
Happy reading guys!
Berhubung di Kalimantan Selatan sekarang sedang mengalami musibah banjir di mana-mana hampir di seluruh wilayahnya, jadi cerita kali ini diangkat dari kisah nyata yang dialami keluarga, sahabat, tentangga dan saudara-saudariku yang terkena dampaknya.
Namun dalam versi yang berbeda supaya menarik untuk dibaca ya readers!
Sekilas info tentang kondisi disana sekarang.
🌿Banjir di Kalimantan Selatan menyebabkan jembatanBanua Anyar yang menghubungkan Kabupaten Banjar-Martapura terputus.
Jembatan Banua Anyar, Jalan Ahmad Yani Desa Matraman, Kabupaten Banjar ini tidak bisa dilintasi akibat diterjang banjir, sehingga mengakibatkan terputusnya jalur utama angkutan umum antar kota dalam propinsi khususnya daerah Hulu Sungai.
Begitu juga jalur antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur jika menggunakan alat transportasi darat sebab daerah Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang paling parah terkena dampaknya, 68.000 jiwa terpaksa mengungsi,
3.000 rumah terendam banjir, lebih dari 50 buah rumah hanyut terbawa arus.
🌿 Semoga Allah cepat mengangkat dan menghilangkan segala bentuk bencana alam, maupun pandemi covit-19 yang sekarang melanda negeri kita tercinta ini
Aamiin ya rabbal alamiin, Aamiin ya mujibassailin.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Mari kita kembali ke cerita novel yang berhubungan dengan kisah nyata ini.
Karena hujan deras yang terus menerus mengguyur seluruh kota Banjarmasin. Seusai mandi Arshi menggigil kedinginan, dia langsung melompat ke atas ranjang lalu menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Rezki yang baru selesai sholat qabliyah subuh langsung menghampiri istrinya lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayang kita sholat subuh berjamaah dulu yuk!" Ajaknya sembari menyentuh tubuh istrinya yang tertutup selimut." Nanti habis sholat baru aku bantuin hangatkan tubuhmu." Ujarnya seraya tersenyum penuh arti.
"Tolong ambilkan bajuku yang lengannya panjang dalam lemari Yank." Pinta Arshi dengan suara bergetar karena hipotermia kembali menyerangnya.
"Baiklah Sayang." Rezki menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya menuju lemari pakaian istrinya.
Setelah mengambilkan baju istrinya Rezki menatap lekat wajah kekasih halalnya itu.
"Sayang hari ini kamu langsung periksa ke Dokter spesialis THT yang ada di sini ya." Ujar Rezki menyarankan.
Arshi hanya menganggukkan kepalanya sambil memakai bajunya lalu beranjak dari tempat tidurnya.
"Yuk kita sholat!" Ajak Arshi setelah memakai mukenanya.
Rezki menganggukkan kepalanya lalu mengumandangkan adzan dan Iqamah dengan suara merdunya. Setelah itu pasangan suami istri itu menunaikan sholat berjamaah dengan khusyuk.
-
Sementara itu di luar kamar tampak Dira yang duduk gelisah diruang tamu dengan mata berkaca-kaca, karena mendengar kabar dari tetangganya bahwa rumah orangtuanya terendam banjir hingga sebatas dada orang dewasa.
"Kamu kenapa gelisah banget setelah menerima telepon tadi? Memangnya ada kabar apa?" Tanya Radi yang baru keluar dari kamar tamu sehabis mandi dan sholat subuh.
"Rumah orang tuaku terendam banjir, padahal sebelumnya gak pernah seperti itu. Sekarang aku belum tau dimana mereka berada." Jawab Dira dengan menjelaskan sambil terisak.
"Tenanglah, aku pasti akan membantumu untuk mencari mereka sampai ketemu." Tegas Radi dengan menekankan kata-katanya, sambil merengkuh tubuh Dira ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
-
Ehemmm....Arsha berdeham mengejutkan Radi dan Dira yang tengah asyik berpelukan. Keduanya langsung melepaskan pelukannya lalu menggeser posisi duduknya.
