Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati" episode#35 "Survival"


__ADS_3

Happy reading guys!


Sebelum melaksanakan sholatnya Rezki dan Arshi yang baru datang dari belakang rumah sehabis berwudhu di pancuran, memberanikan diri meminjam sarung dan mukena kepada nenek juga kakek yang sedang ada didapur mengupas dan memotong singkong dan ubi jalar.


"Kek, Nek bisakah kami pinjam sarung sama mukenanya buat sholat?" Arshi dan Rezki menghampiri pasangan suami istri yang sudah renta itu.


"Semuanya sudah aku siapkan di atas dipan yang tadi kalian duduki." Jawab Nenek tanpa menoleh sedikitpun karena sedang asyik mengupas kulit singkong.


"Selesai sholat kita makan sama-sama ya." Ujar Kakek seraya tersenyum ramah.


Arshi dan Rezki menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi untuk menunaikan kewajibannya kepada yang maha kuasa. Seperti biasa seusai sholat berjamaah Arshi mencium tangan suaminya lalu Rezki mencium kening istrinya.


"Yank aku liat kulit kamu kok banyak banget lukanya, pasti perih ya?" Arshi mengusap tangan suaminya yang tidak mulus lagi.


"Aku gak papa Sayang, yang penting kamu gak terluka kayak aku." Rezki meraih tangan istrinya lalu menciumnya penuh cinta.


"Yank apa kamu kayak gini karena melindungi aku?" Arshi menatap lekat manik mata suaminya.


Rezki menganggukkan kepalanya lalu mengulas senyum menawannya sehingga membuat Arshi semakin merasa bersalah dibuatnya.


"Ini gak seberapa Sayang, mati pun aku rela untukmu." Rezki memeluk erat tubuh istrinya.


"Jangan ngomong gitu Yank, aku gak mau kamu kenapa-napa." Arshi terisak dalam pelukan suaminya karena hatinya semakin pilu mendengarnya.


"Aku juga gak mau kamu kenapa-napa Sayang, kamu adalah belahan jiwaku. Hidupku hampa tanpamu, baru sembilan jam hari ini aku kehilanganmu duniaku seakan berhenti berputar, tetaplah di sisiku walau apapun yang terjadi diantara kita." Rezki semakin mengeratkan pelukannya.


"Seandainya kita gak bisa pulang secepatnya dari sini apa yang harus kita lakukan Yank?" Arshi mendongakkan kepalanya supaya bisa menatap wajah tampan suaminya dengan mata sembabnya.


"Aku belum tau Sayang, kita jalani aja ya." Rezki menciumi puncak kepala istrinya.


"Tempat ini terasa asing banget Yank, aku takut gak bisa menyesuaikan diri selama disini." Arshi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Jangan takut Sayang, asal kita selalu bersama aku yakin kita bisa melewati semuanya. Yaudah yuk kita makan dulu, Nenek sama Kakek pemilik rumah ini pasti nungguin kita." Rezki membantu istrinya berdiri setelah merapikan jasnya yang dipakai istrinya.


Pasangan suami istri itu melangkahkan kakinya menuju meja makan kecil yang terbuat dari bambu. Disana Kakek dan Nenek sudah tampak menikmati singkong juga ubi jalar rebusnya.


"Mari silahkan nikmati sajian makan malam ala kadarnya ini, maaf hanya ini yang bisa kami suguhkan." Kakek mempersilahkan Arshi dan Rezki seraya tersenyum ramah.


"Baik Kek, terimakasih banyak atas semuanya." Ucap Arshi dan Rezki lalu duduk dilantai sambil lesehan.


Mereka berdua berusaha menikmati singkong dan ubi jalar itu dengan saling menatap satu sama lain karena belum pernah makan seperti itu sebelumnya. Arshi dan Rezki menggigit kecil singkong yang diambilnya diatas piring yang juga terbuat dari anyaman bambu itu lalu mengunyah perlahan sembari minum air putih untuk melancarkan tenggorokan mereka yang seret karena susah menelannya.


