Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#14 "Rencana" part 1


__ADS_3

Happy reading guys!


"Kamu itu benar-benar munafik Khardha, semua orang itu pasti liat penampilan luarnya dulu baru dalamnya." Rina tersenyum sinis menatap Khardha dari atas kebawah.


"Ya itu memang benar tapi bagiku penampilan bukan segala-galanya, yang penting perbaikilah akhlak kita setiap harinya, jangan mudah terbawa emosi dalam menghadapi semuanya dalam hidup ini. Kita ini sudah berumur Rina gak ada gunanya mementingkan ego semata, aku hanya ingin kembali menjalin hubungan baik sama kamu Rina. Semoga dengan memberi restu sama anak-anak persahabatan kita akan terjalin indah seperti dulu lagi." Ujar Khardha seraya tersenyum tulus.


"Lupain aja keinginanmu itu, karena sampai kapanpun aku gak akan pernah mau bersahabat denganmu lagi, apalagi merestui anakku bersanding dengan anakmu itu." Sahut Rina tetap bertahan dengan keegoisannya.


"Yaudah terserah kamu aja kalau begitu, namun satu pesanku jangan pernah menyesal dengan keputusanmu ini." Khardha akhirnya pasrah dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Aku gak akan pernah menyesal atas semua keputusanku." Rina mendelik tajam kearah Khardha kemudian berlalu pergi dari sana.


Sementara itu Rezki bersimpuh di kaki Dokter Hasan sambil menangis memohon agar merestuinya untuk secepatnya menikahi Arshi. Rina yang melihat anaknya melakukan semua itu langsung menariknya agar tidak merendahkan dirinya lagi.


"Cepat berdiri!" Bentak Rina sambil menarik tangan anaknya.


Rezki tetap tidak bergeming di tempatnya, Dokter Hasan hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Khardha yang baru masuk kedalam segera menghampirinya lalu duduk disamping suaminya.


"Ada apa lagi ini?" Khardha mengerutkan keningnya dengan sempurna menatap Rezki dan Rina.


"Tante, Om aku mohon izinkan aku secepatnya menikahi Arshi. Aku akan selalu berusaha membahagiakannya, apapun yang terjadi nyawaku taruhannya jika sampai aku berbohong." Ungkap Rezki dengan segenap hatinya.


"Rezki menikah itu gak semudah membalik telapak tangan, perlu proses untuk menyatukan dua keluarga yang berbeda pandangan. Lihatlah mamamu aja sampai sekarang belum bisa memberikan restunya, gimana nanti nasib Arshi kalau beneran jadi menantunya? Tante gak bisa bayangin apa yang akan terjadi nantinya. Arshi kami besarkan dengan limpahan cinta, kasih dan sayang kami sebagai orangtuanya. Dia orangnya manja, mudah menangis, gak pandai masak, apa yang kamu harapkan dari anak kami yang banyak kekurangannya itu? Berpikirlah Rezki cinta gak selamanya harus saling memiliki, apabila kalian memang berjodoh suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu lagi. Untuk sekarang pulanglah dulu bersama mamamu." Ucap Khardha dengan nada sangat lembut.


"Baiklah Om, Tante aku permisi dulu, assalamualaikum." Pamit Rezki setelah mencium tangan pasangan suami istri itu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan dan Khardha bersamaan.


"Sayang kenapa kamu bilang Arshi gak pandai masak? Dia kan pintar masak kayak kamu?" Dokter Hasan menatap istrinya yang mulai menguap karena mengantuk.


"Aku sengaja Sayang, biar Rezki menyerah aja dengan semua kegigihannya untuk mendapatkan anak kita, sebab Rina itu orang yang licik. Dulu sewaktu disekolah ketika kami masih sahabatan dia selalu memanfaatkan aku untuk mencapai semua tujuannya. Sekarang aku gak mau kalau sampai anak kita yang jadi korbannya, percayalah aku melakukan semua ini demi kebaikan kita semuanya." Jawab Khardha sambil beranjak dari duduknya.


"Ohh jadi gitu maksud kamu." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya." Kita tidur dikamar aja ya malam ini, aku gak mau kamu kecapean kalau harus balik lagi kekamar rawat Arshi." Ujarnya sembari mengusap kepala istrinya lalu mengecup keningnya.


"Iya Sayang aku juga udah ngantuk banget." Khardha langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya Khardha segera naik keatas ranjang lalu memejamkan matanya. Tidak berselang lama Dokter Hasan juga menyusul istrinya dengan berbaring di sampingnya lalu mengecup keningnya dan tidak lupa dengan kebiasaannya yaitu menjadikan wanita yang sangat dicintainya itu sebagai gulingnya. Mereka akhirnya terlelap merajut alam mimpi masing-masing hingga pagi menjelang.


