Dokter Cinta Spesialis Hati

Dokter Cinta Spesialis Hati
Dokter Cinta Spesialis Hati episode#15 "Rencana" part2


__ADS_3

Happy reading guys!


Sebelum acara di mulai Rina pergi menemui pelayan catring yang akan ditugaskannya untuk memberikan minuman kepada Arshi yang sudah diberinya obat keras.


"Heyy pelayan ini uang buat kamu, nanti setelah memberikan minuman ini kepada mempelai wanita pergilah secepatnya dari sini. Jangan pernah balik lagi dan meninggalkan jejak sedikitpun." Ujar Rina menegaskan.


"Baik Bu saya akan melakukan apapun yang Ibu perintahkan." Jawab pelayan wanita yang bername tag Vivi itu.


"Bagus kalau begitu bersiaplah." Rina menepuk bahu pelayan itu.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Rina kembali bergabung dengan rombongan mempelai laki-laki.


"Kamu darimana Rin?" Tanya Dokter Selvi.


"Dari toilet Mbak." Jawab Rina dengan santainya.


Jam sepuluh pagi acara ijab-kabul akan segera dimulai Rezki tampak sangat gugup ketika berhadapan dengan Dokter Hasan, penghulu dan semua orang yang akan menjadi saksi pernikahannya.


"Apakah kamu sudah siap Rezki?" Dokter Hasan memastikan.


"Inshaallah siap Om." Jawab Rezki tanpa ragu-ragu.


"Apakah kamu sudah wudhu dan sholat sunnah?" Dokter Hasan kembali bertanya.


"Sudah Om, tadi dijalan kami sempat singgah sebentar dimesjid." Rezki kembali menjawab dengan mantap.


"Ok, kamu masih ingat kan apa syarat yang kuajukan kepadamu jika kamu ingin menikahi Arshi hari ini." Dokter Hasan menatap Rezki dengan seksama.


"Iya Om." Rezki menganggukkan kepalanya.


"Sekarang silahkan kamu baca surah Ar-Rahman dari awal sampai akhir sebagai mahar utama untuk menikahi Arshi. Setelahnya baru kamu ucapkan ijab-kabul nya.


Rezki segera mengatur nafasnya lalu mulai membaca surah Ar-Rahman dengan sangat merdunya melalui mikrofon yang diarahkan Dokter Hasan kemulut Rezki. Arshi, Khardha dan Wava serta pihak MUA yang baru datang berdiri di depan pintu tampak sangat menikmati lantunan ayat demi ayat yang dibacakan oleh Rezki. Saking terlenanya tanpa sadar semua orang berdecak kagum dengan kemampuan hafalan surah Ar-Rahman dari seorang Rezki yang terlihat seperti anak nakal tapi ternyata bisa menghafal dengan baik dan benar. Setelah Rezki mengakhiri hafalan surah Ar-Rahman nya, Dokter Hasan segera menjabat tangan Rezki.


"Rezki Aditya Pratama bin Rikiyanto Pratama aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku Kharshi Setiawan dengan maskawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan dibayar tunai." Dokter Hasan menyentak tangan Rezki yang mengeluarkan keringat dingin.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kharshi Setiawan binti Hasan Setiawan dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Rezki mengucapkannya hanya dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi SAH?" Tanya Penghulu mewakili.


"SAH, SAH, SAH!" Teriak semua orang terutama Radi sang sahabat sekaligus sekertaris.


Penghulu segera membacakan doa untuk mereka. Radi benar-benar merasa lega akhirnya Rezki bisa menikahi gadis pujaannya, sebab sejak tadi malam dia tidak bisa tidur karena harus merencanakan semua adegan percobaan bunuh diri Rezki, mengundang wartawan dari media elektronik, cetak hingga medsos.


"Ok sekarang bawa mempelai wanita nya kesini untuk menanda tangani buku nikahnya." Perintah Pak Penghulu.


Khardha dan Wava segera membawa Arshi kehadapan Pak Penghulu dengan mendudukkannya disamping Rezki.


"Silahkan tanda tangan disini." Tunjuk Pak Penghulu kepada pasangan suami istri yang baru SAH itu." Baiklah sekarang silahkan cium tangan suaminya." Perintah Penghulu seraya tersenyum melihat tingkah Rezki yang sedari tadi semenjak Arshi datang tidak berkedip sedikitpun menatapnya.


