
"Happy reading guys!
Seminggu kemudian karena harus mendesain ruang perawatan anak dan menyembuhkan luka diwajahnya Rezki terpaksa menahan kerinduannya kepada Arshi. Malam ini dia sudah tidak bisa lagi membendung rasa rindunya itu, dia bersiap menuju rumah sakit untuk melakukan tugas yang diberikan Arshi kepadanya sebagai alasannya untuk menemui pujaan hatinya itu. Sesampainya di sana dia langsung menghubungi wanita yang dianggapnya sebagai calon istrinya itu.
Tut....tut...tut...drettt...drettt...drettt. Handphone Arshi yang diletakkannya di atas nakas berbunyi. Dia melihat nomor tidak dikenal dari layar handphonenya karena lupa menyimpan kontak atas nama Rezki sebelumnya. Arshi melihatnya sebentar lalu kembali merebahkan tubuhnya, ketika hendak terlelap handphonenya terus-menerus berbunyi dan bergetar tanpa henti hingga akhirnya dia terpaksa menerima panggilan itu. Panggilan yang awalnya hanya berupa suara langsung dialihkan Rezki ke panggilan video call, Arshi terperanjat dari tidurannya ketika menatap wajah Rezki yang terpampang jelas dilayar handphonenya.
"Kenapa ekspresi muka kamu kayak gitu?" Tanya Rezki dengan mengulas senyum menawannya.
"Kiraiin tadi siapa yang nelponin aku terus, gak taunya kamu orangnya." Jawab Arshi dengan memajukan bibirnya.
"Emangnya kamu gak nyimpen nomer aku di handphone kamu ya? Padahal minggu kemarin aku udah ngirimin beberapa chatt sama kamu." Rezki tampak kecewa menatap wajah Arshi yang selalu cantik dimatanya.
"Maaf aku lupa." Ucap Arshi dengan memiringkan kepalanya.
"Ok lupain aja yang penting sekarang kamu harus menyimpan nomerku dan datang ke lobi untuk segera menemuiku." Perintah Rezki dengan menekankan kata-katanya.
"Ngapain aku nemuin kamu, emangnya kamu siapa berani mengaturku?" Arshi kembali dengan mode juteknya.
"Dokter Arshi yang cantik hingga membuat aku selalu tertarik apa kamu lupa dengan tugas yang kamu berikan sama aku untuk mendesain dan merenovasi ruang perawatan anak? Atau kamu mau kita aja yang bikin anak? Biar aku secepatnya halalin kamu." Goda Rezki dengan menaikturunkan alisnya.
"Astagfirullah al azdim!" Seru Arshi dengan menepuk jidatnya." Ok aku akan segera kesana sama Arsha." Ucap Arshi lalu memutuskan video call Rezki secara sepihak.
Rezki mendengus kesal karena Arshi langsung memutuskan sambungan video call nya, apalagi mendengar Arshi akan datang menemuinya bersama Arsha saudara kembarnya yang super cool itu menurutnya. Semuanya pasti akan membuat pertemuannya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Arshi segera mengganti bajunya lalu menghampiri Arsha yang tengah sibuk memakan makanannya di atas meja.
"Sha temenin gue ya." Pintanya dengan duduk disamping Arsha.
"Kemana?" Arsha melirik kearah Arshi sekilas lalu melanjutkan mengunyah makanannya.
"Nemuin Rezki buat merenovasi ruang perawatan anak. Gue kan udah cerita kemarin, makanya sementara anak-anak dipindahkan dulu dari sana ke ruangan yang lain." Jawab Arshi mengingatkan dengan memainkan handphonenya.
"Tapi gue gak bisa lama nemenin, jam 22:00 nanti gue ada jadwal operasi." Jujur Arsha setelah menghabiskan makanannya lalu mengambil tisu untuk mengelap bibirnya.
"Iya gak papa yang penting lo temenin gue dulu, terus bilang sama Rezki supaya dia gak macam-macam." Arshi berjalan mengikuti langkah Arsha menuju kamarnya.
"Ok gue ganti baju dulu, lo tungguin di luar aja." Arsha segera membuka pintu kamarnya lalu mengganti pakaiannya.
