menciumi puncak kepala istrinya.


Radi dan Dira ikut terbangun mendengar tangisan Arshi, mereka berdua menyaksikan betapa mesranya pasangan suami istri yang sudah lumayan lama menikah itu.


Gue benar-benar iri liat kalian berdua." Batin Radi sembari menatap sendu kearah pasangan suami istri tersebut.


Semoga nanti aku juga punya suami yang sangat mencintaiku seperti Bos Rezki." Doa Dira dalam hatinya sambil membayangkan indahnya berumah tangga.


Radi dan Dira tanpa sadar saling menggenggam tangan satu sama lain, bahkan Radi meremas tangan Dira cukup kuat karena tenaganya yang tidak bisa dikendalikannya hingga membuat wanita yang belum sah jadi kasih halalnya itu meringis dibuatnya.


Awww... Pekik Dira dengan mendelik tajam ke arah Radi.


"Maaf aku gak sengaja." Radi menangkupkan kedua tangannya diatas dada.

__ADS_1


"Lain kali jangan diulangi lagi!" Kesal Dira dengan melipat kedua tangannya.


"Lo berdua ngapain? Kenapa Dira sampai teriak?" Rezki turun dari ranjang pasien istrinya lalu menatap ke arah Radi dan Dira secara bergantian karena merasa terganggu.


"Gue gak sengaja meremas tangan Dira dengan kuat karena liat Lo berdua yang sering bermesraan didepan mata gue." Jujur Radi sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Kirain habis ngelakuin hal yang iya-iya." Rezki kembali naik ke atas ranjang pasien istrinya mengabaikan Dira yang terpaku ditempatnya mendengar perkataan Radi dan dirinya.


"Kok iya-iya sich Yank? Itu sama aja kamu mendukung kemaksiatan!" Arshi menatap tajam ke arah suaminya untuk mengingatkannya.


"Maksudku yang gak-gak Sayang." Rezki membelai wajah istrinya lalu mengecup bibirnya." Tidurlah kembali Papah sama Mamah udah ada di rumah Nenek, besok kita kesana ya." Bujuk Rezki sembari mendekap tubuh istrinya.


"Kamu tau darimana Papah sama Mamah sudah ada di rumah Nenek?" Arshi mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan suaminya yang selalu membuatnya terhipnotis oleh pesonanya.


"Barusan tadi aku dapat chat dari Papah." Jawab Rezki sembari mengecup kening istrinya.


"Ohh." Arshi membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


-


Di rumah kedua orangtuanya yang berada di lantai paling atas rumah sakit keluarga Setiawan. Arsha baru saja selesai menunaikan shalat tahajjud, pikiran tidak tenang walaupun sudah berdoa untuk semua orang yang sangat dicintainya. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Arshi, Mamahnya dan Neneknya. Wava terbangun ketika meraba tempat tidur disampingnya karena tidak ada sosok suaminya yang selalu mendekapnya ketika tidur, ternyata Arsha sedang berdiri di atas balkon kamarnya sambil memandangi suasana malam menjelang pagi, dengan hawa dingin yang menembus pori-porinya namun tidak dihiraukannya.


"Bee kamu kenapa berdiri di sini?" Tanya Wava sambil berjalan menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang.


"Aku kepikiran kondisi Arshi, Mamah dan Nenek Honey." Jujur Arsha sembari mengusap tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya.


"Memangnya Arshi kenapa Bee?" Tanya Wava karena dia tadi tertidur pulas ketika mertuanya berangkat.


"Hidung Arshi cidera karena ada orang yang menabraknya dari belakang ketika singgah di mesjid sewaktu hendak menunaikan sholat Maghrib dan isya tadi malam, sekarang dia di opname di rumah sakit daerah Rantau kabupaten Tapin, kebetulan rumah sakit itu dekat dengan rumah Nenek." Jawab Arsha menjelaskan kepada istrinya.


"Kasian Arshi baru juga bangun dari koma, cidera dibahu dan kakinya juga belum sembuh total, sekarang malah hidungnya yang ikut cidera. Bee feeling ku mengatakan bahwa ada orang yang menjadi dalang dibalik semua kejadian yang menimpa Arshi, pasti orang itu sengaja mencelakainya." Ujar Wava sambil menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


"Mungkin juga sich, sebab selama ini Tante Rina dan para wanita pengagum Rezki sangat membenci keberadaan Arshi sebagai istrinya Rezki." Timpal Arsha yang berpikiran sama dengan istrinya.


"Semoga Arshi dan Rezki selalu samawa ya Bee, supaya mereka berdua selalu bisa menghadapi ujian dan cobaan dalam kehidupan rumah tangganya." Doa Wava dengan tulusnya.


"Aamiin ya rabbal alamiin." Arsha mengaminkan doa istrinya." Yuk kita masuk ke dalam disini dingin, nanti kamu masuk angin." Ajak Arsha dengan membalikkan badannya lalu merangkul pinggang istrinya.