"Siapa nama kalian? Kenapa kalian sampai kecelakaan? Apa yang terjadi sebenarnya? Sebab daerah sini jarang sekali dilewati orang." Cecar Kakek sembari menatap Rezki dan Arshi bergantian.


"Nama saya Rezki dan ini istri saya namanya Arshi. Ban mobil kami tiba-tiba pecah lalu terguling dan jatuh kedasar jurang, untunglah kami bisa menyelamatkan diri. Kami juga tidak sengaja melewati jalan ini karena ada orang yang berniat jahat untuk memisahkan kami." Jawab Rezki berusaha menjelaskan kejadian yang menimpa mereka, tanpa harus mengatakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi.


"Ohh jadi begitu ceritanya." Kakek dan Nenek manggut-manggut mengerti apa yang dikatakan Rezki walaupun menurut mereka itu terasa janggal.


"Kek, Nek apakah disini ada angkutan umum? Kami mau pulang ke kota besok." Arshi menatap Kakek dan Nenek secara bergantian.


"Kalau tidak salah dikampung sebelah gunung ini ada angkutan yang biasa mengangkut hasil pertanian dan perkebunan warga disana." Jawab Kakek sembari memilin jenggotnya yang sudah memutih itu.


"Apakah jauh dari sini?" Arshi dan Rezki mengerutkan keningnya.


"Lumayan setengah hari perjalanan, itupun harus melewati hutan dan sungai yang cukup dalam juga berarus deras." Nenek menimpali.


Arshi dan Rezki saling pandang sembari meneguk salivanya dengan susah payah, mereka membayangkan berjalan kaki menyusuri perjalanan yang sangat jauh dan penuh tantangan itu, walaupun waktu kuliah pernah mengikuti kegiatan pencinta alam.

__ADS_1


"Aku dulu waktu kuliah pernah ikut jadi pencinta alam Sayang, tapi kamu sendiri gimana? Apalagi sekarang kita masih terluka?" Rezki menatap istrinya dengan sendu.


"Inshaallah gak papa Yank, kita bisa sekalian cari tanaman untuk dijadikan obat supaya bisa mengobati luka-luka kita, aku pernah melakukannya ketika kuliah dulu." Arshi berusaha meyakinkan suaminya bahwa dia bukan wanita yang manja.


🌿🌿🌿🌿🌿


Sementara itu di rumah sakit Setiawan. Sesampainya di sana Arsha langsung menceritakan semuanya tentang hilangnya Arshi kepada kedua orangtuanya. Khardha sangat syok mendengarnya karena teringat kejadian yang pernah menimpanya ketika masih muda sewaktu Hendrik menculiknya.


"Sayang apa yang harus kita lakukan? Aku gak mau Arshi kenapa-napa. Rezki juga sampai sekarang belum ada mengabari kita." Khardha terisak dalam pelukan suaminya.


"Kita coba hubungi Riki dulu, siapa tau Rezki sudah mengabari papanya." Ujar Dokter Hasan berusaha menenangkan istrinya.


Dia lalu melonggarkan pelukannya kemudian mengambil handphonenya yang diletakkan di atas meja.


Tut...tut....tut....sambungan telepon terhubung.


πŸ“²"Assalamualaikum Riki." Sapa Dokter Hasan.


πŸ“±" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Tumben kamu nelpon? Memangnya ada apa?" Riki mengerutkan keningnya sembari menyeruput kopi nya.


"Apa Rezki ada mengabari kamu tentang Arshi?" Tanya Dokter Hasan memastikan.


"Gak ada kabar apapun dari Rezki tentang Arshi. Memangnya ada apa?" Riki semakin penasaran.


"Arshi diculik, sampai sekarang Rezki juga belum ada kabarnya." Jelas Dokter Hasan.


