
Happy reading guys!
Sayup-sayup terdengar suara azan berkumandang di mesjid yang ada di lingkungan rumah sakit Setiawan. Dokter Hasan, Arsha dan Khardha segera melangkahkan kakinya menuju mesjid setelah berpamitan kepada Arshi yang terlihat sangat lemas sehabis menangis dan muntah-muntah. Arshi langsung menunaikan sholat isya di dalam kamarnya sendirian, seusai sholat dia melanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tanpa sadar karena kelelahan Arshi langsung tertidur di atas sajadahnya dengan masih memakai mukenanya.
Tok...tok...tok..." Khardha mengetuk pintu kamar anaknya.
"Arshi buka pintunya sayang, ayo kita makan malam sama-sama!" Seru Khardha dari balik pintu.
Karena tidak ada sahutan dari Arshi, Khardha memutar handle pintu yang ternyata tidak dikunci oleh anaknya. Khardha melangkahkan kakinya masuk ke kamar anak perempuannya itu, dia melihat Arshi memegangi Al-Qur'an yang dekapnya di atas dadanya. Khardha mengambilnya dengan hati-hati agar tidak menggangu tidur anaknya, lalu meletakkannya di atas meja.
Wajahmu pucat banget sayang, semoga kandunganmu baik-baik saja. Mamah sangat mengerti apa yang kamu rasakan sekarang." Khardha mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang lalu mengecup keningnya.
Khardha keluar dari kamar Arshi kemudian berjalan kembali menuju meja makan.
"Mana Arshi nya Mah?" Arsha mengerutkan keningnya menatap mamahnya yang hanya datang sendirian.
"Apa dia gak mau makan sama-sama kita?" Dokter Hasan ikut bertanya.
"Arshi ketiduran di lantai masih memakai mukenanya, sepertinya dia sangat kelelahan." Jawab Khardha sembari menyajikan makanan di atas meja." Tolong kamu angkat dia keatas ranjangnya Sha, kasian Arshi kalau harus tidur dilantai semalaman." Pintanya dengan nada sangat lembut.
"Baik Mah." Arsha menganggukkan kepalanya lalu beranjak ke kamar Arshi untuk mengangkatnya ke atas ranjang.
"Gimana persiapan pernikahan kamu sama Wava Sha? Sudah sampai berapa persen?" Dokter Hasan menatap anak laki-lakinya itu yang baru kembali dari kamar Arshi, sembari menunggu istrinya menyiapkan makanan untuknya.
"Baru Lima puluh persen Pah, kemarin Om Riki dan Rezki menawarkan ballroom hotelnya untuk dijadikan tempat resepsi." Jawab Arsha lalu menyuap makanan kemulutnya setelah membaca doa sebelum makan.
"Makan dulu Sayang, habis makan baru kita sambung lagi ngobrolnya." Khardha menyodorkan piring berisi lauk-pauk kepada suaminya.
"Ok, makasih ya Sayang." Dokter Hasan menerima piring yang disodorkan istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di tempat lain. Riki, Rezki dan sepuluh orang anak buahnya yang memang benar-benar pilihan dan terlatih sudah menemukan lokasi dimana Radi ditawan oleh para penjahat yang belum mereka ketahui siapa dalang dibalik semuanya. Mereka mengintai pergerakan orang-orang yang ada di dalam sana melalui drone terbaik yang dikendalikan oleh Rezki, untuk memastikan apa yang harus dilakukan terlebih dulu.
"Kepung semua penjuru, pastikan situasi dapat kita kendalikan, setelah itu kita bagi tugas. Sekarang berpencar lah!" Perintah Riki yang memang ahli dalam strategi kepada anak buahnya.
-
Mereka semua akhirnya berpencar mengintai dari seluruh penjuru, setelah dirasanya situasi didalam markas persembunyian para penjahat itu mulai sepi, karena sudah menjelang larut malam. Mereka bergerak perlahan dan sangat hati-hati memasuki area musuh yang dipenuhi pagar beton dan kawat berduri itu. Untung saja tadi dijalan mereka semua menyempatkan diri singgah dimesjid terlebih dulu untuk menunaikan sholat isya berjamaah.
