
Happy reading guys!
Hujan deras yang mengguyur seluruh kota Banjarmasin membuat suasana menjadi semakin dingin, volume air kembali naik entah sampai kapan banjir akan berakhir. Para pengungsi yang tidur berdempetan diatas tikar dengan selimut tipisnya hanya bisa pasrah dengan keadaan yang mereka alami saat ini.
Berbeda dengan pasangan halal yang memadu kasih di atas ranjang queen size milik Dokter spesialis anak yang sekarang sedang proses membuat anak bersama kekasih halalnya.
"Yank aku kebelet." Lirih Arshi disela desahan nafasnya yang memburu karena tekanan yang dilakukan suaminya.
"Nanti aja ya Sayang, nanggung!" Rezki mempercepat ritme permainannya tanpa jeda sedikitpun.
Namun tiba-tiba handphone Arshi berdering terus-menerus sehingga mengalihkan fokus pasangan suami istri itu. Arshi hendak menjangkau handphonenya yang diletakkan di atas nakas samping ranjangnya, namun Rezki menautkan kedua tangannya dengan wanita yang sangat dicintainya itu supaya tidak menghiraukan panggilan suara itu. Dia menggelengkan kepalanya sambil terus melakukan aktivitasnya hingga akhirnya keduanya merasakan pelepasan bersama. Rezki segera melepaskan tautan tangannya lalu menggulingkan badannya kesamping istrinya, kemudian mengambilkan handphone milik kekasih halalnya itu.
"Siapa sich yang nelpon?" Gerutunya sembari ikut menatap layar handphone istrinya dengan tatapan tajamnya karena merasa terganggu.
"Arsha!" Seru mereka berdua bersamaan lalu saling menatap satu sama lain.
"Telpon balik aja Sayang siapa tau penting." Ujar Rezki sembari merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu memejamkan matanya.
Arshi menganggukkan kepalanya sambil memiringkan tubuhnya menghadap suaminya, lalu melakukan panggilan suaranya sembari menyangga kepalanya dengan satu tangannya.
Tut...Tut...Tut... Panggilan suara tersambung.
📱"Assalamualaikum." Sapa Arshi dari balik teleponnya.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Arsha sambil berjalan keluar dari ruang ICU.
📱"Ada apa Sha? Kenapa Lo nelpon gue jam segini?" Tanya Arshi sembari menatap layar handphonenya yang menunjukkan pukul tiga pagi.
📲" Mbok Tutik meninggal dunia jam 02:30 tadi." Jawab Arsha tanpa basa-basi.
"Apa!" Arshi terlonjak kaget hingga handphonenya jatuh
mengenai wajah suaminya.
Tanpa sadar dia menepis tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya dengan kasar.
"Kenapa Sayang? Apa yang terjadi?" Cecar Rezki karena sangat terkejut dibuatnya.
Dia baru saja hendak menyelami alam mimpinya, namun tiba-tiba di kejutkan oleh istrinya yang menjatuhkan handphonenya tepat mengenai wajah tampannya dan refleks melepaskan pelukannya.
"Mbok Tutik meninggal Yank, aku mau kesana sekarang!" Pekik Arshi sambil terisak hingga nafasnya terasa sesak sebab indera penciumannya belum normal seperti biasanya.
"Tenangkan dirimu dulu Sayang, aku gak mau kamu seperti ini." Rezki ikut duduk lalu menghapus air mata istrinya kemudian mengecup kedua matanya.
Setelah istrinya mulai tenang
Rezki turun dari ranjang menuju dispenser untuk mengambilkan air hangat, lalu menyodorkannya kemulut kekasih halalnya itu. Dia sengaja melakukan hal itu untuk membantunya meringankan rasa sesak didada istrinya, Arshi menerimanya lalu meminumnya hingga tandas tidak bersisa.
"Yank." Arshi menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya sambil berderai air mata.
"Semuanya sudah takdir Allah subhanna wata'ala Sayang, jadi kita hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga Mbok Tutik meninggal dalam keadaan Khusnul khatimah, diampuni dosanya, diterima semua amal ibadahnya." Ujar Rezki sembari menciumi puncak kepala istrinya.
Arshi terus saja menangis dalam pelukan suaminya hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan baik lahir maupun batin. Rezki mendekap erat tubuh istrinya sambil duduk bersandar di headboard tempat tidur akhirnya dia juga ikut terlelap dalam posisi seperti itu sampai sang fajar mulai menyingsing dibalik gelapnya awan hitam.
Baru dua jam pasangan suami istri itu terlena dalam tidurnya, tiba-tiba kumandang adzan subuh terdengar sayup-sayup dari speaker mesjid yang ada di dalam lingkungan rumah sakit keluarga Setiawan tersebut.
