Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
Prolog.


__ADS_3

Dwi jelita. Seorang gadis cantik berusia 20 tahun. Dia mempunyai kepribadian yang ganda dan ceria, namun sikapnya sedikit bobrok dan terkadang menyebalkan. Dwi terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang guru honorer, sementara Ibu kandungnya membuka usaha warteg.


Azka aArsenio Taksa. Seorang laki-laki tampan berusia 27 tahun. Dia seorang general manager hotel bintang lima di kota tempat tinggalnya. Sikapnya baik, ramah, dan penuh sopan santun. Hingga suatu saat dia mengalami kecelakaan bersama istri yang baru sebulan di nikahi nya, sehingga membuat istrinya meninggal dunia. Dan sejak saat itu sikapnya berubah menjadi dingin dan emosional.


*****


"Anak sialan...! Enyahlah dari hadapanku." Teriak Bu Patma kepada anak sulungnya, seraya melemparkan sandal jepit yang di pakainya hingga mengenai punggung Dwi.


"Aww..." Pekiknya saat terkena hantaman sandal itu, karena Bu Patma cukup keras melemparkan kearahnya.


Bu Patma memiliki tiga orang anak. Yang pertama adalah Dwi, yang kedua bernama Dio, dia masih sekolah kelas 3 SMP, dan yang paling bontot bernama Ica, yang masih duduk di bangku sekolah dasar.


Saat melihat Pak Mukti memasuki halaman rumah dan memarkirkan motornya, dengan cepat Dwi lari kearahnya, dan bersembunyi dibalik punggungnya.


"Ada apa ini? kenapa kalian pada kejar-kejaran?" tanya Pak Mukti yang baru saja pulang mengajar.


"Anak mu ini yah! Lagi-lagi dia mengambil uang modal warteg tanpa seijin Ibu." Ujar Bu Patma, tanpa menghentikan langkah kakinya, terus mengejar dwi yang berlari memutari Ayahnya.


"Dwi, apa benar yang dikatakan Ibu mu?" tanya Pak Mukti, meminta kejujurannya.


"Iya ayah, aku terpaksa melakukan itu, karena aku sangat membutuhkan uang." Jawabnya.


"Memangnya uang itu kamu pergunakan untuk apa?" Tanya Pak Mukti.


"Untuk makan di luar." Jawabnya.


"Kalau hanya makan di luar, kenapa kamu harus mencuri?"


"Aku tidak mencuri Ayah." Dwi menyela. "Aku hanya mengambilnya sedikit saja dari dompet Ibu." Jelasnya


"Dasar bodoh!" Maki Bu Patma. "Mengambil uang tanpa sepengetahuan Ibu, sama saja kamu itu mencuri." Maki Bu Patma.


"habisnya Ibu pelit! aku minta pun pasti Ibu gak akan memberinya." Keluh nya.


"Dasar anak pemalas! Kalau kamu mau uang, seharusnya kamu mau membantu ibu di warteg." Maki Bu Patma.


Mendengar ucapan Dwi, membuat pak mukti jadi geleng-geleng kepala. "Kamu itu sudah cukup dewasa, seharusnya kamu bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adikmu."


"Ayah lihatlah anak ini, betapa menyebalkan nya dia." Gerutu Bu Patma.

__ADS_1


Melihat sikap Dwi yang setiap hari ke kanak-kanakan dan suka berbuat sesuka hatinya. Bu Patma pun meminta Pak Mukti untuk mengirim Dwi ke kota J dan menyuruhnya untuk tinggal bersama Neneknya, dengan alasan kalau Dwi harus merawat neneknya yang sedang sakit.


...-Kota J-...


Sesampainya di rumah sang nenek. Dwi langsung ijin untuk beristirahat dikamar yang sekarang akan di tempati nya.


"Anak yang tersisihkan!" Tuturnya seketika. "Ah tidak-tidak! Anak yang sengaja dibuang! Hmm?" Gumam Dwi. "Sepertinya itu kata yang cocok dengan kehidupanku saat ini." Batinnya.


Lagi-lagi Dwi salah paham menanggapi akan setiap apa yang dilakukan orangtuanya terhadap dirinya. Padahal Bu Patma dan Pak Mukti hanya ingin membuatnya sadar, bagai mana caranya menghormati orang tua.


Tok tok tok.


Tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarnya. Dia berdiri dari duduknya, dan bergegas untuk membuka pintu.


"Surprise!!!" Seru sepupu Dwi saat pintu kamar telah terbuka. Dia pun menyerobot masuk kedalam.


"Malam ini aku akan tidur disini." Ujar Sindi seraya merebahkan tubuhnya diranjang.


