Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#53 "Amnesia"


__ADS_3

Happy reading guys!


Sudah hampir sebulan tepatnya tiga Minggu Rezki terbaring di atas ranjang pasien, dengan dibantu berbagai macam alat medis yang menunjang kehidupannya. Arshi selalu setia disamping suaminya hingga tidak menghiraukan kondisinya sendiri yang sering lupa makan, kecuali Mamahnya datang membawakan makanan dan menyuapinya. Itupun tidak bertahan lama diperutnya karena Arshi selalu memuntahkannya kembali akibat mengalami morning sicknees yang semakin sering dirasakannya. Arshi terlihat semakin kurus dan pucat karena kurang tidur dan tidak pernah beristirahat dengan nyaman lagi dikasur empuknya. Dia benar-benar tidak bisa jauh dari sisi suaminya yang belum ada tanda-tanda untuk sadarkan diri dari koma nya. Karena bawaan kehamilannya juga membuatnya tidak mampu meninggal laki-laki yang telah menanamkan benih cinta kepadanya itu.


Hari ini tepat dua bulan usia kehamilan Arshi, dia memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa melaksanakan tugasnya sebagai Dokter spesialis anak, supaya tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya yang mendalam sejak Rezki kembali namun tidak sadarkan diri. Seusai mandi dikamar mandi yang ada di kamar VIP tempat suaminya di rawat dengan intensif, dia bersiap-siap untuk pergi ke ruangan prakteknya. Arshi sudah memakai baju putih dan menguncir rambutnya serta sedikit berdandan untuk menyamarkan wajah pucatnya.



Sebelum meninggalkan suaminya yang masih setia dalam tidur panjangnya Arshi menatap wajah tampan kekasih halalnya itu dari jarak yang sangat dekat sambil menggenggam tangannya lalu mengecup keningnya.


"Aku pergi dulu Yank, nanti saat istirahat makan siang aku kesini lagi untuk menemanimu." Bisik Arshi di telinga suaminya.


Tiba-tiba Rezki meresponnya dengan mengeratkan genggaman tangannya lalu memanggil nama mantan kekasihnya.


"Rani ku mohon jangan tinggalkan aku." Lirihnya namun masih terdengar jelas di telinga Arshi.


Deg...Jantung Arshi seakan berhenti berdetak seketika mendengar nama Rani yang dipanggil suaminya ketika dia mulai sadar dari koma nya.


Kenapa bukan namaku yang pertama kali kamu panggil Yank? Apakah kamu mengalami amnesia sehingga lupa sama aku? Atau kamu sengaja menguji kesabaranku?" Tanya Arshi dalam hatinya dengan mata berkaca-kaca.


Dia menepis tangan suaminya lalu berlari keluar dari sana, untuk memberitahukan kepada Arsha dan papahnya yang selama ini menangani Rezki.


Tok...tok...tok...Arshi mengetuk pintu ruangan saudara laki-laki nya itu.


"Masuk!" Seru Arsha dari dalam sembari menatap layar komputer nya untuk membaca perkembangan data-data hasil medical check up pasien-pasiennya.


Ceklek...Arshi memutar handle pintu lalu masuk ke dalam ruangan saudara kembarnya itu.


"Assalamualaikum Sha. Rezki udah sadar." Arshi memberitahukan sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kalau Rezki sadar kenapa Lo nangis?" Arsha beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati saudara kembarnya itu.


" Dia lupa sama gue Sha, hiks... hiks..." Arshi menghambur ke dalam pelukan Arsha.


"Maksud Lo dia amnesia?" Arsha melonggarkan pelukan Arshi kepadanya untuk menatap wajah saudara kembarnya itu.


"Lo pastikan aja sendiri Sha, semoga dugaan gue ini salah." Arshi berkata dengan lirihnya.


"Ok, Lo tenang dulu ya, gue mau periksa Rezki sekarang." Arsha memegangi bahu Arshi lalu merangkul bahunya menuju ke kamar VIP tempat Rezki dirawat.


Ketika berjalan di koridor rumah sakit Arsha dan Arshi berpapasan dengan Wava yang kebetulan hendak menemui Arsha untuk membahas tentang pernikahan mereka, yang terpaksa selalu ditunda karena Arsha tidak mau bahagia di atas penderitaan saudara kembarnya itu.


"Kalian berdua mau kemana?" Wava menatap wajah Arsha dan Arshi secara bergantian.


"Kami mau menemui Rezki kebetulan dia baru sadar. Arshi memintaku untuk memeriksa keadaannya, kamu mau ikut Honey?" Arsha melepaskan rangkulannya kepada Arshi lalu meraih tangan Wava.


Wava menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.


"Kenapa gue perhatiin wajah Lo sembab Shi? Seharusnya Lo bahagia kan Rezki udah sadar." Wava menggandeng tangan sahabat sekaligus calon iparnya itu.