-
"Sekarang kita bagi tugas anggota yang lima orang bersamaku berjaga diluar, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan yang lima orang lainnya ikut Rezki masuk kedalam lewat pintu dibelakang kalian itu!" Perintah Riki melalui headset bluetooth yang terpasang di telinga mereka masing-masing.
-
Rezki dan kelima anak buahnya sudah berada di dalam setelah mendobrak pintu besi yang terlihat sudah lapuk dan berkarat, lewat belakang yang dipenuhi rumput-rumput liar nan sangat rimbun. Mereka berpencar dan berjalan mengendap-endap menuju ke tempat Radi ditawan dekat kandang buaya. Tiba-tiba salah satu bawahan penjahat itu melihat bayangan orang mendekati tempat Radi terikat, dia segera melaporkan kepada Dayat pimpinan mereka.
-
"Bos tadi saya melihat ada bayangan orang yang menyusup ke tempat tawanan kita." Lapornya sembari mengambil senjata api yang diletakkan di atas meja lalu ikut minum minuman keras yang diletakkan di atas meja.
"Benarkah? Kamu yakin? Tempat ini sangat terpencil, jarang sekali ada orang yang berani masuk ke kawasan ini, kecuali kita." Dayat merasa tidak percaya dengan laporan bawahannya itu." Tapi tidak ada salahnya kalian periksa tawanan kita itu, sebelum ada perintah dari Bos besar untuk melenyapkannya. Sekarang kalian tahu kan apa yang harus kalian kerjakan!" Perintahnya sambil meminum minuman keras oplosan bersama bawahannya yang lain.
-
"Radi, gue udah datang buat nolongin Lo!" Rezki menepuk pundak Radi yang tampak sangat lemas karena seharian tidak makan minum dan tangan kakinya yang terikat kuat.
Rezki berusaha melepaskan ikatan ditangan dan kaki Radi secepat mungkin dengan pisau lipat yang dibawanya, namun sayangnya apa yang dilakukannya itu disaksikan langsung oleh bawahan Dayat yang datang menggunakan sinter handphonenya. Baku hantam dan tembak-menembak antara mereka akhirnya tidak bisa dihindarkan lagi, hingga teman-teman penjahat itu berdatangan karena mendengar suara tembakan. Mereka mengepung Rezki dan kelima anak buahnya, Rezki merasa kewalahan menghadapi mereka semua karena sambil memapah tubuh Radi yang lebih besar darinya, hingga akhirnya dia terkena tembakan di kepalanya. Radi juga terkena tembak di punggungnya, dengan susah payah Rezki berusaha menjaga keseimbangannya sambil terus menahan tubuh Radi yang sangat berat itu.
"Pah cepat tolong kami!" Rezki meminta bantuan papanya lewat headset bluetooth nya.
"Ok!" Balas Riki lalu mengajak anak buahnya masuk ke dalam melewati pintu depan.
Hampir semua anak buah yang ikut dengan Rezki terluka parah begitu juga dengan Rezki sendiri dan Radi yang baru diselamatkannya. Riki dan anak buahnya yang baru masuk langsung melemparkan bom molotov beberapa kali untuk mengacaukan lawannya, supaya mereka bisa menghampiri Rezki dan Radi serta yang lainnya untuk keluar dari sana lalu membawanya pulang kembali ke kota mengunakan mobilnya yang terparkir cukup jauh dari tempat itu.
Ketika dalam perjalanan pulang Riki memangku kepala Rezki yang tidak sadarkan diri akibat luka tembak di kepalanya, celana dan bajunya sudah berwarna merah semua karena darah dikepala anaknya itu terus mengalir membasahi pakaiannya. Perasaannya begitu hancur melihat anak semata wayangnya terluka.
