Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#6 "Syarat"


__ADS_3

Happy reading guys!


"Aku gak mau Pah, aku benci banget sama dia." Jawab Arshi dengan menatap tajam kearah Rezki.


"Jangan terlalu benci sayang, nanti kamu bisa jadi benar-benar cinta sama dia." Khardha mengingatkan anaknya.


"Ishhh Mamah kok ngomong gitu!" Kesal Arshi dengan memajukan bibirnya sembari melipat tangannya diatas dada.


"Benar kata Mamah kamu sayang perbedaan antara benci dan cinta itu sangat tipis." Dokter Hasan menimpali.


Ting...tong...bel kembali berbunyi. Khardha beranjak lagi untuk membukakan pintunya.


"Assalamualaikum Tante." Ucap Wavi dan Rasya bersamaan sembari mencium punggung tangan Khardha bergantian.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari silahkan masuk." Ajak Khardha dengan berjalan didepan mereka.


"Silahkan duduk dulu kalian mau minum apa?" Tawar Khardha seraya tersenyum melihat tingkah anak-anak muda yang ingin menemui anak gadisnya itu.


"Gak usah repot Tante," jawab Rasya dengan sangat sopan.


Rasya memang sangat jaim orangnya berbeda dengan Wavi ataupun Rezki sepupunya.


"Apa aja boleh Tante sekalian makan siang juga aku gak nolak." Wavi tersenyum hingga menampakkan barisan giginya.


Karena merasa sangat akrab dengan Khardha, Dokter Hasan, Arsha dan Arshi sedari kecil yang memang bersahabat dengan kedua orangtuanya itu Wavi sering meminta makan kepada Khardha tanpa ada perasaan sungkan sedikitpun sebab dia juga menganggap mereka keluarganya sendiri.


"Aku dari tadi gak kamu tawarin Sayang?" Dokter Hasan mengedipkan sebelah matanya kepada istrinya sembari beranjak lalu merangkul pinggang istrinya.


Pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu berjalan menuju dapurnya dengan mesra.


"Emangnya kamu mau minum apa Sayang?" Khardha mengambil syirup dari dalam kulkasnya.


"Aku mau minum susu bolehkan?" Dokter Hasan memeluk istrinya dari belakang.


"Tentu aja boleh, siapa yang bilang gak boleh? Mau yang hangat apa dingin?" Khardha berbalik menghadap suaminya.


"Aku mau susu yang langsung dari kamu." Jawabnya seraya menunjuk kearah dada istrinya.


"Ishhh kita itu udah gak muda lagi Sayang, masa mau bermesraan terus? Kamu lagi puber ya? Malu sama anak-anak kalau sampai mereka liatin kita melakukannya disini." Khardha menepis tangan suaminya yang tidak bisa dikondisikan.


"Kita kan lama tapi rasa baru terus Sayang, aku aja masih sanggup bikin kamu lemes tiap malam." Dokter Hasan semakin melancarkan aksinya.


"Udah aku mau anter minuman dulu, nanti aja lagi dilanjutin dikamar." Khardha memperbaiki kancing bajunya yang terlepas akibat ulah suaminya.


"Beneran ya Sayang, aku udah kepalang tanggung." Dokter Hasan menunjuk sesuatu yang berdiri dibawah sana.


"Iya!" Singkat Khardha sambil membawa nampan menuju ruang tamunya


🌿🌿🌿🌿🌿


"Baru nyadar gue, ngapain lo disini Ki?" Wavi memicingkan matanya kearah sepupunya itu sambil beralih dari duduknya kesamping Arshi.


"Gue permisi dulu." Arshi segera beranjak dari sana menuju kamarnya.


Rasya dan Rezki yang menyaksikannya hanya bisa mengepalkan tangannya sembari menatap tajam setajam mata elang kearah Wavi yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan itu.


"Gue habis ngelamar Arshi." Jawab Rezki setelah Arshi masuk kedalam kamarnya.


