Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#78 "Tanda-tanda"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah Arshi tertidur pulas dalam pelukannya Khardha perlahan melepaskan pelukannya dengan anak perempuannya itu, lalu beranjak turun dari ranjang queen size milik Arshi. Khardha menatap wajah tampan menantunya yang tampak memejamkan matanya sambil rebahan di sofa.


"Rezki pindah ke ranjang sana gih." Ujar Khardha membangunkan menantunya itu dengan menyentuh lengannya.


Rezki membuka matanya lalu bangun dari rebahannya.


"Iya Mah." Sahutnya seraya mengulas senyumnya.


"Mamah Kembali ke kamar dulu ya Ki." Pamit Khardha setelah mengusap kepala menantunya itu.


Rezki menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya. Dia naik ke atas ranjang queen size milik istrinya kemudian merebahkan tubuhnya di samping kekasih halalnya itu, tidak lupa dengan kebiasaannya untuk selalu mencium kening istrinya dan menjadikannya guling hidupnya.


Setelah merasa nyaman dengan posisi seperti itu barulah seorang Rezki Aditya Pratama bisa tidur nyenyak menyelami dunia mimpinya.


-


Keesokan harinya setelah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah di mesjid yang ada di area rumah sakit Dokter Hasan, Arsha dan Rezki kembali melangkahkan kakinya menuju ke lantai paling atas dengan lift khusus untuk mereka sekeluarga.


"Assalamualaikum." Ucap mereka bertiga ketika masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha dan Wava yang sedang memasak didapur.


"Arshi mana Mah, kok gak bantuin masak?" Tanya Arsha sembari duduk di kursi meja makan yang memang saling berhadapan dengan dapur secara langsung.


"Sepertinya dia masih dikamar." Jawab Khardha sambil menyuguhkan kopi dan teh hangat untuk suami, anak dan menantunya.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya." Pamit Rezki setelah meminum kopinya.


"Iya." Sahut mereka semua serempak.


-


Rezki melangkahkan kakinya menuju kamar istrinya lalu membuka pintunya. Dia melihat kekasih halalnya itu masih meringkuk di dalam selimut dengan nyamannya, karena jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi Rezki segera membangunkan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Sayang bangun Sayang!" Sebutnya dengan nada sangat lembut sembari menghujani wajahnya dengan ciumannya.


Arshi membuka matanya perlahan lalu menyentuh wajah tampan suaminya yang tidak ada jarak sedikitpun dengannya.


"Kamu sudah sholat subuh Sayang?" Rezki menatap lekat wajah istrinya yang tampak selalu cantik dimatanya walaupun baru bangun tidur.


"Belum." Lirih Arshi sambil mengerjabkan matanya.


"Kenapa?" Rezki mengusap kepala istrinya.


"Kepalaku pusing banget Yank." Arshi memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


"Mau aku gendong ke kamar mandi?" Tawar Rezki sembari menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dengan senang hati Rezki mengangkat tubuh istrinya yang selalu terlihat seksi dimatanya walaupun sudah dua kali mengandung buah cintanya. Sesampainya di dalam kamar mandi Rezki menurunkan wanita yang sangat dicintainya itu diatas closed duduk yang ada di sana, supaya istrinya bisa buang air tanpa harus berjalan lagi.


"Mau aku bantuin melepaskan celana dalamnya?" Godanya seraya mengulas senyumnya.


"Enggak!" Arshi menggelengkan kepalanya." Kamu keluar dulu Yank." Pintanya sembari menatap sendu kearah suaminya yang berdiri di hadapannya.


"Baiklah Sayang, tapi kalau sudah selesai panggil aku ya." Rezki mengusap kepala istrinya lalu keluar dari kamar mandi.


-


Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah kediaman keluarga Hendrik Choi. Setelah menunaikan sholat subuh berjamaah dikamarnya bersama dengan Hendra suaminya, Amara tiba-tiba merasa perutnya seperti di aduk-aduk. Dia bergegas melepaskan mukenanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hoek...Hoek..." Amara memuntahkan apa yang masuk ke dalam perutnya.


