
Happy reading guys!
Riki, Radi, anak buahnya dan para Dokter senior juga junior itu akhirnya berangkat menggunakan tiga buah mobil. Berhubung hari sudah malam dan kondisi jalanan cukup lengang
mereka semua bisa melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan diatas rata-rata, menuju pegunungan Meratus desa Haruyan Kandangan kabupaten Hulu Sungai Selatan.
...☘️☘️☘️...
Sementara itu di tempat Rezki bersembunyi di balik pohon besar, dia berusaha menahan sakit dalam dirinya akibat tidak bisa menyalurkan hasratnya, karena pengaruh obat perangsang dosis tinggi yang masih menjalar dalam tubuhnya. Rezki mencoba mengendalikan dirinya dengan mengalihkan perhatiannya pada istrinya yang terkulai lemah dipangkunya, dia memegangi tangan wanita yang sangat dicintai itu lalu memeriksa denyut nadinya.
Masya Allah!" Kagetnya." Denyut nadi istriku semakin lemah, aku gak bisa berdiam diri disini aja, aku harus segera mencari pertolongan secepatnya." Batinnya sambil menggendong istrinya keluar dari persembunyiannya.
Rezki melangkahkan kakinya dengan hati-hati sekali karena hari sudah mulai gelap, menuju jalan setapak yang dilihatnya sore tadi dibalik rimbunnya rumput ilalang dan tanaman pandan wangi, yang ada di belakang villa tersebut. Baru saja sekitar lima menit dia berjalan tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, Rezki sangat terkejut dibuatnya. Dengan gerakan memutar Rezki langsung melayangkan tendangannya sekuat tenaga, orang yang menepuk pundaknya itu terjungkal ke belakang.
"Anda mau apa?" Rezki menatap tajam orang itu
dari atas ke bawah dengan tatapan penuh curiga.
"Maaf jika saya mengejutkan anda, saya hanya ingin menawarkan bantuan untuk anda." Ucap orang itu sembari meringis menahan sakitnya lalu bangkit dari duduknya yang sangat nyaman diatas rumput ilalang.
"Benarkah?" Rezki memicingkan matanya.
"Kalau tidak percaya mari ikut saya menyusuri jalan setapak ini." Ujar
orang itu lalu melangkahkan kakinya didepan Rezki.
Sambil memegangi obor yang terbuat dari bambu, orang itu terus berjalan dengan santainya menapaki jalan setapak yang menanjak dan menurun itu.
Siapa sebenarnya orang tua ini? Kenapa dia tiba-tiba datang?" Batin Rezki sambil terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki paruh baya itu.
Karena tidak ada pilihan lain Rezki terpaksa mengikuti langkah laki-laki paruh baya itu dari belakang, sembari terus waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Tidak berselang lama para penjahat yang sebelumnya ditugaskan oleh wanita bertopeng untuk mencari keberadaan Rezki dan Arshi menembaki mereka secara membabi-buta, orang yang menunjukkan jalan kepada Rezki itu mengajaknya bersembunyi dibalik air terjun yang kebetulan terdapat goa menghubungkan jalan setapak menuju rumahnya.
-
Malam semakin larut dengan kelap-kelip bintang nun jauh di sana tanpa rembulan yang enggan bersinar terang karena tertutup awan yang menyembunyikan keindahannya. Perjalanan yang cukup jauh harus di tempuh Riki, Radi anak buahnya dan para Dokter tampan senior dan juniornya untuk mencari keberadaan Rezki juga Arshi. Sesampainya di sebuah villa tempat lokasi terakhir sinyal SOS yang dikirimkan Rezki, mereka semua membagi tugas untuk mengepung villa tersebut. Dengan mengendap-endap mereka masuk ke dalam halaman villa yang cukup luas itu lalu berlindung di antara pohon cemara kipas dan berbagai macam jenis bunga soka warna-warni dari merah, pink, kuning, dan putih sebagai pagar pembatas yang mengelilingi villa tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Dokter Hasan dari samping Riki.
"Kita pantau dulu sebentar kegiatan yang ada di dalam villa aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengintai situasi didalam secara dekat, setelah situasi bisa dibaca' baru kita bergerak. Pegang senjata ini untuk berjaga-jaga." Jawab Riki Pratama sambil menyerahkan senjata api ke tangan besannya yang dulu jadi rivalnya itu.
