
Happy reading guys!
Dokter Hasan dan Arsha segera masuk ke dalam ruang ICU lalu memeriksa kondisi Rezki secara keseluruhan. Setelah selesai melakukan pemeriksaan kedua Dokter spesialis penyakit dalam yang berbeda usia namun memiliki paras wajah tampan nan identik itu lalu keluar dari sana. Keduanya menghampiri Radi, Dira dan Riki Pratama yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Riki!" Panggil Dokter Hasan sambil menepuk pundak besannya itu.
Riki mendongakkan kepalanya lalu menatap ke arah suami dari mantan terindahnya itu.
"Ada apa?" Tanyanya sembari menatap sendu kearah Dokter Hasan.
"Ikutlah denganku." Jawab Dokter Hasan sambil berjalan menuju ruangannya.
Riki segera mengikuti langkah besannya itu karena penasaran apa saja yang akan dikatakan oleh pemilik rumah sakit tersebut. Setelah masuk kedalam ruangannya Dokter Hasan mempersilahkan Riki duduk di kursi yang ada di seberang meja kerjanya, dia lalu menghubungi petugas laboratorium untuk mengantarkan hasil rontgen dan CT scan Rezki. Sementara menunggu kedatangan staffnya Dokter Hasan bertanya tentang kondisi Rina dan Stephani.
"Riki, aku dengar dari kak Gusti, mantan istrimu dan sekutunya di masukkan ke rumah sakit jiwa. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya sembari menatap ke arah Riki.
"Aku belum sempat kesana, jadi aku gak tau keadaannya." Jujur Riki sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Ohh." Dokter Hasan membulatkan mulutnya hingga membentuk huruf O.
"Menurut cerita Dira yang menemani Arshi ketika periksa kandungan di ruangan Dokter Murni tadi, Arshi menangis karena syok melihat Rezki di cumbu oleh seorang wanita. Setelah itu Rezki hendak mengejar Arshi namun tiba-tiba dia jatuh pingsan di hadapannya, Dokter Murni dan wanita itu. Apakah aku bisa melihat rekaman cctv untuk membuktikan kebenarannya?" Tanya Riki setelah menjelaskan apa yang di dengarnya dari mulut Dira.
"Tentu saja! Aku juga gak mau anak-anak kita tersakiti hanya karena kesalahpahaman." Jawab Dokter Hasan dengan bijaknya.
Dia segera memperlihatkan layar laptopnya yang bisa memantau semua cctv yang ada di rumah sakit itu kepada Riki Pratama. Keduanya tampak sangat serius memperhatikan rekaman cctv ketika Rezki berada di depan ruangan Dokter Murni dan bertemu dengan wanita yang bernama Chika itu.
Tidak lama kemudian datanglah seorang petugas laboratorium mengantarkan hasil pemeriksaan medis Rezki.
Tok...tok...tok... Bunyi pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Seru Dokter Hasan dari dalam ruangannya.
"Assalamualaikum." Ucap petugas laboratorium itu." Ini hasil rekam medis pasien atas nama Rezki Aditya Pratama." Ujarnya sambil menyerahkan amplop berwarna coklat besar dan amplop berwarna putih yang bertuliskan nama rumah sakit keluarga Setiawan tersebut.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan dan Riki bersamaan.
"Terima kasih karena sudah melakukan tugasmu dengan cepat dan baik." Ucap Dokter Hasan sembari menatap ke arah staffnya itu.
"Iya sama-sama." Petugas laboratorium itu menganggukkan kepalanya." Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi dulu Dokter." Pamitnya sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Iya." Singkat Dokter Hasan sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian petugas laboratorium itu Dokter Hasan menjelaskan tentang hasil rontgen dan CT scan Rezki.
"Alhamdulillah gak ada penyakit dalam tubuh Rezki yang perlu dikhawatirkan, dia cuma terkena obat bius yang dicampur obat perangsang dosis tinggi dalam bentuk cair hingga membuat mata dan hidungnya bermasalah." Ujarnya setelah membaca hasil laboratorium tersebut.
"Tapi kenapa Rezki masih belum sadar sampai sekarang?" Tanya Riki sembari menatap ke arah besannya itu.