Arsha keluar dengan memakai kemeja putihnya lalu menghampiri Arshi yang duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
"Lets go gue udah siap!" Ajak Arsha dengan menarik tangan Arshi agar segera beranjak.
Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari sana menuju lift untuk turun kebawah.
"Papah sama Mamah pulang ke rumah kita yang di jalan pramuka ya Sha?" Tanya Arshi ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Iya!" Singkat Arsha." Rezki nungguin di mana?" Arsha menatap datar saudara kembarnya itu dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Di lobi," Jawab Arshi." Gue belum makan malam tadi Sha." Arshi mengusap perutnya yang baru terasa lapar.
"Kenapa lo gak makan? Nanti magg nya kambuh lagi, padahal Mamah udah masak tadi sebelum pulang." Ujar Arsha mengingatkan.
"Gue lupa Sha, tadi gue habis sholat isya ketiduran." Jujur Arshi dengan menundukkan kepalanya.
"Pantesan lo gak tau Mamah masak. Yaudah kita balik lagi, kamu masukin ke wadah bekal aja biar nanti sambil ngawasin Rezki bisa sekalian makan." Arsha langsung memencet tombol lift yang hampir terbuka untuk kembali menuju kelantai paling atas.
__ADS_1
Setelah menyiapkan semua makanan, minuman dan salad buah yang akan dibawanya Arshi segera mengajak Arsha untuk kembali turun kebawah. Rezki yang menunggu di lobi tampak gelisah karena sudah satu jam dia menunggu, Arshi dan Arsha belum kelihatan batang hidungnya. Dia berjalan mondar mandir sambil sesekali menatap layar handphonenya, siapa tahu Arshi segera menghubunginya. Tidak lama
kemudian Arshi dan Arsha datang menghampiri Rezki yang berdiri membelakanginya.
"Assalamualaikum." Ucap Arsha dan Arshi bersamaan.
"Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh." Rezki menjawab salam sembari membalikkan badannya.
"Yuk kita langsung ke ruangan yang akan direnovasi." Ajak Arshi dengan berjalan didepan Arsha dan Rezki.
Mereka bertiga menyusuri koridor rumah sakit, sepuluh menit kemudian sampailah ketiganya didepan ruangan. Arsha segera membuka pintu masuk nya lalu menyalakan lampu yang ada didalam ruangan itu. Rezki langsung melepaskan jaketnya lalu mulai membuka kaleng cat warna warni yang akan dipakainya untuk mengecat dinding.
"Maaf ya aku gak bisa bantuin sebentar lagi ada jadwal operasi, aku harus segera bersiap-siap." Ucap Arsha dengan melirik jam yang melingkar di tangannya." Rezki tolong jangan macam-macam sama Arshi ya nanti aku suruh sekuriti untuk mengawasi kalian berdua." Arsha menatap Rezki yang sibuk mempersiapkan semua pekerjaannya.
"Iya kamu tenang aja aku gak akan macam-macam sama Arshi, aku cuma minta dia menemaniku agar aku tetap semangat mengerjakan tugasku." Tegas Rezki dengan membalas tatapan dingin Arsha.
"Baiklah gue tinggal dulu ya Shi, kalau ada apa-apa langsung aja hubungi gue." Arsha menepuk pelan pundak saudara kembarnya itu.
Arshi menganggukkan kepalanya sambil menyiapkan makanan diatas meja. Setelah
siap tersaji Arshi memanggil Rezki untuk makan malam sama-sama.
"Ki kita makan dulu yuk aku belum makan dari tadi." Ajaknya dengan menolehkan kepalanya kearah Rezki.
"Ok tapi kamu suapin aku ya, tanganku udah belepotan cat nich." Rezki menunjukkan kedua tangannya yang terkena cat.
"Kamu kan bisa cuci tangan dulu Ki." Tolak Arshi dengan menyuap makanannya.
"Nanggung Shi, nanti bakalan lama selesainya ini udah jam sepuluh malam." Kilah Rezki untuk bermanja pada Arshi.
"Aku juga laper Shi, nanti kalau aku pingsan gimana? Jadi mending kita makan sama-sama aja biar romantis." Rezki mengatakan keinginannya sebenarnya.
"Apaaaa!" Kaget Arshi mendengar apa yang dikatakan Rezki.