"Apa!" Seru Rasya dan Wavi serempak.


"Jangan ngehalu dech lo, gue aja yang sering ngelamar Arshi dari kecil sampai sekarang belum pernah diterima, apalagi lo orang yang baru dikenalnya." Wavi tersenyum smirk.


"Gue juga pernah ngelamar Arshi waktu dia ultah yang kedua puluh lima kemarin dengan ngasih dia surprise dinner romantis. Tapi sayang gue juga ditolak secara halus." Jujur Rasya sembari memajukan bibirnya.


"Lo sendiri gimana Ki?" Wavi sangat penasaran hingga sengaja mendekatkan wajahnya kemuka Rezki.


"Sama gue juga ditolak mentah-mentah sama dia." Jawab Rezki dengan menghempaskan punggungnya kesandaran sofa.

__ADS_1


Hahhaha.... Wavi tergelak mendengar pengakuan Rezki.


"Gue kan udah bilang gak mungkin Arshi mau sama lo!" Seru Wavi dengan menepuk-nepuk bahu Rezki.


"Ini minumannya, loh Arshi mana?" Khardha menatap Wavi, Rasya dan Rezki bergantian.


"Kekamarnya Tante." Jawab Rasya mewakili kedua sepupunya.


"Ohh yaudah silahkan minum dan dimakan cemilannya. Tante minta maaf ya atas nama Arshi, dia memang gak suka dikejar-kejar. Apalagi hanya bermain-main dengan urusan cinta. Seandainya nanti salah satu diantara kalian bertiga memang berjodoh sama Arshi tante pasti akan sangat bahagia." Khardha menatap pemuda-pemuda yang sama-sama menyukai anak gadisnya itu dengan menyunggingkan senyumnya.


"Ok kita bertiga harus bersaing secara sehat. Siapapun yang jadi pemenangnya nanti dia harus bisa menjaga perasaan Arshi jangan sampai tersakiti." Rezki berkata sambil mengulurkan tangannya di depannya agar kedua saudara sepupunya itu ikut melakukan hal yang sama.


"Setuju!" Seru Wavi dan Rasya sembari melakukan hal yang sama dengan Rezki.


"Setuju buat apa?" Dokter Hasan datang menyusul istrinya lalu duduk disampingnya sembari merentangkan tangannya disandaran sofa.


"Setuju bersaing untuk menaklukkan hati Arshi Om." Jawab Wavi dengan gaya somplaknya.


"Yang penting jangan sampai baku hantam aja ya, ingat Arshi bukan undian atau piala untuk kalian menangkan. Om dan tante akan merestui kalian asal benar-benar bisa membuktikan ketulusan kalian kepada Arshi dengan bertanggungjawab atas semua yang kalian lakukan. Kami ingin punya menantu yang baik akhlaknya, rajin ibadahnya, mengayomi dan bisa membimbing Arshi dalam kebaikan menuju ridho Allah subhanna wata'ala. Apa kalian sanggup menerima syarat-syaratnya?" Dokter Hasan menatap ketiga pemuda didepannya secara bergantian dengan menekankan kata-katanya.


Rajin ibadah, baik akhlaknya kayaknya gue gak termasuk dalam kriteria itu, tapi gue harus berusaha," batin Wavi dengan menatap kosong kedepannya.


Mungkinkah aku bisa membimbing dan mengayomi Arshi? Sedangkan membimbing diriku sendiri aja belum bisa, tapi aku harus terus berusaha," gumam Rezki dalam hatinya.


Syarat-syaratnya berat banget apa mungkin aku bisa melakukannya? Tapi aku harus tetap berusaha." batin Rasya dengan menundukkan kepalanya.


"Bagaimana kalian sanggup?" Dokter Hasan kembali bertanya ketika menyaksikannya ketiga pemuda dihadapannya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing.


"Inshaallah Om!" Jawab mereka bertiga serempak.