Bertahanlah Nak, kami semua masih sangat membutuhkanmu, apalagi istrimu yang sekarang mengandung buah cinta kalian berdua, kamu juga belum melihatnya lahir ke dunia ini."Batin Riki sambil mengusap kepala anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah memasuki kawasan kota Riki langsung menghubungi Arsha untuk menyiapkan semuanya agar Rezki bisa cepat ditangani secara intensif.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Arshi langsung terjaga dari tidurnya karena mimpi buruknya. Dia bermimpi mendengar suara tembakan yang langsung mengenai kepala suaminya dan akhirnya Rezki tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Dia segera membaca doa yang diriwayatkan oleh Ibnu Sunni yang dianjurkan untuk kita baca ketika mengalami mimpi buruk. Doa pertama adalah sebagai berikut;
هُوَ اللهُ ، اَللهُ رَبِّيْ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ
Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahu. A‘udzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni.
“Dialah Allah, Allah Tuhanku. Tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu.”
Doa kedua adalah sebagai berikut;
أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَان وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ
Allohumma inni a’zubika min ‘amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam.
“Ya Alloh aku berlindung kepadaMu dari perbuatan setan dan buruknya mimpi.
-
Dia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu, kemudian melaksanakan sholat tahajud, hajat, taubat dan witir, dilanjutkannya dengan mengaji lalu berdoa.
Ya Allah ampunilah dosaku, dosa kedua orangtuaku, dosa suamiku dan semua keluarga besar kami berdua, serta semua kaum muslimin dan muslimat.
Berikan selalu pertolonganMu dan petunjukMu kepada kami semua, selamatkanlah suamiku dan semua orang yang ikut membantunya. Tenangkan hati dan pikiranku yang selalu mencemaskannya ini, aamiin ya rabbal alamin." Arshi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
-
Arshi melepaskan mukenanya kemudian beranjak keluar kamar menuju dapur karena merasa haus dan lapar. Dia merebus air lalu menyeduh teh hijau digelas kaca kecil khusus untuk membuat teh, Arshi juga memanggang roti tawar diatas teplon lengkap dengan telur ceploknya sambil melamun.
Biasanya kalau aku laper kayak gini kamu selalu bangun untuk masakin makanan buat aku Yank, aku rindu saat-saat itu." Batinnya dengan mata berkaca-kaca.
Arshi mencium bau gosong dari roti yang dipanggangnya, dia langsung mengangkatnya lalu membuangnya ketempat sampah. Dia memutuskan untuk meminum teh hijau saja dicampur susu, Arshi terlonjak kaget ketika
mendengar Arsha keluar dari kamarnya, sambil menerima telepon dari seberang telepon yang menyebutkan nama suaminya.
-
📱"Assalamualaikum Om, ada apa?" Tanya Arsha sambil menuang air putih kedalam gelas.
📱"Apa! Rezki terluka!" Kaget Arsha tanpa sadar meninggikan intonasi suaranya.
Pranggg...Gelas air teh hijau yang baru saja selesai dibuat Arshi tiba-tiba jatuh mengenai kakinya. Arsha menolehkan kepalanya melihat ke sumber suara benda yang terjatuh itu.
"Astaghfirullah Al azdim. Arshi!" Seru Arsha lalu menghampiri saudara kembarnya itu.
📱"Baik Om, aku akan segera menyuruh petugas medis untuk menyiapkan semuanya.
📲" Yaudah terimakasih ya Sha, tolong kamu tenangkan Arshi jangan sampai dia syok mengetahui kondisi Rezki sekarang. Assalamualaikum." Riki mengakhiri panggilan suaranya.
"Tentu saja Om. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Arsha lalu memasukkan handphonenya ke saku celananya.
-
Arshi terpaku ditempatnya dia tidak menyadari kakinya melepuh karena terkena air teh hijau panas. Arsha langsung menuntunnya duduk di kursi meja makan.
