
Happy reading guys!
"Astagfirullah al azdim!" Seru mereka yang ada didalam serempak.
Dokter Hasan segera menghampiri orang yang terjerembab didepan pintu masuk itu, dia mengerutkan keningnya dengan sempurna melihat penampilannya. Orang itu memakai hoodie berwarna hitam, celana hitam,masker hitam, dan kacamata hitam. Disana juga ada sekuriti yang berusaha membekuknya.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Tanya Dokter Hasan menatap dua sekuriti yang berusaha menangkap orang itu.
"Maaf Pak orang ini tadi kami liat dari kamera pengawas sangat mencurigakan, dia sepertinya mengikuti Mas yang pakai jaket hitam itu." Sekuriti menujuk kearah Rezki.
Rezki berjalan mendekati mereka yang ada didepan pintu, dia memperhatikan orang yang mencurigakan itu dari atas kebawah. Dia sangat terkejut ketika mengenali kacamata dan tas yang dibawa orang itu.
"Mama!" Seru Rezki dengan menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Khardha yang mendengar Rezki menyebut mamanya segera menghampirinya lalu berjongkok untuk membantunya berdiri.
"Bangunlah Rina." Khardha mengulurkan tangannya.
"Menyingkirlah dari hadapanku, aku gak sudi bersentuhan sama kamu!" Pekik Rina sembari menepis tangan Khardha dengan Kasar.
Khardha tersentak kaget hingga terdorong ke belakang. Dokter Hasan segera membantunya untuk berdiri lalu merangkul bahunya.
"Mama kenapa ngikutin aku?" Rezki menatap Rina dengan tatapan penuh tanda tanya sambil membantunya berdiri.
"Karena mama gak suka kamu keluar rumah tanpa pamit, apalagi untuk menemui gadis itu dan keluarganya ini!" Teriak Rina hingga membangunkan Arshi yang terbaring lemah di bed pasiennya.
Arshi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Setelah merasa nyawanya sudah terkumpul semua, dia memanggil kedua orangtuanya.
"Pah, Mah." Lirihnya namun masih bisa didengar oleh Khardha dan Dokter Hasan.
"Kamu aja yang menghampiri anak kita Sayang, aku akan bantu beresin masalah ini dulu." Bisiknya ditelinga istrinya.
__ADS_1
Khardha menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya menuju bed pasien anaknya.
Dokter Hasan mengisyaratkan untuk menyelesaikan semuanya ditempat lain agar tidak mengganggu ketenangan anaknya dan semua orang yang mendengarnya. Dia segera menutup pintu lalu meminta sekuriti pergi dari sana.
"Kalian kembali saja ke pos keamanan." Perintahnya." Wanita ini bukan orang jahat dia sahabat istriku." Jelasnya dengan tatapan dingin.
Sesampainya di rumah keduanya Dokter Hasan mempersilahkan Rina dan Rezki masuk kedalam juga duduk disofanya.
"Sekarang silahkan kalian mau bicara apa saja." Dokter Hasan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Maafin aku Ma, karena tadi gak pamit dulu sama Mama dan Papa. Tapi aku ini udah dewasa Ma, aku berhak menentukan apapun yang aku lakukan. Aku yakin Arshi adalah masa depanku, aku sangat mencintainya juga menyayanginya. Aku harap Mama jangan lagi menentang hubunganku dengannya, karena aku akan secepatnya menikahinya. Masalah Mama mau setuju ataupun gak itu bukan masalah besar lagi untukku. Sekarang terserah Mama mau gimana, aku hanya ingin Mama berdamailah dengan masalalu. Sebab semua ini sangat jelas sekali bukan salah Tante Khardha apalagi Arshi yang sudah kuanggap sebagai calon istriku. Sadarlah Ma dendam itu hanya akan menggerogoti hati Mama sendiri, mengenai Papa aku yakin perlahan dia akan sadar sendiri bila melihat aku dan Arshi menikah nanti. Berubahlah menjadi istri yang sholehah sesuai keinginan Papa bukan ibu-ibu sosialita." Rezki berusaha mengingatkan mamanya.
"Sudah kamu ngomongnya, pintar sekarang kamu ya sok nasehatin mama. Memangnya kamu kira bisa semudah itu merubah hati papamu yang sudah terlanjur cinta mati sama Khardha, dari awal pernikahan sampai usia kamu 26tahun sekarang dia masih saja suka menyebut nama Khardha dalam tidurnya, menyimpan foto Khardha dalam handphonenya, laptopnya, bahkan flashdisknya, kamu kira mama gak sakit hati mengetahui kenyataan itu." Rina mengungkapkan semuanya sambil berderai airmata dan sengaja meninggikan intonasi suaranya agar Dokter Hasan mendengarnya dengan jelas.
Deg...Jantung Dokter Hasan seakan berhenti berdetak ada perasaan cemburu terselip di hatinya ketika mendengarkan penuturan dari Rina namun dia berusaha tetap tenang untuk menutupi perasaannya itu. Dia berusaha maklum dengan semua itu sebab dia sadar istrinya memang bukan wanita yang mudah untuk dilupakan dan terlalu indah untuk dikenang, dia sendiri yang tiap hari bertemu dengan istrinya selalu merindukannya apalagi orang lain. Jadi menurutnya selama Riki tidak mengganggu kehidupan rumah tangganya itu bukan masalah yang besar baginya.