"Baiklah kami mau istirahat dulu silahkan kalian kembali dengan pekerjaan kalian masing-masing." Dokter Hasan mengusir mereka secara halus.


"Kami permisi dulu Om, Tante, assalamualaikum." Pamit Rezki, Rasya dan Wavi setelah mencium tangan pasangan suami istri itu.


Setelah keluar mereka bertiga bertemu Arsha didepan lift yang menatap mereka dengan kening berkerut tanpa berkata apa-apa.


Arsha menganggukkan kepalanya kemudian berlalu begitu saja menuju rumah kedua kelurganya. Dia punya kunci sendiri untuk membuka pintu masuknya jadi tidak perlu repot memencet bel. Arsha melangkahkan kakinya menuju dapur tapi tidak menemukan keberadaan siapapun disana, akhirnya dia berinisiatif untuk melihat keadaan saudara kembarnya.


Tok...tok...tok...Arsha mengetuk pintu kamar Arshi.


"Shi boleh gue masuk gak?"


"Iya Sha masuk aja!"


Arsha membuka pintu kamar saudara kembarnya itu. Dia menghampiri Arshi yang berbaring di ranjangnya dengan menelungkup diatas bantalnya.


"Lo kenapa Shi?" Arsha membelai rambut saudara kembarnya itu.


Arshi hanya diam sambil sesenggukan dibalik bantalnya.


"Ngapain aja Wava, Rasya dan Rezki kesini hingga bikin lo nangis kayak gini?" Tanya Arsha dengan nada sangat lembut.


"Rezki ngelamar gue Sha, padahal gue benci banget sama dia." Jawab Arshi dengan terisak.


"Jangan terlalu benci nanti lo bisa jadi benar-benar cinta sama dia." Arsha berusaha mengingatkan saudara kembarnya itu.


"Tau apa lo sama yang namanya cinta? Lo aja masih jomblo sampai sekarang." Protes Arshi dengan membalikkan badannya.


"Gue emang jomblo tapi gue ngerti kok dengan apa yang namanya cinta. Sebab perbedaan benci dan cinta itu sangat tipis itulah yang gue tau selama ini.


"Kenapa omongan lo sama persis dengan apa yang dikatakan Mamah sama Papah?" Arshi mengerutkan keningnya menatap saudara laki-laki nya itu.


"Karena gue emang belajar dari Mamah sama Papah. Mereka selalu menjadi teladan buat gue untuk menjalani hidup ini, baik untuk urusan bersosialisasi maupun urusan berumah tangga nantinya. Lo tau kan Shi gimana Papah sama Mamah mendidik kita selama ini, jadi gak mungkin mereka membiarkan orang yang ngelamar lo tanpa syarat."


"Tumben lo Sha ngomong panjang lebar? Lagi kesambet ya? Gemesin banget jadinya!" Arshi mencubit kedua pipi Arsha dengan gemesnya.


"Lepasin!" Arsha menepis tangan Arshi." Sekarang lo tidur!" Tegasnya sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Arsha memang tidak suka diperlakukan seperti anak kecil meskipun itu oleh kedua orangtuanya sendiri.


🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah bertemu dengan Arsha tadi ketiga saudara sepupu itu masuk kedalam lift, ketika pintu sudah terbuka. Kebetulan didalam lift hanya ada mereka bertiga Rezki yang sangat penasaran dengan siapa sebenarnya Arsha pun langsung bertanya.


"Siapa sebenarnya laki-laki tadi?" Rizki menatap kedua sepupunya secara bergantian.


"Dia Dokter Arsha saudara kembarnya Arshi." Jawab Rasya dengan bersandar di dinding lift bagian belakang.


"Ohh gue kira calon suaminya juga, hehehe." Rezki terkekeh menertawakan dirinya sendiri yang cemburu tidak pada tempatnya tadi pagi ketika melihat Arsha menggendong Arshi.


"Kenapa lo malah ketawa gak jelas kayak gitu?" Wavi menatap heran dengan sepupunya itu.