"Lo duduk dulu disini ya Shi, tenangkan diri Lo. Gue mau kabarin Papah sama Msmah dulu." Arsha beranjak dari sana untuk memanggil kedua orangtuanya.
-
Tok...tok...tok...Arsha mengetuk pintu kamar papah dan mamahnya.
"Assalamualaikum, Pah, Mah!" Serunya dari balik pintu.
Khardha langsung terbangun lalu melepaskan pelukan suaminya, dia segera beranjak dari tempat tidurnya kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa Sha?"Khardha mengerutkan keningnya menatap anak laki-lakinya itu.
"Tolong temani Arshi di meja makan Mah, aku harus segera melakukan operasi. Tadi Om Riki menghubungi aku, dia bilang Rezki terkena tembakan di kepalanya.
"Astaghfirullah Al azdim!" Khardha membekap mulutnya sendiri karena sangat terkejut mendengar menantunya terluka parah.
__ADS_1
Dokter Hasan yang baru bangun juga ikut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arsha.
"Papah ikut ke ruang operasi Sha." Ujarnya tanpa mau dibantah.
Dokter Hasan berniat melakukan operasi secara langsung bersama Arsha dan tim medis lainnya untuk mengeluarkan peluru di kepala menantunya itu, dia ingin memastikan bahwa Rezki akan baik-baik saja setelahnya. Sebab dia tidak mau melihat Arshi terus menangis meratapi nasibnya sendiri, apabila Rezki tidak bisa diselamatkan. Dia akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya bersama Arsha dan tim medis lainnya, itulah tekadnya.
"Baiklah Pah, ayo kita turun kebawah sekarang!" Arsha berjalan mendahului papahnya.
"Kamu jaga Arshi dirumah ya Sayang, tenangkan dan hibur dia. Aku pergi dulu, doakan operasi nya berjalan lancar." Pamit Dokter Hasan lalu mengecup kening istrinya.
Dokter Hasan segera mengikuti langkah Arsha dari belakang. Mereka berdua memasuki lift untuk turun ke bawah menuju ruang operasi, sebelum melakukan operasi mereka mengganti pakaian khususnya terlebih dulu lengkap dengan masker dan sarung tangannya. Mereka benar-benar dibuat sibuk karena harus mengeluarkan peluru di kepala Rezki, punggung Radi, dan lima anak buah Rezki lainnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya Arshi dengan setia duduk di samping bed pasien suaminya yang masih belum sadarkan diri didalam ruang ICU.
Cepatlah bangun Yank, jangan tidur terus. Apa kamu gak rindu sama aku? Aku sangat merindukan canda tawamu, kenarsisanmu ketika menggodaku."Gumamnya dalam hati sambil menggenggam tangan suaminya.
-
Khardha, Dokter Hasan, Arsha, Wava, Riki, Wavi, Lida dan Rasya yang memperhatikannya dibalik jendela kaca benar-benar miris melihatnya.
🌿Matahariku☘️By Nur Halimah
Bangkitlah hai satriaku, sembuhlah sayang
Deritamu deritaku, sembuhlah sayang
-
Bersinarlah matahariku
Terangi kembali hidupku
Bangkitlah hai satriaku, sembuhlah sayang
Deritamu deritaku, sembuhlah sayang
-
Bunga sekarang merana dan layu
Karena kumbang tak lagi merayu
Sang permaisuri dirundung nestapa
Karena sang raja di dalam musibah
-
Tanpa kamu alam seakan berduka
Terlukis di hati yang lara
‘Ku merindukan hari berbahagia
Yang penuh canda, tawa, ria
Dendangkanlah lagi lagu asmara
☘️☘️☘️☘️☘️
Bersambung....
Hai teman-teman para reader dan author hebat semuanya, yang selalu setia membaca karya receh ku ini.
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya ya melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang selalu membangun, koin seikhlasnya, rate bintang limanya, dan jadikan favorit kalian selalu ya.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.
Tetap jaga kesehatan ya!