
Happy reading guys!
Tiba-tiba terdengar suara helikopter mendarat di halaman rumah utama milik keluarga besar Gunawan yang sangat luas itu. Riki Pratama mengintip dari balik jendela mobilnya untuk mengetahui siapakah gerangan tamu agung yang datang. Dia sangat terkejut ketika melihat wajah orang yang selama ini sudah sangat lama tidak ditemuinya.
"Papa!" Seru Riki sembari menatap kedatangan orangtuanya yang baru keluar dari helikopter tersebut.
Riki dan Rina bergegas keluar dari mobil lalu ikut berjejer menyambut kedatangan Muhammad Putra Pratama bersama adiknya Putri Pratama dan suaminya Ahmad Sirajuddin.
Dokter Selvi, Dokter Wahyu, Dokter Rasyid dan Dokter Reisa segera menyalami kedua orangtuanya lalu mencium punggung tangannya, begitu juga dengan Om nya.
"Assalamualaikum Pa, Om, Tante." Ucap Riki setelah menerobos kerumunan orang-orang lalu mencium punggung tangan mereka bertiga.
"Kenapa kamu gak pernah pulang kerumah lagi untuk menengokku? Apa kamu sudah melupakanku sejak ibumu meninggal? Atau mungkin kamu sudah merasa hebat hingga gak membutuhkan orangtua jompo ini lagi!" Tuan besar Muhammad Putra Pratama sangat kesal dengan anak laki-lakinya itu.
Dia melayangkan tongkat kayu jati berukir kepala naga yang dipeganginya kepada Riki Pratama untuk memukulnya dihadapan semua orang, namun Riki dapat menghindarinya.
"Aku lagi sibuk banget Pa." Riki memberikan alasannya.
"Saking sibuknya sampai gak ada waktu untuk menemuiku! Padahal semua usahamu itu berasal dari warisanku!" Ketusnya dengan nada sinisnya.
"Maafin aku Pa." Ucap Riki sembari menundukkan kepalanya karena tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri didepan umum.
Kenapa sich Pa, kamu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil? Padahal aku kan sudah hampir menjadi seorang kakek sepertimu!" Batin Riki karena tidak terima dengan apa yang dilakukan orangtuanya.
"Mana Rezki cucu kesayanganku?" Tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Dikamar tamu yang ada di rumah ini Om, tadi istrinya kecebur di kolam renang." Jawab Dokter Selvi mewakili Riki yang terlihat bingung harus menjawab apa.
"Kok bisa gitu?" Tuan besar Putra Pratama kembali bertanya.
"Nanti aku ceritakan Pa, lebih baik sekarang kita menemui Wavi dan Lida dulu." Jawab Riki lalu mengajak orangtuanya berjalan masuk kedalam menuju taman belakang rumah tempat resepsi berlangsung.
"Setelah ini bawa aku untuk menemui cucuku." Pintanya sambil mendelik tajam ke arah anaknya itu.
"Iya Pa." Riki Pratama menganggukkan kepalanya.
Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin, berfoto-foto dan makan bersama keluarga besarnya. Tuan besar Muhammad Putra Pratama kembali meminta anaknya untuk membawanya menemui cucu kesayangannya.
"Riki! Aku mau bertemu dengan cucuku sekarang!" Pintanya dengan menekankan kata-katanya.
"Baiklah Pa, tunggu sebentar ya! Aku mau tanya dimana kamar yang ditempati Rezki dan istrinya." Jawab Riki sembari mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Dia segera menghampiri Dokter Selvi yang tengah asyik berbincang dengan istri Dokter Gunawan besannya.
"Dimana letak kamar tamu yang di tempati Rezki dan Arshi?" Tanyanya dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Itu yang pintunya warna putih bertuliskan welcome to guest room number one." Tunjuk Dokter Selvi dan besannya.
"Ok, tanks ya." Ucap Riki seraya mengulas senyumnya.
"Iya sama-sama." Balas Dokter Selvi dan besannya.
Riki Pratama lalu melangkahkan kakinya bersama papanya menuju ke kamar tamu yang ditempati Rezki dan Arshi.
Tok...tok...tok...Riki mengetuk pintu dari luar.
"Rezki! Buka pintunya disini ada kakekmu!"Serunya dari balik pintu.
Ceklek...Rezki membuka pintunya lalu mencium punggung tangan kakeknya.