"Maaf kalau mengganggu kalian berdua." Ucap Arsha sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu Bee, kamu gak mau sarapan dulu? Aku udah buatin sarapan buat kita semua!" Panggil Wava sembari melangkahkan kakinya menghampiri suaminya.
Arsha mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah kedua orang tuanya itu, karena tidak mau mengecewakan istrinya. Pasangan suami istri itu membalikkan badannya menuju meja makan dan melewati Radi juga Dira yang tampak canggung setelah ditegur Arsha tadi.
"Yuk sarapan sama-sama." Ajak Wava sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Silahkan kalian berdua duluan, kami nanti aja sama Rezki dan Arshi." Sahut Radi sambil memainkan handphonenya untuk menghindari bertatapan langsung dengan Arsha.
"Kita sarapan sama-sama aja." Rezki dan Arshi tiba-tiba datang menghampiri mereka berempat.
Keenam anak manusia itu akhirnya sarapan bersama dengan menu sandwich street toast makanan khas dari Korea. Makanan ini memiliki karakter tersendiri, karena diantara dua potong roti panggang terdapat daging keju, sayuran, dan telur, yang menjadikan makanan pagi siapapun yang menikmatinya menjadi sempurna karena sangat mengenyangkan.
Ditambah lagi dengan minuman hangat baik teh, kopi maupun susu. Pasti tambah mantap!
-
Drettt... drettt... Handphone Arsha yang diletakkannya di saku celana bergetar terus menerus, dia segera mengangkatnya sesudah menghabiskan makanannya.
📱"Assalamualaikum Mah." Sapa Arsha setelah melihat nama mamahnya dilayar handphonenya.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sha tolong kamu datang secepatnya ke rumah kita yang lama, mamah menerima kabar dari grup chat teman-teman bahwa daerah sana terendam banjir setinggi dada orang dewasa. Jemput Mbok Tutik segera! Kasian dia kalau harus mengungsi sendiri dari sana!" Pinta Khardha dengan menekankan kata-katanya.
📲"Baik Mah." Patuh Arsha.
📱"Ya udah mamah tutup dulu teleponnya, assalamualaikum." Khardha mengakhiri panggilan suaranya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Arsha lalu memasukkan kembali handphonenya ke saku celananya.
-
"Mamah bilang apa Sha?" Arshi mengerutkan keningnya menatap ke arah saudara kembarnya itu.
"Rumah kita yang di jalan Pramuka terendam banjir setinggi dada orang dewasa, Mamah memintaku untuk menjemput Mbok Tutik secepatnya." Jawab Arsha menjelaskan.
"Aku ikut ya Sha." Pinta Arshi sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Gak usah Shi kamu masih sakit, biar aku sendiri aja." Tolak Arsha dengan nada lembut.
"Tapi aku khawatir banget dengan kondisi Mbok Tutik Sha." Lirih Arshi dengan mata berkaca-kaca.
"Doain aja semoga Mbok Tutik gak papa Shi." Arsha menepuk pelan bahu saudara perempuannya itu.
"Iya Sayang lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk Mbok Tutik dan semua orang yang terkena musibah banjir." Rezki menimpali sembari mengusap air mata istrinya yang mulai jatuh disudut matanya.
"Rumah orangtuanya Dira juga terkena banjir, kami akan ke sana untuk mencari keberadaan mereka." Radi memberitahukan kepada mereka semuanya.
"Aku akan ikut kalian untuk mencari keberadaan kedua orang tua Dira, sekalian memberikan bantuan kepada para pengungsi yang ada disekitar sana." Ujar Rezki lalu menghubungi anak buahnya untuk membelikan sembako dan pakaian.
"Kami jalan dulu ya." Pamit Radi dan Dira.
"Yank hati-hati ya." Arshi mencium punggung tangan suaminya.
"Iya Sayang, kamu juga ya." Rezki mencium kening istrinya.