"Minggirlah! ini kamarku sekarang." Ucap dwi dengan raut wajah yang datar.


Sindi memperhatikan wajah dwi dengan seksama, "Biar ku tebak! Kamu pasti terpaksa datang kesini?"


Mendengar jawaban Dwi, Sindi tampak mendengus kesal. Seketika dia memicingkan senyumannya, "Apa kamu bosan? aku tahu dimana tempat yang bisa buat kamu merasa nyaman."


"Pergilah dari sini, dengan begitu aku akan merasa nyaman tinggal disini." Decahnya.


"Dasar menyebalkan! Pantas saja Tante Patma membuangmu kesini." Sindir Sindi.


Seketika Dwi langsung menjambak rambut sepupunya, "Apa kamu bilang? coba kamu katakan sekali lagi?"


"Aww, lepasin! sakit bego!" Maki Sindi saat Dwi menarik rambut panjangnya.


"Kamu yang bego, dasar sialan!" Dwi pun membalas makiannya.


Meskipun mereka sodara sepupu, tapi dari kecil mereka jarang sekali akur setiap kali bertemu.


Karena tidak terima dengan perkataan Dwi, Sindi balik menyerangnya, menindih tubuh Dwi dan menjambak rambutnya.


Tiba-tiba saja Nenek masuk kedalam kamar. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Nenek yang melongo, saat melihat kelakuan kedua cucunya.

__ADS_1


"Nenek!" Keduanya tampak terkejut. Dengan cepat Sindi beranjak dari tubuh Dwi yang sedari tadi di tindihnya.


"Akh, rambut mu berantakan! sini biar aku rapikan." Ucap Sindi berpura-pura manis karena tidak ingin Nenek memarahinya.


"Maaf Nek, kita sedang berolahraga." Jawab Dwi seraya menoyor kepala Sindi.


"Shiitt..." Sindi tampak tidak terima dengan apa yang dilakukan Dwi.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu segera tidur." Titah Nenek kepada Dwi, dia pun menoleh kepada Sindi. "Dan kamu! Sebaiknya kamu pulang." Usir Nenek.


"Tidak Nek! Hari ini aku akan menginap disini," Jawab Sindi.


"Nenek yakin, kamu pasti hanya ingin mengganggunya." Tuduh Nenek seraya menoleh kearah Dwi.


"Nenek salah paham! Aku tidak mengganggunya. Iya, kan?" Sindi menoleh kepada Dwi, berharap dia mau bekerja sama dengannya. Namun karna tidak mendapat jawaban, Sindi mencengkram tengkuk Dwi lalu menganggukkan kepala Dwi dengan tangannya. "Tuh kan Nek, Dwi mengangguk." Sindi tampak cengengesan.


Dwi mendengus kesal melihat perlakuan sindi terhadapnya. Dia pun merangkul Sindi, seraya mencubit pinggangnya.


"Akhh..." Pekiknya. "Sakit bego!" Desus Sindi seraya berbisik di telinga Dwi. "Singkirkan tangan mu."


Bukannya melepaskan, dwi malah semakin kuat mencubitnya.


Nenek menghela nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar. Dia tidak habis pikir, diusia mereka yang sudah dewasa, tapi pola pikir mereka sama sekali tidak pernah berubah, masih tetap seperti anak kecil.


"Nenek akan beristirahat di kamar. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan! Tapi jangan berisik." ucap Nenek sebelum keluar.


Neneknya saja bahkan sudah menyerah menghadapi sikap ke kanak-kanakan mereka, hingga memutuskan untuk membiarkan mereka bersikap sesuka hati.


"Kamu lihat? Nenek marah itu karena mu." Tuduh Dwi.


"Kenapa jadi aku yang di salahkan? Kamu yang duluan menjambak rambutku." Sindi melakukan pembelaan.


"Sudahlah! Keluar dari kamarku." Pinta Dei kepada sepupunya.


Namun bukannya pergi, Sindi malah membanting badan dan menelentangkan tubuhnya di ranjang. "Hmm, nyamannya..."


Kelakuan Sindi membuatnya tercengang. Bagaimana bisa dia memiliki seorang sepupu yang menurutnya begitu sangat menyebalkan.


"Kenapa diam dan hanya berdiri saja? ayo sini tidur, katanya tadi mau istirahat." Ujar Sindi, seraya menepuk-nepuk ranjang di sampingnya.

__ADS_1


"Hakhh," Dwi menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. "kalau kamu mau tidur, tidur saja! aku akan tidur di sofa." Ucapnya, seraya mengambil satu bantal dan selimut yang ada di lemari.


__ADS_2