-


Keesokan harinya setelah menunaikan sholat subuh berjamaah tiba-tiba Aisya menangis tersedu-sedu, menyaksikan Amey ibunya yang selama ini terlihat baik-baik saja terbujur kaku dengan wajah tersenyum diatas tempat tidurnya. Khardha segera menghampirinya ketika mendengar suara tangis keponakannya itu, dia masuk ke dalam kamar kakaknya lalu merengkuh tubuh keponakannya.


Dia bergegas keluar dari rumah untuk mengabari suaminya yang ikut sholat subuh berjamaah di musholla dekat rumah orang tuanya, ketika Khardha melangkahkan kakinya menuju musholla yang berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah orang tuanya itu, dia justru bertemu suaminya yang berjalan kearahnya. Dokter Hasan sangat terkejut melihat istrinya keluar rumah dengan tergesa-gesa, padahal kondisinya masih belum pulih sepenuhnya.


"Assalamualaikum." Ucapnya sembari menghampiri istrinya." Kamu mau kemana Sayang?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap wajah istrinya sambil memegangi bahunya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha lalu meraih tangan suaminya kemudian mencium punggung tangannya." Aku mau ngasih tau kamu supaya cepat pulang untuk memastikan kondisi Kak Amey Sayang." Khardha langsung menarik tangan suaminya.


Dokter Hasan segera mengikuti langkah istrinya dengan cepat lalu masuk ke dalam rumah mertuanya.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya sebelum masuk ke dalam kamar Amey.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Bu Hana sembari menatap sendu kearah pasangan suami istri itu.


"Bu kami minta maaf karena gak bangunin ibu tadi malam ketika kami datang." Ucap Khardha mewakili suaminya lalu mencium punggung tangan ibunya.


Dokter Hasan melakukan hal yang sama seperti istrinya lalu beranjak mengambil kunci mobilnya di dalam kamar mereka, lalu berbalik arah menuju mobilnya untuk mengambil tas perlengkapan medis yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Khardha memeluk tubuh ringkih ibunya lalu menciumi seluruh wajah orang tua yang telah melahirkannya ke dunia ini, tanpa melepaskan pelukannya dia memapah tubuh ibunya ke dalam kamar kakaknya lalu mendudukkannya di sampingnya. Setelah mengambil peralatan medisnya Dokter Hasan langsung memeriksa kondisi kakak iparnya itu dengan seksama untuk memastikan keadaannya.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un." Lirihnya sembari menatap ke arah keponakan, mertua dan istrinya secara bergantian.


"Mamaaaaa!" Aisya semakin histeris mendengar ucapan dari Dokter Hasan.


Khardha langsung merengkuh tubuh keponakannya ke dalam pelukannya, tubuhnya bergetar menahan tangisnya sendiri supaya tidak ikut pecah di depan jenazah almarhumah kakaknya.


"Ikhlaskan kepergian Ibumu Nak, doakan semoga ibumu Khusnul khatimah, diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya oleh Allah subhanna wata'ala. Kita semua yang hidup ini pasti akan mati cuma menunggu gilirannya saja lagi." Nasehat Khardha kepada keponakannya itu untuk menenangkannya.


Aku tau kamu hanya berusaha tegar Sayang, padahal hatimu juga sangat rapuh menghadapi kenyataan ini, karena kamu sangat dekat dengan kakakmu ini. Kamu pernah cerita kepadaku bahwa Kak Amey lah yang mengurusimu sewaktu masih balita." Batin Dokter Hasan sembari mendekati istrinya lalu mengusap punggungnya.


Sedangkan Bu Hana terpaku ditempatnya, air matanya mengalir deras di pelupuk matanya. Dia tidak pernah menyangka anak sulungnya yang selama ini merawatnya justru mendahuluinya pergi untuk selamanya.


"Aku akan memberitahu rukun kematian di musholla dulu ya." Pamit Dokter Hasan sembari beranjak dari duduknya.


Khardha menganggukkan kepalanya, lalu beranjak mengambil sarung panjang didalam lemari untuk menutupi seluruh tubuh kakaknya setelah memastikan Aisya mulai tenang dan tidak histeris lagi.


"Aisya tolong kabari Merlin dan keluarga kita yang lain ya Nak." Pinta Khardha sambil mengusap punggung keponakannya itu.


"Baik Tante." Sahut Aisya sambil sesenggukan.


Khardha beranjak dari sana lalu keluar menuju dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman yang akan disuguhkan kepada para pelayat nantinya.


Setelah selesai memberitahukan berita duka kepada rukun kematian yang ada di musholla Dokter Hasan segera menghubungi anak-anaknya.

__ADS_1


-


Arshi baru saja keluar dari kamar mandi dibantu oleh suaminya tiba-tiba handphone Rezki bergetar di saku celananya. Dia langsung menggeser tombol hijau di layar handphonenya ketika melihat nomor kontak mertuanya lalu mengaktifkan load speaker nya supaya istrinya bisa ikut mendengarkan percakapannya dengan papahnya.


📲"Assalamualaikum Pah."Sapa Rezki dari balik teleponnya.


📱"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan sambil berjalan kembali ke rumah mertuanya." Tolong sampaikan pada Arshi Papah sama Mamah gak bisa menjenguknya ke rumah sakit, Uwak nya meninggal dunia kehadiran kami disini sangat diperlukan, kalau bisa kalian secepatnya kesini."


