
Happy reading guys!
Radi yang masih terduduk di pinggir jalan mencoba menghubungi nomor kontak Arshi supaya Rezki bisa menjemputnya.
Tut...Tut...Tut... panggilan tersambung. Arshi langsung menghentikan tangisannya lalu merogoh handphone yang ada dalam tasnya. Dia mengerutkan keningnya menatap nama penelpon yang tertera di layar handphonenya.
Radi? Ada perlu apa lagi dia?" Tanya Arshi dalam hatinya lalu menggeser tombol warna hijau di layar handphonenya.
📲"Assalamualaikum, ada apa?" Tanya Arshi dengan lirihnya.
Dia berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak sehabis menangis barusan tadi.
📱"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, tolong bilang sama Rezki jemput gue di pinggir jalan seberang GraPARI." Jawab Radi to the poin.
📲"Kok dipinggir jalan? Memangnya kamu kenapa?" Cecar Arshi dengan nada khawatir.
📱"Gue habis di serempet mobil, tangan dan kaki gue cidera gak bisa digerakkan." Jelas Radi sambil meringis menahan sakitnya.
📲"Baiklah tunggu ya, sebentar lagi kami otw ke sana." Arshi beranjak dari duduknya lalu membuka kunci pintu kamarnya.
📱"Ok gue tungguin, assalamualaikum.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Panggilan suara berakhir Arshi memutar handle pintu dengan cepat hingga Rezki yang bersandar di pintu terjungkal ke belakang.
Awww... Sakit Sayang." Rezki mengulurkan tangannya kepada istrinya dengan menampilkan wajah memelasnya.
"Kenapa kamu bersandar di pintu Yank? Sakit banget ya?" Arshi berjongkok membantu suaminya bangun.
Rezki menganggukkan kepalanya seraya mengulum senyumnya karena istrinya tidak marah, kesal dan bete lagi kepadanya. Arshi meletakkan tangan suaminya dibahunya lalu memapahnya menuju sofa kemudian mendudukkannya.
foto hanya pemanis ya reader jadi abaikan saja baju apapun yang mereka pakai.
-
Arshi mengambil kotak P3K lalu mengoleskan obat merah dengan catton bud dibibir suaminya. Rezki menatap lekat wajah istrinya yang sangat serius mengobatinya, dia terharu atas perlakuan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Makasih ya Sayang kamu udah mau maafin aku dan ngobatin aku." Rezki memeluk erat tubuh istrinya setelah selesai mengobatinya.
"Iya sama-sama." Arshi mengusap pundak suaminya.
Keduanya terhanyut dalam kehangatan penuh cinta yang selalu tercipta diantara mereka, karena Arshi yang bersifat lembut dan tidak pernah bisa marah dalam waktu yang lama kepada laki-laki yang telah berhasil merebut hatinya itu. Permohonan maaf yang tulus dari seorang Rezki dengan segala macam cara untuk membujuk dan merayu istrinya, sehingga membuat Arshi selalu tidak berdaya untuk terus menolaknya dan akhirnya memaafkannya.
🌿Begitulah seharusnya dalam kehidupan rumah tangga jangan pernah membesarkan masalah jika itu bisa diperkecil dengan kata maaf yang tulus dari pasangan yang mengakui kesalahannya, walaupun teori tidak semudah prakteknya. Lakukanlah jika itu bisa menyelesaikan semuanya.☘️
-
Tut...Tut...Tut...Handphone Arshi yang ditaruh di saku celananya kembali berbunyi, pasangan suami istri itu refleks melepaskan pelukannya.
"Siapa yang nelpon Sayang?" Rezki mengangkat satu alisnya.
"Radi Yank." Singkat Arshi sambil menatap layar handphonenya." Astaghfirullah Al azdim!" Arshi menepuk jidatnya." Tadi dia juga nelpon aku minta sampaikan sama kamu supaya menjemputnya di pinggir jalan seberang GraPARI, sebab dia habis di serempet mobil.
"Ya udah yuk kita jemput dia." Rezki menarik tangan istrinya menuju mobilnya yang terparkir apik didalam garasi.
Setelah memanaskan mesin mobilnya sebentar karena lama tidak terpakai Rezki melajukan mobilnya ke arah jalan menuju GraPARI untuk menjemput Radi. Sesampainya di sana ternyata Radi sudah tidak ada di sana, mobilnya juga sudah tidak terlihat di parkiran. Rezki turun dari mobilnya lalu bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga di depan pintu masuk GraPARI.
"Maaf Pak apakah tadi anda melihat seseorang yang ada di foto ini." Rezki memperlihatkan foto Radi yang kebetulan ada di galeri handphone istrinya.
"Tadi dia sempat kesini setelah itu saya tidak tahu lagi." Jawab petugas keamanan itu.
Rezki menanyakan hal yang sama kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, namun jawaban mereka semua sama. Dia kembali menghampiri istrinya yang menunggu di dalam mobil karena memang dilarangnya ikut keluar mencari Radi. Terik matahari yang sangat menyengat kulit serta kehamilan Arshi yang masih rentan dan mudah lelah menjadi alasan utama mengapa Rezki melarangnya untuk ikut berkeliling mencari Radi.