"Gue bahagia banget Rezki udah sadar Va, tapi gue juga sedih karena yang pertama dipanggilnya malah nama mantannya bukan nama gue, hiks." Arshi memeluk tubuh Wava ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar perawatan Rezki.


Arsha langsung memeriksa kondisi Rezki secara keseluruhan, lalu melepaskan alat-alat bantu yang menempel di tubuhnya, bersama dengan petugas medis yang berjaga dimeja depan ruangan yang sengaja dipanggilnya sebelum masuk tadi.


"Gimana Sha?" Arshi berjalan mendekati ranjang suaminya lalu menatap Arsha.


"Secara keseluruhan kondisi fisiknya sudah sembuh total, sekarang kita tanyakan apakah dia ingat dengan semuanya." Jawab Arsha lalu menatap Rezki yang tampak bingung mendengar ucapannya.



"Nama kamu siapa?" Arsha memulai pertanyaannya.


"Rezki Aditya Pratama." Jawab Rezki sambil menatap Arshi tanpa berkedip yang berdiri di samping Arsha.


"Apa kamu ingat siapa dia?" Arsha menarik tangan Arshi supaya berdiri di depannya hingga berhadapan langsung dengan Rezki.


"Memangnya siapa dia?" Bukannya menjawab Rezki justru balik bertanya.


Dia menatap Arshi dari atas kebawah dengan kening yang berkerut dalam.


"Kamu gak kenal sama aku?" Tunjuk Arshi kepada dirinya sendiri dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Rezki menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandanganya kepada Arshi.


"Dia istrimu yang sekarang tengah mengandung anakmu." Arsha berusaha menjelaskan dengan menekankan kata-katanya.


"Aku baru saja bertunangan dengan Rani, gak mungkin aku mengkhianatinya dan menikahi orang lain. Apalagi sampai mengandung anakku, siapa tau dia hanya mengaku sebagai istriku dan telah hamil dengan orang lain, supaya bisa mendekatiku dan memerasku." Rezki berkata dengan entengnya seolah tidak ada beban dikepalanya.


"Kamu tega banget menuduhku seperti itu Yank." Arshi langsung berlari keluar sambil menangis, tanpa memperdulikan panggilan Arsha dan Wava.


"Arshi tunggu!" Teriak Arsha dan Wava bersamaan.


"Lo pasti akan menyesal nantinya Ki karena udah menuduh Arshi yang bukan-bukan!" Geram Wava sambil menatap tajam ke arah sepupunya itu.


"Lo udah nyakitin perasaan saudara gue!" Arsha meninggikan intonasi suaranya.


Dia mengatupkan mulutnya, hingga terdengar gemeretak giginya sambil mengepalkan tangannya dengan kuatnya lalu mencengkeram erat baju pasien yang dipakai Rezki.


"Gue gak akan biarin Lo nemuin Arshi lagi sebelum Lo serius minta maaf sama dia!" Arsha menekankan kata-katanya.


"Ayo Bee kita tinggalkan laki-laki sombong ini!" Wava menarik tangan Arsha untuk meredam emosi calon suaminya itu.


Apa salahnya aku bilang begitu? Aku kan emang gak kenal sama wanita itu? Tapi sorot matanya memancarkan aura kesedihan yang mendalam ketika menatapku dan gak ada kebohongan yang kudapati dari mata indahnya itu. Apa benar dia istriku? Arghh kepalaku sakit banget!" Rezki memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit sekali ketika berusaha mengingat tentang Arshi.


Dia memejamkan matanya dan melihat bayangan seorang wanita cantik yang wajahnya tidak terlihat jelas karena membelakanginya. Rezki mengingat kembali mimpinya yang terus berulang-ulang dalam tidur panjangnya ketika memeluk seorang wanita dari belakang lalu berkata.


"Sayang jangan pernah tinggalkan aku walau apapun yang terjadi di antara kita." Bisiknya di telinga wanita itu.


Siapa sebenarnya wanita dalam mimpiku itu? Rani atau wanita yang mengaku sebagai istriku itu?" Rezki kembali memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


-


Satu jam kemudian Radi dan Riki datang menemui Rezki setelah mendapatkan kabar dari Dokter Hasan yang diminta oleh Arshi untuk mengabarinya.


"Assalamualaikum." Ucap Radi dan Riki secara bersamaan lalu berjalan mendekati ranjang Rezki.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Rezki lalu mengalihkan pandangannya dari televisi kearah pintu.


"Akhirnya Lo bangun juga dari tidur panjang Lo Bro!" Radi menggenggam tangan Rezki lalu menepuk bahunya.


