
Happy reading guys!
Setelah berhasil menyebrang jalan CEO tampan itu langsung melangkah masuk kedalam cafe, tempatnya berjanji untuk bertemu dengan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu.
Drettt...dreettt... Handphonenya yang sengaja di silent tiba-tiba bergetar dalam saku celananya. Dia segera menggeser tombol warna hijau yang ada dilayar benda pintarnya itu ketika melihat nama mertuanya tertera di sana. Rezki mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya mencari sosok mamanya, namun tidak didapatinya.
Kok Mama gak ada? Katanya tadi nungguin di sini." Batinnya sambil menaruh handphonenya di telinganya.
📲"Assalamualaikum Pah." Sapanya dari balik line telepon.
📱"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan dengan nafas memburu karena berusaha meredam emosinya." Kamu ada di mana sekarang? Ruang rawat Arshi ditembaki orang!" Ujarnya dengan meninggikan intonasi suaranya.
📲"Apaaaa!" Rezki sangat terkejut mendengarnya.
Dia langsung memasukkan handphonenya kedalam saku celananya, kemudian berlari keluar menuju rumah sakit keluarga Setiawan. Rezki tidak menghiraukan kendaraan yang melintas di hadapannya, dia terus berlari secepat kilat. Hampir saja CEO tampan itu di tabrak mobil dan motor yang melaju cukup kencang, hingga para pengendara itu mengumpatnya.
"Heyy mau cari mati Lo!" Teriak orang-orang itu dengan geramnya.
Rezki tidak memperdulikannya dia terus berlari kencang hingga sampai di depan pintu lift, barulah dia berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
Semoga kamu baik-baik aja Sayang. Ya Allah lindungilah istri dan anak-anak ku yang masih dalam rahimnya." Doanya dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
Setelah pintu lift terbuka dia langsung memencet tombol naik menuju ruang rawat istrinya. Sesampainya di depan pintu ruang rawat istrinya dia melihat para bodyguard wanita yang diperintahkannya menjaga wanita yang telah mengandung buah cintanya itu, terbaring di atas brankar dengan luka di kepala, dada dan punggungnya.
Astaghfirullah Al azdim!" Ucapnya dalam hati karena merasa sangat bersalah."
"Istriku gimana keadaan istriku?" Tanyanya kepada petugas medis yang mendorong brankar itu.
"Dokter Arshi baik-baik saja, dia hanya syok." Jawab salah satu petugas medis itu.
Rezki segera membuka pintunya lalu melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang menenggelamkan wajahnya dalam pelukan mertuanya.
"Sayang." Panggilnya sambil berdiri di samping bed pasien wanita yang telah mengandung buah cintanya itu lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
Arshi mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya itu. Tubuhnya yang tadinya bergetar karena ketakutan memikirkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada kekasih halalnya itu langsung menjadi tenang kembali.
"Yank." Lirihnya sembari menatap sendu kearah suaminya.
"Jangan pernah tinggalkan Arshi lagi Ki, situasi dan kondisi masih belum kondusif." Pinta Khardha lalu melepaskan pelukannya dari anak perempuannya itu.
"Iya Mah." Rezki menganggukkan kepalanya lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Syukurlah kamu gak papa Yank." Ucap Arshi dalam pelukan hangat suaminya.
"Aku juga sangat bersyukur kamu sama baby twins gak kenapa-napa Sayang." sahut Rezki sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Jangan pergi lagi Yank, aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu." Pinta Arshi sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
"Aku janji gak akan ninggalin kamu lagi Sayang." Rezki semakin mengeratkan pelukannya seakan tidak mau melepaskannya lagi.
-
Khardha yang menyaksikan anak dan menantunya tampak sangat mesra di depannya segera beranjak meninggalkannya, tanpa berpamitan terlebih dulu. Dia melangkahkan kakinya secepat mungkin menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan suaminya lalu masuk kedalamnya.
"Assalamualaikum." Ucapnya sambil berjalan menghampiri suaminya dan kakaknya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Dokter Hasan dan Gusti serempak.
"Gimana situasi dan kondisinya sekarang?" Tanyanya sembari menatap ke arah suaminya dan kakaknya itu secara bergantian.
__ADS_1
"Anak buahku sedang berusaha membekuk para pelaku penyerangan ini dengan mengepung gedung tua itu." Tunjuk Gusti kearah gedung yang ada di seberang rumah sakit tersebut.
"Sepertinya mereka para snipers yang biasa menembak dari jarak jauh menggunakan senjata api tanpa suara." Dokter Hasan mengutarakan apa yang dipikirkannya.
"Menurutku juga begitu, makanya tadi tidak terdengar bunyi tembakan sama sekali." Timpal Khardha dengan ekspresi seriusnya.
"Gimana ceritanya kok bisa kamu yang pertama kali menemukan para bodyguard wanita itu terluka?" Gusti mengerutkan keningnya menatap ke arah adik bungsunya itu.