🌿🌿🌿🌿🌿


Keesokan harinya sesudah memasak bubur ayam untuk sarapan keluarganya Khardha segera kekamar rawat Arshi. Kebetulan kondisi Arshi sudah mulai membaik, dia mulai mau makan walaupun cuma sedikit, Khardha dengan telaten menyuapi anak gadisnya itu.


"Mah aku mau pipis." Arshi berusaha turun sendiri dari ranjangnya karena sudah tidak menggunakan infus lagi dan berbagai macam selang lainnya.


"Sebentar ya sayang mamah taruh buburnya dulu." Khardha segera membantu anaknya untuk kekamar mandi karena Arshi masih terlihat lemas." Kalau udah selesai panggil mamah lagi ya sayang."


"Iya Mah." Arshi menganggukkan kepalanya lalu menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tok...tok...tok... bunyi pintu masuk diketuk dari luar. Khardha segera melangkahkan kakinya untuk membukakan pintunya.


Ceklek...Khardha membuka kunci pintunya.


"Assalamualaikum Tante." Ucap Rasya, Wavi dan Wava serempak sambil mencium tangan Khardha.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Khardha menjawab salam mereka." Mari masuk. Apa kalian belum ada jadwal praktek makanya barengan kesini?" Tanya Khardha sembari menatap mereka semua satu persatu.


"Iya Tante kebetulan kami semua dapat shift siang." Jawab Wava mewakili mereka semua." Arshi nya mana Tante?" Wava mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Dia lagi di kamar mandi." Jawab Khardha sambil berjalan kesana." Sayang kamu udah selesai?" Tanya Khardha dari balik pintu.


"Iya Mah." Arshi segera membuka pintunya.


Khardha kembali menuntun anak gadisnya itu keatas ranjangnya lalu membaringkannya dan tidak lupa menyelimutinya.


"Apa yang lo rasain sekarang Shi?" Tanya Rasya sambil berdiri di sebelah kiri Arshi.


"Gue masih lemes, kepala gue juga masih pusing." Jawab Arshi sambil memejamkan matanya.


"Mamah mau duduk di sofa dulu ya sayang." Khardha mengusap kepala anaknya.


"Iya Mah." Arshi menganggukkan kepalanya.


"Tante tinggal dulu ya, maklum tante gak bisa berdiri terlalu lama." Ucap Khardha seraya tersenyum.


Khardha segera melangkahkan kakinya menuju sofa, dia mencoba menyalakan televisi dengan volume yang kecil. Dia terkejut melihat berita yang baru dilihatnya.


"Seorang Ceo muda mencoba bunuh diri dari atas rooftop perusahaannya sendiri karena tidak mendapat restu dari ibunya untuk menikahi gadis pujaannya."


"Heyy anak-anak coba kalian dengerin berita ini." Khardha menambah volume suara televisinya.


Arshi, Wava, Wavi, dan Rasya segera mendengarkan berita itu dengan seksama.


"Terus kenapa Mah? Itukan cuma berita." Arshi berusaha menepis perasaannya yang tiba-tiba jadi tidak enak.


"Mamah kok kepikiran Rezki ya?" Tanya Khardha seakan kepada dirinya sendiri.


"Rezki!" Seru Wava, Wavi dan Rasya karena sangat terkejut.


Mereka bertiga segera mendekati Khardha untuk memastikan kebenarannya.


"Benar Tante itu perusahaan Rezki." Tunjuk Rasya setelah memperhatikan secara detail nama perusahaannya.


"Kenapa Rezki harus bertindak nekat kayak gitu?" Wava menatap layar televisi penuh tanda tanya.


"Palingan dia udah putus asa makanya memilih untuk mengakhiri hidupnya." Wavi berkata dengan entengnya.

__ADS_1


"Apaaaa!" Arshi terlonjak kaget.


Dia segera mengambil handphonenya yang terletak di atas nakas lalu menghubungi nomor handphone Rezki dan ternyata langsung tersambung.


πŸ“²"Assalamualaikum, Rezki aku mohon jangan lakukan hal bodoh itu." Pinta Arshi sambil terisak.


πŸ“±"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aku akan menghentikan semuanya asal kamu mau kunikahi hari ini juga." Ucap Rezki seraya tersenyum karena memang itulah rencananya.


"Gak mungkin Ki, aku masih sakit. Lagipula Mamamu gak bakal menyetujuinya." Arshi masih berusaha menahan emosinya.


