
Happy reading guys!
Tiga bulan kemudian Arshi yang baru bangun tidur tiba-tiba merasakan mual, dia berlari kekamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Hoek...hoek...Arshi memuntahkan semua isi perutnya di closed. Rezki yang mendengar istrinya muntah langsung menghampirinya.
"Kamu kenapa Sayang? Masuk angin ya?" Rezki membantu Arshi keluar dari kamar mandi dengan menuntunnya kembali berbaring di atas ranjang." Suhu tubuh kamu panas Sayang, mending hari ini kamu gak usah kerumah sakit ya." Ujarnya setelah menyentuh kening dan leher istrinya.
"Aku pagi ini ada jadwal operasi Yank, inshaallah aku baik-baik aja nanti, kalau kenapa-napa disana pasti banyak yang nolongin aku." Arshi berusaha meyakinkan suaminya dengan mengusap kepalanya yang berbaring dipangkuannya.
"Tapi kamu harus kasih kabar kepadaku setiap jamnya ya." Rezki menciumi perut istrinya sambil mengelusnya.
"Kamu ngapain Yank, geli tau!" Arshi memiringkan tubuhnya agar Rezki menghentikan kelakuannya.
"Aku ngerasa ada baby yang berkembang diperut kamu Sayang." Rezki kembali mengelus perut istrinya sambil menciuminya.
"Belum pasti juga, jangan mikir macam-macam dulu, aku gak mau kamu kecewa." Arshi menatap Rezki dengan sendu.
"Aku yakin Sayang, aku liat aura yang berbeda dari wajahmu, perut, dada dan pinggul kamu juga tambah berisi." Rezki menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Sudahlah aku mau minum teh hangat dulu." Arshi menyibak selimutnya berusaha turun kebawah sendiri.
"Hati-hati Sayang aku gak mau kamu kenapa-napa." Rezki mengikuti langkah istrinya turun kebawah menuju dapur.
Rezki mendudukkan istrinya di kursi meja makan, dia segera mengambil alih membuatkan teh hangat untuk wanita yang sangat dicintainya itu. Arshi beranjak dari duduknya lalu melingkarkan tangannya diperutnya.
"Yank makasih ya udah bikinin aku teh hangat." Arshi menyandarkan kepalanya di belakang suaminya.
"Sama-sama Sayang, nich minum dulu teh hangatnya." Rezki memutar badannya lalu menyerahkan gelas ketangan istrinya." Gimana rasanya masih mual?" Rezki mengelus rambut istrinya dengan lembut.
"Alhamdulillah udah gak lagi, cuma masih pusing dikit." Arshi duduk kembali dikursi meja makan.
"Besok sekalian aku antar kamu periksa ke Dokter kandungan ya Sayang, siapa tau kamu beneran hamil, aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa bila terus memaksakan diri untuk bertugas di rumah sakit yang waktunya gak fleksibel itu." Rezki menatap istrinya yang tampak pucat sembari membelai wajahnya.
"Iya Yank, kamu gak usah terlalu berlebihan khawatir sama aku, inshaallah aku bisa jaga diriku sendiri." Arshi berusaha menenangkan suaminya.
"Yaudah yuk kita bobo lagi ini baru jam 03:00 pagi Sayang, nanti kalau udah waktunya sholat subuh aku bangunin kamu." Rezki kembali menuntun istrinya naik keatas kekamar utamanya.
"Aku mau sholat tahajjud dulu Yank, kita sholat sama-sama yuk." Ajak Arshi dengan menggandeng tangan suaminya menuju kamar mandi.
"Ok Sayang!" Rezki menganggukkan kepalanya.
Pasangan suami istri itu akhirnya melaksanakan sholat sunnah berjamaah dengan khusuknya, diakhiri dengan membaca alquran hingga menjelang subuh.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi harinya setelah selesai sarapan Arshi kembali memuntahkan isi perutnya, dia berjalan terhuyung-huyung keluar kamar mandi. Rezki sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya dia segera menggendong Arshi secepatnya ke mobilnya menuju rumah sakit, sesampainya di sana Rezki segera membawanya ke UGD. Dia juga segera menghubungi mertuanya untuk mengabari kondisi Arshi.
Tut...tut...tut...panggilan tersambung.
π²"Assalamualaikum Pah." Ucap Rezki dibalik telponnya.
π±" Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa?" Jawab Dokter Hasan kemudian bertanya.