"Apaaaa!" Kaget Riki langsung beranjak dari duduknya.


"Kalau begitu aku akan melacak keberadaan Arshi lewat gelangnya, disana aku sudah memasang chip untuk berjaga-jaga kejadian seperti ini terjadi." Dokter Hasan baru ingat dengan gelang yang selalu di pakai anaknya.


"Aku juga akan melacak Rezki lewat jam tangannya, karena handphonenya sedari tadi dihubungi selalu gak aktif." Ujar Riki berusaha tenang.


"Ok, aku pasti akan mengabarimu dan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita." Riki menekankan kata-katanya.


"Ya sudah kalau begitu, assalamualaikum." Dokter Hasan mengakhiri panggilan suaranya.


Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Riki lalu masuk ke ruang kerjanya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Keesokan harinya setelah menunaikan sholat subuh berjamaah, wajah Rezki terlihat sangat pucat dia kembali berbaring di atas dipan sambil meringkuk seperti bayi karena bukan hanya hawa dingin pegunungan yang menusuk tulang yang membuatnya seperti itu tapi juga karena menahan sakit di seluruh tubuhnya. Arshi sangat terkejut melihatnya karena biasanya Rezki selalu tampak kuat dihadapannya.


"Yank kamu kenapa?" Arshi menyentuh kening dan leher suaminya." Kamu demam Yank, aku ambil kompresan dulu ya." Arshi bergegas kedapur untuk minta air hangat dan handuk kecil kepada Nenek.


Setelah kembali Arshi langsung mengompres kepala Rezki lalu membuka bajunya, dia semakin terkejut melihat luka di sekujur badan suaminya itu nampak membiru semuanya. Arshi kembali meneteskan airmatanya menyaksikan kondisi suaminya.


Yank, aku juga ikut sakit melihatmu kayak gini, semoga kita cepat bisa kembali kerumah." Batinnya sembari membersih luka-luka suaminya.


Ya Allah berikan pertolonganmu kepada kami agar bisa keluar secepatnya dari sini." Doa Arshi dalam hatinya.


"Kalian tidak jadi ke kampung sebelah?" Nenek memperhatikan Arshi yang bolak balik mengganti air untuk mengompres dan membersihkan luka suaminya.


"Jadi Nek, tapi setelah suamiku sembuh dari sakitnya." Jawab Arshi yang juga menahan sakit dibadannya.


"Aku perhatikan kamu juga sakit? Coba sini biar aku periksa." Nenek berjalan mendekati Arshi.


"Tidak usah Nek, aku baik-baik saja." Tolak Arshi dengan halus.

__ADS_1


"Aku akan mencarikan tanaman untuk dijadikan obat buat kalian berdua." Nenek melangkah pergi meninggalkan Arshi.


"Terimakasih Nek, bolehkah aku ikut?"Arshi berjalan tertatih menghampiri sang Nenek.


"Tentu, tapi bagaimana dengan suamimu, sepertinya dia tidak bisa kamu tinggalkan." Nenek itu tersenyum ketika mengingat Rezki yang selalu memeluk istrinya disetiap kesempatan.


"Aku akan minta izin dulu kepadanya." Arshi kembali menemui suaminya." Yank aku pergi sebentar ya untuk mencari tanaman buat meracik obat ." Pamit Arshi sembari mengecup kening suaminya.


"Jangan pergi Sayang aku gak mau kehilangan kamu lagi." Lirih Rezki dengan bibir bergetar menahan sakit sembari memegangi tangan istrinya.


"Aku cuma mau mencari tanaman untuk dijadiin obat Yank, supaya kamu dan aku cepat sembuh." Arshi membelai rambut suaminya dengan penuh cinta." Gak usah khawatir ya, aku hanya pergi sebentar." Ujarnya lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati ya Sayang, jangan lama-lama." Rezki melepas kepergian istrinya dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.


