Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#21 "Ngidam"


__ADS_3

Happy reading guys!


Rezki baru saja selesai menunaikan sholat zuhur didalam ruangan itu, dia kembali menghampiri istrinya yang sudah terbangun dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikannya.


"Kamu masih marah Sayang?" Rezki mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Arshi memalingkan wajahnya kearah lain, dia masih marah melihat foto Rani dan Rezki yang sangat mesra. Padahal foto itu sudah dihapus Rezki dari handphone istrinya, kartu telepon dan memory card nya juga sudah dibuangnya agar tidak ada lagi kenangan ataupun orang yang berani meneror wanita yang sangat dicintainya itu.


"Sayang makan ya, dari pagi sampai sekarang perut kamu belum ada isinya sama sekali, aku gak mau kamu sama baby kelaparan." Rezki berusaha membujuk istrinya.


Arshi tetap tidak menghiraukannya, dia justru menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut agar Rezki berhenti mengajaknya bicara.


"Sayang jangan kayak gini nanti kamu gak bisa bernafas." Rezki menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.


"Aku benci sama kamu, pergi dari sini aku gak mau liat wajahmu lagi!" Seru Arshi sambil terisak.


"Sayang aku mohon jangan membenciku, aku gak bisa jauh dari kamu, harus gimana lagi aku membuktikan kalau aku beneran cinta dan sayang sama kamu?" Rezki naik keatas ranjang lalu mendekap istrinya." Aku udah menyuruh Radi untuk mengirim Rani ke pulau terpencil yang gak ada akses untuk keluar dari sana kecuali dengan helikopter, aku juga menyita semua alat komunikasinya agar dia gak bisa lagi meneror kamu dan aku Sayang, percayalah aku melakukan semua ini hanya demi kamu." Ujarnya sembari menciumi puncak kepala istrinya.


"Beneran? Kamu gak bohong sama aku kan? Bukan hanya untuk menghiburku kan?" Cecar Arshi dengan mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


"Ngapain aku bohong sama kamu Sayang, aku sengaja melakukan semua ini demi keharmonisan rumah tangga kita, sudah aku bilang sejak awal pernikahan kita, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu seumur hidupku walau apapun yang terjadi diantara kita kamu tetap prioritas utamaku." Rezki membelai wajah istrinya dengan lembut lalu menempelkan bibirnya hingga akhirnya mereka bertukar saliva dengan lidah saling membelit satu sama lain, Rezki semakin menekan tengkuk istrinya agar bisa memperdalam ciumannya.


Ehemmm.... Dokter Hasan berdeham.


Dia datang bersama Khardha istrinya sehingga membuyarkan momen romantis anak menantunya.


"Kalian sudah makan?" Khardha melihat rantang yang dibawakannya tadi belum disentuh sama sekali.


"Belum Mah, tadi bumil lagi merajuk makanya harus dibujuk dulu." Rezki mencubit hidung istrinya dengan gemesnya lalu turun dari ranjang.


"Merajuk kenapa? Lagi ngidam ya?" Khardha menghampiri anaknya.


"Bukan Mah, tapi pengin di kelonin." Goda Rezki seraya tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.


Dia kemudian duduk disofa diseberang Dokter Hasan mertuanya sembari memegangi lehernya.



"Kenapa pusing ya menghadapi istri yang lagi hamil? Baru juga sehari, tunggu aja nanti kalau dia ngidam yang aneh-aneh." Dokter Hasan mengulas senyumnya mengingat dulu istrinya ketika ngidam sewaktu kehamilannya yang pertama.


"Memangnya aneh gimana sich Pah?" Rezki penasaran dengan cerita mertuanya.


"Kamu pasti ngalamin sendiri nanti, jadi siap-siap aja ya." Dokter Hasan membentangkan tangannya di sandaran sofa seraya tersenyum penuh arti.


"Yank aku mau makan roti bakar." Pinta Arshi dengan nada manja.


"Sekarang Sayang?" Rezki menghampiri istrinya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Gak besok!" Arshi melipat kedua tangannya di atas dada.


"Ohh yaudah kalau besok." Rezki membalikkan badannya hendak kembali duduk di sofa.


"Ishhh orang maunya sekarang, lapernya sekarang bukannya besok." Arshi merengek pada mamahnya yang hanya tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Rezki kamu seharusnya lebih mengerti apa yang di inginkan istrimu, jangan sampai dia ngambek gara-gara kamu kurang peka. Bumil itu lebih sensitif dari biasanya, jadi kamu harus extra sabar menghadapinya." Khardha mengingatkan menantunya seraya tersenyum.