Hendra segera menyusul istrinya lalu memijit tengkuknya dengan lembut.


"Kamu sakit apa My Lovely?" Hendra menatap sendu wajah istrinya yang tampak pucat dari balik cermin wastafel.


"Paling cuma masuk angin Hubby, kamu gak usah khawatir ya." Amara mengulas senyumnya.


"Aku panggilkan Dokter ya." Hendra masih mencemaskan keadaan istrinya.


"Gak usah Hubby, aku udah gak papa kok!" Amara membelai wajah tampan suaminya.


"Tapi bila kamu muntah-muntah lagi setelah ini aku akan bawa kamu secepatnya ke rumah sakit!" Tegas Hendra tanpa mau dibantah.


"Ok." Singkat Amara karena tidak mau berdebat lagi dengan suaminya.


-


Kembali ke rumah keluarga Setiawan. Khardha dan Wava sudah selesai memasak menu sarapan pagi untuk mereka semua, hidangan sudah tersaji di meja makan. Mertua dan menantu itu segera memanggil suami-suami mereka untuk menyantap makanan bersama di pagi hari yang cerah itu. Setelah Dokter Hasan dan Arsha bergabung di meja makan mereka berempat merasa ada yang kurang.


"Arshi dan Rezki kok gak diajak sarapan sama-sama?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik diusianya yang tidak lagi muda.


"Biar aku yang panggilkan mereka berdua Pah." Ujar Arsha lalu beranjak dari duduknya.


"Iya cepatlah!" Perintah Dokter Hasan sembari menunggu istrinya menaruh nasi dan lauk pauk dipiringnya.


"Baik Pah." Arsha menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar saudara perempuannya.


Tok...tok...tok..." Arsha mengetuk pintu dari luar.


"Arshi, Rezki!" Serunya dari balik pintu." Ayo sarapan sama-sama!" Ajaknya sambil menunggu jawaban dari dalam.


Rezki malas sekali beranjak dari duduknya yang tengah sibuk memijit kepala istrinya sembari bersandar di headboard tempat tidurnya. Arsha yang mendengar sahutan dari iparnya itu langsung membalikkan badannya lalu berjalan kembali menuju meja makan.


"Mana mereka Sha?" Khardha mengerutkan keningnya menatap wajah anak laki-lakinya itu.


"Rezki bilang Arshi gak enak badan Mah." Jawab Arsha lalu duduk di kursi samping istrinya.


"Ya udah biarin aja mereka berdua istirahat, nanti kalau sudah laper mereka pasti keluar sendiri." Ujar Dokter Hasan seraya mengulas senyumnya.


"Jangan lupa baca doa dulu sebelum makan." Khardha mengingatkan sembari mengangkat kedua tangannya." Pimpin doanya Sayang." Pintanya kepada suaminya yang hendak menyuap makanan ke mulutnya.


Dokter Hasan meletakkan sendok dan garpunya lalu memimpin doa.


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar"


Artinya: "Ya Allah, semoga Engkau berkenan memberikan berkah (kemanfaatan) kepada kami atas apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan semoga Engkau berkenan menjaga kami dari siksa api neraka yang menyakitkan".


Mereka berempat akhirnya sarapan bersama dengan tenang tanpa berbicara lagi hanya ada bunyi dentingan sendok dan garpu yang mengiringi santap paginya.


-


Didalam kamar Arshi. Rezki masih saja sibuk memijit kepala istrinya dengan lembut sambil berbaring disampingnya, dia juga sesekali memberikan usapan lembut diperut kekasih halalnya itu, karena dia yakin istrinya sedang mengandung buah cintanya. Arshi memejamkan matanya karena sangat menikmati pijatan dan usapan lembut dari suaminya itu.


"Sayang nanti kalau kamu udah gak sakit kepala lagi, kita ke Dokter spesialis kandungan ya." Pinta Rezki sembari mengelus perut istrinya yang masih datar.


