Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#74 "Masalah Pribadi"


__ADS_3

Happy reading guys!


Hujan deras mengguyur seluruh kota dan desa yang ada di Kalimantan tidak terkecuali kampung halaman tempat kelahiran Hendrik Choi dan Khardha Sahara yang sedang mengalami masalah pribadi yang berkepanjangan, hingga tidak ada lagi yang bisa mereka tutupi di hadapan semua keluarga besar mereka yang masih berkumpul di teras rumah Bu Hana.


Seusai mandi dan memakai pakaiannya Khardha langsung mengobati luka di seluruh wajah dan tubuh suaminya. Tidak lama kemudian Bripka Gusti Hamidi yang sudah mengetahui apa yang terjadi dengan adik, ipar, dan sepupunya itu, malam itu juga melakukan sidang untuk menyelesaikan masalah pribadi yang sudah lama terpendam tersebut.


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tengah rumah minimalis sederhana milik Bu Hana, Bripka Gusti Hamidi menatap lekat wajah Khardha, Dokter Hasan dan Hendrik yang memar di mana-mana secara bergantian.


"Hendrik sampai kapan kamu bisa melupakan perasaanmu yang gak wajar itu kepada Khardha? Padahal kamu sudah gak muda lagi. Kamu juga sudah punya istri, anak dan menantu. Kalau kamu terus seperti ini, banyak hati yang tersakiti." Gusti berusaha menasehatinya.


"Aku gak tau sampai kapan perasaan ini terus hadir di hatiku, walaupun aku sempat puluhan tahun amnesia tapi aku benar-benar gak bisa melupakan Khardha Kak." Jujur Hendrik tanpa rasa malu sedikitpun.


"Mencintai itu boleh saja Hendrik tapi dalam batas yang wajar, kalau kamu terus memaksa ingin memilikinya itu namanya obsesi bukan lagi cinta yang tulus. Jangan pernah menyakiti orang-orang yang benar-benar tulus mencintaimu, biarkan Khardha hidup tenang dengan suaminya dan anak menantunya. Belajarlah ikhlas menerima kenyataan bahwa kalian adalah kakak dan adik sepupu yang terikat dengan hubungan keluarga, kamu gak bisa memungkiri itu semua." Bripka Gusti Hamidi kembali menasehati.


Hendrik Choi hanya menundukkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Bripka Gusti Hamidi yang memang lebih tua darinya.


"Jika kamu tetap bersikeras untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga Khardha, aku gak akan pernah tinggal diam Hendrik! Sebab aku sudah mengantongi semua bukti kejahatanmu sejak dulu sampai sekarang, baik untuk masalah pribadi maupun usaha yang kamu jalankan selama ini. Aku sengaja gak memenjarakanmu karena itu akan mencoreng nama baik keluarga besar kita." Tegas Gusti dengan menekankan kata-katanya.


"Maaf sebelumnya jika saya dianggap lancang dan ikut campur dalam masalah pribadi keluarga ini." Ucap Radi dengan sangat hati-hati karena dia baru tahu permasalahan yang terjadi di dalam keluarga Khardha dan Hendrik." Kenapa tidak dibuat perjanjian hitam diatas putih saja? Supaya bila terjadi lagi sesuatu hal yang tidak diinginkan kita bisa langsung membawanya ke jalur hukum." Ujarnya menyarankan.


"Ok, aku akan meminta sekertaris desa disini untuk membuatkan perjanjian tersebut." Gusti langsung menyetujui saran dari Radi.


Dia segera menghubungi sahabatnya yang sekarang menjadi sekertaris desa di kampung itu.


Tut...Tut...Tut... Panggilan suara tersambung.


πŸ“± "Assalamualaikum. Kayapa habar Wal?


"Assalamualaikum. Gimana kabarnya teman?" Sapa Gusti berbasa-basi.


πŸ“²"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Alhamdulillah aku baik haja. Ikam pang kayapa jua?


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Kamu sendiri gimana?" Sahabat Gusti balik bertanya.


πŸ“±"Aku baik haja jua. Kawalah aku minta tolong lawan ikam?"


"Aku juga baik-baik saja. Bisakah aku minta tolong sama kamu?"


πŸ“²" Handak minta tolong apa am?"


"Mau minta tolong apa sich?"


πŸ“±"Tolong ulahakan surat perjanjian kaina kukirimakan lewat email isinya, habis itu ikam print akan lah."


