Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#23 "Jangan tinggalkan aku"


__ADS_3

Happy reading guys!


"Gimana kondisi Arshi nak?" Tanya Khardha yang langsung datang bersama Dokter Hasan suaminya setelah menerima kabar dari menantunya itu.


"Dia belum sadarkan diri Mah." Rezki menolehkan kepalanya kearah mertuanya lalu beranjak menuju kamar mandi untuk buang air kecil.


"Sayang aku curiga ini ada hubungannya dengan Rina dia kan baru keluar dari penjara setelah tiga bulan mendekam di sana." Khardha menatap suaminya yang berdiri di sampingnya.


"Apa dia gak ada jeranya ya selalu berusaha berbuat jahat sama menantunya sendiri?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap istrinya yang mengangkat bahunya tanda Khardha juga tidak mengerti.


"Mungkin dia terlalu dendam sama aku makanya selalu ingin mencelakai Arshi." Khardha mulai berpikir semua yang dilakukan Rina karena ingin membalas sakit hatinya melalui anaknya.


"Tapi Riki kan udah gak punya perasaan lagi sama kamu Sayang, kenapa Rina gak bisa mengikhlaskannya?" Dokter Hasan benar-benar bingung dengan sikap besannya itu.


"Karena perbedaan cinta dan benci itu sangat tipis Sayang, bisa jadi dulu Rina sangat mencintai Riki dan sekarang justru berubah menjadi rasa benci. Akhirnya dia melampiaskannya kepada orang-orang yang gampang untuk ditindasnya." Khardha memberikan pendapatnya.


Rezki keluar dari kamar mandi dia sudah mendengar semua pembicaraan mertuanya tentang mamanya. Dia tidak bisa membela mamanya karena semua yang dikatakan Khardha benar adanya, Rezki sendiri tidak habis pikir dengan semua yang telah dilakukan oleh mamanya. Tindakan apa yang harus diambilnya sekarang setelah melihat rekaman cctv di rumahnya lewat handphonenya dia juga bingung harus bagaimana memutuskan hukuman untuk mamanya itu.


"Rezki maafkan kami karena sudah berprasangka buruk kepada mamamu." Ucap Khardha sembari menatap menantunya itu.


"Gak papa Mah, Mama Rina memang patut dicurigai, dia gak pernah jera dengan hotel prodio yang pernah disinggahinya. Mama Rina juga bukan orang yang patut dibanggakan, dia selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya." Ujar Rezki dengan tatapan sendu mengingat semua sifat mamanya.


"Berarti kamu juga punya bukti bahwa mamamu yang mencelakai Arshi malam ini?" Dokter Hasan memicingkan matanya kearah menantunya itu.


Rezki meneguk salivanya dengan susah payah lalu menganggukkan kepalanya.


"Jadi tindakan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya dengan mamamu itu?" Dokter Hasan mengepalkan tangannya karena sangat kesal dengan perbuatan Rina kepada anaknya.


"Maafin aku Pah, aku belum bisa mengambil keputusan apa yang terbaik untuk Mama." Rezki menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap mata mertuanya yang sangat tajam.


"Menurut mamah lebih baik mamamu itu di masukin pesantren sekalian di ruqyah aja biar dia bisa belajar mendalami ilmu agama disana." Ujar Khardha memberikan pendapatnya.


"Benar juga apa yang kamu usulkan itu Sayang, semoga dengan begitu Rina bisa menyadari semua kesalahannya." Dokter Hasan menimpali.


"Iya Pah, Mah nanti akan aku bicarakan sama Papa Riki secepatnya." Rezki menganggukkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti mendengar mertuanya yang tidak menaruh dendam kepada mamanya.


"Mamah sama Papah keatas dulu ya, nanti kalau ada kabar dari Arshi hubungi kami secepatnya, assalamualaikum." Pamit Khardha mewakili suaminya.


"Silahkan Mah, Pah. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Rezki kemudian mengunci pintunya.