Wahh gawat nich jangan-jangan Arshi marah sama aku gara-gara keceplosan ngomong romantis tadi." Gumamnya dalam hati sambil melirik kearah wanita yang sedang asyik menikmati makanannya itu.
"Maksud aku biar bisa selesai sebelum tengah malam Shi." Kilah Rezki berusaha meralat kata-katanya agar Arshi mau menyuapinya.
Rezki tetap meneruskan pekerjaannya tanpa melirik ataupun menoleh lagi kepada Arshi, karena dia kecewa wanita yang diharapkannya mau bersikap romantis kepadanya itu justru tidak merespon apa yang diinginkannya. Namun tiba-tiba setelah dia sudah bergelut dengan kekewaannya ada tangan mungil yang mengarahkan sendok berisi makanan kemulutnya, Rezki terkejut lalu menatapnya tanpa berkedip.
"Makan dulu aku gak mau kamu pingsan." Ucap Arshi dengan nada lembut.
Rezki membuka mulutnya tanpa suara lagi, dia sangat bahagia ternyata Arshi akhirnya mau menyuapinya. Dia menatap lekat kearah Arshi yang menunduk untuk mengambilkan minuman untuknya.
"Ini minumnya supaya kamu gak cegukan." Arshi langsung mengarahkan kemulut Rezki.
Ternyata kamu sangat perhatian Shi, hal kecil seperti ini sungguh membuatku semakin jatuh cinta sama kamu. Aku benar-benar gak sabar untuk menghalalkanmu agar aku bisa mencium keningmu sebagai ungkapkan betapa aku menyayangimu. Merengkuhmu dalam pelukanku supaya kamu tau aku selalu ingin bersamamu dan melindungimu." Batinnya sembari menatap Arshi tanpa berkedip.
"Kenapa kamu menatapku kayak gitu? Apa ada sesuatu diwajahku?" Arshi mengerutkan keningnya menatap Rezki yang aneh menurutnya.
"Iya!" Singkat Rezki.
Sesuatu yang indah sehingga membuatku sangat betah berlama-lama menatapmu." Gumam Rezki dalam hatinya.
Arshi membersihkan wajahnya dengan tangannya seakan ada kotoran yang menempel disana. Rezki tersenyum melihatnya lalu timbul ide untuk menjahilinya.
"Sini aku bantu bersihin." Rezki menyentuh pipi Arshi dengan tangannya yang masih belepotan cat.
__ADS_1
Arshi menepis tangan Rezki hingga tangannya juga terkena cat.
"Kamu ngerjain aku ya Ki!" Seru Arshi hendak membalas apa yang dilakukan Rezki kepadanya.
Rezki berlari mundur untuk menghindarinya dengan menjulurkan lidahnya, Arshi langsung mengejarnya tanpa ampun mengelilingi ruangan itu. Karena tidak hati-hati Arshi
menginjak bahan pecampur cat yang licin lalu terjatuh tepat menimpa dada Rezki yang ada didepannya. Arshi memejamkan matanya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya karena mengira tubuhnya langsung jatuh kelantai. Sedangkan Rezki justru sangat menikmatinya, dia mencium rambut Arshi lalu mengecup keningnya.
"Sepertinya kamu menikmati banget jatuh menimpaku, atau memang kamu sengaja mau tidur diatas dadaku." Bisik Rezki ditelinga Arshi dengan nada sangat menggoda.
Arshi yang baru sadar langsung membuka matanya, dia berusaha bangun namun Rezki menahannya dengan merangkul pinggangnya.
"Lepasin!" Pekik Arshi dengan memukuli dada Rezki.
"Jangan banyak gerak diatasku nanti kamu malah membangunkan sesuatu yang ada dibawah sana." Rezki mengunci tangan Arshi lalu membalikkan posisinya.
Deg...deg...deg...dada mereka berdua berdegup sangat kencang, jantung mereka memompa darah lebih cepat dari biasanya. Rezki semakin memangkas jarak antara mereka, dia menempelkan bibirnya ke bibir Arshi hingga membuat Arshi menggigit bibir Rezki sampai berdarah.
"Maafin aku Shi, aku mohon terimalah aku sebagai calon suami kamu, aku janji akan secepatnya menikahimu." Pinta Rezki dengan menatap sendu kearah Arshi.