"Gitu ya Mah." Rezki menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal." Maafin aku ya Sayang, sekarang kamu mau roti rasa apa?" Rezki menggenggam tangan istrinya yang mulai merajuk karena ketidak pekaannya.


"Rasa bluberry dan strawberry, bila sampai sini harus masih panas." Arshi menatap Rezki dengan tajam.


"Iya Sayang nanti aku bawa sama tukang rotinya sekalian mau?" Rezki kembali menggoda istrinya dengan menaikturunkan alisnya.


"Kalau gitu kamu aja yang bikinin, aku juga mau liat kamu langsung buat roti bakarnya didepanku." Arshi tiba-tiba mendapat ide brilian dengan keinginan ngidamnya.


"Iya Sayang, apa sich yang gak buat kamu." Rezki merengkuh istrinya lalu menciumi puncak kepalanya.


Rezki mengambil kursi roda untuk membawa istrinya ke rumah kedua mertuanya yang ada dilantai paling atas. Mereka berempat sudah berada didapur menyaksikan langsung Rezki membuat roti bakar untuk Arshi yang sudah menunggu sedari tadi. Dua puluh menit kemudian roti bakar sudah siap disantap, Arshi memakannya dengan lahap. Baru selesai memakan roti bakarnya tiba-tiba Arshi berlari ke wastafel untuk memuntahkan apa yang sudah dimakannya. Rezki memijat tengkuk istrinya dengan lembut lalu menuntunnya ke kamar, dia membaringkan tubuh wanita yang sedang mengandung buah cintanya itu kemudian menyelimutinya.


"Istirahatlah Sayang aku bikinin susu ya." Rezki duduk di samping istrinya yang berbaring di atas ranjangnya sembari mengusap kepalanya.


"Gak usah Yank aku mau makan jeruk dan mangga aja, tolong beliin secepatnya ya." Arshi kembali mengungkapkan keinginan ngidamnya.


"Kamu yakin mau makan buah Sayang? Kamu barusan habis muntah loh, aku gak mau kamu malah memuntahkannya lagi." Rezki menolak dengan halus permintaan istrinya.


"Pokoknya aku mau makan buah, kalau kamu gak mau beliin biar aku suruh Arsha aja yang beli, dia pasti mau membelikannya." Arshi menepis tangan Rezki yang mengusap kepalanya.


"Ok Sayang, aku belikan yang banyak buat kamu." Rezki segera beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi keluar.


"Kamu mau kemana Rezki?" Tegur Khardha yang melihat menantunya berjalan tergesa-gesa.


"Aku mau beli jeruk sama mangga yang segar buat Arshi Mah."Jawab Rezki sembari berlalu dari depan mertuanya.


"Astagfirullah al azdim! Benar juga ya? Nanti salah lagi." Rezki kembali menemui istrinya dikamar." Sayang kamu mau mangga yang mentah atau yang matang? Jeruknya yang asem apa yang manis?" Tanya Rezki memastikan keinginan ngidam istrinya.


"Aku mau mangga yang mentah dan yang matang, jeruknya yang asem sama yang manis sekalian asinan sama rujaknya juga." Jawab Arshi dengan menekankan kata-katanya.


"Ok siap Sayang tunggu ya aku akan usahakan secepatnya." Rezki mengecup kening istrinya kemudian berlalu pergi seraya tersenyum penuh arti.


Khardha dan Dokter Hasan yang memperhatikan anak menantunya hanya menggelengkan kepalanya dengan mengulas senyumnya.


"Semoga Arshi gak ngidam yang aneh-aneh kayak kamu dulu ya Sayang." Dokter Hasan menyenggol lengan istrinya yang sedang membuatkan jus untuknya.


"Berarti kamu dulu gak ikhlas ya menuruti ngidam aku." Khardha memajukan bibirnya.


"Sayang aku itu rela berkorban apa aja buat kamu, apalagi cuma menuruti kemauan ngidam istri kesayanganku ini." Dokter Hasan memeluk istrinya dari belakang sembari menciumi tengkuknya.


"Udah gak usah gombal, udah tua malu sama umur." Khardha melepaskan tangan suaminya lalu menyerahkan jus kepadanya.


Tidak lama kemudian Rezki datang membawa buah-buahan yang dipesan istrinya beserta rujak dan asinan nya. Dia langsung mencucinya kedapur lalu menaruhnya diatas piring dan membawanya ke kamar untuk istrinya.