Dia lalu naik keatas ranjang untuk membaringkan tubuhnya disamping istrinya dan menjadikan lengannya sebagai ganti bantal untuk wanita yang sangat dicintainya itu kemudian menjadikannya sebagai gulingnya. Itulah kebiasaan Rezki setelah menikah dia tidak bisa tidur bila tidak memeluk istrinya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


Keesokan harinya Rezki kembali tidak bisa masuk kantor karena istrinya masih belum sadarkan diri. Dia sangat khawatir ketika melihat layar monitor pendeteksi jantung disampingnya tiba-tiba menunjukkan garis lurus. Rezki segera menekan tombol bantuan, datanglah Arsha dan tim medis lainnya untuk melakukan penanganan secepatnya dengan membawa Arshi keruang ICU. Arsha menggunakan alat Defibrilator atau alat pacu jantung untuk menstabilkan pernapasan Arshi, hingga beberapa kali belum ada tanda-tanda Arshi akan segera normal dan stabil.


Rezki yang disuruh menunggu di luar benar-benar seperti orang frustasi dia mengacak-acak rambutnya karena sangat takut akan kehilangan istri dan anaknya. Dokter Hasan dan Khardha yang baru datang membawakan makanan untuk anak menantunya itu tampak sangat terkejut melihat Rezki yang sangat kacau.


Ya Allah kumohon panjangkan umur istri dan anakku agar kami bisa berkumpul lagi seperti biasanya, biarkan aku yang menggantikan penderitaannya karena ini semua akibat ulah mamaku," batin Rezki sambil menundukkan kepalanya.


"Rezki apa yang terjadi dengan Arshi?" Khardha mengguncang bahu Rezki ketika berada di depan ICU.


"Arshi kritis Mah." Rezki langsung memeluk mertuanya itu.


"Yang sabar ya, lebih baik kita berdoa aja biar Arshi dan bayinya bisa selamat." Khardha berusaha menenangkan hati Rezki walaupun dia sendiri syok mendengar kondisi anaknya itu.


Dokter Hasan segera menerobos masuk kedalam ICU, dia menyaksikan sendiri Arsha dan tim medisnya berusaha semaksimal mungkin menangani Arshi yang kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya elektrokardiogram atau alat pendeteksi jantung itu menunjukkan garis lurus tidak ada gelombang yang terdeteksi lagi. Arsha benar-benar tidak percaya dengan semua itu dia kembali menekan dada Arshi untuk memberikan pertolongan namun semua sia-sia saja. Dokter Hasan menyingkirkan semua orang yang ada disana dia ikut melakukan apa barusan dilakukan Arsha, namun tetap tidak ada respon dari Arshi, dia akhirnya terduduk di samping bed pasien. Arsha membantu papahnya untuk berdiri lalu membawanya keluar dari ruangan itu, Rezki dan Khardha yang menunggu kabar dari mereka langsung menghampirinya.


"Gimana keadaan Arshi? Dia gak papa kan? Tolong jawab Pah, Sha?" Rezki mengguncang bahu mertuanya dan iparnya itu.


"Yang sabar ya Ki, Arshi sudah mendahului kita." Dokter Hasan memeluk menantunya itu.


"Gak, gak mungkin, istriku dan anakku pasti selamat! Mereka masih hidup, Papah jangan bohong sama aku!" Rezki menjerit histeris lalu menerobos masuk ke ruang ICU.


Rezki melarang semua orang untuk menutup istrinya dengan kain putih, dia mengguncang tubuh Arshi sambil memeluknya dengan erat.


Dia menangis sejadi-jadinya tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya. Rezki terus saja memanggil istrinya dan merengkuh tubuh wanita yang sangat dicintainya itu, tiba-tiba Arshi terbatuk akibat guncangan dan pelukan Rezki yang sangat kuat itu. Arsha dan Dokter Hasan yang menyaksikannya langsung mengambil tindakan, mereka segera memasang kembali ventilator dan alat-alat lainnya. Rezki sendiri sangat bahagia dengan keajaiban yang ada didepan matanya, dia langsung sujud syukur bersama Khardha mertuanya. Rezki tidak menyadari ternyata disana juga ada Rina dan Riki yang langsung datang ketika mendengar kabar dari Arsha. Semua orang berkumpul di luar ruang ICU karena ikut prihatin dengan keadaan Arshi, disana ada Wava, Wavi, Rasya, Lida, Dokter Selvi, Dokter Wahyu, Dokter Rasyid dan Dokter Reisa. Mereka semua menyaksikan langsung bagaimana Rezki sangat terpukul ketika kehilangan Arshi tadi, diantara mereka tidak ada lagi yang meragukan betapa Rezki sangat mencintai istrinya. Namun Rina masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Arshi adalah anak dari mantan terindah suaminya. Khardha sendiri hampir pingsan disamping suaminya karena sangat syok menghadapi kenyataan bahwa anaknya sempat meninggalkannya. Namun sekarang mereka bisa bernafas lega karena kondisi Arshi mulai stabil kembali, meskipun masih harus di bantu dengan selang-selang yang menempel ditubuhnya. Arshi sudah di pindahkan kembali ke kamar VVIP nya semua keluarga dan teman-temannya satu persatu pulang untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.