"Aku sangat mengerti perasaan Mama, tapi aku mohon Mama juga ngerti perasaan aku sama Arshi gimana. Apakah Mama mau liat aku bunuh diri hanya karena gak dapat restu dari Mama? Aku sayang sama Mama tapi aku juga sangat mencintai Arshi. Kalau Mama juga sayang sama aku seharusnya Mama merestui hubunganku sama Arshi bukan menentang terus kayak gini." Rezki mengacak-acak rambutnya sendiri karena sangat kecewa dengan mamanya yang sangat keras pada pendiriannya.
📲"Assalamualaikum Sayang, ada apa? Arshi baik-baik aja kan?" Tanya Dokter Hasan terlihat cemas.
📱"Arshi baik-baik aja, dia udah tidur lagi setelah minum obatnya barusan, disini juga ada Arsha Sayang." Jelas Khardha sambil menatap kedua anaknya yang masing-masing mulai menyelami alam mimpinya." Kamu dimana sekarang?" Tanya Khardha dengan nada sangat lembut.
"Aku ada diatas dirumah kita, disini juga masih ada Rezki sama mamanya." Jawab Dokter Hasan sembari menatap ibu dan anak yang ada didepannya itu yang masih saja berdebat dengan semua egonya masing-masing.
"Ok kalau begitu aku akan segera kesana, assalamualaikum." Khardha segera melangkahkan kakinya menuju lift lalu memencet tombol kelantai paling atas.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati ya Sayang." Dokter Hasan mengingatkan lalu mematikan sambungan teleponnya.
Sesampainya di depan pintu Khardha membunyikan bel samping pintu masuk rumahnya karena kunci dibawa suaminya.
Ting...tong...terdengar bel berbunyi Dokter Hasan segera beranjak untuk membukakan pintunya. Setelah terbuka dia sengaja menarik istrinya lalu merangkul pinggangnya dengan posesif kemudian mengajaknya duduk disofa ruang tamu untuk meyakinkan Rina bahwa Khardha adalah miliknya seutuhnya bukan suaminya yang tidak tahu diri itu.
"Kalian mau minum apa? Biar aku buatin dulu ya." Tawar Khardha sembari beranjak dari duduknya hendak menuju dapurnya.
__ADS_1
"Gak usah repot, kami udah mau pulang." Ketus Rina sambil menarik tangan anaknya.
"Ok, kalau begitu bolehkah aku bicara empat mata sama kamu?" Pinta Khardha kepada Rina.
Rina memicingkan matanya menatap curiga pada Khardha, hatinya belum bisa berdamai dengan mantan terindah suaminya itu, padahal mereka dulu adalah sahabatan.
"Ikuti aja kemauan Tante Khardha Ma, aku yakin Tante Khardha gak seburuk yang Mama kira." Bisik Rezki ditelinga mamanya.
Rina akhirnya menganggukkan kepalanya. Khardha mengajaknya ke balkon rumah keduanya itu.
Sesampainya di sana Khardha mempersilahkan Rina duduk lalu memulai pembicaraannya.
"Rina dari dulu sampai sekarang aku selalu menganggapmu sahabatku, bagaimanapun sifat dan sikapmu kepadaku aku selalu berusaha menerimanya. Namun kali ini aku mohon restuilah anak-anak kita, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga sebagai orangtua. Berdamailah dengan masalalu Rin, kita bukan anak baru gede lagi yang bisa mementingkan ego kita semata." Ujar Khardha berusaha membujuk sahabatnya itu.
"Kamu gak tau kan gimana sakitnya hatiku selama duapuluh enam tahun ini. Riki menikahiku karena terpaksa, dihatinya hanya ada namamu Khardha. Hingga sekarang dalam tidurnya dia sering menyebut namamu, dia juga masih menyimpan foto-fotonya bersamamu. Bahkan ketika kami bercinta sekalipun dia tanpa sadar selalu menyebut namamu. Aku takut jika kita menjadi besan nanti Riki semakin gak bisa jauh darimu, dia pasti akan selalu berusaha mencari alasan untuk bertemu denganmu." Tutur Rina dengan berlinang airmata.
"Tolong kamu telpon Riki sekarang, aku mau bicara sama dia." Pinta Khardha dengan menatap kearah Rina yang berdiri di samping pembatas pagar balkonnya.
"Buat apa? Supaya dia semakin mengingatmu?" Ketus Rina tersenyum smirk.
"Bukan itu maksudku Rina, aku hanya berusaha menyelesaikan semuanya secara baik-baik tanpa ada yang harus aku tutupi darimu." Jujur Khardha berusaha menjelaskan sembari beranjak untuk berdiri di samping Rina.
"Sudahlah aku bosen mendengar kata-kata manismu itu sejak dulu, kamu benar-benar membuatku muak dengan semua sifat baikmu itu Khardha. Aku tau kamu sekarang menertawakan aku kan, karena kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Dulu kamu punya pacar yang sangat mencintai dan menyayangimu hingga sekarang. Setelah punya suami kamu juga sangat dicintai dan disayangi oleh suamimu. Sebenarnya apa kurangnya aku dibanding kamu? Aku cantik, seksi, keturunan keluarga terpandang, sedangkan kamu wajahmu gak cantik-cantik amat, dengan pakaian sederhana kayak gini jauh sekali dari kata seksi, kamu juga keturunan dari keluarga yang biasa aja." Rina berkata dengan tatapan mengejek.
"Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, yang membedakannya hanyalah ketaqwaan nya di mata Allah subhanna wata'ala. Jadi jangan menilai seseorang dengan tampilan luarnya aja." Khardha mengingatkan tanpa ada maksud menggurui kepada sahabatnya itu.
Bersambung.....
Hai teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang lima nya.
Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya.
__ADS_1