"Ok!" Dokter Hasan menganggukkan kepalanya.
Dokter Hasan, Arsha, Dokter Wahyu, Wavi, Dokter Rasyid dan Rasya memang sering melakukan olahraga bareng ditempat khusus untuk tembak-menembak dan beladiri, yang dipimpin oleh Gusti Hamidi kakaknya Khardha. Bila ada waktu luang di sela kesibukan mereka masing-masing tentunya, jadi tidak heran jika para Dokter itu berani maju ke lapangan secara langsung untuk mengasah kemampuan mereka. Sebab Dokter Hasan sudah belajar dari pengalaman pribadinya sendiri sewaktu muda ketika istrinya diculik oleh Hendrik, dia tidak bisa melindungi wanita yang sangat dicintai itu hingga terpisah darinya dalam waktu yang cukup lama. Dia akhirnya memutuskan untuk
menguasai ilmu bela diri dan tembak-menembak bersama sahabatnya Dokter Wahyu, Dokter Rasyid serta anak-anak mereka dengan berguru kepada Bripka Gusti Hamidi kakak iparnya.
-
"Situasi dan kondisi di dalam villa tampak lengang, tidak ada tanda-tanda keberadaan Tuan muda Rezki dan istrinya didalam." Jelas anak buah Riki dan Radi melaporkan.
"Aku menerima sinyal keberadaan Arshi dari arah belakang villa ini melalui chip yang terpasang di jam tangannya!" Seru Arsha pada semuanya dari balik headset bluetooth yang terpasang di telinganya.
"Ok, kita bergerak ke arah sana sebagian!" Dokter Hasan memerintahkan.
"Yang lainnya tetap standby di sini untuk mengantisipasi kemungkinan lain yang akan terjadi!" Tegas Riki kepada anak buahnya.
"Siap Tuan besar!" Jawab para anak buah Riki dan Radi yang berjumlah dua belas orang itu lewat headset bluetooth yang terpasang di telinga mereka.
Arsha berjalan mendahului yang lainnya sebagai petunjuk arah menuju titik keberadaan Arshi yang terdeteksi oleh smartphone miliknya. Begitu pula dengan Radi yang menggunakan drone untuk mencari keberadaan Rezki.
-
Setelah melakukan perjalanan yang cukup menguras tenaga dan emosi karena sempat ditembaki oleh para penjahat yang mencarinya, Rezki dan Arshi dibawa pulang ke rumah laki-laki paruh baya yang membawa obor tadi.
"Silahkan baringkan istri anda di ranjang itu!" Tunjuknya kearah sebuah ranjang kayu sederhana berukuran single size yang terletak di dalam kamar ukuran 2x3 meter persegi.
Rezki segera membaringkan tubuh istrinya disana lalu duduk di kursi kayu yang ada disamping ranjang.
"Ini air hangat untuk membersihkan istri anda." Bapak paruh baya itu memberikan baskom dan handuk kecil kepada Rezki.
"Terima kasih."Ucap Rezki sambil menerimanya." Maaf nama Bapak siapa?" Tanyanya sambil berdiri menatap orang yang telah menolongnya itu.
"Nama saya Ali dan ini istri saya Fatimah." Jawabnya sambil memegangi bahu istrinya yang baru datang membawakan pakaian bersih untuk Rezki dan Arshi beserta makanan juga minumannya." Nama anda sendiri siapa?" Pak Ali balik bertanya.
"Nama saya Rezki, istri saya namanya Arshi. Terima kasih banyak atas semua kebaikan Pak Ali dan Ibu Fatimah." Rezki membungkukkan sedikit badannya." Bisakah saya pinjam handphone Bapak sebentar untuk menghubungi keluarga saya." Pinta Rezki dengan nada lembut.
"Ini silahkan." Pak Ali menyerahkan handphonenya.
Rezki langsung menerimanya lalu menghubungi nomor kontak Radi yang selalu diingatnya.
Tut...Tut...Tut... Panggilan suara tersambung setelah puluhan kali diabaikan oleh Radi.
Nomer baru? Siapa yang menelepon disaat seperti ini?" Batin Radi ketika melihat layar handphonenya.
Dengan perasaan jengkel Radi menggeser tombol warna hijau di layar handphonenya itu.
📱"Siapa ini? Ada perlu apa? Saya sedang sibuk!" Tegas Radi tanpa basa-basi.