"Gue minta nomer handphone Arshi kalian pasti punya kan?" Rezki mengalihkan pembicaraan.


"Minta aja sendiri sama orangnya." Jawab Wavi dan Rasya serempak seraya tersenyum mengejek.


Sebab mereka yakin Arshi tidak mungkin mau memberikan nomor handphonenya kesembarang orang.


"Ishhh pelit amat sich kalian berdua, tunggu aja ya nanti bila gue yang lulus seleksi jadi suaminya Arshi, gue bakal bikin kalian berdua kayak cacing kepanasan liat gue bermesraan sama dia." Rezki membalasnya dengan tersenyum smirk.


"Ngehalu aja lo sana tinggi-tinggi biar kalau jatuh kejurang sekalian." Wavi berkata sembari menyentil kening Rezki.


Ting...pintu lift terbuka. Rasya dan Wavi kembali ke ruangannya masing-masing. Rezki justru mencari ruangan Wava sepupunya untuk melancarkan rencananya.


"Rezki lo ngapain disini?" Tanya Wava yang baru keluar dari ruangannya.


"Lo kenal sama Dokter Arshi kan Va?" Bukannya menjawab Rezki justru balik bertanya.


"Ya iyalah kami kan udah sahabatan sejak kecil!" Wava menatap Rezki dengan memasukkan tangannya kesaku jas Dokternya.


"Bagi nomer handphonenya dong Va." Pinta Rezki dengan menyerahkan smartphonenya.


"Lo mau godain Arshi ya?" Selidik Wava dengan memicingkan matanya.


"Enggak kok gue mau jadiin dia calon ibu dari anak-anak gue." Rezki tersenyum penuh arti membayangkan betapa bahagianya dia nanti hidup berumah tangga dengan wanita yang sangat istimewa menurutnya itu.


"Ya udah nich!" Wava mengembalikan smartphone Rezki setelah mengetikkan nomor handphone Arshi.


"Kalian sama-sama Dokter spesialis anak ya?" Tebak Rezki ketika membaca name tag Wava.


"Iya!" Singkat Wava sambil melihat jam tangannya." Gue mau periksa anak-anak dulu Ki, lo gak balik kekantor?" Tanya Wava sembari melirik Rezki yang mensejajarkan langkahnya dengannya.


Mereka berdua menuju ruangan khusus perawatan anak. Ruangan itulah yang ingin direnovasi oleh Arshi agar lebih menyenangkan untuk para pasien anak-anak. Wava juga berpikir nanti akan membahas masalah keterlambatan pengiriman kepada Rezki setelah dia melihat sendiri bagaimana situasi dan kondisi ruangan itu.


"Gue suka sama anak-anak Va, lo sendiri kan tau gue anak tunggal. Bolehkan gue ikut nemenin lo Va?" Pinta Rezki dengan berdiri didepan Wava.


Wava sudah membuka mulutnya untuk menjawab permintaan Rezki namun tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar baginya.


Ehemm...suara dehaman seseorang yang menatap tidak suka kearah Rezki. Wava menolehkan kepalanya kebelakang dia menatap Arsha dengan menghela nafasnya perlahan.



"Arsha!" Seru Wava sembari memutar badannya agar menghadap ke arah laki-laki yang dicintainya secara diam-diam itu.


"Jangan ngobrol terus kalau bertugas." Ketus Arsha sembari berlalu pergi meninggalkan Wava yang terpaku ditempatnya.


"Lo suka sama Arsha ya Va? Gue liat muka lo langsung berubah gitu?" Rezki memiringkan kepalanya menatap Wava.



"Udah ah gue mau lanjutin tugas gue dulu, lo mending balik ke kantor sana!" Wava segera masuk kedalam ruang rawat untuk menghindari pertanyaan Rezki yang mengintimidasinya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman melalui vote, like, komen, koin nya dan rate bintang lima juga.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.


__ADS_2