"Obat bius yang sengaja di campur dengan obat perangsang, reaksinya bisa bertahan selama tujuh sampai sepuluh jam, bahkan hingga dua puluh empat jam. Kemungkinan besar Rezki berusaha menolak untuk menyalurkan hasratnya kepada wanita itu, hingga jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya dan mengakibatkan tekanan darahnya menjadi naik secara drastis. Itulah yang membuat hidungnya mengalami pendarahan dan akhirnya gak sadarkan diri sampai sekarang, Rasya sudah menyuntikkan obat untuk menghindari kemungkinan buruk lainnya. Jadi kamu tenang aja, insha Allah Rezki akan segera sadar secepatnya. Apalagi kalau ada Arshi disampingnya." Jelas Dokter Hasan seraya mengulas senyumnya.
"Kalau begitu tolong bawa Arshi secepatnya untuk menemui dan menemani Rezki." Pinta Riki sambil menangkupkan kedua tangannya di atas dada.
"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya, supaya Arshi bisa mengerti apa yang terjadi sebenarnya." Sahut Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
Kedua laki-laki yang menjadi rival abadi karena mencintai wanita yang sama itu, akhirnya sepakat untuk saling mendukung satu sama lain terutama dalam urusan kebahagiaan anak-anak mereka.
Setelah keduanya berpisah di ujung koridor rumah sakit, Dokter Hasan melangkahkan kakinya menuju kediamannya. Sedangkan Riki berjalan menuju tempat dimana Radi dan Dira menunggunya bersama anak buahnya, karena mereka sudah mengamankan asisten Dokter Murni untuk di interogasi secara langsung oleh anak laki-laki tertua di keluarga Pratama tersebut.
-
Sesampainya di dalam rumahnya
Dokter Hasan menghampiri istrinya yang tengah sibuk memasak didapur bersama Wava untuk menyiapkan makan siang buat mereka semua.
"Assalamualaikum." Ucapnya lalu duduk di kursi yang ada di sana.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha dan Wava serempak.
"Mau minum apa Sayang?" Tawar Khardha sembari menatap ke arah suaminya.
"Terserah kamu aja." Jawab Dokter Hasan sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda istrinya.
Khardha menyunggingkan senyumnya sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah suaminya yang selalu berusaha menggodanya disetiap kesempatan itu. Dia segera membuatkan jus jeruk favorit kekasih halalnya itu lalu menyuguhkannya dihadapannya.
"Ini jus jeruk spesial buat kamu Sayang." Ujarnya sambil menyodorkan ke mulut suaminya.
"Makasih Sayang." Ucap Dokter sembari mencium bibir istrinya sekilas ketika Wava membalikkan badannya untuk memasukkan sayuran kedalam panci." Kamu selalu mengerti apa yang ku inginkan." Bisiknya dengan nada sangat lembut.
"Iya sama-sama Sayang." Khardha menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya." Gimana keadaan Rezki?" Tanyanya sembari menatap suaminya.
"Dia belum sadar sekarang." Jawab Dokter sambil meminum jus jeruk buatan istrinya itu." Apa Arshi sudah bangun?" Ujarnya balik bertanya.
"Kayaknya belum." Jawab Khardha sambil meneruskan aktivitas memasaknya.
"Kalau begitu aku ke kamar Arshi dulu ya." Pamit Dokter Hasan setelah menghabiskan minumannya.
"Iya." Singkat Khardha dan Wava sambil terus memasak.
-
Setelah sampai di dalam kamar anak perempuannya itu Dokter Hasan lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Arshi bangunlah sayang, papah mau bicara sama kamu." Pintanya dengan nada lembut.
Arshi membuka matanya perlahan lalu mengerjabkan indera penglihatannya itu.
"Papah." Sebutnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa kamu sudah tahu kalau Rezki kritis dan sekarang dia ada di ruang ICU?" Tanya Dokter Hasan untuk memancing reaksi anaknya itu.
"Apaaaa?!" Arshi membulatkan matanya dengan sempurna karena sangat terkejut mendengarnya.
"Jadi kamu belum tau kondisinya?" Dokter Hasan menaikkan satu alisnya menatap wajah cantik anak perempuannya itu.