Arshi mengerjabkan matanya lalu perlahan melepaskan pelukan suaminya, dia merasakan perutnya tiba-tiba bergolak seperti hendak keluar saat itu juga. Dia berlari menuju kamar mandi untuk menghilangkan rasa mualnya dengan memuntahkannya diwastafel.
Hoek...Hoek...Arshi mengeluarkan apa yang sudah masuk ke dalam perutnya tadi malam hingga lidahnya terasa sangat pahit.
Rezki langsung terbangun ketika mendengar suara istrinya yang muntah-muntah di kamar mandi. Dia segera menyusulnya lalu menghampirinya kemudian memijit tengkuknya dengan lembut.
"Kamu kenapa Sayang? Masuk angin? Atau hamil lagi?" Rezki menatap pantulan wajah istrinya dibalik cermin.
"Aku gak tau Yank, mungkin cuma masuk angin." Arshi menatap pantulan wajah tampan suaminya yang berdiri di belakangnya.
"Coba di testpack aja ya Sayang." Ujar Rezki menyarankan.
Arshi menganggukkan kepalanya, Rezki segera mengambilkan testpack yang sudah di belinya dalam jumlah yang tidak sedikit jauh-jauh hari, sebagai persiapan untuk mengetahui lebih awal tanda-tanda kehamilan istrinya.
Dia sengaja menyimpannya didalam setiap nakas yang ada di kamar pribadi mereka berdua, supaya bisa langsung menggunakannya tanpa harus ke apotek lagi.
"Gimana hasilnya Sayang?" Tanya Rezki dengan tidak sabarnya.
Sebab dia sangat excited menantikan kehamilan istrinya kembali karena sudah hampir dua bulan Arshi tidak mengalami menstruasi.
"Masih samar Yank." Arshi menyerahkan testpack ke tangan suaminya yang menunggunya di depannya.
"Maksudnya apa ini Sayang aku gak ngerti?" Rezki mengerutkan keningnya menatap testpack yang diserahkan istrinya kepadanya.
"Itu artinya hasilnya belum akurat." Jawab Arshi lalu menyalakan shower untuk membersihkan dirinya.
"Ohh." Rezki membulatkan mulutnya hingga membentuk huruf O.
Dia segera membuang hasil testpack tersebut ke tempat sampah, lalu ikut bergabung dengan istrinya yang mandi di bawah shower dengan tubuh polosnya. Arshi begitu cuek dengan kehadiran suaminya yang terus-menerus meneguk salivanya karena tergoda dengan gerak-gerik yang dilakukannya ketika menggosok sabun cair keseluruh tubuhnya dan memakai shamponya.
"Karena hasilnya belum akurat kita coba lagi ya Sayang." Bisik Rezki dengan nada serak menahan sesuatu yang berdiri dibawah sana.
Dia kembali melancarkan aksinya untuk melakukan penyatuan dengan kekasih halalnya itu, sambil menyentuh setiap bagian area sensitif istrinya.
"Yank kita belum sholat subuh, aku juga harus secepatnya melihat kondisi jenazah Mbok Tutik sebelum di kafani." Tolak Arshi dengan nada lembut supaya suaminya tidak tersinggung.
"Sebentar aja Sayang, aku udah gak tahan liat kamu kayak gini." Bujuk Rezki dengan tangan yang tidak bisa dikondisikan.
Arshi akhirnya tidak bisa lagi menolak kemauan suaminya yang mempunyai libido sangat tinggi itu, apalagi Rezki sangat ahli dalam membangkitkan gairahnya.
Catatan:🌿Sebagai seorang istri bukan hanya takut dosa, tapi kita juga harus bisa memberikan servis yang memuaskan dan terbaik lahir maupun batin kepada suami kita.
🌿Supaya dia bisa menjaga pandangannya, pendengarannya dan tidak tergoda dengan wanita lain diluaran sana yang tidak halal untuknya.
🌿Yang penting laki-lakinya tidak Kuman(kurang iman).
Playboy, Badboy dan Fuckboy.
-
Setelah selesai dengan mandi plus-plus nya pasangan suami istri itu menunaikan sholat subuh berjamaah, lalu bergegas menuju kamar mayat untuk melihat jenazah bi Tutik.
__ADS_1
"Mamah sama Papah sudah dikabari Sha?" Tanya Rezki ketika melihat iparnya itu berada di depan pintu kamar jenazah sambil memainkan handphonenya.
"Sudah, mereka masih dijalan." Jawab Arsha sambil menunggu para petugas yang akan memandikan jenazah bi Tutik.