"Syukurlah kamu udah baik-baik saja nak." Riki memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Maksud Lo wanita yang mengaku sebagai istri gue itu?" Rezki balik bertanya.


"Wajar aja dia mengaku sebagai istri Lo, sebab dia memang istri SAH Lo secara hukum dan agama." Jawab Radi dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Apa kamu juga lupa bahwa Arshi tengah mengandung anakmu Ki?" Riki menatap wajah anaknya dengan penuh tanda tanya.


"Mana buktinya kalau aku memang benar menikah dengannya?" Rezki menatap Radi dan papanya secara bergantian.


"Nich foto mesra Lo sama Arshi!" Radi memperlihatkan foto yang diambilnya ketika Rezki memeluk Arshi dengan eratnya ketika mengetahui kehamilannya.



Rezki melongo melihat fotonya bersama Arshi yang terlihat sangat bahagia.


"Pantesan aja Arshi gak ada di sini Lo benar-benar udah meragukan kesetiaannya, hingga menyakiti hati dan perasaannya. **** banget sich Lo Ki! Asal Lo tau aja ya, Arshi yang selalu setia merawat Lo dan mendampingi Lo selama ini. Tapi apa balasan Lo sama dia sungguh diluar dugaan gue! Mana Rezki yang dulu gue kenal bucin akut sama istrinya?" Radi menatap tajam ke arah Rezki.


"Kamu harus minta maaf sama Arshi dan keluarganya, jangan sampai menyesal seumur hidup seperti papa, karena sudah melepaskan orang yang sangat papa cintai." Riki ikut menimpali.


Rezki menundukkan kepalanya merenungkan kembali setiap kata-kata yang keluar dari mulut Radi dan papanya, hingga sayup-sayup terdengar suara azan yang menunjukkan waktu Zuhur telah tiba, dari mesjid yang ada di lingkungan rumah sakit itu. Rezki beranjak dari ranjang pasiennya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian mengajak Radi dan papanya untuk sholat berjamaah di masjid.


-


Sementara itu di rumah kedua keluarga Setiawan yang terletak di lantai paling atas rumah sakit, Arshi terbaring lemah tidak berdaya. Sebab setelah berlari keluar sambil menangis dari kamar Rezki tadi tiba-tiba dia menabrak brankar pasien ketika tim medis mendorongnya. Arshi terjerembab ke depannya hingga membentur seorang Dokter laki-laki yang baru pindah ke rumah sakit itu. Arshi tidak memperdulikan semua orang yang menatap heran kepadanya, dia kembali berlari masuk ke dalam lift, lalu menekan tombol menuju rumah orangtuanya. Sesampainya di sana Arshi langsung menghambur ke pelukan mamahnya setelah Khardha membukakan pintunya. Dia memberitahukan kepada kedua orangtuanya tentang keadaan Rezki sambil terus mengeluarkan air matanya, lalu meminta papahnya untuk mengabari Radi dan mertuanya.


☘️☘️☘️☘️☘️


🌿 Asmara 🌿by St 12


Bila tak ada lagi cintamu yang indah untukku


Harusnya kau tahu betapa hidupku sepi tak sempurna

__ADS_1


Bila tak ada lagi sayangmu yang tulus untukku


Harusnya kau tahu betapa hidupku sakit dan 'ku terluka


Hingga aku terjatuh, tersiksa batinku


Sudah tak sempurna


Rusaklah harapanku dan lalu kau pergi


Kini terbang jauh hilang


Asmara ini telah menyakitkanku


Cinta menusuk jantungku


Dan merusak hidupku, oh


Asmara, kurang apa 'ku padamu?


Sampai kau tak kenal aku


Hingga 'ku terluka


Oh...


Oh


Hingga aku terjatuh, tersiksa batinku


Sudah tak sempurna


Rusaklah harapanku dan lalu kau pergi


Kini terbang jauh hilang


Asmara ini telah menyakitkanku


Cinta menusuk jantungku


Dan merusak hidupku, oh


Asmara, kurang apa 'ku padamu?


Sampai kau tak kenal aku


Hingga 'ku terluka


Asmara ini telah menyakitkanku


Cinta menusuk jantungku


Dan merusak hidupku, oh


Asmara, kurang apa 'ku padamu?


Sampai kau tak kenal aku


Hingga 'ku terluka


🌿🌿🌿🌿🌿


Bersambung....


Hai teman-teman semuanya jangan pernah bosan untuk mendukung karya receh ku ini ya, melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang selalu membangun, koin seikhlasnya, rate bintang limanya dan jadikan favorit kalian selalu ya!


Salam sayang selalu dariku Khardha Love.


Tetap jaga kesehatan ya!


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya!

__ADS_1


Belajarlah menghargai karya orang lain supaya kita juga dihargai oleh orang lain.


Mohon maaf lahir batin ya!


__ADS_2