Arshi menggelengkan kepalanya lalu duduk bersandar di headboard ranjangnya.
"Lalu kenapa tadi kamu menangis?" Tanyanya lagi untuk menguji kejujuran anaknya.
__ADS_1
Arshi langsung menghambur ke dalam pelukan papahnya, lalu menceritakan semuanya sambil menangis sesenggukan. Dokter Hasan mengusap punggung anak perempuannya itu kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Rezki. Setelah mendengar dan melihat rekaman cctv yang ada di smartphone milik papahnya, Arshi langsung beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
"Kita makan sama-sama dulu yuk!" Ajak Dokter Hasan sambil merangkul bahu anaknya itu.
"Aku gak selera makan Pah, aku cuma mau menemui dan menemani Rezki sekarang juga." Tolak Arshi sambil terus berjalan keluar dari rumah orangtuanya itu.
Dokter Hasan yang mendengar apa yang dikatakan Arshi hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, dia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh anak perempuannya yang tengah mengandung buah cintanya bersama Rezki itu.
-
Setelah sampai di depan ruang ICU Arshi langsung masuk lalu duduk di kursi yang ada di samping bed pasien suaminya.
"Maafin aku Yank, karena sudah berprasangka buruk sama kamu. Aku terlalu egois hingga gak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi sama kamu." Ucapnya sambil menggenggam tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.
Arshi kembali meneteskan air matanya sambil menelungkup di atas ranjang pasien itu tanpa melepaskan tautan tangannya dengan kekasih halalnya itu. Hingga akhirnya dia kembali terlelap karena sangat lemas akibat terus-terusan menangis dan kehilangan nafsu makannya.
-
Keesokan harinya setelah menunaikan sholat subuh Arshi kembali menghampiri ranjang pasien suaminya.
"Yank kumohon cepatlah bangun, aku sama baby twins sangat merindukanmu." Ujarnya sambil berdiri di samping bed pasien suaminya lalu meletakkan tangan kekasih halalnya itu diatas perutnya.
Tiba-tiba Arshi merasakan tendangan dari dalam perutnya itu untuk yang pertama kalinya, setelah itu jari-jari tangan suaminya ikut bergerak-gerak menandakan bahwa Rezki sudah mulai terbangun dari tidur panjangnya.
"Yank." Lirihnya dengan mata berkaca-kaca karena sangat bahagia." Apa kamu juga merasakan gerakan anak-anak kita? Hingga akhirnya kamu terbangun." Arshi tersenyum penuh arti menatap suaminya yang mulai membuka matanya.
Rezki mengerjabkan indera penglihatannya itu, lalu mengulas senyumnya karena merasa sangat bahagia melihat wajah cantik istrinyalah yang pertama kali di lihatnya setelah terbangun dari tidurnya.
"Iya Sayang." Jawab Rezki dengan nada serak khas bangun tidur.
"Aku hubungi Arsha dulu ya supaya kamu bisa cepat dipindahkan ke ruang rawat." Arshi mengambil handphonenya yang diletakkan di atas nakas lalu menempelkan ditelinganya.
Rezki menganggukkan kepalanya sambil terus menatap wajah cantik istrinya yang tengah sibuk menghubungi saudara kembarnya itu. Tidak lama kemudian datanglah Arsha bersama Wava, Dokter Hasan dan juga Khardha. Dia segera melakukan tugasnya lalu melepaskan semua peralatan medis yang menempel di tubuh Rezki karena kondisinya sudah membaik dan mulai stabil. Setelah selesai Arsha memerintahkan kepada para perawat untuk memindahkan iparnya itu ke ruang rawat inap VVIP yang di khususkan untuk keluarganya.
"Sayang!" Panggil Rezki setelah semua orang meninggalkan mereka berdua.
"Iya." Singkat Arshi sembari menatap wajah tampan suaminya.
"Kenapa wajahmu pucat banget?" Tanyanya sembari menatap sendu kearah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku gak papa Yank." Kilah Arshi seraya tersenyum hingga menampakkan barisan giginya.
Krucuk... Krucuk... Bunyi perut Arshi yang tidak bisa diajak kompromi membuatnya ketahuan kalau sudah berbohong kepada suaminya.