"Aku berangkat dulu ya Honey, kamu tolong bawa Arshi menemui Dokter Syifa untuk memeriksakan hidungnya." Arsha mengecup kening istrinya setelah Wava mencium punggung tangannya.
"Iya Bee." Singkat Wava sembari menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum." Ucap mereka berempat kemudian.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Arshi dan Wava yang menatap kepergian suami mereka hingga hilang di balik pintu.
-
Setelah mengumpulkan sembako yang dibeli para anak buahnya Rezki, Radi dan Dira yang sudah berada di perahu karet langsung menuju tempat-tempat pengungsian. Mereka membagikannya kepada para pengungsi bersama relawan yang ada di sekitar mereka sekaligus mencari kedua orang tua dan adiknya Dira.
-
Sedangkan Arsha langsung menuju rumah kedua orangtuanya yang lama untuk menjemput Mbok Tutik dengan menaiki perahu tradisional yang dijalankan dengan mendayungnya perlahan-lahan melawan arus air yang cukup kuat. Sesampainya di depan rumahnya Arsha yang memang selalu memegangi kunci cadangan yang diberikan papahnya langsung membuka pintu pagar rumah, dengan hati-hati dia membuka pintu lalu masuk ke dalamnya.
"Mbok... Mbok!" Panggil Arsha dengan suara lantang.
Karena tidak ada jawaban dari Bi Tutik Arsha langsung menuju ke lantai atas untuk mencarinya. Dia menemukan asisten rumah tangganya itu terbaring lemah di atas kasur dalam ruang bioskop keluarganya.
"Astaghfirullah Al azdim!" Kagetnya sembari menyentuh kening dan leher bi Tutik.
Dia segera menggendong tubuh ringkih itu diatas punggungnya lalu mengunci pintu dan pagar rumahnya kembali. Setelah itu dia memangku tubuh bi Tutik layaknya bayi sambil memeriksa denyut nadinya untuk memastikan keadaannya.
Bertahanlah Mbok, aku akan mengusahakan semaksimal mungkin untuk menyelamatkanmu." Batinnya sembari merengkuh tubuh wanita yang sudah renta itu.
Perjalanan semakin terasa sangat jauh karena banjir dimana-mana, biasanya hanya tiga puluh menit menuju rumah sakit, menjadi dua jam lamanya baru sampai. Arsha langsung membawa bi Tutik ke UGD dengan pakaian basah kuyup tanpa menghiraukan pandangan orang-orang yang memperhatikannya.
Kenapa Dokter Arsha terlihat panik sekali? Siapa yang dibawanya itu?" Batin Dokter Bayu yang berpapasan dengan Arsha.
"Dokter Arsha lebih baik anda ganti baju dulu, biar saya yang menangani pasien." Dokter Adli yang kebetulan bertugas di UGD menyarankan.
Wava dan Arshi kebetulan baru keluar dari ruang UGD, setelah menangani pasien anak-anak yang menjadi korban banjir. Mereka berdua sangat terkejut ketika berpapasan dengan Arsha yang terburu-buru masuk ke dalam ruang UGD.
"Ada apa Sha?" Arshi mengikuti langkah saudara kembarnya itu.
"Aku tadi menemukan
Mbok Tutik di dalam ruangan bioskop keluarga kita, dia mengalami demam tinggi, denyut nadinya sangat lemah." Jawab Arsha sambil berjalan menuju bed pasien bi Tutik.
"Gimana kondisinya sekarang?" Arsha menatap Dokter Adli yang masih melakukan tugasnya dengan sangat serius.
"Pasien mengalami penurunan daya tahan tubuh yang drastis akibat penyakit jantung yang tiba-tiba menyerangnya. Untunglah anda segera membawanya ke sini kalau tidak, mungkin pasien akan meninggal ditempat." Jelas Dokter Adli sembari menatap Arsha, Arshi dan Wava secara bergantian.
Mata Arshi berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Dokter Adli, sebab dia sudah menganggap bi Tutik sebagai neneknya sendiri. Sejak bayi Arshi memang lebih dekat dengan asisten rumah tangganya itu daripada Arsha yang sangat manja kepada mamahnya, karena Arsha tidak mau mengalah bila sudah rebutan asi dengannya.