Arshi segera meraih tangan Rezki lalu menciumnya. Rezki juga dengan sigap mencium kening Arshi cukup lama, hingga Dokter Hasan terpaksa berdeham untuk menyadarkannya.


Ehemmm, ehemmm." Udah nanti aja lagi disambung dikamar sekarang masih banyak orang." Ucap Dokter Hasan mengingatkan.


Rezki dan Arshi segera duduk di atas pelaminan sederhana yang memang sudah disiapkan sebelumnya.



"Aku sangat bahagia bisa menikahimu, apakah kamu juga merasakan hal yang sama?" Bisik Rezki ditelinga Arshi sambil meniupnya.


Arshi hanya menganggukkan kepalanya, dia merasa merinding karena ulah Rezki yang mulai menggodanya. Semua orang satu-persatu memberikan selamat atas pernikahan mereka tidak terkecuali Rasya dan Wavi yang masih menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Kalian berdua kenapa kok mukanya gak enak banget diliat?" Rezki pura-pura tidak tahu.


Dia segera memeluk kedua sepupunya itu secara bergantian.


"Gue udah bilang dari awal, Arshi akan jadi milik gue seutuhnya." Rezki menepuk pundak Rasya kemudian beralih pada Wavi." Gue juga pernah bilang sama lo Arshi akan jatuh cinta sama gue dan sekarang semuanya udah jadi kenyataan, gue akan selalu berusaha bahagiain dia, jadi lo gak usah khawatir, ok." Rezki menepuk pundak Wavi lebih lama dari Rasya.


Setelah semua orang bersalaman dan makan-makan, Arshi merasakan tenggorokannya terasa kering. Dia berdiri hendak mengambil minuman namun tiba-tiba ada pelayan yang menyodorkan minuman kepadanya, tanpa menaruh curiga sedikitpun Arshi langsung meminumnya hingga habis. Lima belas menit kemudian Arshi merasa ada yang aneh dengan dirinya.


"Aku mau kekamar kepalaku pusing, rasanya aku juga mau muntah." Ucap Arshi sembari beranjak dari duduknya dengan menutupi mulutnya.


Baru hendak melangkahkan kakinya Arshi sudah terhuyung, Rezki dengan sigap menggendongnya ala bridal style kekamarnya yang juga sudah didekorasi.



Rezki membaringkan tubuh Arshi perlahan diatas ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar berwarna pink itu. Arshi yang awalnya memejamkan matanya indera penciuman nya menghirup aroma bunga mawar yang sangat segar menyapanya, dia segera membuka matanya. Dia membulatkan matanya dengan sempurna melihat pemandangan di depan matanya.


"Apakah kamu yang mendekorasi kamarku jadi kayak gini?" Arshi menarik tangan Rezki yang menatapnya dengan senyum menawannya.


"Iya Sayang." Rezki menganggukkan kepalanya." Apa kamu menyukainya?" Rezki membangunkan istrinya lalu menarik pinggangnya.



"Makasih Sayang karena kamu udah mau jadi istriku, mulai detik ini jujurlah selalu padaku dalam keadaan apapun." Ucap Rezki semakin mengeratkan rangkulannya dan mulai mendekatkan wajahnya kemuka istrinya.


Arshi menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya siap menerima apapun yang diinginkan Rezki darinya. Melihat istrinya memejamkan matanya Rezki langsung memegangi tengkuknya dia mulai menempelkan bibirnya kebibir ranum istrinya yang selalu menggoda imannya itu. Baru kali ini Rezki merasakan nikmat yang luar biasa ketika mencium bibir seorang wanita yang sudah halal untuknya.


"Bibirmu sangat manis Sayang, seperti pertama kali aku mencium kamu." Ucap Rezki dengan menyentuh bibir istrinya yang agak bengkak akibat ulahnya.


"Kenapa kamu mengingatkan aku akan hal itu?" Arshi berusaha melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.


"Loh emangnya kenapa? Dulu kamu bilang aku juga yang merebut first kiss kamu." Rezki semakin mengeratkan pelukannya." Jadi gak ada salahnya kan aku bilang kayak gitu." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda istrinya.