"Lepasin tanganku, menyingkirlah dari hadapanku!" Seru Arshi dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan melepaskanmu asal kamu mau menjadi calon istriku dan ibu dari anak-anakku." Ucap Rezki dengan nada sangat lembut.
"Dasar cowok gila!" Arshi meludahi wajah Rezki.
"Aku memang sudah tergila-gila sama kamu, jadi jangan salahkan aku bila melakukan yang lebih daripada ini." Rezki menatap tajam kearah Arshi.
Karena sangat ketakutan dengan tatapan Rezki dan tindakan yang akan dilakukannya Arshi akhirnya berteriak minta tolong.
Tolongggg....tolo...., Arshi tidak bisa lagi melanjutkan teriakannya karena Rezki langsung membungkam mulutnya dengan menciumnya. Wavi yang kebetulan lewat hendak menuju ruangan Arshi mendengar teriakanya, dia melihat siluet orang sedang melakukan perbuatan yang tidak senonoh di salah satu ruangan yang ada dalam rumah sakit itu. Wavi langsung memegangi gagang pintu yang memang tidak dikunci, dia melangkah masuk kedalam dengan mengendap-endap untuk memastikannya. Ketika sudah dekat dia terkejut karena itu adalah Rezki dan Arshi. Wavi langsung menendang tubuh Rezki hingga terguling kesamping kemudian menindihnya lalu memukulinya secara membabi buta. Arshi langsung bangun, dia sangat terkejut melihat kedatangan Wavi apalagi menyaksikan tindakan yang dilakukannya. Wavi benar-benar seperti orang kesetanan, dia terus memukuli Rezki tanpa ampun.
"Hentikannnnn!" Teriak Arshi dengan histeris melihat Rezki sudah tidak berdaya lagi dibawah Wavi.
Wavi tidak menggubrisnya sama sekali dia tetap saja melayangkan bogem mentahnya kewajah Rezki. Wajah tampan Rezki kembali babak belur karena dihajar Wavi, Rezki sengaja tidak melawan sama sekali sebab dia sangat merasa bersalah karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya kepada Arshi. Tiba-tiba Arshi duduk di samping Wavi dan Rezki.
"Gue mohon hentikan Vi, kasian dia udah babak belur lo pukuli, gue gak mau lo sampai masuk penjara karena membela gue." Arshi menahan tangan Wavi yang terus memukuli Rezki tanpa ampun dengan berderai airmata.
"Biarin aja dia mati supaya gak ada lagi yang berani melecehkan lo." Ucap Wavi dengan tatapan tajamnya.
"Ini semua hanya salah paham Vi, Rezki gak bermaksud melakukan tindakan asusila pada gue, dia hanya minta gue jadi calon istrinya itu aja." Jujur Arshi berusaha menenangkan Wavi." Gue panggil bantuan dulu." Arshi beranjak untuk menghubungi tim medis agar segera datang menangani Rezki sambil mengusap air matanya.
Wavi terdiam membisu tidak bisa berkata-kata lagi namun dalam hatinya terus bertanya.
Kenapa lo membelanya Shi? Apakah lo juga menyukainya? Kalau itu benar berarti perjuangan gue untuk mendapatkan lo selama ini gak ada gunanya sama sekali." Batin Wavi dengan mengacak-acak rambutnya karena sangat kecewa kepada Arshi.
Tim medis segera datang memberikan bantuan, Rezki segera dibawa ke ruang unit gawat darurat. Arshi ikut masuk kedalam ruangan untuk memastikan keadaannya. Ternyata disana juga ada Rasya yang bertugas di UGD, dia mengerutkan keningnya menatap Arshi yang tampak sangat mencemaskan kondisi Rezki.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Arshi tampak sangat mengkhawatirkan Rezki?" Batin Rasya sambil melakukan tugasnya.
Bersambung....
Maaf ya teman-teman aku baru up lagi, maklum ibu rumah tangga yang gak pernah libur dengan semua pr nya.
Jangan lupa dukungannya ya agar aku selalu semangat melanjutkan cerita ini.
Tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang limanya ya.
Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya, happy jum'ah mubarok.
__ADS_1