"Iya." Singkat Arshi tanpa membuka matanya.


"Sayang kalau kamu beneran hamil lagi aku akan membangun sebuah panti asuhan dan panti sosial untuk para lansia. Apa kamu setuju?" Bisik Rezki ditelinga istrinya sembari menghembuskan nafasnya.


"Terserah kamu aja Yank." Jawab Arshi yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

__ADS_1


Krucuk...Krucuk...perut six pack Rezki berbunyi tanda dia sudah menahan lapar sedari tadi. Arshi akhirnya membuka matanya lalu mengulas senyumnya.


"Kamu laper kan Yank? Kenapa gak bilang dari tadi?" Arshi mengangkat satu alisnya menatap wajah tampan suaminya.


"Aku gak mau nyusahin kamu Sayang, apalagi saat kamu sakit seperti sekarang ini." Jawab Rezki sembari membelai wajah istrinya dengan lembut.


"Ya udah yuk kita keluar!" Ajak Arshi sambil beranjak dari tempat tidurnya.


"Kamu yakin udah gak papa lagi Sayang?" Rezki meraih tangan istrinya yang berdiri sambil memegangi kepalanya.


"Iya." Singkat Arshi lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.


Namun ketika hendak membuka pintu kamarnya tubuhnya tiba-tiba terhuyung ke belakang, Rezki dengan sigap menahannya supaya tidak jatuh ke lantai.


"Tuh kan kamu masih lemes banget Sayang, kamu istirahat aja ya. Aku bisa kok menyiapkan makanan sendiri." Ujarnya sembari menggendong istrinya." Istirahatlah Sayang aku gak mau kamu kenapa-napa." Rezki mengusap kepala istrinya dengan lembut." Aku akan menyiapkan makanan buat kita berdua Sayang, kamu tunggu disini aja ya." Pintanya lalu mengecup kening kekasih halalnya itu.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya kembali.


-


Setelah selesai sarapan Wava kembali merasakan mual-mual, dia bergegas menuju kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang baru saja masuk ke dalam perutnya.


Hoek...Hoek...Wava memuntahkannya di closed. Arsha segera menyusul istrinya lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya ketika kekasih halalnya itu sudah membersihkan mulutnya.


"Honey kita periksa ke Dokter spesialis kandungan ya." Pintanya sembari membelai rambut istrinya.


"Iya Bee." Wava menganggukkan kepalanya.


-


Dirumah kediaman keluarga Wicaksono. Wavi, Mommy dan Daddy nya baru saja selesai menikmati sarapannya.


"Mom, Dad, aku sudah melamar Lida. Aku mau menikahinya secepatnya, tolong temui kedua orangtuanya segera." Pinta Wavi dengan menangkup kedua tangannya.


"Ok." Singkat Dokter Wahyu dan Dokter Selvi serempak.


-


Sedangkan di rumah yang lain tepatnya di kediaman Raditya Dika. Ibu, Ayah, Dira, adiknya dan tentu saja si empunya rumah Radi. Mereka semua baru saja selesai sarapan pagi bersama lalu bercengkerama diruang keluarga sambil menonton televisi.


"Yah, Bu bulan depan aku mau menikahi Dira, kami minta doa dan restu kalian selalu supaya semuanya berjalan dengan lancar sampai hari H." Ujar Radi sambil menggenggam tangan Dira.


"Doa dan restu kami selalu menyertai kalian berdua Nak." Ibunya Dira mengulas senyumnya.


"Lebih cepat kalian menikah itu memang lebih baik supaya tidak menimbulkan fitnah." Timpal Ayahnya sembari menatap anak dan calon menantunya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman semuanya.


Melalui vote, like, komen, koin, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.


Salam sayang selalu dariku Khardha Love.


See you next time.


Mohon maaf jika belum bisa berkunjung kepada teman-teman author semuanya karena dunia riil ku yang sangat menyita waktuku.


Nanti kalau sudah ada waktu luang aku pasti mampir ke karya hebat kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2