"Gimana Yank?" Tanya Arshi setelah Rezki duduk di kursi kemudinya lalu menyodorkan air mineral ke tangannya.
"Gak ada tanda-tanda keberadaan Radi di sini Sayang, tadi udah coba aku hubungi nomer kontaknya tapi gak aktif lagi." Jawab Rezki lalu meminum air mineral yang di berikan istrinya.
"Lebih baik hubungi anak buah kamu Yank, suruh mereka ikut mencari Radi." Arshi menyarankan sambil mengelap keringat yang membasahi wajah tampan suaminya dengan tisu yang ada di atas dasboard.
"Tapi aku lupa berapa nomer kontak mereka Sayang, aku juga lupa menyimpannya di handphone kamu." Jujur Rezki sembari menatap wajah cantik istrinya.
"Ya udah mumpung masih di sini urus dulu nomer telpon kamu Yank."
"Ok Sayang, kamu ikut kedalam atau tunggu disini aja?" Rezki mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Emangnya boleh aku ikut?" Arshi menatap suaminya untuk memastikan.
"Iya Sayang, aku takut kamu hilang lagi nanti kalau kutinggalkan sendiri di sini." Rezki mencubit hidung istrinya dengan gemesnya.
"Ishh sakit Yank!" Arshi menepis tangan jahil suaminya.
"Ya udah yuk kita keluar!" Ajak Rezki sembari membuka pintu mobilnya.
Dia segera membukakan pintu mobil sebelahnya untuk istrinya lalu mengulurkan tangannya.
"Mari ikut saya tuan putri." Rezki membungkukkan sedikit badannya lalu menggandeng tangan istrinya.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju pintu masuk gedung GraPARI dengan memakai masker, dan tangan yang saling bertaut mesra sehingga menjadi pusat perhatian semua orang yang melihatnya.
Rezki melepaskan genggaman tangannya kemudian menyuruh istrinya duduk di tempat yang telah disediakan.
"Kamu tunggu disini ya Sayang aku mau mendaftar dulu." Rezki menyentuh pipi istrinya lalu beranjak ketempat pendaftaran.
"Iya." Singkat Arshi lalu memasang headset ditelinganya untuk mendengarkan lagu.
🌿 Kehilangan 🌿By Rhoma Irama
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa
Kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa hidup
__ADS_1
Tanpa dia
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
Ku tahu rumus dunia
Semua harus berpisah
Tangguhkan
Tangguhkanlah
Bukan aku mengingkari
Apa yang harus terjadi
Kuatkan
Kuatkanlah
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa
Kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa
Hidup tanpa dia
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
Ku tahu rumus dunia
Semua harus berpisah
Tangguhkan
Tangguhkanlah
Bukan aku mengingkari
Apa yang harus terjadi
Kuatkan
Kuatkanlah
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa
Kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa
Hidup tanpa dia
Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga
☘️☘️☘️☘️☘️
🌿Kehilangan🌿By Setia band
Kucoba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
'Ku merasa telah kehilangan
Cintamu yang telah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
__ADS_1
Sejujurnya (sejujurnya) 'ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya (seandainya) kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Takkan kusia-siakan kamu lagi
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
Sejujurnya (sejujurnya) 'ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya (seandainya) kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Sejujurnya (sejujurnya) 'ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Takkan kusia-siakan kamu lagi
Takkan kusia-siakan kamu lagi
☘️☘️☘️☘️☘️
Ditempat lain tampak Amara seorang wanita cantik berprofesi sebagai perawat sekaligus asisten Dokter Kharsha Setiawan Sp. PD
yang telah lama dikaguminya benar-benar merasa kehilangan semangat untuk menjalankan tugasnya.
Dia menatap langit-langit kamarnya membayangkan wajah Arsha yang selalu hadir di setiap bangun dan tidurnya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping ketika melihat Arsha menggandeng tangan Wava setiap kali hendak ke kantin bersama teman-temannya. Arsha yang dulu terkenal dengan sikap dinginnya akhirnya menjadi hangat setelah melamar Dokter Wava Wicaksono Sp. An.
Apakah aku terlalu naif mengharapkan seseorang yang gak mungkin kumiliki? Sesakit inikah kehilangan cinta yang tak pernah terungkapkan? Aku sangat mencintaimu Dokter Kharsha Setiawan, namun melihatmu tersenyum bahagia dengan orang lain membuatku hatiku sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum."Batinnya dengan berderai air mata yang mengalir deras tiada henti disudut matanya." Ya Allah kuatkanlah aku, ikhlaskan hatiku agar bisa menerima semua kenyataan ini." Doanya dalam hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
Dikantin rumah sakit Setiawan tampak Lida, Wavi, Arsha dan Wava duduk saling berhadapan, mereka tengah asyik menikmati makan siangnya sambil main tebak-tebakan.