"Baik Pah kami akan segera ke sana!" Sahut Arshi mewakili suaminya.


"Ya udah papah tutup telponnya ya, assalamualaikum." Dokter Hasan mengakhiri panggilan suaranya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Rezki dan Arshi bersamaan.


-


"Kita sholat subuh berjamaah dulu ya Sayang baru habis itu aku urus kepulanganmu." Ujar Rezki sembari memberikan mukena istrinya yang diambilkannya tadi didalam koper yang ada dalam mobilnya.


"Ok." Singkat Arshi sembari menganggukkan kepalanya."


Sekalian nanti belikan aromaterapi ya, kepalaku pusing banget Yank, hidungku rasanya dua kali lebih besar dari biasanya." Keluh Arshi sembari memegangi kepala dan hidungnya.


"Iya Sayang, kamu sholatnya sambil berbaring aja ya, takutnya nanti hidungmu berdarah lagi." Pinta Rezki sembari menatap wajah istrinya yang memang tampak lain dari biasanya.


Kenapa wajahmu bengkak Sayang? Apa karena dia habis nangis tadi malam? Atau efek samping dari hidungnya yang cidera?" Rezki bertanya-tanya dalam hatinya." Semoga kamu cepat sembuh dan kembali seperti sedia kala Sayang." Doanya sambil menatap wajah istrinya.


Rezki dan Arshi segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, setelah selesai sholat, berzikir dan berdoa mereka berdua bersalaman seperti biasanya lalu membereskan semua administrasi rumah sakit. Radi dan Dira sudah standby didalam mobil, mereka berdua menunggu pasangan suami istri itu di area parkiran rumah sakit.


"Kalian darimana aja? Kenapa nungguin kami disini?" Tanya Rezki setelah masuk ke dalam mobil bersama istrinya.


"Kami habis cari sarapan sekalian beli kue kering buat di rumah Nenek nanti." Jawab Radi sembari memutar kemudinya ke arah jalan raya menuju ke kampung halaman mertuanya Rezki sesuai alamat yang ditunjukkan Arshi kepadanya.


-


Sementara itu di rumah sakit Setiawan. Arsha yang baru saja menerima kabar duka kematian Uwaknya langsung berinisiatif untuk pulang ke kampung halaman Neneknya, setelah menitipkan rumah sakit kepada Dokter Wahyu mertuanya dan Wavi iparnya.


"Insha Allah kami berdua akan kembali secepatnya ke rumah sakit ini, setelah prosesi pemakaman Uwak selesai." Ujar Arsha saat berpamitan kepada mertuanya dan iparnya itu.


"Hati-hati ya." Wavi mengingatkan.


"Semoga kalian berdua selamat dijalan, sampai ke tujuan dan pulang kembali kesini." Dokter Wahyu mendoakan anak menantunya itu.


Arsha menganggukkan kepalanya lalu melajukan mobilnya yang baru diambilnya dari rumah Rezki menuju ke kampung halaman Neneknya.


-


Hendrik Choi dan keluarganya juga baru saja menerima kabar duka kematian Amey kakak sepupunya yang memang sangat dekat dengannya sewaktu kecil. Mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke kampung halamannya untuk melayat ke sana.


-


Bripka Gusti Hamidi kakaknya Khardha juga langsung meluncur menuju ke kampung halamannya setelah menerima kabar duka kematian kakak sulungnya tersebut. Dia berangkat bersama keluarga besar istrinya dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa meminta izin terlebih dulu kepada atasannya.


"Papah gak izin dulu sama komandan?" Tanya istrinya saat mereka sudah ada di jalan.


"Nanti aja kalau sudah sampai di kampung, komandan pasti ngerti kok." Jawabnya dengan wajah datarnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


🌿 Ceritanya ini sebenarnya terinspirasi dari fakta yang ada di kehidupan author sendiri 8 tahun yang lalu tepatnya, saat aku baru mengantar kakakku pulkam. Baru semalam aku kembali ke rumah sudah ada kabar duka tentang kematiannya, aku benar-benar blank saat itu hingga hampir kecelakaan.


🌿Ceritanya ku tulis dalam versi yang berbeda supaya menarik untuk di baca.


🌿Aku menulis ini dengan deraian air mata yang tidak bisa dibendung lagi karena semuanya terasa sangat nyata.


🌿 Selamat jalan kakakku tercinta semoga Allah subhanna wata'ala mengampuni semua dosa-dosa mu, menerima segala amal ibadahmu, menerangi dan melapangkan kuburmu.


🌿Aku menyukai karya ku sendiri karena aku menulisnya dari hati bukan sekedar kehaluan dan fiksi.


🌿Mohon maaf jika ada yang tersinggung atau kurang berkenan.


🌿 Semoga kita selalu disatukan dalam cinta dan persahabatan yang tercipta dalam setiap jejak yang kalian tinggalkan.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Bersambung...


Jangan lupa vote, like, komen, koin, rate bintang


lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.


-

__ADS_1


__ADS_2