"Tolong kamu bikinkan surat perjanjian nanti ku kirim kan lewat email isinya, setelah itu kamu print kan ya." Pinta Gusti.


πŸ“²" Ok, siap 86 Komandan!" Seru sahabat Gusti dari balik teleponnya.


πŸ“±"Mun kaitu tang kyu julak kai. Assalamualaikum.


"Kalau begitu terima kasih assalamualaikum.


πŸ“²"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.


Panggilan suara pun akhirnya berakhir. Bripka Gusti Hamidi kembali meletakkan handphonenya di saku celananya, lalu menyuruh semua orang untuk membubarkan dirinya masing-masing untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.


-


"Kami pamit pulang ke kota Banjarmasin sekarang ya Mah, Pah dan semuanya." Ujar Arsha mewakili istrinya lalu mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan semua keluarga besar Bu Hana yang masih belum tidur.

__ADS_1


"Aku, Arshi, Radi dan Dira juga pamit pulang ya." Rezki mengikuti apa yang dilakukan Arsha.


Begitu juga dengan Arshi, Wava, Radi dan Dira. Bahkan Bu Hana memeluk erat tubuh cucu-cucunya itu, begitu juga dengan Merlin, Aisya dan Fida istrinya Bripka Gusti Hamidi. Setelah melakukan salam perpisahan yang diakhiri dengan cipika cipiki ala ibu-ibu sosialita.


"Assalamualaikum." Ucap keenam anak manusia tersebut.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua keluarga yang ditinggalkan serempak.


Arsha dan Wava segera masuk ke dalam mobil sport warna biru kesayangannya, sedangkan Rezki, Arshi, Radi dan Dira masuk ke dalam mobil Alphard milik Rezki yang dikemudikan oleh Radi.


"Hati-hati dijalan ya." Pesan semua keluarga yang ditinggalkan sambil melambaikan tangannya." Semoga kalian semua selamat dijalan dan sampai ketujuan." Doa tulus dari keluarga yang ditinggalkan.


-


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lamanya diringi dengan hujan deras mengguyur seluruh kota Banjarmasin dan sekitarnya, sehingga membuat air naik ke permukaan hingga mengakibatkan banjir di mana-mana. Untunglah mereka semua bisa melewati banjir setinggi lutut orang dewasa itu dengan sangat pelan dan hati-hati.


Rezki dan Arshi tampak tertidur pulas sepanjang jalan hingga tidak mengetahui situasi dan kondisi yang ada di luar mobil. Hanya Radi dan Dira yang menyaksikan langsung banjir yang melanda kota Banjarmasin tersebut, hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit keluarga Setiawan karena Rezki meminta untuk diturunkan di sana.


"Hey bangun!" Seru Radi sambil mengetuk sekat pembatas mobil antara sopir dan penumpang bagian belakang.


Karena mobil Alphard milik Rezki sudah di modifikasi dengan desain modern sedemikian rupa hingga kedap suara, membuatnya tidak mendengar suara apapun dari luar ataupun dari dalam. Apabila sekat pembatasnya sudah ditutupnya dengan remote control yang di pegangnya sendiri.


Tok...tok...tok...Radi kembali mengetuk sekat pembatas mobil, namun tetap tidak ada respon dari Rezki maupun Arshi. Radi melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia akhirnya memarkirkan mobil dengan benar diarea parkiran rumah sakit, lalu ikut tidur di kursi belakang kemudinya dengan mengatur posisi jok mobil seperti berbaring bersama Dira yang juga ikut melakukan hal yang sama.


-


Jam menunjukkan pukul 04:30 sayup-sayup terdengar suara azan subuh dari mesjid yang ada didalam area rumah sakit keluarga Setiawan tersebut. Arshi yang sudah memasang alarm di handphonenya terbangun dari tidurnya, dia mengerjabkan matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Ternyata kami masih ada didalam mobil, tapi kenapa kamu berasa dikamar gini sich Yank!" Arshi memajukan bibirnya lalu mengecup bibir suaminya sekilas.