"Pindahkan pasien secepatnya ke ruang ICU." Perintah Arsha kepada para perawat yang ada di sana.
Arsha juga sebenarnya sangat menyayangi bi Tutik sebagai neneknya sendiri, namun karena sifatnya yang cool membuatnya tampak cuek dengan asisten rumah tangganya itu. Padahal hatinya sangat lembut terhadap semua orang yang disayanginya.
"Baik Dokter." Para perawat itu langsung melaksanakan tugasnya.
-
Malam harinya hujan deras kembali mengguyur seluruh kota Banjarmasin. Tampak Arshi berdiri di atas balkon kamarnya dengan memakai sweater rajut dengan kerah yang menutupi leher jenjangnya. Dia memperhatikan situasi yang ada di lingkungan sekitarnya, Arshi melihat air dimana-mana bagaikan lautan yang menutupi seluruh jalanan ibukota provinsi.
Ya Allah selamatkan saudara-saudara ku yang terkena banjir, tabahkanlah hati mereka semua. Semoga kami semua bisa mengambil hikmah dari setiap ujian, cobaan maupun musibah yang terjadi saat ini." Doa Arshi dalam hatinya.
Untunglah rumah sakit keluarganya sekarang berada di dataran tinggi, sehingga hanya parkirannya saja yang ikut terendam banjir.
Kenapa kamu belum pulang Yank? Cepatlah kembali aku khawatir banget sama kamu." Batinnya sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Rezki baru saja sampai di rumah sakit, dia langsung masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas rumah mertuanya. Setelah memencet bel pintu Arsha yang membukakan pintunya memberitahunya bahwa Arshi belum tidur karena menunggu kedatangannya.
Rezki berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar untuk mengejutkan wanita yang sangat dicintainya itu lalu memeluknya dari belakang.
"Kenapa kamu berdiri di sini Sayang?" Rezki meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
"Aku nungguin kamu Yank, aku khawatir kamu gak bisa pulang karena terjebak banjir." Arshi mengusap tangan dan pipi suaminya yang terasa sangat dingin.
"Ya udah yuk kita masuk!" Ajak Rezki sembari membalikkan badan istrinya lalu mengecup keningnya.
"Aku belum makan Yank, kita makan sama-sama ya." Pinta Arshi sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Ok." Singkat Rezki sembari menganggukkan kepalanya.
Pasangan suami istri itu keluar kamar lalu memasak didapur bersama, sambil sesekali bercanda karena Rezki selalu menggoda istrinya dengan menciumi pipinya.
__ADS_1
"Di luar dingin banget Sayang, boleh aku makan yang lain setelah ini." Rezki menatap lekat wajah istrinya yang menyuapinya.
Arshi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti. Rezki yang mendapatkan lampu hijau dari istrinya mengulas senyumnya lalu mengunyah makanannya dengan cepat.
"Pelan-pelan aja makannya Yank, nanti keselek loh!" Arshi mengusap bibir suaminya yang belepotan karena makan terlalu cepat.
Rezki yang sudah tidak sabar lagi untuk melakukan penyatuan dengan istrinya tidak menghiraukan ucapan kekasih halalnya itu. Tanpa basa-basi lagi setelah Arshi mencuci piring, gelas dan peralatan memasaknya tadi Rezki langsung menggendongnya ala bridal style menuju kamarnya sambil menautkan bibirnya.
Arsha keluar dari kamarnya karena mendapat kabar bahwa bi Tutik kritis lagi, dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Arshi ketika melihat Rezki yang sangat bersemangat menciumi saudara kembarnya itu.
🌿 Berita Kepada Kawan🌿 By Ebiet G. Ade
Perjalanan ini trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung...
Hai teman-teman semuanya jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote, like, komen koin, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.
Tetap jaga kesehatan ya!
See you next time!
__ADS_1