
Happy reading guys!
Sebulan setelah keluar dari rumah sakit Rezki terlihat uring-uringan karena benar-benar tidak bisa fokus sama sekali, setiap saat dia berusaha melupakan Arshi namun itu justru membuatnya semakin menggila karena merindukannya.
Kenapa Mama sangat menentang hubunganku dengan Arshi? Padahal aku sangat mencintainya, aku juga gak mungkin memilih Arshi jika Mama merasa tersakiti." Batinnya." Ya Allah jika memang Arshi adalah jodohku dekatkanlah dia kepadaku, namun jika bukan jauhkanlah dia dari rasa dambaku." Doa Rezki dalam hatinya sembari duduk termenung di kamarnya.
Rezki mencoba menemui Arshi dirumah sakit setiap harinya sebelum kekantor ataupun sesudah pulang dari kantornya. Namun sayang Arshi selalu menghindarinya setiap mata mereka bertemu dari kejauhan Arshi langsung bersembunyi di salah satu ruangan kemudian menghilang. Rezki juga sering mendatangi Arshi diruang perawatan anak agar bisa melihatnya secara langsung walaupun tidak bertegur sapa. Tiba-tiba hari ini Rezki yang tidak bisa lagi menahan kerinduannya menarik Arshi ke sudut ruangan, disana banyak orang memperhatikannya karena ulahnya namun Rezki tidak memperdulikannya.
Rezki menatap tajam kearah Arshi yang justru pura-pura asyik menelpon seseorang tanpa memperdulikannya. Rezki langsung merebut handphone Arshi dari tangannya.
"Kenapa kamu selalu menghindariku? Apa aku benar-benar gak ada artinya buat kamu?" Rezki menatap lekat manik mata Arshi dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku cuma gak mau kamu menemuiku lagi karena Mamamu pernah mengingatkanku dengan tegas supaya jangan mendekatimu dan berhubungan denganmu lagi. Aku gak mau berharap lebih jika orangtuamu menentang hubungan kita, jadi sebelum terlanjur aku menerimamu dihatiku lebih baik anggap aja kita gak pernah ketemu sebelumnya." Jawab Arshi dengan menekankan kata-katanya.
Arshi segera merebut kembali handphonenya di tangan Rezki kemudian berlalu pergi meninggalkan laki-laki yang mulai mengisi relung hatinya itu. Rezki segera melangkahkan kakinya menuju area parkiran dengan mengepalkan tangannya, dia masuk kedalam mobilnya lalu duduk dikursi kemudi, dia membenturkan kepalanya beberapa kali dikemudinya. Setelah merasa cukup puas dengan apa yang dilakukannya secepat kilat dia melajukan kendaraan roda empatnya itu tanpa menghiraukan pengendara lain yang mengumpatnya karena melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Sesampainya di kantornya Rezki yang biasanya ramah kepada para karyawan nya justru berlalu begitu saja tanpa menjawab sapaan mereka. Setelah melewati lift dan masuk keruangannya Rezki membantingkan pintunya dengan keras sehingga membuat Radi sekertaris sekaligus sahabatnya itu terlonjak kaget. Perlahan Radi menarik gagang pintu lalu masuk, dia mengerutkan keningnya dengan sempurna melihat Rezki yang semakin hari selalu terlihat uring-uringan.
"Lo sebenarnya kenapa sich bro? Sejak keluar dari rumah sakit satu bulan yang lalu selalu aja uring-uringan, apa ada masalah sama gebetan lo itu?" Tanya Radi dengan menyerahkan map yang berisi berkas-berkas yang harus ditandatangani Rezki.
"Nyokap gue menentang keras gue berhubungan sama Arshi, dia bahkan udah mengancamnya supaya gak dekat-dekat lagi sama gue, padahal gue udah bucin banget sama dia.
"Loh kok bisa gitu? Emang apa alasannya nyokap lo gak suka sama Arshi?" Radi mengangkat satu alisnya.
"Karena Arshi anaknya Tante Khardha mantan terindah bokap gue." Jujur Rezki dengan memijat pangkal hidungnya.
"Hahh cuma mantan aja kok nyokap lo sampai segitunya." Radi tersenyum mengejeknya.
"Nyokap bilang Bokap gue belum bisa menerimanya seutuhnya sampai sekarang gara-gara Bokap gak bisa move on dari Tante Khardha. Bokap masih suka nyebut nama Tante Khardha dalam tidurnya, masih nyimpen foto-foto Tante Khardha di handphonenya, laptopnya dan flashdisk nya. Ketika gue tanya sama Bokap apakah semua itu benar? Dia cuma diam aja, gue benar-benar kecewa sama Bokap. Gue udah berusaha ngelupain Arshi tapi itu justru bikin gue gak semangat lagi untuk menjalani hidup ini. Gue merasa kehilangan arah dan tujuan dalam hidup ini, gue pasti gila kalau kayak gini terus." Rezki tampak sangat frustasi dia berdiri lalu berkacak pinggang setelah melemparkan map yang diserahkan Radi tadi.