Ternyata Rezki melucuti pakaiannya dan istrinya hingga mereka berdua dalam keadaan polos hanya memakai celana dalam saja lagi. Sebab Rezki memang sangat suka bersentuhan langsung dengan kulit istrinya yang sangat putih, mulus dan lembut itu. Meskipun mereka berdua hanya sekedar tidur biasa, dengan pelukan hangat dan dekapan mesra itulah yang selalu membuatnya nyaman bila berada dekat dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


Rezki mulai bereaksi, dia langsung membalas perlakuan istrinya dengan ciuman yang lebih dalam lagi, dengan menarik tengkuknya supaya tidak bisa bergerak kemana-mana. Hingga Arshi merasa kehabisan oksigen dibuatnya, karena hidungnya masih belum bisa bernafas dengan normal seperti biasanya akibat cidera yang dialaminya. Arshi memukuli dada bidang suaminya untuk melepaskan tautan bibirnya, Rezki pun akhirnya tersadar lalu melepaskannya.


"Maafin aku Sayang, aku lupa kamu gak bisa bernafas lewat hidung." Ucap Rezki ketika melihat istrinya ngos-ngosan seperti orang yang habis maraton." Minumlah Sayang." Rezki mengambilkan air mineral di kulkas mini yang ada dalam mobilnya itu.


Arshi langsung menerimanya lalu meminumnya dengan segera hingga habis hanya dalam beberapa kali tegukan. Setelah bisa mengatur nafasnya dengan normal kembali Arshi berkata kepada kekasih halalnya itu.


"Waktu sholat subuh sudah tiba Yank, kamu mau mandi dulu apa sholat jamaah di masjid?" Arshi menatap suaminya yang sedang memakai pakaiannya satu persatu.


"Aku mau mandi dulu Sayang, nanti kita sholat subuh berjamaah di kamarmu aja ya." Jawab Rezki sembari membantu memakaikan baju istrinya yang berserakan dimana-mana karena ulahnya.


Setelah selesai merapikan pakaiannya, mereka berdua turun dari mobil. Rezki mengetuk pintu mobil bagian depan kemudi untuk membangunkan Radi dan Dira.


Tok...tok...tok..." Hey bangun! Sudah waktunya sholat subuh!" Seru Rezki dari luar dengan lantang.


Radi dan Dira membuka matanya perlahan lalu menggeliatkan tubuhnya.


"Cepat keluar! Nanti di gerebek Satpol-PP!" Teriak Rezki kembali dengan gaya tengilnya.


"Ishh kamu tuh jahil banget sich Yank!" Arshi memukul lengan kekar suaminya dengan kuat.


Walaupun sebenarnya tidak berasa apa-apa bagi Rezki, yang sudah terbiasa dengan pukulan keras ketika berlatih bersama Radi, dan mempraktekkannya langsung saat bertarung dengan musuh-musuhnya.


Radi dan Dira bergegas turun dari mobil lalu menghampiri pasangan suami istri yang sudah menunggunya itu.


"Kurang ajar Lo ya! Punya dendam pribadi ya sama gue!" Kesal Radi sambil menoyor kepala Rezki.


"Gaji Lo gue potong!" Ketus Rezki sembari menggandeng tangan istrinya berjalan mendahului Radi dan Dira.

__ADS_1


Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam area rumah sakit menuju ke lantai paling atas.


🌿 Masalah Hati🌿 By Ussy sulistiawaty


Jika saja bisa, kubalas cinta yang tlah kau beri


Pasti kau takkan terluka, takkan membenciku


Jika saja bisa, kupaksa punya perasaan padamu


Apa mungkin kan bertahan, apa kan lama


Reff :


Tapi masalahnya aku tak tega


Tak tega mengatakan ku tak cinta padamu


Memang masalahnya ada di hati


Hati yang tak kupunya untuk dirimu


Untuk cintamu, Sayangku


Bukan ku tak pernah coba


Bukan ku tak pernah paksa


Kau terlihat begitu bahagia


Andai saja ku sanggup


Berhadapan wajahmu


Andai ku kuat, akan kukatakan


Akan kukatakan


Jika ku paksakan


Jika ku iyakan


Kau kan tetap tahu...


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Bersambung...


Hai teman-teman semuanya maaf ya telat up lagi karena kesibukan dunia nyata ku yang tidak bisa ku abaikan begitu saja.


Jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote, like, komen, koin, rate bintang lima dan jadikan favorit kalian selalu ya.


Salam sayang selalu dariku Khardha Love.


Mampir juga ya ke novel baruku yang berjudul "Aku Seorang Penghibur! Bukan Pelacur!"



Sampai bertemu lagi di episode selanjutnya!

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan ya!


__ADS_2