"Udah aku mau istirahat dulu kepalaku masih pusing banget, maaf untuk sementara aku belum bisa melayani kamu dulu." Ucap Arshi dengan menundukkan kepalanya.


"Aku mau mandi dulu." Arshi bergegas menuju kamar mandi.


Rezki merebahkan tubuhnya diatas ranjang pengantin yang dipenuhi kelopak mawar itu. Karena sangat kelelahan semalaman tidak bisa tidur hingga tanpa sadar Rezki terlelap sambil merentangkan kedua tangannya. Sedangkan Arshi didalam kamar mandi benar-benar kesulitan untuk membuka gaun pengantinnya karena memang banyak kancing dibelakangnya. Dengan terpaksa Arshi keluar untuk minta tolong pada Rezki supaya mau membantunya.


"Ki tolong lepasin kancing dibelakang gaun ini." Pinta Arshi sambil menggoyangkan tangan suaminya.


Rezki membuka matanya lalu duduk. Dia membantu istrnya melepaskan kancing gaun pengantinnya satu persatu. Setelah terlepas semuanya Rezki meneguk salivanya beberapa kali melihat punggung mulus istrinya yang sangat mulus tanpa cela sedikitpun. Tanpa sadar dia merabanya dengan lembut lalu menciuminya, hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan akalnya lagi. Dia segera membalikkan badan istrinya lalu menindihnya, dia melanjutkan aksinya yang sempat terhenti tadi hingga meninggalkan kissmark dimana-mana.


"Ki aku mohon jangan sekarang, aku belum siap." Pinta Arshi sambil terisak.


Rezki langsung tersadar atas tindakannya, dia segera menyelimuti tubuh istirahat yang sudah hampir polos semua akibat ulahnya. Rezki segera masuk kekamar mandi untuk menenangkan dirinya.


Bodoh banget aku ini kenapa gak bisa menahan diri hanya karena melihat tubuhnya? Aku udah bikin dia nangis, seharusnya ini gak boleh terjadi, aku gak mau dia trauma karena takut akan kusentuh lagi." Gumam Rezki dalam hatinya sambil berdiri di bawah shower.


Setelah menangis Arshi akhirnya terlelap dibawah selimutnya. Rezki yang baru selesai mandi namun lupa membawa pakaiannya terpaksa hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Dia segera mencari kopernya yang sudah disiapkan papanya sebelumnya, setelah memakai bajunya Rezki menatap wajah istrinya, dia terkejut melihat mulut Arshi yang mengeluarkan busa seperti orang keracunan.


"Astagfirullah al azdim! Sayang bangun Sayang!" Rezki menepuk pipi Arshi dengan lembut.


Rezki benar-benar panik dibuatnya dia segera berlari keluar untuk memanggil mertuanya.


"Pah, Mah, tolongin istriku!" Seru Rezki ketika melihat mertuanya sedang asyik menikmati makan siangnya dimeja makan.


"Memangnya ada apa dengan Arshi?" Dokter Hasan dan Khardha tampak santai menanggapinya.


"Sepertinya dia keracunan mulutnya berbusa, mukanya juga pucat banget." Jawab Rezki sambil terengah-engah.


"Apaaaa!" Kaget Dokter Hasan dan Khardha.

__ADS_1


Mereka bertiga segera masuk ke kamar Arshi, Dokter Hasan segera memeriksa denyut nadi anaknya. Dia menggelengkan kepalanya melihat kondisinya, setelah itu dia segera menghubungi Arsha agar segera membawa tim medis untuk memindahkan Arshi kembali ke ruang rawatnya.


"Sayang pakaikan baju untuk Arshi." Bisik Dokter Hasan ditelinga istrinya.


"Iya Sayang." Khardha segera mengambilkan pakaian untuk anaknya.


"Rezki papah mau tanya sebelum ini tadi apakah Arshi ada makan atau minum sesuatu?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap menantunya itu.


"Kalau gak salah tadi sebelum masuk kamar Arshi sempat minum jus jeruk Pah." Jawab Rezki setelah berusaha mengingatnya.


"Kalau begitu kita akan periksa rekaman cctv dirumah ini nanti setelah menyelamatkan Arshi."