Arshi dan Nenek akhirnya pergi ke hutan untuk mencari tanaman yang akan diraciknya menjadi obat, sekalian memetik buah-buahan dan umbi-umbian yang bisa dimakan untuk makan siang dan malam mereka berempat.


"Apakah begini caranya setiap hari Nenek dan Kakek bertahan hidup?" Tanya Arshi ketika mereka beristirahat di tepi hutan sambil memakan buah dari tanaman liar yang didapatnya.


"Iya."Singkat Nenek.


"Maaf apa kalian gak punya anak?" Tanyanya lagi karena sangat penasaran sejak pertama kali bertemu tadi malam.


"Sebenarnya kami punya anak dulu ketika tinggal dikota Denpasar, namun dia diculik orang saat kami berlibur di pantai, waktu itu umurnya baru dua tahun. Kami terus mencarinya hingga menghabiskan semua uang dan harta benda yang kami miliki untuk membayar para detektif, sampai sekarang kami terus berdoa semoga suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengannya." Jawab


Nenek menceritakan masalalu nya.


Dia menghapus air matanya yang mengalir deras dipipinya sambil bercerita. Arshi ikut terharu mendengarnya hingga butiran bening itu ikut jatuh disudut matanya.


"Maafkan aku karena sudah mengungkit masalalu Nenek, semoga Allah mengabulkan doa Nenek dan Kakek untuk bertemu lagi dengan anak kalian, dimanapun dia berada aku yakin dia juga merindukan kalian berdua." Ucap Arshi berusaha menguatkan.


"Ya sudah kita pulang yuk, suami kita pasti tidak sabar menunggu dirumah." Ajak Nenek setelah melihat keranjang rotan yang dibawanya dan Arshi sudah penuh.


Setelah sampai di rumah Arshi dan Nenek langsung mencuci semua buah-buahan juga umbi-umbian yang diperolehnya di hutan tadi, tidak lupa Arshi segera menumbuk berbagai macam tanaman yang didapatkannya. Dia menghampiri suaminya yang masih terbaring di dipan bambu tanpa alas itu lalu melepaskan bajunya perlahan, dia membalurkan keseluruh badan laki-laki berbadan atletis itu untuk mengobati luka-luka nya. Rezki terbangun ketika merasakan ada tangan yang menyentuh permukaan kulitnya yang terluka.


"Sayang!" Seru Rezki sembari duduk lalu memeluk istrinya.


"Badanku lengket Yank, aku belum mandi." Arshi merasa risih ketika suaminya menciuminya.


"Kamu selalu wangi bagiku Sayang, jangan pergi lagi ya, aku bisa sekarat kalau gak ada kamu disisiku." Rezki menggesekkan hidungnya di bahu dan leher istrinya.


"Udah Yank aku geli, kamu juga masih sakit." Arshi berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Aku udah sembuh Sayang, karena kamu Dokter cintaku." Rezki semakin mengeratkan pelukannya.


Arshi menyentuh kepala dan leher suaminya untuk memastikannya, ternyata Rezki memang sudah tidak demam lagi, dia akhirnya menghembuskan nafasnya karena lega orang yang sudah menjadi kekasih halalnya itu sudah sembuh dari sakitnya.


"Tapi kamu gak boleh mesum disini, situasi dan kondisinya gak memungkinkan." Arshi menepis tangan suaminya yang tidak bisa dikondisikan.


Rezki memajukan bibirnya karena kesal keinginannya terpaksa harus di pending dulu. Arshi beranjak lalu pergi kedapur untuk membantu Nenek untuk menyiapkan makan siang.


Bersambung....


Bagaimana caranya Dokter Hasan juga Riki menemukan Arshi dan Rezki?


Tunggu aja ya episode selanjutnya, stay terus ya!


Hai teman-teman ketemu lagi dengan author receh jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang membangun, koin seikhlasnya, dan rate bintang lima nya ya.

__ADS_1


Salam sayang selalu dariku.


__ADS_2