__ADS_1
📲"Ini gue Rezki Aditya Pratama. Gue butuh pertolongan Lo secepatnya, kalau perlu bawa helikopter kesini, istri gue kritis!" Jawab Rezki tidak kalah tegasnya dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
"Share lokasi Lo sekarang!" Seru Radi dari balik telepon.
"Ok." Rezki mengakhiri panggilan suaranya.
Rezki langsung men-share lokasi tempatnya berada, lalu menyerahkan handphone Pak Ali.
"Ini handphone Bapak, nanti kalau ada orang yang bernama Radi mencari saya, bilang sama dia saya ada disini." Pesan Rezki sambil melepaskan bajunya.
Foto hanya pemanis ya reader, jadi abaikan saja bila tidak ada luka diperutnya.
"Baiklah, saya permisi dulu." Pamit Pak Ali lalu menutup pintu kamar itu.
Rezki segera mengunci pintu lalu melepaskan pakaian istrinya satu persatu untuk membersihkan seluruh tubuhnya dengan air hangat yang diberikan Ibu Fatimah tadi.
Sayang bertahanlah, jangan tinggalkan aku sendiri disini." Batinnya sambil memakaikan baju bersih yang diberikan oleh Ibu Fatimah tadi.
Tidak lama kemudian Radi, Riki, anak buahnya, Dokter Hasan, Arsha, Dokter Wahyu, Wavi, Dokter Rasyid, dan Rasya datang bersamaan dengan membawa empat buah mobil. Tiga buah mobil mereka sedari awal berangkat dan satu lagi mobil Rezki yang berhasil mereka rebut kembali setelah baku hantam dengan para penjahat yang ada villa.
Tok...Tok...Tok...Suara pintu diketuk dari luar. Pak Ali segera membukakan pintunya.
"Assalamualaikum, permisi." Ucap Arsha mewakili semuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Pak Ali sambil menatap semua orang yang ada didepannya secara bergantian." Maaf kalian semua siapa dan ada perlu apa?" Pak Ali mengerutkan keningnya.
"Kami mencari orang yang bernama Rezki dan Arshi." Jawab Arsha dengan nada datar." Apakah mereka berdua ada disini?" Tanyanya sambil menatap lekat wajah Pak Ali.
"Apakah anda yang bernama Radi?" Bukannya menjawab Pak Ali justru balik bertanya.
"Bukan saya Arsha iparnya, dia yang namanya Radi." Jawab Arsha sambil menarik tangan Radi.
Pak Ali menganggukkan kepalanya lalu mempersilahkan mereka semua duduk di kursi kayu panjang yang ada di teras rumahnya.
"Sebentar saya panggilkan Rezki dulu." Pak Ali melangkahkan kakinya menuju kamar tempat Rezki dan Arshi.
Tok...tok...tok...Pak Ali mengetuk pintu kamar. Rezki segera beranjak dari duduknya lalu mengecup kening istrinya kemudian membukakan pintunya.
Ceklek...Rezki memutar kunci lalu memegangi handle pintunya, setelah pintu terbuka Rezki mengangkat satu alisnya menatap wajah Pak Ali yang berdiri di depannya.
"Diluar ada banyak orang yang mencari anda, salah satunya bernama Radi." Ujar Pak Ali menyampaikan.
"Terima kasih Pak." Ucap Rezki lalu berjalan menuju teras rumah sederhana itu.
"Ya ialah kami semua khawatir banget sama Lo berdua tau! Sebab kalian berdua pergi gitu aja tanpa pamit sebelum acara selesai tadi, ujung-ujungnya malah terdampar di sini!" Jawab Rasya dengan meninggikan intonasi suara untuk melampiaskan kekesalannya.
"Sorry kalau begitu." Rezki menepuk bahu Rasya cukup kuat untuk membalasnya.
Maklum keduanya masih terlibat perang dingin akibat kesalahan Rasya yang sempat membawa Arshi ke rumah barunya.
"Cepat tolong Arshi! denyut nadinya semakin lemah!" Seru Rezki dengan nada bergetar menahan kesedihannya.
"Ok, aku ambil peralatan medis dulu didalam mobil." Arsha segera berlari menuju mobilnya.