"Arshi pingsan Pah, dia habis muntah-muntah." Rezki berjalan mondar mandir layaknya setrikaan rusak.
__ADS_1
"Kamu sekarang ada di mana?" Dokter Hasan berusaha tenang mendengar keadaan anaknya.
"Aku ada didepan UGD Pah." Rezki mengusap wajahnya karena benar-benar mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Yaudah tunggu disana." Dokter Hasan mematikan sambungan teleponnya.
*****
Tidak lama kemudian datanglah Arsha, Dokter Hasan dan Khardha. Arsha dan Dokter Hasan segera masuk kedalam UGD, disana Arshi sudah ditangani secara intensif.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Dokter Arshi hanya dehidrasi karena kehamilannya." Ujar Dokter Murni, Dokter spesialis kandungan yang kebetulan bertugas di UGD.
"Syukur Alhamdulillah." Ucap Dokter Hasan dan Arsha bersamaan." Pindahkan Arshi secepatnya ke ruang rawat." Perintahnya sembari keluar dari sana.
"Gimana kondisi Arshi?" Khardha dan Rezki benar-benar tidak sabar, keduanya beranjak dari duduknya menunggu jawaban Dokter Hasan dan Arsha secepatnya.
"Selamat ya Ki, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah." Dokter Hasan memeluk menantunya itu.
"Maksud Papah Arshi hamil?" Rezki tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu merangkul istrinya yang juga tampak sumringah mendengar kehamilan anaknya.
"Selamat ya Ki, jaga Arshi dan calon ponakanku baik-baik." Arsha menepuk bahu Rezki seraya tersenyum yang jarang sekali diekspresikannya.
"Kalian semua tenang aja, aku pasti menjaga istri dan anakku sebaik-baiknya." Rezki menatap mertua dan iparnya itu dengan mata berbinar sangat bahagia.
Tidak berselang lama Arshi sudah dipindahkan ke ruang rawatnya di kamar VVIP yang biasa ditempatinya. Rezki duduk di kursi disamping bed pasien yang ditempati istrinya, dia sengaja membatalkan semua meeting nya hari ini khusus untuk menemani wanita yang sekarang mengandung buah cintanya itu. Arshi terbangun dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya.
"Kamu udah bangun Sayang? Apa kepalamu masih sakit?" Rezki mengusap kepala istrinya sambil menggenggam tangannya.
"Kenapa kamu gak ke kantor? Kemarin malam kamu bilang hari ini banyak meeting dengan client." Bukannya menjawab Arshi justru balik bertanya.
"Maksudnya?" Arshi mengerutkan keningnya.
"Kamu hamil delapan minggu Sayang, kok kamu gak sadar sich gak halangan selama dua bulan?" Rezki menggelengkan kepalanya menatap wajah istrinya yang sangat polos menurutnya.
"Aku juga gak tau Yank, sebab aku emang sering telat menstruasi." Jujur Arshi sembari berusaha menjangkau air putih diatas nakas yang ada disampingnya.
"Kalau perlu sesuatu bilang sama aku Sayang, daripada nanti kamu kenapa-napa." Rezki membantu mengambilkan gelas berisi air putih lalu meminumkan kemulut istrinya.
"Selama aku masih bisa sendiri, aku gak mau ngerepotin kamu Yank." Ujar Arshi sembari memijat pinggangnya sendiri yang terasa sakit.
Rezki memperhatikan apa yang dilakukan istrinya, dia membantu memijat pinggangnya dengan lembut.
"Kenapa? Aku kan suami kamu Sayang, jadi wajar aja kamu minta tolong sama aku." Rezki berusaha memberi pengertian kepada istrinya yang juga keras kepala seperti dirinya.
Tok...tok...tok...suara pintu diketuk dari luar. Rezki beranjak dari duduknya lalu berjalan untuk membukakan pintu masuk.
"Assalamualaikum, Arshi sudah bangun?" Khardha membawakan rantang berisi makanan untuk anak dan menantunya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah udah Mah." Rezki mengikuti langkah mertuanya dari belakang.
"Gimana kondisimu sayang, masih pusing atau ada yang sakit dibagian lain?" Khardha mengusap kepala Arshi dengan lembut.
"Pinggangku sakit Mah, perutku juga rasanya kram." Keluh Arshi dengan memegangi pinggang dan perutnya.
__ADS_1
"Banyak istirahat dan minum air putih aja dulu sayang, itu hal yang wajar dirasakan seorang ibu hamil, mamah dulu juga sering kayak gitu." Khardha menasehati anaknya.