Tidak berselang lama datanglah Arsha dengan tim medisnya, mereka segera membawa Arshi untuk memberikan pertolongan secepatnya. Rezki tampak berjalan gontai mengikutinya dari belakang, bukan hanya karena syok melihat keadaan istrinya namun dia juga belum makan apa-apa sejak tadi malam hingga sekarang. Dokter Hasan dan Khardha yang memperhatikannya dari jarak dekat hanya bisa memakluminya.


Ya Allah sembuhkan istriku secepatnya, jangan biarkan dia menderita karena apapun itu," doa Rezki dalam hatinya.


"Apa kamu liat wajah Rezki juga pucat Sayang." Bisik Khardha ditelinga suaminya.


"Mungkin dia kurang istirahat." Dokter Hasan menimpali.


Rezki yang duduk di seberang mertuanya akhirnya menundukkan kepalanya sambil memijatnya. Khardha perlahan duduk disampingnya untuk menguatkannya.


"Doakan aja yang terbaik untuk Arshi nak, kamu tadi sudah makan belum?" Khardha mengusap kepala Rezki dengan lembut.


"Tentu aja Mah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk istriku. Aku gak selera makan Mah, aku nanti makan bareng Arshi aja." Jawab Rezki dengan mendongakkan kepalanya menatap Khardha yang selalu lembut dimatanya tidak seperti mamanya sendiri.


"Ya udah nanti kalau kamu lapar bilang sama mamah ya, supaya mamah bisa siapin semuanya." Khardha menepuk pundak Rezki dengan lembut.


"Iya Mah, makasih atas perhatiannya." Rezki memeluk Khardha layaknya ibu kandungnya sendiri.


Ehemmm..." Gak usah lama-lama pelukannya." Tegur Dokter Hasan karena tidak suka istrinya memeluk laki-laki lain walaupun itu menantunya sendiri.


Allahuakbar... Allahuakbar... Terdengar kumandang azan zuhur dari speaker mesjid dilingkungan rumah sakit.


"Yuk kita sholat zuhur dulu." Ajak Dokter Hasan kepada Rezki dan istrinya.


Mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju mesjid, Dokter Hasan dan Khardha tampak heran disepanjang jalan banyak orang yang memakai baju batik membagikan nasi kotak kepada semua orang yang berlalu lalang.


"Rezki apa orang-orang yang memakai baju batik itu karyawan kamu?" Tanya Dokter Hasan karena sangat penasaran.


"Iya Pah mereka aku tugaskan disetiap sudut rumah sakit ini, agar ikut merasakan kebahagiaanku bisa menikahi Arshi." Jawab Rezki seraya tersenyum.


"Kalau begitu gimana dengan kantin rumah sakit apa mereka gak merasa dirugikan?" Khardha mengingat para karyawannya yang juga membutuhkan penghasilan.


"Mamah tenang aja aku juga udah memesan semua yang ada di sana khusus untuk hari ini semuanya gratis." Rezki berkata sambil menundukkan kepalanya karena sebenarnya dia malu untuk mengakuinya.


Rezki memang sudah terbiasa berbagi, dia sering mendatangi panti asuhan, panti jompo bahkan rumah singgah untuk anak-anak jalanan setiap bulannya. Dia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi mereka, itulah yang ditanamkan papanya sejak dia mulai merintis karirnya.


"Syukurlah kamu ternyata udah pintar berbagi Rezki, papah sama mamah bangga sama kamu, semoga bukan hari ini aja ya." Ucap Khardha lalu menuju tempat wudhu khusus wanita.


🌿🌿🌿🌿🌿


Bersambung....


Maaf ya teman-teman selalu telat up, sebab aku benar-benar kehilangan nafsu makan ku sehabis sakit, jadi nulis pun ikut badmood.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang limanya.


Maaf juga belum sempat berkunjung ke karya kalian satu-persatu, semoga kalian gak pernah bosan dengan karya receh ku ini ya.


Tetap jaga kesehatan ya kapanpun dan dimanapun kalian berada. Sebab kita gak tau sakit itu kapan datangnya, kalau sudah sakit barulah kita sadar betapa nikmatnya sehat itu.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi diepisode selanjutnya.


__ADS_2