"Kebetulan tadi aku baru keluar dari ruang rawat Arsha setelah membawakan makanan untuknya dan istrinya. Karena feelingku gak enak aku kembali masuk kedalam ruang rawat Arshi untuk
memastikan keadaannya, namun ketika masuk aku sangat terkejut melihat para bodyguard wanita suruhan Rezki itu terluka cukup parah. Meskipun begitu mereka tetap berusaha melindungi Arshi dengan berdiri mengelilingi bed pasien nya sambil menahan sakitnya." Jawab Khardha menjelaskan awal mula kejadian sebenarnya.
"Ternyata menantu kalian itu jenius juga ya, dia pintar memilih para bodyguard yang benar-benar setia dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan majikannya." Ujar Gusti seraya menyunggingkan senyumnya.
"Menurut cerita Wava para bodyguard wanita maupun laki-laki itu sebenarnya anak-anak jalanan yang berada di bawah asuhan yayasan keluarga besar Pratama, mereka memang sengaja di didik khusus dan di latih oleh para orang-orang yang kompeten di bidangnya sesuai keahliannya masing-masing. Jadi wajar aja kan kalau Rezki bisa dengan mudah mendapatkan para bodyguard seperti itu." Jelas Khardha sambil duduk di sofa panjang sebelah kakaknya.
"Ohh." Gusti dan Dokter Hasan yang juga baru tahu ceritanya membulatkan mulutnya hingga membentuk huruf O.
"Aku baru tau kalau keluarga besar Pratama sehebat itu, pantesan aja ada orang yang suka banget membahas tentang mereka." Dokter Hasan beranjak dari duduknya lalu berdiri menghadap ke arah gedung yang sedari tadi di pantau mereka.
Sebab rasa cemburu kembali melanda hatinya ketika mengingat istrinya pernah menjalin hubungan dengan Riki Pratama mantan terindahnya. Khardha yang sudah sangat mengerti dengan sifat suaminya itu ikut beranjak dari duduknya lalu menghampirinya.
"Gak usah cemburu Sayang, aku juga baru tau semuanya dari Wava." Jujur Khardha sambil menggenggam tangan suaminya.
"Benarkah?" Dokter Hasan menaikkan satu alisnya menatap istrinya yang berdiri di sampingnya.
"Apa aku pernah berbohong sama kamu sejak awal kita menikah?" Bukannya menjawab pertanyaan Khardha justru balik bertanya.
Dokter Hasan menatap lekat manik mata hazel kekasih halalnya itu untuk mencari kebohongan disana namun tidak didapatinya. Dia langsung menyadari kesalahannya karena wanita yang sangat dicintainya itu memang tidak pernah berbohong kepadanya sejak resmi menjadi istrinya.
"Maafin aku Sayang." Ucapnya sambil merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu menciumi puncak kepalanya.
Ehemmm... Gusti berdeham untuk menyadarkan pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu bahwa masih ada dirinya di sana.
"Maaf ya Kak." Dokter Hasan segera melepaskan pelukannya lalu kembali duduk di samping iparnya itu.
"Udah kebiasaan makanya lupa masih ada orang lain di sini." Goda Gusti sembari melirik ke arah adik iparnya itu.
"Emangnya Kak Gusti gak pernah mesra lagi sama Kak Fida?" Tanya Khardha untuk membalas godaan kakaknya itu.
"Kepo!" Jawab Gusti seraya mengulas senyumnya.
Tiba-tiba handphone Gusti bergetar disaku celananya, dia segera mengangkat panggilan suara tersebut lalu menyalakan loadspeaker nya.
📱"Lapor komandan! Kami sudah berhasil membekuk para pelaku penyerangan yang menembaki rumah sakit, dengan dibantu oleh orang-orang yang lebih dulu berada di sini memantau pergerakan mereka." Bawahan Gusti yang bertugas di lapangan melaporkan.
📲"Siapa orang-orang yang membantu kalian itu?" Tanya Gusti dengan mengerutkan keningnya.
📱"Menurut pengakuan salah satu diantara mereka saat kami interogasi tadi, mereka adalah orang-orang yang diperintahkan untuk melindungi keluarga besar Pratama dan Setiawan." Jawabnya menjelaskan.
"Siapa yang memerintahkan mereka?" Gusti kembali bertanya.
"Putra Pratama dan Riki Pratama." Jawab anak buah Gusti yang bertugas di lapangan itu.
"Ok kalau begitu hubungi mereka berdua untuk menjadi saksi atas kasus penyerangan ini." Perintah Gusti dengan menekankan kata-katanya.
"Siap 86." Tegasnya lalu memutuskan panggilan suaranya.
-
__ADS_1
"Sepertinya keluarga Pratama sudah mengetahui tersangka utama penyerangan ini." Ujar Gusti mengungkapkan instingnya sebagai seorang polisi.