"Rezki kamu belum makan apa-apa lagi sedari pagi tadi, ini mamah sudah membawakan makanan buat kamu." Khardha menuntun Rezki duduk di sofa yang ada diruangan itu.


"Nanti aja Mah, bila Arshi sudah bangun aku akan makan bersamanya." Rezki menolak dengan halus karena dia benar-benar kehilangan selera makannya.


"Tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu sendiri supaya bila Arshi bangun nanti dia bisa melihat wajah suaminya yang ganteng ini tanpa mengecewakannya." Khardha menasehatinya.


"Mengecewakan? Maksud Mamah?" Rezki mengerutkan keningnya.


"Ya kalau wajah kamu kucel dan kusut istri mana yang senang? Baru bangun udah disuguhkan pemandangan yang gak enak diliat." Goda Khardha seraya tersenyum.


"Mamah bisa aja!" Rezki tersipu lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Seusai mandi dan mengganti bajunya Rezki duduk di samping bed pasien istrinya, dia mengusap kepalanya dan mengelus perutnya sambil menggenggam tangannya. Arshi mulai mengerjapkan matanya, jari-jari nya bergerak dalam genggaman suaminya. Rezki mengulas senyumnya lalu mencium punggung tangan istrinya.


"Syukurlah akhirnya kamu bangun juga Sayang." Rezki mengecup bibir dan kening istrinya sekilas.

__ADS_1


Arshi menyunggingkan senyumnya lalu membelai wajah Rezki dengan lembut.


"Yank aku tadi bermimpi semua orang berkumpul untuk mengantarkan kepergianku, tapi kenapa cuma kamu yang gak merelakan aku pergi?" Arshi menatap suaminya dengan sendu.


"Aku gak mau kamu ngomongin itu lagi Sayang." Rezki menutupi mulut istrinya.


Arshi menatap lekat manik mata suaminya, dia menemukan kesedihan yang mendalam di telaga matanya, sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.


"Yank aku mau minum air kelapa muda." Pinta Arshi setelah Rezki menatapnya dengan intens.


Rezki terkejut mendengar permintaan istrinya dia membulatkan matanya dengan sempurna.


"Kamu baru aja sadar setelah sempat kritis Sayang, masa udah mau minum air kelapa muda?" Rezki menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Emangnya kenapa? Gak boleh ya?" Tanya Arshi dengan polosnya.


"Aku tanyain sama Papah dulu ya Sayang." Ujar Rezki sembari mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu menunggu Rezki selesai menghubungi papahnya, dengan ikut mendengarkannya lewat loadspeaker yang sengaja dinyalakan Rezki agar Arshi tidak salah paham kepadanya.


Tut...tut...tut...Panggilan tersambung.


πŸ“²"Assalamualaikum Pah." Ucap Rezki mengawali pembicaraan.


πŸ“±"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa? Arshi gak kenapa-napa lagi kan?" Dokter Hasan yang baru selesai menunaikan sholat berjamaah di mesjid mengerutkan keningnya.


"Arshi udah bangun dia mau minum air kelapa muda, boleh gak Pah?" Rezki menatap istrinya sambil mengusap kepalanya.


"Bilang sama dia, boleh aja tapi nanti kalau dia udah benar-benar pulih, untuk sementara minum air putih aja dulu." Dokter Hasan menasehati sembari melangkahkan kakinya menuju lift untuk kelantai paling atas.


"Iya Pah, assalamualaikum." Rezki mengakhiri panggilan suaranya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Dokter Hasan memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celananya.


Ada-ada aja Arshi baru juga sadar udah minta yang aneh-aneh dasar bumil," gumam Dokter Hasan sembari menggelengkan kepalanya.


Bersambung....


Hai teman-teman jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian ya melalui vote, like, komen, koin dan rate bintang lima nya.


Sampai bertemu lagi di episode selanjutnya, tetap jaga kesehatan ya.

__ADS_1



__ADS_2