"Wava mana Sha?" Tanya Arshi setelah melihat jenazah bi Tutik.
"Dia lagi gak enak badan." Jawab Arsha lalu duduk di kursi yang ada di depan pintu kamar jenazah tersebut." Lo sendiri masih sakit kan Shi?" Arsha menatap wajah saudara perempuannya itu.
Wajah cantik Arshi tampak pucat dengan mata merah dan bengkak sehabis menangisi kepergian bi Tutik yang sudah di anggapnya seperti neneknya sendiri itu.
"Gue udah gak papa kok Sha." Arshi mendudukkan dirinya di samping saudara kembarnya itu.
"Semoga kamu beneran gak papa Sayang." Rezki mengusap kepala istrinya yang tertutup oleh hijab berwarna hitam.
-
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09:30. Jenazah almarhumah bi Tutik sudah dimandikan dan dikafani, tinggal menunggu kedatangan Dokter Hasan dan Khardha yang masih berada dalam perjalanan. Arsha kembali menghubungi orang tuanya untuk memastikan mereka sudah ada di mana sekarang ini.
Tut...Tut...Tut... Panggilan suara tersambung.
📱"Assalamualaikum Mah, kalian sudah sampai di mana?" Tanya Arsha dari balik teleponnya.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami masih jauh Sha, karena harus putar balik ke arah lain gara-gara jalanan yang runtuh akibat banjir yang masih dalam. Lebih baik sholatkan dan kuburkan saja Bi Tutik di TPU yang tidak terendam banjir secepatnya, karena gak baik mengulur waktu lagi kalau harus menunggu kedatangan kami berdua." Ujar Khardha atas perintah suaminya.
📱"Yaudah kalau begitu, Mamah sama Papah hati-hati di jalan ya. Assalamualaikum." Arsha memutuskan panggilan suaranya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha yang masih terjebak macet bersama suaminya yang menyetir mobil disampingnya, hingga tiga kilometer jauhnya.
-
Setelah itu Arsha langsung melaksanakan tugas yang diberikan oleh orang tuanya untuk menyelesaikan proses pemakaman bi Tutik. Arshi yang ikut ke TPU tampak semakin larut dalam kesedihannya ketika melihat jenazah bi Tutik dimasukkan ke dalam liang lahat. Rezki terus merangkul istrinya itu untuk menguatkannya, supaya tidak terjadi apa-apa kepadanya.
Setelah prosesi pemakaman selesai semua orang pulang kembali ke rumahnya masing-masing, tidak terkecuali Arshi dan Rezki yang menaiki mobilnya sendiri.
"Sayang kita belum makan apa-apa sejak tadi pagi, kita cari makan dulu ya." Ujar Rezki sembari menyetir mobilnya.
Arshi menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya, butiran bening kembali mengalir deras di pipinya. Rezki yang melihatnya merasa ikut terbawa suasana, dia menepikan mobilnya lalu menghapus air mata wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku gak mau kamu terlalu larut dalam kesedihan Sayang, ku mohon jangan menangis lagi." Pinta Rezki dengan nada sangat lembut.
Arshi menghambur ke dalam pelukan suaminya sambil terus menangis mencurahkan perasaannya yang masih belum bisa merelakan kepergian bi Tutik, wanita renta yang sudah dianggapnya sebagai nenek kandungnya itu.
-
Sementara itu di tempat lain tampak Dira yang juga menangis terus-menerus, karena belum menemukan kedua orang tua dan adiknya. Untunglah Radi selalu setia menemaninya dan mengerahkan seluruh tenaga dan anak buahnya untuk ikut mencari keberadaan calon mertua dan adik iparnya itu.
"Dira makan dulu ya, aaa!" Radi mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut wanita pujaan hatinya itu.
Dira menggelengkan kepalanya karena pikirannya hanya tertuju kepada kedua orang tua dan adiknya.
Radi menghela nafasnya dengan berat karena tidak bisa membujuk calon istrinya itu.
-
Di rumah sakit keluarga Setiawan Khardha dan Dokter Hasan baru saja sampai di sana. Pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu langsung naik menggunakan lift khusus menuju ke lantai paling atas rumah mereka. Sesampainya di dalam rumah mereka berdua sangat terkejut mendengar suara orang menangis didalam kamar Arsha.
Tok...tok...tok..." Khardha mengetuk pintu kamar anak laki-lakinya itu.
"Kamu kenapa Sayang?" Khardha bertanya kepada menantunya itu.
"Aku telat dua bulan Mah, tapi saat ku testpack ternyata hasilnya masih samar." Wava menyodorkan testpack nya yang terlihat samar.