"Bisa jadi dalangnya adalah orang yang sama seperti yang telah mencelakai Arshi sebelum-sebelumnya." Timpal Dokter Hasan sembari menatap ke arah istrinya dan kakak iparnya itu.
"Maksudnya?" Gusti mengangkat satu alisnya menatap ke arah adik iparnya itu.
"Apa kamu menuduh Rina yang melakukannya?" Tanya Khardha berusaha memastikannya.
"Aku gak menuduhnya Sayang, aku sudah mengantongi semua bukti kejahatannya. Aku memang sengaja gak melaporkannya karena kasian dengan Rezki yang tampak uring-uringan memikirkan mamanya itu." Jujur Dokter Hasan menjelaskan alasannya.
"Kalau begitu kalian berdua ikut aku ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." Perintah Gusti dengan menekankan kata-katanya.
"Baik Kak." Sahut Dokter Hasan dan Khardha serempak sembari menganggukkan kepalanya.
-
Mereka bertiga lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana, kemudian masuk kedalam mobilnya masing-masing yang terparkir di basemen rumah sakit. Setelah menyalakan mesin roda empatnya itu Dokter Hasan dan Khardha mengikuti mobil kakaknya menuju kantor polisi.
Sesampainya di sana pasangan suami istri itu langsung bertemu dengan tuan besar Muhammad Putra Pratama dan Riki Pratama yang juga baru datang ke sana. Mereka lalu berjalan beriringan masuk kedalam kantor polisi dan di interogasi secara bergantian. Setelah selesai mereka berempat di pertemukan dengan Rina dan Stephani yang baru saja tertangkap di dalam cafe seberang rumah sakit. Rina langsung menyerang Khardha dengan menjambak rambutnya, dia mengamuk sambil menyumpahi bekas sahabatnya karibnya itu.
"Dasar wanita jalang sampai kapanpun gue gak akan pernah biarin Lo dan keluarga Lo hidup bahagia!" Teriaknya dengan lantangnya.
Awww... Arghhh..."Lepasin Rina! Aku gak akan pernah biarin kamu melakukannya." Lirih Khardha sambil menahan tangisnya karena rambutnya tercabut dari akarnya.
Semua orang sangat terkejut dibuatnya. Dokter Hasan berusaha menarik tangan Rina supaya melepaskan cengkeramannya dari kepala istrinya, namun Rina justru semakin membabi buta dengan meraih pisau yang ada di sabuk kopel salah satu aparat kepolisian. Dia mengarahkan ke leher Khardha hingga menggoresnya dengan senjata tajam itu, menyaksikan semua itu Riki yang tidak terima
wanita yang selalu ada di hatinya diperlakukan seperti itu langsung menendang tulang kering mantan istrinya itu.
Awww... Pekik Rina lalu terduduk bersimpuh di hadapan Dokter Hasan yang menatapnya tajam.
Polisi segera memborgolnya lalu membawanya masuk kedalam sel tahanan.
"Aku juga akan balas dendam kepadamu Riki Pratama! Tunggu aja pembalasanku! Teriaknya dengan lantangnya hingga menggema di seluruh ruangan kantor polisi tersebut.
-
Setelah Rina diamankan oleh pihak kepolisian Dokter Hasan langsung menggendong istrinya menuju mobilnya tanpa memperdulikan tatapan dari semua orang yang melihatnya.
Khardha semoga kamu selalu bahagia dan samawa dengannya." Doa Riki dalam hatinya sembari menatap sendu kearah mantan terindahnya itu.
Oh jadi Khardha sangat lembut orangnya pantesan Riki gak pernah bisa melupakannya. Berbeda banget sama Rina yang suka melakukan kekerasan kepadanya dan melampiaskan semuanya." Batin tuan besar Muhammad Putra Pratama sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
Dokter Hasan segera mendudukkan kekasih halalnya itu di kursi penumpang yang ada di sampingnya, lalu mengambil kotak P3K yang ada di dalam dasbor kemudian mengobati luka di leher wanita yang sangat dicintainya itu dengan penuh kelembutan.
-
Ditempat lain tepatnya di kediaman keluarga Danuarta. Tuan besar itu sangat terkejut mengetahui anak semata wayangnya di tangkap polisi, dia mengamuk dan menghajar anak buahnya satu persatu karena tidak becus menjaga Stephani.
"Aku akan menghancurkan semua orang yang telah membuat anakku menderita!" Teriaknya dengan lantangnya hingga menggema di seluruh ruangan rumah mewahnya itu
-
Apa yang akan dilakukan tuan besar Danuarta untuk membalas dendam kepada keluarga Pratama?
Tunggu aja kelanjutan ya!
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung...
__ADS_1
Hai teman-teman semuanya jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian ya melalui vote, like, komen, koin, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.
See you next time!