__ADS_1
"Maaf ya Kek, aku gak bisa menyambut kedatangan Kakek." Ucapnya sembari menatap sendu kearah kakek dan papanya.
"Gak papa kok." Tuan besar Muhammad Putra Pratama menepuk bahu cucunya itu.
"Gimana keadaan istrimu Ki?" Riki mengerutkan keningnya menatap anak semata wayangnya itu.
"Dia tiba-tiba demam dan gak sadarkan diri Pa, aku harus secepatnya membawanya ke rumah sakit keluarga Setiawan, itu yang dianjurkan Tante Selvi dan Tante Reisa ketika memeriksa kondisinya tadi." Jawab Rezki menjelaskan.
"Apa ada masalah dengan kandungannya?" Riki tampak sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya itu.
"Dia mengalami sedikit pendarahan dan penurunan daya tahan tubuh secara drastis, akibat goncangan ketika terjatuh ke kolam renang tadi." Rezki kembali menjelaskan apa yang dikatakan oleh Dokter Selvi dan Dokter Reisa tantenya yang berprofesi sebagai spesialis kandungan itu.
"Kalau begitu naik helikopter saja biar cepat sampai." Tuan besar Muhammad Putra Pratama mengusulkan.
"Baik Kek." Rezki menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba Dokter Hasan datang menghampiri mereka bertiga yang tengah asyik berbicara didepan pintu kamar.
"Maaf mengganggu." Ucapnya sembari menatap ke arah tuan besar Muhammad Putra Pratama, Riki Pratama dan Rezki Aditya Pratama.
"Iya gak papa, memangnya ada apa?" Riki mengerutkan keningnya menatap besannya itu.
"Ada yang ingin ku sampaikan pada Rezki." Jawabnya dengan nada sangat sopan di hadapan tuan besar Muhammad Putra Pratama.
Padahal sebelumnya kedua laki-laki dewasa itu selalu menatap sinis satu sama lainnya, setiap kali bertemu karena rasa cemburu selalu melanda hati keduanya.
"Papah sudah menghubungi Dokter Murni untuk mempersiapkan semuanya." Ujarnya memberitahukan." Lebih baik kalian berdua segera pulang, supaya Arshi bisa ditangani secara intensif secepatnya." Perintahnya dengan menekankan kata-katanya.
"Baik Pah." Rezki bergegas masuk lalu menggendong tubuh istrinya menuju helikopter yang sudah standby dihalaman rumah keluarga Gunawan.
"Hati-hati ya Ki, hubungi papah atau mamah kalau sudah sampai di rumah sakit." Ujar Dokter Hasan dan Khardha mengingatkan.
"Baik Pah, Mah." Rezki menganggukkan kepalanya setelah berada dalam helikopter.
"Tapi Pa, mobilku gimana?" Tolak Riki dengan halus.
Sebab dia yakin papanya itu akan menginterogasinya secara detail.
"Suruh anak buahmu yang membawanya!" Ujarnya tanpa mau dibantah.
Riki Pratama terpaksa mengikuti apa yang dikatakan orangtuanya itu, walaupun sebenarnya dia ingin sekali membantahnya.
Setelah mereka semua berpamitan dengan keluarga besar Gunawan dan kedua mempelai, helikopter yang mengangkut tamu agung itu langsung menuju ke rumah sakit keluarga Setiawan. Setelah melakukan pendaratan di atas roof top rumah sakit mereka semua disambut oleh tim medis yang sudah standby untuk menangani Arshi atas perintah Dokter Hasan sebagai pemilik rumah sakit tersebut.
Arshi segera dibawa ke UGD lalu ditangani secara intensif oleh Dokter Murni dan tim medis lainnya. Rezki menunggunya di depan ruangan unit gawat darurat bersama papanya dan kakeknya sambil berjalan mondar mandir seperti setrikaan rusak.
Sedangkan Putri Pratama dan Ahmad Sirajuddin kedua orang tua dari Dokter Selvi dan Dokter Rasyid, kembali pulang ke rumahnya menaiki helikopter milik kakaknya tuan besar Muhammad Putra Pratama.
Satu jam kemudian Dokter Murni keluar bersamaan dengan tim medis yang membawa Arshi menuju ke ruang rawat VVIP.
"Gimana keadaan istriku sekarang Tante?" Rezki bertanya setelah Arshi dipindahkan ke ranjang pasien nya.