"Assalamualaikum permisi saya mau periksa kondisi Dokter Arshi dulu." Dokter Murni datang dengan laporan medisnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari silahkan Dokter." Khardha dan Rezki memberikan ruang untuk Dokter Murni agar bisa leluasa memeriksa keadaan Arshi.
"Kondisi kandungan Dokter Arshi masih lemah sebaiknya jangan melakukan tugas yang berat dulu sementara trimester pertama ini, usahakan jangan sampai stres." Dokter Murni menyarankan." Ini hasil USG pagi tadi, alhamdulillah semuanya sehat." Dokter Murni menyerahkan hasil rekam medis Arshi beserta foto USG nya.
"Terimakasih banyak Dokter Murni." Ucap Rezki dan Khardha bersamaan.
"Iya sama-sama, saya permisi dulu, assalamualaikum." Pamit Dokter Murni sembari berlalu pergi dari sana.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka yang ada didalam.
"Mamah mau nemenin papah makan siang dulu diatas ya, kamu makan berdua aja dengan makanan yang sudah mamah bawakan tadi." Ujar Khardha sambil berlalu pergi keluar.
"Iya Mah." Sahut Rezki dan Arshi serempak.
Ting...ada nontifikasi pesan di handphone Arshi, dia membuka chat berupa foto di handphonenya. Arshi membulatkan matanya dengan sempurna melihat foto suaminya bersama wanita lain. Rezki segera merebut handphone istrinya untuk melihat apa yang ada dilayarnya.
"Itu foto Rani sama kamu, iya kan!" Pekik Arshi dengan mata berkaca-kaca.
"Iya tapi itu foto udah lama banget Sayang, aku gak pernah berhubungan lagi sama dia setelah pengkhianatan yang dilakukannya enam tahun yang lalu." Rezki langsung merengkuh tubuh istrinya membawanya ke dalam pelukannya.
"Kenapa dia mengirim foto itu ke handphoneku? Darimana dia tau nomer ku? Kamu tau gimana perasaanku saat ini? Hatiku sakit Yank, apalagi sekarang aku sedang mengandung anakmu, aku ingin kamu pergi dari hidupku sekarang juga!" Arshi memukuli dada Rezki sambil menangis.
Rezki semakin mengeratkan pelukannya kepada istrinya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan Rani yang masih berani mengusik kehidupan rumah tangganya. Hingga akhirnya Arshi tertidur dalam pelukan suaminya, Rezki melonggarkan pelukannya lalu membaringkan tubuh istrinya.
Maafin aku Sayang, aku akan membuat Rani gak bisa lagi melihat hari esok karena sudah membuatmu menangis kayak gini." Gumam Rezki dalam hatinya.
Tut...tut...tut...telepon tersambung.
π²"Assalamualaikum, Radi singkirkan Rani sekarang juga, kirim dia ke pulau terpencil yang gak ada akses untuk pergi dari sana, sita semua alat komunikasinya!" Perintah Rezki dengan tegasnya.
π±"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ok siap bos!" Jawab Radi dengan segera melaksanakan tugasnya.
Panggilan berakhir. Rezki menatap mata sembab istrinya, wajahnya terlihat sangat pucat, dia mengusap kepalanya lalu mencium keningnya cukup lama.
Hatiku ikutan sakit melihatmu menangis histeris kayak tadi Sayang, aku gak akan biarin siapapun membuatmu merasa sedih apalagi sakit hati, aku hanya ingin membahagiakanmu seumur hidupku," batinnya dengan menggenggam tangan istrinya.
Tok...tok...tok...pintu diketuk dari luar. Rezki membukakan pintu masuknya.
"Assalamualaikum." Ucap Wava, Lida, Arsha, Wavi dan Rasya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, silahkan masuk, Arshi baru aja tidur, tolong jangan berisik." Ujar Rezki mengingatkan.
"Ohh kalau begitu kita makan di kantin aja yuk! Kasian Arshi kalau sampai terganggu." Ajak Wava kepada semuanya.
"Iya yuk kita kekantin aja!" Ujar Wavi berusaha berjalan tidak menimbulkan suara.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Bersambung....
__ADS_1
Hai teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya melalui vote, like, komen, koin dan rate bintang lima nya.
Sampai jumpa lagi diepisode selanjutnya, tetap jaga kesehatan ya, jangan lupa untuk bahagia.