Setelah membawa tas yang berisi peralatan medis yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi persis seperti yang selalu dilakukan oleh papahnya, Arsha langsung masuk ke dalam kamar mengikuti langkah Rezki bersama Dokter Hasan papahnya.
Seusai memeriksa kondisi Arshi, Arsha langsung memasang infus dan tabung oksigen kecil untuk membantu pernapasannya.
"Arshi mengalami pendarahan lagi Sha, gue baru aja menggantikan pakaiannya." Ujar Rezki ketika memperhatikan Arsha yang menatap sendu ke arah istrinya.
"Pantesan tekanan darahnya sangat rendah, dia perlu donor darah secepatnya!" Tegas Arsha sambil menatap Rezki dan papahnya.
"Ambil darah gue aja Sha." Rezki menyodorkan tangannya.
"Tapi Lo juga terluka Ki." Tunjuk Arsha pada kepala dan perut iparnya itu." Gue gak mau ambil risiko yang bisa membuat Lo juga akhirnya harus dirawat." Ucap Arsha menegaskan.
"Gue juga gak mau Arshi sampai kenapa-napa Sha." Ucap Rezki dengan menekankan kata-katanya.
"Sudahlah gak usah berdebat, lebih baik ambil darah papah aja Sha." Dokter Hasan mengarahkan tangannya kepada anaknya itu sembari duduk di samping Arshi
"Ok, Pah." Arsha menganggukkan kepalanya lalu melakukan tugasnya.
"Kita harus secepatnya membawa Arshi ke rumah sakit, supaya bisa merawatnya lebih intensif, sekaligus memeriksa kondisi kandungannya." Ujar Dokter Hasan sambil menatap wajah Arshi yang terlihat sangat pucat." Cepat sampaikan kepada yang lainnya untuk bersiap-siap pulang kembali ke kota Banjarmasin." Perintah Dokter Hasan kepada Rezki yang masih berdiri di samping istrinya.
"Baik Pah!" Rezki menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya keluar.
-
Setelah selesai berpamitan kepada Pak Ali dan Ibu Fatimah mereka semua melajukan mobilnya masing-masing menyusuri jalanan menuju ke kota Banjarmasin. Tampak Rezki yang duduk di jok belakang mobilnya sedang menggenggam tangan istrinya sambil mengusap kepalanya lalu mencium kening kekasih halalnya itu dengan penuh cinta, Radi yang mengemudikan mobil Rezki tampak ikut larut dalam kesedihannya ketika melirik spion yang ada di atas kepalanya.
Ya Allah yang maha segalanya ku mohon selamatkan istri dan anakku, jangan biarkan mereka meninggalkanku sendiri, aku benar-benar belum siap untuk kehilangan mereka." Batin Rezki dengan berderai air mata.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Kamu adalah nafas dalam kehidupanku sayang
__ADS_1
Hidupku tidak berarti apa-apa tanpa dirimu
Aku hanya ingin hidup bersamamu
Menjalani kisah cinta kita
Dalam romansa tanpa ada yang terluka
Sayang aku akan selalu mencintaimu baik dulu, sekarang maupun nanti
Duhai kekasih hatiku
Cepatlah sadarkan dirimu
Aku akan selalu setia menunggumu sampai kapanpun
...☘️☘️☘️☘️☘️...
🌿 Jangan Tinggalkan Aku 🌿By Imam S Arifin
Jangan tinggalkan aku
Kumohon kepadamu
Tak sanggup diri ini
Hidup tanpa dirimu
Kekasihku
Percayalah padaku sayang
Aku juga telah bersumpah
Tak rela kau disentuh orang
Hanya dirimu permata hatiku
Jangan tinggalkan aku
Kumohon kepadamu
Tak sanggup diri ini
Hidup tanpa dirimu
Cintaku hanya satu
Sayangku cuma kamu
Hidupku ini
Untukmu kasih
Biarpun bidadari
Yang datang menggodaku
Tak sedikit pun
Goyah imanku
Aku s'lalu setia
Semoga yang Kuasa
Selalu melimpahkan
Rahmat-Nya pada cinta kita
Jangan tinggalkan aku
Kumohon kepadamu
Tak sanggup diri ini
Hidup tanpa dirimu
Cintaku hanya satu
Sayangku cuma…
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung...
Hai teman-teman semuanya jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya melalui vote, like, komen, koin dan rate bintang limanya dan jadikan favorit kalian selalu ya.
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan ya!