"Arshi harus bed rest dulu, sampai dia benar-benar kuat dan sehat kembali seperti semula." Jawab Dokter Murni menjelaskan." Aku permisi dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku secepatnya." Ujarnya mengingatkan.
"Iya Tante." Rezki menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Dokter Murni, Rezki duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu bersama papanya dan kakeknya.
"Rezki ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istrimu sampai seperti itu?" Tanya tuan besar Muhammad Putra Pratama sembari menatap intens kepada cucunya itu.
__ADS_1
Rezki menceritakan dari awal dia meninggalkan istrinya ke toilet hingga akhirnya dia menolongnya.
"Istriku bukan orang yang ceroboh Kek, aku yakin ada orang yang berusaha mencelakainya." Ujar Rezki sembari menatap ke arah ranjang pasien istrinya.
Riki meneguk salivanya ketika mendengar apa yang dikatakan anaknya. Sebenarnya dia ingin sekali memberitahukan siapa yang melakukannya, namun Riki tidak mau Rezki membenci orang yang telah melahirkannya itu.
"Kamu sudah cek cctv yang ada di sana?" Tuan besar Muhammad Putra Pratama dengan mengangkat satu alisnya.
"Belum Kek, tapi mertuaku pasti melakukannya." Jawab Rezki sambil menyandarkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya.
-
"Yank." Panggil Arshi dengan lirihnya.
Rezki yang mendengar suara istrinya segera beranjak dari duduknya lalu menghampirinya.
"Ada apa Sayang?" Tanyanya sambil mengusap kepala kekasih halalnya itu lalu mengecup keningnya.
"Aku mau pipis." Jawab Arshi sembari menatap sendu kearah suaminya.
"Perawat sudah memasang kateter urine sama kamu Sayang, supaya kamu gak usah repot-repot ke kamar mandi lagi." Ujar Rezki seraya mengulas senyumnya.
"Aku tau kegunaannya Yank, tapi kenapa harus pakai itu? Apa alasannya?" Arshi mengerutkan keningnya menatap intens wajah tampan suaminya.
"Kamu harus bed rest dan istirahat total sampai benar-benar pulih Sayang, supaya baby twins bisa bertahan di sini." Jawab Rezki sambil mengelus-elus perut istrinya.
"Yank seandainya aku dan baby twins gak bisa bertahan, tolong kuburkan kami dekat makam Mbok Tutik ya." Pinta Arshi dengan nada lembut namun penuh penekanan disetiap kata-katanya.
Rezki membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendengar apa yang dikatakan istrinya, indera penglihatannya langsung berkabut akibat menahan butiran bening yang hampir jatuh di sudut matanya.
"Jangan ngomong seperti itu Sayang, aku gak mau kamu sama baby twins kenapa-napa." Sahut Rezki dengan mata berkaca-kaca.
Arshi menatap sendu kearah suaminya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
"Maafin aku Yank." Lirihnya sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya lagi.
"Sayang bangun Sayang." Rezki menepuk-nepuk pipi istrinya dengan lembut.
Tuan besar Muhammad Putra Pratama dan Riki Pratama segera beranjak dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Rezki yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Sayang kumohon bangunlah Sayang!" Rezki mengguncang tubuh istrinya sambil menangis.
"Hentikan Ki! Kasian Arshi dan anakmu!" Seru Riki untuk menyadarkan anaknya itu.
Dia segera menghubungi tim medis lewat interkom yang ada di dinding untuk memeriksa kondisi menantunya itu. Tidak lama kemudian datanglah Dokter Murni dan para perawat membawa monitoring pendeteksi jantung untuk Arshi dan baby twins nya.
"Maaf Ki, Arshi dan baby twins nya sudah gak bisa diselamatkan lagi." Ujar Dokter Murni dengan meneteskan air matanya.
"Enggak! Gak mungkin!" Rezki menggeleng-gelengkan kepalanya." Sayangggggg...! Kumohon jangan tinggalkan akuuuuu....!" Teriaknya dengan histeris hingga menggema sampai keluar ruangan.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung....
Apa yang terjadi sebenarnya?
Mungkinkah Arshi benar-benar telah meninggal?
Tunggu episode selanjutnya ya!
__ADS_1
See you next time!
Hai teman-teman semuanya, jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang selalu membangun, koin seikhlasnya, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.