"Assalamualaikum Sayang ini pesanan kamu." Rezki meletakkannya di atas nakas dekat ranjang.



"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Woww makasih ya Yank, kamu udah mau repot membelikan semua ini untukku." Arshi mengecup pipi suaminya lalu duduk kembali.


"Kok cuma dipipi yang lain nanti ngiri loh Sayang." Rezki langsung menghujani wajah istrinya dengan ciumannya.

__ADS_1



"Udah hentikan aku mau makan rujak dulu, kamu mau?" Arshi menaruh piring diatas bantalnya.


"Boleh aku juga mau kalau disuapin." Ujar Rezki dengan memainkan jari kaki istrinya.


"Ok buka mulutnya, aaa!" Arshi menyuapi Rezki dengan rujak melalui garpu yang sudah disiapkan suaminya tadi.


"Udah kamu aja yang makan, rasanya kecut banget aku nyantap aja." Rezki hendak memuntahkan asinan dan rujak mangga muda yang baru dimakannya.


"Enak kok masa mau dimuntahkan?" Arshi mencubit pipi suaminya dengan gemesnya melihat ekspresi muka Rezki yang bergidik keaseman.


Tok...tok...tok...Pintu diketuk dari luar, Rezki segera membukakan pintu kamarnya.


"Assalamualaikum," ucap Wava dan Lida sembari masuk kedalam kamar.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ohh ternyata kalian, temanin gue makan rujak yuk!" Ajak Arshi dengan menyerahkan ketangan sahabatnya itu.


"Lo beneran ngidam Shi? Udah isi berapa bulan?" Tanya Lida sambil memakan rujak yang ada didepannya.


"Dua bulan, gue juga sebenarnya baru tau gue hamil." Jujur Arshi sembari mengajak Wava dan Lida duduk di balkon kamarnya.



"Gimana rasanya hamil Shi? Enak gak?" Wava mengangkat satu alisnya.


"Sayang aku keluar dulu ya, ada Radi nungguin di lobi, assalamualaikum." Pamit Rezki sembari menengok ke arah istri dan teman-temannya yang ada dibalkon.


"Iya, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Arshi seraya menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyumnya." Hamil itu enaknya suami tambah sayang sama kita, gak enaknya sering mual dan muntah kayak gue sekarang ini, maklum morning sickness hampir semua ibu hamil mengalaminya." Jujur Arshi dengan memakan kembali rujaknya.


"Kayaknya Rezki tambah perhatian sama lo Shi, buktinya dia rela gak kekantor demi jagain lo sedari pagi tadi, itu yang gue dengar dari cerita Arsha dikantin tadi." Wava berkata sembari ikut memakan rujak milik Arshi.


"Gue juga bersyukur punya suami kayak dia." Arshi tersenyum mengingat sifat manja dan overprotektif Rezki yang kadang sering berlebihan.


"Dulu gue kira waktu pertama Rezki minta nomer handphone lo sama gue hanya buat main-main aja, ehh gak taunya malah serius banget jadinya." Wava mengingat usaha Rezki ketika ingin mendekati Arshi.


"Terus lo sendiri gimana sama Wavi?" Tanya Arshi kepada Lida yang langsung merona bagaikan tomat matang.


"Wavi kayaknya belum bisa move on dari lo Shi, dia sering cuekin gue, ngelamun dan suka gak fokus sama apa yang gue omongin sama dia." Jujur Lida dengan ekspresi sedihnya.


"Udahlah yang penting lo sabar aja ya, gue yakin Wavi pasti luluh dengan ketulusan dan perhatian dari lo." Arshi menepuk bahu Lida dengan lembut." Kayaknya Arsha ada rasa sama lo dech Va, soalnya gue gak pernah liat Arsha liatin cewek kayak dia liatin lo selama ini." Arshi menaikturunkan alisnya menggoda Wava.


"Ahh lo bisa aja Shi, mana mungkin Arsha tertarik sama gue, dia aja so cool gitu orangnya." Wava berusaha mengelak perasaannya sendiri.


Hehehe..."Gue ada ide biar Arsha mau mengungkapkan perasaannya sama lo nanti." Arshi menjentikkan jarinya.


Bersambung...


Kira-kira apa yang direncanakan Arshi ya?


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya, jangan lupa untuk saling mendukung tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang lima nya ya.


Jaga kesehatan, jangan lupa bahagia ya teman-teman semuanya.

__ADS_1


__ADS_2