"Jangan bilang kamu belum makan apa-apa sejak kemarin?" Rezki menatap tajam kearah istrinya.
"Iya." Jujur Arshi sambil menundukkan kepalanya.
Matanya mulai berkaca-kaca karena takut melihat sorot mata tajam suaminya. Rezki yang melihat bahu istrinya bergetar menahan tangisnya berusaha meredam emosinya, dia menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sebab Rezki sudah sangat mengerti bahwa wanita yang telah mengandung buah cintanya itu semakin sensitif sejak awal kehamilannya.
"Sayang maafin aku ya, aku gak marah kok sama kamu. Aku cuma takut kamu dan baby twins kenapa-napa. Kemarilah Sayang,
duduklah di sampingku." Pintanya dengan nada sangat lembut sambil menepuk ranjang pasiennya.
Arshi beranjak dari kursinya lalu mendudukkan dirinya di samping kekasih halalnya itu.
Arshi menganggukkan kepalanya lalu mengambil makanan yang dibawakan oleh mamahnya tadi. Pasangan suami istri itu akhirnya makan dan minum bersama dengan menggunakan piring, sendok dan gelas yang sama. Keduanya begitu asyik menikmati makanannya hingga habis tidak bersisa lagi.
Seusai makan Arshi mencuci peralatan makannya dan tangannya di wastafel yang ada di kamar mandi, setelah itu dia kembali menemani suaminya. Rezki kembali memintanya untuk duduk di sampingnya lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya sambil menciumi puncak kepalanya dan mengelus-elus perut buncitnya.
Tidak lama kemudian datanglah tiga pasang anak manusia yang berniat untuk menjenguk Rezki.
Tok... tok...tok... Bunyi pintu diketuk dari luar.
"Aku bukain pintu dulu ya." Arshi melepaskan diri dari pelukan suaminya dan tangannya yang mulai tidak bisa dikondisikan.
"Siapa sich ganggu aja!" Kesal Rezki dengan melipat kedua tangannya di atas dada sembari menekuk wajahnya.
"Jangan marah gitu dong Yank! Nanti aku kasih jatah' lebih dari biasanya." Goda Arshi sambil membelai wajah tampan suaminya.
"Beneran Sayang!" Seru Rezki dengan antusiasnya.
"Iya." Singkat Arshi sambil menganggukkan kepalanya." Tapi kalau habis bulan Ramadhan." Bisiknya seraya tersenyum penuh arti.
"Kenapa harus habis bulan Ramadhan?" Tanya Rezki sembari menatap sendu kearah istrinya.
"Karena authornya mau fokus di dunia nyata nya dulu." Jawab Arshi kemudian berlalu pergi ke arah pintu masuk untuk membukakan pintunya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung...
Hai teman-teman semuanya mohon maaf lahir batin ya, untuk sementara aku Hiatus dulu selama bulan Ramadhan ini.
Sebab suamiku memintaku untuk break dulu dari dunia pernovelan.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang selalu membangun, koin seikhlasnya, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.
Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1442 H bagi yang melaksanakannya.
Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin dan amal ibadah kita diterima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya rabbal alamiin.
🌿 Ramadhan Tiba 🌿By Opick
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
__ADS_1
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Ramadhan tiba semua bahagia
Tua dan muda bersuka cita
Bulan ampunan bulan yang berkah
Bulan terbebas api neraka
Andaikan saja Ramadhan semua
Bulan yang tiba bulan yang ada
Karena besarnya setiap pahala
Yang di janjikan kepada kita
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Dalam bersahur ada pahala
Dalam berbuka alangkah indah
Menahan diri menahan lidah
Menjaga hati menjaga mata
Banyakkan amal hari-harinya
Pahala datang berlipat ganda
Berlomba-lomba untuk ibadah
Dunia bahagia surga nantinya
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Dan semoga setiap jiwa
Diberikan ampunan-Nya
Dan semoga hapus semua
Kesalahan setiap jiwa
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya... Ya... Ramadhan
Marhaban Ya... Ya... Ramadhan
Marhaban Ya... Ya... Ramadhan
__ADS_1
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.
See you next time!