"Siapa bilang? Nich coba kamu dengerin suara Mama." Rezki meloudspeaker handphonenya.


"Rezki turunlah nak! Jangan nekat nak! Ok mama akan turutin semua permintaan kamu yang penting hentikan kegilaanmu ini!" Teriak Rina dari bawah menggunakan Toa.


"Tuh kamu dengar sendiri kan Mama bilang apa!" Seru Rezki berusaha menahan tawanya dengan menutupi mulutnya." Jadi kamu bersedia kan menikah denganku? Kalau gak aku akan tetap terjun dari rooftop ini." Ancam Rezki dengan mengedipkan sebelah matanya kearah Radi dan Papanya yang menjadi kaki tangannya untuk memuluskan semua rencananya itu sejak tadi malam.


"Ki kumohon jangan nekat, ok aku mau tapi menikah itu perlu persiapan yang matang, gak mungkin semudah beli kue diwarung." Arshi terpaksa mengalah dan berusaha mengingatkan.


"Kamu tenang aja Sayang Papaku udah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, baik penghulu, buku nikah yang tinggal kita tanda tangani dan aku juga udah kasih tau Papah kamu semuanya, beliau juga menyetujuinya. Sekarang kamu dandan yang cantik ya aku juga udah mengirim pihak MUA untuk merias wajah kamu agar terlihat lebih fresh walaupun masih sakit, sampai ketemu calon istriku aku sangat merindukanmu." Rezki langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Arshi lagi.


"Radi, Papa!" Seru Rezki yang langsung melompat memeluk keduanya." Rencana kita semuanya berjalan mulus, sekarang kita secepatnya kerumah sakit untuk mengadakan ijab-kabul dirumah kedua calon istriku, aku juga udah minta izin sama calon Papah mertuaku untuk mendekorasi rumahnya. Yuk lets go!" Ajak Rezki tidak sabar lagi.


🌿🌿🌿🌿🌿


Tidak berselang lama datanglah Dokter Hasan, Arsha dan pihak MUA yang akan merias wajah Arshi.


"Sayang hari ini anak kita akan menikah." Ujar Dokter Hasan memberitahukan sembari duduk disamping istrinya.


Khardha hanya mengerutkan keningnya menunggu penjelasan suaminya selanjutnya.


"Apaaaa!" Seru Rasya, Wavi dan Wava karena sangat terkejut.


"Siapa yang akan menikah Om?" Lirih Rasya berusaha menutupi kesedihannya.


"Arshi dan Rezki." Jawab Dokter Hasan tanpa menoleh kepada Rasya yang tampak syok mendengarnya." Rezki sudah mengirim orang untuk mendekorasi rumah kita dan ini pihak MUA yang akan merias kalian berdua." Ujarnya sembari mempersilahkan penata rias wanita itu untuk merias wajah anak dan istrinya.


"Kenapa dengan kalian berdua? Wajahnya kok ditekuk gitu? Kayak belum disetrika selama berbulan-bulan aja, udah ikhlasin aja sebab Arshi emang bukan jodoh kalian berdua." Ucap Arsha berusaha menahan tawanya dengan memalingkan wajahnya kearah lain.


"Benar kata Arsha mending kalian juga siapkan diri kalian untuk jadi saksi pernikahan Rezki dan Arshi sebentar lagi." Dokter Hasan ikut menimpali.


"Baik Om!" Lirih Wavi dan Rasya secara bersamaan.


"Sepertinya Rezki dan keluarganya udah datang termasuk kedua orangtua kalian bertiga." Ucap Dokter Hasan setelah menerima beberapa chat dari Dokter Wahyu." Aku tunggu diatas ya Sayang, kalau udah siap semuanya cepat menyusul ya. Karena ini pernikahannya dadakan kamu vc aja keluarga yang dikampung." Ujarnya sembari beranjak dari duduknya." Biarin para wanita disini, ayo bagi yang laki-laki ikut Om jadi saksi." Ajak Dokter Hasan sambil menggiring ketiga laki-laki lajang itu.


Bersambung....


Ayo sebentar lagi Rezki menikahi Arshi kira-kira apalagi ya rencana Rina untuk menggagalkan kebahagiaan yang sudah didepan mata itu?

__ADS_1


Maaf ya teman-teman aku belum bisa berkunjung satu-persatu di karya kalian semuanya, maklum lagi masa pemulihan. Inshaallah nanti kalau aku benar-benar fit aku pasti aktif lagi untuk mendukung kalian semuanya. Salam sayang selalu dariku, jangan lupa bahagia, semoga sehat selalu.


__ADS_2