Khardha menatap wajah cantik menantunya lalu menuntunnya duduk di sofa yang ada di kamar anaknya itu.
"Kenapa kamu gak periksa ke Dokter spesialis kandungan aja langsung Va? Biar bisa memastikan kamu hamil apa enggak." Ujar Khardha menasehatinya.
"Benar juga kata Mamah, makasih ya Mah." Wava memeluk erat tubuh mertuanya dari samping lalu mencium pipinya.
"Iya sama-sama Sayang." Khardha mengulas senyumnya.
-
Rezki dan Arshi baru saja sampai di parkiran rumah sakit mereka berdua turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam lift khusus menuju ke lantai paling atas rumah orangtuanya.
Ting...tong...bel pintu berbunyi. Khardha segera beranjak dari duduknya dari kamar anaknya lalu membukakan pintunya.
"Mamah." Arshi langsung menghambur ke pelukan mamahnya.
"Heyy kamu kenapa Sayang? Bukannya mengucap salam malah nangis kayak gini? Sudahlah ikhlaskan kepergian bi Tutik, lagipula kita semua pasti akan mati cuma menunggu gilirannya saja lagi." Ujar Khardha sambil mengusap punggung anaknya itu.
"Kamu gak malu sama suamimu? Bukannya dia yang seharusnya kamu peluk?" Goda Dokter Hasan kepada anak perempuannya itu untuk mengalihkan pembicaraan istrinya yang selalu membahas tentang kematian.
"Ishh Papah, dia udah sering aku peluk. Aku sekarang mau pelukan sama Mamah, aku belum makan apa-apa sejak tadi pagi Mah, aku kangen sama masakan Mamah. Kita masak bareng yuk!" Ajak Arshi sambil bergelayut manja di lengan mamahnya.
"Assalamualaikum Mah, Pah." Ucap Rezki lalu mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan mewakili istrinya.
"Arshi kamu lagi ngidam ya?" Khardha mengerutkan keningnya menatap anak perempuannya itu.
"Kok Mamah bisa bilang gitu?" Bukannya menjawab Arshi justru balik bertanya.
"Habisnya kamu gak biasanya manja banget sama Mamah." Ujar Khardha sambil mengacak-acak rambut anaknya.
"Emangnya aku gak boleh lagi ya manja sama Mamah?" Arshi menekuk wajahnya.
"Bukannya gak boleh Sayang tapi seharusnya kamu malu sama suamimu, apalagi kalau orang lain yang liat." Ujar Khardha seraya tersenyum menatap wajah cantik anaknya yang masih terlihat sembab.
"Aku cuma mau bermanja sama Mamah hari ini, hiks... hiks..."Arshi tiba-tiba menangis lagi.
Khardha benar-benar bingung dibuatnya, dia berusaha membujuk anak perempuannya itu namun Arshi justru menangis semakin kencang seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
Dokter Hasan, Rezki, Wava dan Arsha yang baru datang ikutan bingung melihatnya.
🌿 Baik-Baik Sayang 🌿 By Wali
Aku tak ingin
__ADS_1
Kau menangis bersedih
Sudahi air mata darimu
Yang aku ingin
Arti hadir diriku
Kan menghapus dukamu
Sayang
Karna bagiku
Kau kehormatanku
Dengarkan
Dengarkan aku
Hanya satu pintaku
Untukmu dan hidupmu
Baik-baik sayang
Ada aku untukmu
Hanya satu pintaku
Di siang dan malammu
Baik-baik sayang
Karna aku untukmu
Semua keinginan akan aku lakukan
Sekuat semampuku sayang
Karna bagiku kau kehormatanku
Dengarkan
Dengarkan aku
Hanya satu pintaku
Untukmu dan hidupmu
Baik-baik sayang
Ada aku untukmu
Hanya satu pintaku
Di siang dan malammu
Baik-baik sayang
Karna aku untukmu...
Hanya satu pintaku
Untukmu dan hidupmu
Baik-baik sayang
Ada aku untukmu
Hanya satu pintaku
Di siang dan malammu
Baik-baik sayang
Karna aku untukmu
Hanya satu pintaku
Untukmu dan hidupmu
Baik-baik sayang
Ada aku untukmu
Hanya satu pintaku
Di siang dan malam mu
Baik-baik sayang
Karna aku untukmu
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Arshi?
Kenapa dia bertingkah seperti itu ya?
Mau tau kelanjutannya?
Tunggu saja episode selanjutnya!
Bersambung...
Hai teman-teman semuanya jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote, like, komen, koin, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.
__ADS_1
See you next time!