"Menurut lo gue harus gimana?" Rezki minta pendapat Radi.
"Kalau lo benar-benar mencintai Arshi seharusnya lo jangan pernah berhenti untuk memperjuangkannya. Sebab sesuatu yang semakin sulit kita dapatkan itu akan semakin sulit juga kita melepaskannya, gue yakin lo pasti ngerti apa yang gue maksud." Radi menepuk bahu Rezki kemudian berlalu pergi keluar dari ruangan bos sekaligus sahabatnya itu.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sementara itu di rumah sakit setelah berbicara dengan Rezki, Arshi menjadi semakin tidak bisa lagi fokus dengan pekerjaannya. Dia memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Wava dan teman sejawatnya yang lain. Setelah itu dia melangkahkan kakinya menuju lift untuk kembali ke rumah kedua keluarganya yang terletak dilantai paling atas. Tiba-tiba dia merasakan kepalanya sakit sekali, pandangannya menjadi gelap akhirnya dia tidak sadarkan diri tepat ketika Arsha hendak masuk kedalam lift yang pintunya sudah terbuka. Arsha segera menggendongnya ke dalam rumah kedua mereka itu, didalam sudah ada Khardha dan Dokter Hasan yang sangat terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Arshi sayang?" Tanya Khardha sambil mengikuti langkah Arsha menuju kamar Arshi.
Arsha membaringkan tubuh Arshi diatas ranjangnya lalu mengambil stetoskop di sakunya.
"Kayaknya Arshi kurang istirahat Mah, mungkin dia terlalu banyak pasien atau banyak pikiran, makanya dia drop kayak gini." Jawab Arsha menjelaskan kondisi saudara kembarnya itu.
"Sini coba papah periksa tensi nya dulu." Dokter Hasan segera memeriksa tekanan darah anaknya menggunakan tensimeter miliknya.
"Gimana Sayang?" Khardha terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi anak gadisnya itu.
"Tensinya rendah, kita harus pasang infus buat Arshi." Jawab Dokter Hasan hendak turun kebawah untuk mengambil infus di apotek.
"Apa gak sebaiknya kita bawa Arshi ke kamar VVIP aja Pah? Disana peralatannya lebih lengkap, jadi kalau ada apa-apa bisa secepatnya kita tangani." Arsha mengusulkan.
"Benar banget apa yang disarankan anak kita Sayang." Khardha menimpali sembari mengusap kepala Arshi.
"Ok kalau begitu ambil brankar untuk membawa Arshi kesana." Perintah Dokter Hasan kepada anak laki-laki nya itu.
Arsha menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar untuk melakukan tugasnya. Sepuluh menit kemudian Arsha datang bersama tim medis lainnya, mereka segera membawa Arshi ke kamar VVIP yang sudah diperintahkan Arsha untuk disiapkan sebelumnya. Sesampainya di sana Arsha memasang infus, ventilator dan kantong darah agar Arshi bisa secepatnya pulih. Malam harinya Arshi mengalami demam tinggi, tanpa sadar dia menyebut nama Rezki dalam tidurnya dengan suara lirihnya. Khardha yang menungguinya terkejut mendengarnya, dia segera mendekatkan telinganya kemulut Arshi untuk memastikannya.
"Kamu ngapain Sayang?" Tanya Dokter Hasan yang baru datang tiba-tiba lalu mengejutkannya.
"Arshi mengigau Sayang, dia menyebut nama Rezki, coba kamu dengerin." Khardha menarik tangan suaminya untuk ikut mendengarkannya.
"Gimana Sayang kamu dengar sendiri kan?" Khardha menuntun suaminya duduk di sofa yang ada diruangan itu.
"Sayang kayaknya Arshi benar-benar jatuh cinta sama Rezki, sebelumnya dia gak pernah mikirin cowok sampai mengigau kayak gitu, dalam waktu sebulan ini aku perhatiin Arshi juga terlihat uring-uringan." Ujar Khardha sembari bersandar di bahu suaminya.
"Terus kamu mau ngapain kalau udah tau?" Dokter Hasan menggenggam tangan istrinya.
"Apa sebaiknya kita hubungi Rezki aja biar dia secepatnya menikahi anak kita." Khardha mengemukakan pendapatnya.