"Lo pada tau gak apa bedanya matahari dan bulan?" Lida mengajukan pertanyaan pertama.
"Ya jelas beda lah kalau matahari ada diskonnya kalau bulan enggak." Jawab Wava dengan santainya sebab dia memang hobi belanja.
"Orang apa yang berenang tapi rambutnya gak pernah basah?" Wavi memberikan pertanyaan kedua.
"Orang yang kepalanya botak atau gundul." Arsha memberikan jawaban dengan tepat sekali.
"Dokter spesialis apa yang bisa mengobati sakit hati?" Arsha mengajukan pertanyaan ketiga.
"Dokter Cinta Spesialis Hati!" Seru Lida, Wava dan Wavi serempak.
"Kotak apa yang bikin sakit hati?" Wava mengajukan pertanyaan keempat.
"Kotak sadar bahwa selama ini aku mencintaimu." Jawab Lida sambil melirik ke arah Wavi.
"Kode keras!" Ujar Arsha lalu meminum air yang ada digelasnya.
"Kayaknya ada yang baper tuh Bee!" Wava menimpali.
Wavi menatap mata hazel Lida dengan lekat hingga membuat debaran jantung keduanya berdetak lebih kencang seperti habis berlari maraton.
"Gue juga cinta sama kamu Da, mau gak jadi ibu dari anak-anakku?" Wavi menggenggam tangan Lida.
"Lo gak salah Vi? Masa ngelamar Lida di kantin? Gak modal banget sich Lo!" Ketus Wava dengan nada sinisnya.
"Ya daripada gue ngelamarnya di ruang operasi? Kan lebih baik disini." Jawab Wavi dengan entengnya.
"Lo gak ada romantisnya Vi, gue sebel sama Lo!" Lida langsung beranjak meninggalkan mereka bertiga.
"Lo bakal kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki orang yang Lo cintai, kalau gak bisa merubah sikap somplak Lo itu Vi." Ujar Arsha mengingatkan sahabat sekaligus calon iparnya itu.
"Yaudah kalau begitu kalian berdua harus bantuin gue nyiapin acara lamaran buat Lida." Tegas Wavi dengan menekankan kata-katanya.
"Maaf kami gak bisa bantuin Lo Vi, sebab kami juga sibuk mengurus semua persiapan pernikahan kami. Coba Lo minta bantuan sama Arshi dan Rezki, mereka pasti mau bantuin lo kayak gue kemarin waktu ngelamar Wava, sebab Arshi paling senang melihat sahabatnya bahagia." Ucap Arsha menjelaskan alasannya sekaligus menyarankan.
"Tapi gue malu minta tolong sama mereka berdua." Lirih Wavi sembari menundukkan wajahnya.
Wavi merasa sungkan untuk meminta bantuan kepada Rezki sepupunya itu, karena dia tidak pernah meminta maaf setelah memukulinya dulu ketika menolong Arshi padahal semua hanya salah paham saja. Sedangkan kepada Arshi dia malu karena cintanya yang selalu hadir kembali setiap kali melihatnya.
"Masih ada urat malu juga Lo! Gue kira udah hilang." Sarkas Wava seraya tersenyum smirk.
"Honey gak boleh ngomong gitu sama saudara sendiri." Tegur Arsha mengingatkan calon istrinya itu.
"Maaf Bee aku sebel banget sama dia, giliran di suruh ngelakuin hal yang baik malu." Ucap Wava karena sangat kesal dengan Wavi.
"Segala sesuatu yang baik seharusnya disampaikan dengan cara yang baik juga honey." Nasehat Arsha sembari menatap wajah cantik calon istrinya itu.
"Jangan salahin Lida kalau akhirnya dia memutuskan pergi ninggalin Lo karena lelah dengan semua sikap dan sifat Lo yang gak peka itu Vi. Apa Lo mau kehilangan orang yang benar-benar tulus mencintai Lo dari dulu hingga sekarang seperti Lida? Apakah segitu sulitnya untuk melakukan hal yang romantis seperti keinginannya?" Wava sengaja mengompori saudara kembarnya itu.
"Gue akan lakukan apapun yang diinginkan Lida, tunggu aja tanggal mainnya." Jawab Wavi seraya tersenyum penuh arti.
☘️☘️☘️☘️☘️
Ditempat lain tepatnya di rumah Rasya. Dalam kesendiriannya berteman dengan sepi Rasya terus memandangi foto Arshi di handphonenya.
Salahkah bila aku masih mencintaimu Shi? Aku benar-benar merasa kehilanganmu sejak kamu menikah dengan Rezki, namun hatiku selalu menginginkanmu untuk jadi pendamping hidupku." Batinnya lalu mengecup foto Arshi yang ada di layar handphonenya itu.
Bersambung....
Hai teman-teman maaf telat up lagi, jangan pernah bosan untuk memberikan dukungan kalian melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang limanya ya.
Belajarlah menghargailah karya orang lain.
Tetap jaga kesehatan ya!
__ADS_1
Salam sayang selalu dariku Khardha Love.