"Sayang menurutku itu bukan ide yang tepat, sebab Arshi tadi mengatakan supaya Rezki jangan menemuinya lagi. Kayaknya ada masalah serius diantara mereka, coba nanti kalau Arshi udah bangun kamu pelan-pelan tanyain sama dia." Dokter Hasan mengusulkan sembari merangkul istrinya.
"Benar juga apa yang kamu katakan Sayang, Arshi gak mungkin berkata kayak gitu kalau gak ada masalah." Khardha menganggukkan kepalanya.
Drettt....drettt....drettt...handphone Arshi yang di letakkan Khardha diatas nakas terus bergetar. Khardha segera beranjak dari duduknya lalu memeriksanya untuk memastikan siapa yang melakukan panggilan dan ternyata itu dari Rezki, dia menggeser tombol hijau dilayar handphone anaknya itu kemudian menaruhnya di telinganya.
π²"Assalamualaikum Shi, makasih udah mau menerima telpon dari aku. Kamu gak papa kan? Dari tadi aku gak bisa tenang kepikiran kamu terus, jawab aku Shi jangan diam aja." Ucap Rezki mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
π±"Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh, Arshi sakit." Jawab Khardha." Bisakah kamu datang ke rumah sakit secepatnya, tante mau bicara sama kamu." pinta Khardha dengan menekankan kata-katanya.
"Baik Tante aku akan segera kesana." Tegas Rezki sembari melompat dari ranjangnya.
"Yaudah hati-hati di jalan ya, gak usah ngebut, assalamualaikum." Ucap Khardha mengingatkan.
"Iya Tante. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah panggilan berakhir Rezki segera bergegas mengambil jaketnya lalu kegarasi untuk mengeluarkan motor sport nya, tanpa berpamitan terlebih dulu kepada orangtuanya dia langsung melajukan kendaraan roda duanya itu menuju rumah sakit keluarga Setiawan. Rina sang mama yang melihat anaknya tergesa-gesa keluar rumah langsung mengikutinya dari belakang. Sesampainya di parkiran Rezki bergegas masuk kedalam rumah sakit dia juga sudah menerima chat dari Khardha dimana Arshi dirawat. Tidak lama kemudian dia sudah berdiri didepan pintu masuk, dengan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan Rezki mengetuk pintunya.
Tok...tok...tok...bunyi pintu diketuk dari luar Khardha segera beranjak lalu membuka pintunya.
"Assalamualaikum Tante." Ucap Rezki sembari mencium punggung tangan Khardha.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari silahkan masuk." Jawab Khardha kemudian mengajaknya masuk.
"Gimana keadaan Arshi Tante?" Tanya Rezki sambil berjalan mengikuti langkah Khardha dari belakang.
"Dia drop, tensinya rendah, tadi dia sempat demam dan menyebut nama kamu dalam tidurnya." Jujur Khardha dengan mengusap kepala anak gadisnya itu." Apa kalian ada masalah serius? Tante sering melihat Arshi uring-uringan dan gak bisa fokus dengan pekerjaannya selama sebulan ini." Selidik Khardha dengan menatap kearah Rezki yang berdiri di seberangnya.
Dokter Hasan beranjak menghampiri mereka lalu memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Aku mohon maaf sebelumnya Om,Tante, semua ini karena Mama yang menentang keras supaya aku dan Arshi gak melanjutkan hubungan kami. Padahal aku sangat mencintai dan menyayangi Arshi Om,Tante, bisakah Om dan Tante membantuku untuk bicara sama Mama?" Rezki menatap Khardha dengan wajah sendu.
"Memangnya apa alasan mama kamu gak setuju dengan hubungan kalian?" Khardha mengerutkan keningnya.
"Tante tanyakan aja sama Mama secara langsung." Rezki tidak sanggup mengatakan kebenarannya karena itu benar-benar membuatnya serbasalah.
"Inshaallah nanti kami usahakan untuk membicarakan semuanya. Kamu kirimkan aja nomer handphone mamamu ke nomer handphone tante." Khardha berusaha menyelesaikan masalah mereka.
Gubrak..... tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan paksa, mereka semua terkejut lalu menolehkan kepalanya.
Bersambung....
Apa yang akan terjadi selanjutnya ya?
Siapa yang mendobrak pintu masuk dengan paksa?
Mohon doanya ya teman-teman aku dan keluarga lagi kurang fit, ini aja aku paksain buat nulis untuk mengobati kerinduan kalian yang nungguin up terbaru dari aku.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang lima nya.
__ADS_1
Jangan lupa bahagia, semoga sehat selalu.